Seorang pria remaja mendapatkan kekuatan dari aura ghaib Putri Mahkota Bangsa Iblis. Yang membuat perubahan seratus delapan puluh derajat dari kehidupan sebelum nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kend 13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian Shiva
"Eh! Ibu Kepsek?" Marissa seketika itu juga terkejut melihat Aida. Seperti teror yang sangat menakutkan yang tiba-tiba saja akan menyerangnya.
"Bukan nya tadi Bu Marissa sudah pulang?" Tanya Aida sopan sambil mengembangkan seutas senyuman.
"Be-belum Bu. Saya kan lagi mengawasi anak-anak yang kena hukuman." Marissa tergagap menimpali. Sambil berjalan beriringan dengan Aida menuju ke arah parkiran.
Dahi Aida langsung saja berkerut, langkah kaki nya terhenti. Menatap Marissa dengan penuh selidik. "Bukan kah Jay tadi bilang nya Ibu sudah pulang?" Ucap nya kembali mengulangi perbuatannya, mengingat obrolan melalui sambungan telefon saat dia menghubungi nomor Marissa beberapa waktu yang lalu, dan yang mengangkat ponsel Marissa itu adalah Jay.
Duar!
Seakan bom meledak di dalam dirinya saat mendengar ucapan Ibu Kepala Sekolah itu membeberkan kebohongan nya dengan tatapan seperti itu. Dunia seolah terhenti dalam waktu yang cukup lama di rasakan Marissa. "Ka-kapan Bu?" Tanya nya berusaha untuk tenang.
"Tadi. Sewaktu saya menghubungi nomor ponsel Bu Marissa untuk menanyakan keberadaan Jay, soalnya Shilla ada keperluan sesuatu sama anak itu. Eh, nggak taunya Jay sendiri yang angkat ponsel Ibu." Ucap Aida dengan nada sesopan mungkin, namun ada maksud lain yang tersirat disana.
Marissa terdiam mendengar ucapan yang terdengar sedikit menohok itu. Bibir nya terasa kelu hanya untuk menanggapinya.
Melihat Marissa hanya diam, wanita yang paling di segani di sekolah itu pun melangkah kan kakinya kembali. "Jay bilang Ibu sudah pulang." Ucap nya mengulang kembali pertanyaan yang sebelumnya, namun kini dengan nada curiga.
"Ooh! Waktu Ibu Kepsek telefon saya, mungkin saya lagi ke kamar mandi, bu. " Ucap Marissa memberi jawaban yang baru saja terfikirkan oleh nya.
"Benarkah?" Sembari berjalan Aida menoleh melihat wajah Marissa. Ada keraguan yang terpancar dalam pandangan nya itu.
Marissa mengangguk kan kepalanya dengan cepat. "Benar Bu."
"Baik lah. Kalau begitu, saya duluan yah, bu." Ucap Aida sembari membuka pintu mobil nya. "Oh iya, Mobil kepunyaan Ibu seperti nya sudah terlewat." Imbuhnya setelah duduk di belakang kemudi dengan menyunggingkan sebuah senyuman.
'What the..?' Pekik Marissa dalam hati. "Oh iya, bu. Terima kasih, saya sengaja mengantar Ibu Kepsek terlebih dahulu." Ucap nya sambil sedikit membungkukkan badannya.
"Ooh! Saya jadi tersentuh atas dedikasi yang Bu Marissa lakukan. Terima kasih banyak bu. Kalau begitu, saya duluan ya bu." Aida kembali tersenyum. Kemudian dia pun melajukan mobilnya meninggalkan Marissa yang masih berdiri disana.
***
Sementara itu, Jay baru saja sampai di kampus tempat Shiva menimba ilmu pengetahuan. Pemuda itu masih bertengger pada jok motor matic nya. Ranselnya di letakkannya di tempat pijakan kaki nya.
'Jemput pacar yaa?' Terdengar godaan suara Milea di pendengaran nya.
'Kakak sepupu, bukan pacar!' kilah Jay menyangkal pernyataan Milea.
'Ehm baiklah!' Ucap Milea.
Beberapa menit berlalu, tak ada percakapan absurd di antara mereka. Kemudian,
'Hati-hati loh Jay! Di sekitar kampus ini ada banyak aura dari berbagai ras se jagat raya. Keadaan gue sekarang belum mampu melawan atau pun menjinakkan mereka. Lu jangan cari masalah dulu, Oke!' Ucap Milea memperingatkan Jay.
'Maksud lu?" Jay jadi waspada. Secara, makhluk seperti Milea saja tak sanggup melawan nya, apalagi dirinya? Yang baru memiliki kemampuan dasar bela diri yang di duplikat dari Shiva kemarin. Dan mata tembus pandang dari Aida mungkin juga tak terlalu bisa untuk di gunakan.
"Arah jam satu! ada siluman kucing kembar tiga. Tapi dengan pesona lu yang masih berada di level tiga saja, mereka masih menilai lu hanya sekedar sampah." Ucap Milea agar Jay melihat ke arah yang di tujukan. Namun sedikit mengeluh, mengingat Jay masih belum bisa di andalkan.
Deg.
Sesuai arah yang di tunjuk Milea, sekitar dua puluh meter dari tempat nya berada, Jay melihat tiga wanita yang benar-benar mirip secara keseluruhan nya sedang mengobrol di depan mobil sport berwarna hitam. Hanya dari ikatan rambut mereka sajalah yang berbeda. 'cantik-cantik!'
'Huh! dasar mesum! Lu nggak akan mampu melakukan apapun terhadap mereka!' Dengus Milea.
'Kenapa?'
'Kalau ingin bertarung, kekuatan lu harus diatas level 5.'
'Emang sekuat itu?' Tanya Jay penasaran.
'Mereka tidak hanya kuat, tapi juga lincah. kecepatan mereka seperti bayangan. dalam jarak segini, hanya butuh satu detik buat mereka berpindah untuk membunuh lu!'
Jay bergidik, tubuh nya jadi bergetar mengetahui ada nya makhluk yang bisa melakukan itu di dunia ini.
'Takut kan? Noh liat ke arah jam sembilan! Ada rubah putih yang menghuni dalam jiwa nya.' Kembali Milea menunjukkan seseorang yang mempunyai kemampuan.
'Cewek itu bahkan lebih cantik!' Sorak Jay setelah melihat seorang gadis cantik sedang berjalan di trotoar. Gadis itu menggunakan pakaian serba putih, menyempurnakan tubuh nya yang juga berkulit seputih susu. Rambut panjang nya yang hitam legam tergerai indah sebatas pinggang nya yang meliuk-liuk saat berjalan.
'Jam 12 yang pake kerudung!' Sorak Milea lagi.
'Siapa lagi tuh?' Tanya Jay penasaran.
'Ras Elf! Memiliki pendengaran dan jarak pandang yang tajam. Kemampuan nya menggunakan panah energi.' Jelas Milea menerangkan keahlian gadis itu.
'Banyak banget disini aura kuat Jay!' Keluh Milea tak berdaya. 'Lu harus buru-buru meningkatkan kemampuan Jay! gue mau lu bisa menjinakkan mereka semua!' Titah Milea.
'Buat apa?' Jay mengernyitkan alisnya. Tidak mengetahui tentang rencana Putri Mahkota Raja Iblis itu.
'Pokoknya lu harus bisa! dan beberapa orang di dalam gedung sana yang nggak bisa lu liat dari sini. Gue bisa merasa kan, adanya Aura negatif dan positif yang begitu kental disana. Aura petarung, Penyembuhan, Kutukan, Juga beberapa aura Energi bumi.' Terang Milea dengan antusias. 'Ehmm.. Tapi, kok nggak ada Energi api sih?' Lanjut nya mengeluh. Seakan kecewa tak bisa merasakan aura dari Energi api di sekitar tempat itu.
'Ada apa dengan Energi Api?' Mendengar Milea mengeluh, Jay jadi sedikit penasaran.
'Kemampuan gue kan berasal dari Energi Api! Lu lupa? Gue kan ras Iblis!' Ucap Milea menjelaskan.
'Oh begitu!' Jay manggut-manggut sendiri.
"Hai pacar! Udah dari tadi?" Tiba-tiba Shiva datang menepuk pundak Jay dari belakang.
Gadis itu tidak sendirian, dia bersama empat temannya yang tak kalah lebih cantik.
"Eh kak!" Jay tergagap melihat kematangan lima gadis itu di depan nya.
"Kenalin guys, ini pacar gue! Namanya Jay Pradana." Ucap Shiva memperkenalkan Jay sebagai pacar nya kepada teman-temannya. Gadis itu terlihat ceria disini, berbanding terbalik dengan gadis yang di kenali Jay selama ini.
"Selvi Widuri."
"Clara Snow."
"Hana Rodrigues."
"Hani Rodrigues."
Satu persatu teman dari Shiva memperkenalkan diri sambil menjabat tangan Jay.
"Jay Pradana." Jay pun menyebutkan namanya secara formal kepada teman-teman Shiva tersebut.
"Kalau gitu, gue duluan ya guys!" Ucap Shiva sembari menaiki motor Jay, duduk di boncengan.
"Duluan ya kak!" Jay pun menstarter motor matic nya, bersiap mengendarai motor itu menuju ke desanya berada.
"Oke, senang bisa berkenalan dengan lu Vijay!" Timpal Clara sambil melambaikan tangan nya setelah melihat Jay menarik pedal gas motor nya.
Jay dan Shiva pun melaju meninggalkan area kampus.
"Cantik-cantik kan temen gue?" Ucap Shiva terkekeh setelah jauh dari area kampus.
Jay menjawabnya hanya dengan anggukan.
"Lu kenapa?" Tanya Shiva dengan heran sembari memeluk pinggang Jay yang merasa pemuda itu tidak terlalu bersemangat.
"Nggak apa-apa. Mungkin karena lelah." Jawab Jay sekedar nya.
"Katanya, lu pengen jadi aktor harem. Makanya gue bawa teman-teman, barang kali lu tertarik." Ucap Shiva menopang kan dagunya di atas bahu Jay.
Jay tertegun mendengar penuturan kakak sepupunya itu. Kemudian tangan kiri nya terulur guna meraba dahi gadis itu. "Lu demam, kak? Aduh!"
Shiva langsung saja mencubit perut Jay. "Mana ada gue demam!" Sungut nya dengan ketus. "Gue tuh cinta sama lu, Nggak tau kenapa, sejak gue nemuin lu di pinggir jurang keramat itu, gue jadi takut kehilangan lu, Jay! Jadi gue kenalin lu ke teman-teman gue, mereka itu baik-baik, supaya lu nggak salah pilih cewek lain. Mereka bersedia kok berbagi pacar." lanjut nya. Suara nya sedikit bergetar saat mengucapkan nya.
Jay tertegun mendengar penuturan Shiva yang terlihat benar-benar tulus itu. Dia memperlambat laju motor nya, guna ingin lebih banyak mendengar penjelasan nya.
"Sewaktu kita nobar kemaren, rasa itu kian tumbuh. Apalagi waktu lu selamatin gue dari preman kemaren. Semakin meyakinkan gue, bahwa gue tuh aman bersama lu. Lu masih ingat kan? percakapan kita waktu makan malam kemaren?" Tutur Shiva mengingat kan kejadian-kejadian yang mereka alami berdua.
"Yup, tentu saja gue ingat. Gue emang akan menjaga kalian selama gue masih hidup. Tapi nggak jagain teman-teman lu yang nggak gue kenal juga kali." Tangan Jay mengelus lembut wajah Shiva yang masih anteng bertumpu pada bahunya. Kemudian berpindah pada tangan gadis itu yang juga masih erat memeluk pinggang nya.
"Lu harus menepati janji! Kalau lu suka sama cewek lain, lu harus kenalin juga sama gue, oke!" Ancam Shiva sambil mengacungkan jari kelingking nya di hadapan Jay.
Jay tersenyum melihat keposesifan yang Shiva miliki. Namun, tetap saja dia menerima nya dengan mengaitkan jari kelingking nya pada jari gadis itu. Kemudian, di bawa nya kaitan itu ke wajah nya. lalu dikecupnya punggung tangan Shiva dengan lembut.
"So Sweet.." Ucap Shiva dengan senyuman manis nya. Wajah nya memerah seketika. Untuk menunjukkan rasa gembira nya, gadis itu dengan sengaja menggerakkan kepala nya ke leher pemuda itu.
'Hati-hati kawanan preman menunggu Host di jalan kemaren!' Suara robotik itu terdengar menggema di pendengaran Jay sembari membunyikan alarm waspada.
*****