seorang gadis bernama hazia ayini que'en namyesa yang merupakan seorang gadis bar bar, nakal, jahil, dan juga bermulut pedas yang susah di atur oleh orang tua nya sehingga iya dan juga kakak sepupu laki laki nya yang bernama kevin di kirim ke sebuah pondok pesantren yang merupakan milik sahabat keluarga hazian.
apakah ayini si gadis bar bar bisa berbuat baik dan memperbaiki akhlak serta adab nya di pondok pesantren itu?
atau apakah ayini akan berbuat jahil dan mengacaukan pondok itu?
apa yang akan ayini lakukan ketika iya bertemu dengan anak kyai yang bernama Alvaro!
atau kerap di panggil gus alvaro? seorang Gus yang memiliki sifat dingin dengan wajah datar yang ternyata akan menjadi CALON SUAMI nya karena masalah yang iya lakukan sendiri...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RISMA AYINI SAFITRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27. RUNTUH NYA BENTENG SANG GUS.
Alvaro menarik napas panjang, sebuah napas yang terasa sangat berat. Ia perlahan duduk di tepi ranjang, tepat di samping Ayini.
Ia tidak melepaskan tangannya, justru kini jemarinya sedikit bergetar saat menyentuh ujung jilbab rumah Ayini.
"Ayini..." suara Alvaro kini sangat rendah, dalam, dan penuh dengan emosi yang selama ini ia tekan.
"Kamu tidak tahu seberapa keras saya berjuang untuk tetap menjadi 'Gus' yang benar di depanmu. Kamu tidak tahu seberapa sering saya harus beristighfar hanya karena melihat senyummu."
Ayini terdiam. Keberaniannya untuk menggoda mendadak lenyap digantikan oleh rasa haru yang luar biasa.
Ia melihat mata Alvaro yang biasanya dingin kini tampak berkaca-kaca karena menahan gejolak rasa.
"Mas..." bisik Ayini.
"Saya mencintaimu, Ayini. Sangat mencintaimu sampai saya takut cinta ini melebihi cinta saya pada Sang Pencipta. Itulah kenapa saya lari," ucap Alvaro jujur, pengakuan paling panjang dan paling dalam yang pernah ia ucapkan.
Ayini tidak menjawab dengan kata-kata. Ia perlahan menyandarkan kepalanya di bahu Alvaro.
Kali ini, Alvaro tidak menjauh. Ia justru melingkarkan lengannya di bahu Ayini, memeluk istrinya dengan sangat protektif untuk pertama kalinya.
"Jangan lari lagi ya, Mas. Ayini janji bakal belajar jadi lebih baik. Tapi tolong, jangan kaku-kaku banget kalau lagi berdua. Ayini butuh Mas Alvaro yang manusia, bukan Mas Alvaro yang kulkas," ucap Ayini sambil terkekeh pelan di pelukan suaminya.
Alvaro tersenyum, sebuah senyum yang kali ini tidak ia sembunyikan. Ia mencium puncak kepala Ayini dengan sangat lembut.
"Dasar istri nakal."
Malam itu, di bawah langit Barito Utara yang menjadi saksi, tidak ada lagi pelarian.
Tidak ada lagi perang goda yang melelahkan. Yang ada hanyalah dua jiwa yang akhirnya saling menemukan ritme yang sama.
Meskipun esok hari Alvaro mungkin akan kembali menjadi Gus yang berwibawa di depan santri-santrinya, namun di dalam kamar itu, ia hanyalah seorang pria yang telah menyerahkan hatinya sepenuhnya pada gadis bar-bar dari Muara Teweh.
Namun, kedamaian itu hanyalah sesaat. Karena di luar sana, sepucuk surat misterius baru saja sampai ke meja kantor pesantren, membawa kabar dari masa lalu Ayini yang bisa mengancam kebahagiaan yang baru saja mereka raih.
Pagi yang cerah di Barito Utara tidak sejalan dengan suasana hati Gus Alvaro. Saat sedang memeriksa surat-surat masuk di kantor pusat pesantren, ia menemukan sebuah amplop cokelat tanpa nama pengirim.
Isinya hanya selembar foto lama dan sebuah catatan singkat. Foto itu memperlihatkan Ayini di masa lalu, sedang tertawa bebas di atas motor balapnya bersama segerombolan pemuda di Muara Teweh, dan di sampingnya ada Raffi yang merangkul bahunya.
Catatan itu berbunyi: "Jangan kira sorban dan gelar Gus bisa menghapus siapa dia sebenarnya. Gadis liar tetaplah liar. Dia tidak pantas berada di Ndalem."
Rahang Alvaro mengeras. Bukan karena ia percaya pada fitnah itu, tapi karena ia menyadari bahwa masa lalu Ayini kini mulai digunakan oleh orang-orang jahat untuk menyerang martabat pesantren dan keluarganya.
Sebagai seorang Gus, ia harus melindungi institusi ini. Sebagai suami, ia harus melindungi Ayini.
Namun, beban tanggung jawab yang berat itu seketika menariknya kembali ke dalam cangkang kedinginannya yang dulu.
Saat kembali ke Ndalem, perubahan sikap Alvaro sangat terasa. Dinding es yang sempat mencair malam itu, kini membeku kembali, bahkan lebih tebal dan lebih keras.