NovelToon NovelToon
GUS BAD BOY MY HUSBAND

GUS BAD BOY MY HUSBAND

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arini, seorang mahasiswi sastra yang berjiwa bebas, terjebak dalam janji perjodohan antara ayahnya dengan pemilik Pondok Pesantren Al-Ikhlas. Ia membayangkan akan menikah dengan sosok pria religius yang kaku, namun kenyataan justru mempertemukannya dengan Gus Zikri.
​Zikri adalah anomali di lingkungan pesantren. Di balik statusnya sebagai putra Kyai, ia adalah seorang pemberontak yang lebih akrab dengan deru motor gede, jaket kulit, dan balapan liar daripada kitab kuning. Baginya, pernikahan ini hanyalah beban hutang budi yang harus ia bayar.
​Arini harus bertahan di tengah dinginnya sikap Zikri dan aturan ketat pesantren yang asing baginya. Namun, perlahan ia mulai menemukan sisi lain dari suaminya yang tersembunyi di balik topeng "bad boy". Di sisi lain, Zikri pun mulai terusik oleh kehadiran Arini yang tidak hanya melihatnya sebagai seorang "Gus", tapi sebagai manusia biasa.
​Dua dunia yang bertolak belakang ini pun berbenturan. Bisakah Arini melunakkan hati Zikri yang liar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Gema Kebenaran dan Pengadilan Senyap

Udara di kediaman Kyai Hamzah terasa lebih berat pagi itu. Arini duduk di depan meja kayu tua, jemarinya masih menempel pada papan ketik laptop, namun matanya menatap kosong ke arah layar yang menampilkan ribuan notifikasi.

Tulisan-tulisan anonim yang ia unggah telah berubah menjadi bola salju yang menggelinding liar, menghantam dinding-dinding kokoh Pesantren Al-Ikhlas dari segala penjuru digital.

"Sudah saatnya, Nak," suara berat Kyai Hamzah memecah keheningan. Beliau berdiri di ambang pintu dengan jubah cokelat yang menyapu lantai.

"Keluarga besar dan Dewan Syuro sudah berkumpul di Al-Ikhlas. Mereka menuntut klarifikasi atas kegaduhan yang kamu ciptakan, juga atas nasib Zikri."

Arini menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya yang terasa menyempit. "Apakah Zikri akan baik-baik saja, Mbah Kyai? Terakhir kali saya melihatnya, dia... dia begitu hancur."

Kyai Hamzah hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung pahitnya pengalaman. "Zikri adalah baja yang sedang ditempa. Dan baja tidak akan menjadi pedang tanpa api yang membakar. Ayo, kita selesaikan apa yang sudah dimulai."

Perjalanan kembali ke Al-Ikhlas terasa seperti menuju ladang pembantaian. Begitu mobil memasuki gerbang pesantren, suasana terasa sangat berbeda. Tidak ada lagi santri yang berlarian ceria. Mereka berdiri berkelompok, berbisik-bisik, menatap mobil Kyai Hamzah dengan pandangan penuh tanya dan kecemasan.

Di aula utama, Dewan Syuro—kumpulan ustadz senior dan keluarga inti yayasan—telah duduk melingkar. Di tengah-tengah mereka, duduk Kyai Ahmad di atas kursi roda, wajahnya masih sangat pucat dengan selang oksigen yang melilit di telinganya. Di sampingnya, Kang Said berdiri dengan dagu terangkat, seolah ia adalah pahlawan yang baru saja menyelamatkan institusi dari keruntuhan.

Zikri dibawa masuk oleh dua orang santri keamanan. Tangannya memang tidak lagi terikat, namun langkahnya terseret. Memar di wajahnya sudah membiru, dan sorot matanya redup, seolah cahaya di dalamnya telah padam setelah berhari-hari disekap dalam gelap.

"Mbah Kyai Hamzah," Kyai Ahmad menyapa dengan suara parau yang nyaris hilang. "Terima kasih sudah datang. Kita di sini untuk mengakhiri fitnah yang disebarkan oleh... wanita ini."

Matanya tertuju pada Arini, penuh dengan kekecewaan yang mendalam.

Said segera mengambil alih pembicaraan. "Izin berbicara, Dewan Syuro. Arini telah melakukan pencemaran nama baik yang sangat berat. Dia menyebarkan memoar palsu yang menghina almarhumah Nyai Fatimah dan menuduh Kyai Ahmad melakukan tindakan yang tidak manusiawi. Ini adalah pengkhianatan dari dalam ndalem "

Zikri mendongak, menatap Said dengan kebencian yang murni. Namun, ia tidak punya tenaga untuk bicara.

"Said," Kyai Hamzah mengangkat tangannya, seketika membuat seluruh aula sunyi. "Sebelum kita menghakimi tulisan seorang wanita yang ketakutan, mari kita lihat apa yang sebenarnya ia perjuangkan. Arini, tunjukkan pada mereka."

Arini melangkah maju. Tangannya gemetar saat ia mengeluarkan map biru yang lusuh itu dari tasnya. Ia membukanya di hadapan Dewan Syuro.

"Ini bukan soal tulisan saya," suara Arini bergetar namun tegas. "Ini soal bukti medis Ummi Fatimah sepuluh tahun yang lalu. Rekam medis yang menunjukkan bahwa beliau menderita depresi berat akibat isolasi, dan rujukan psikiater yang sengaja diabaikan demi menjaga citra pesantren. Saya menulis karena kebenaran di sini dikubur bersama rasa malu yang salah tempat."

Satu per satu anggota Dewan Syuro memeriksa dokumen tersebut. Keheningan yang menyesakkan menyelimuti aula. Kyai Ahmad tampak menutup matanya, napasnya tersengal di balik masker oksigen.

"Ini palsu! Itu pasti editan!" Said berteriak, wajahnya mulai berkeringat. "Dia penulis fiksi! Dia bisa mengarang apa saja!"

"Cukup, Said," Kyai Hamzah menyahut dingin.

"Aku sendiri yang memverifikasi dokumen ini ke Rumah Sakit Kota kemarin malam. Ini asli. Dan Ahmad... kamu tahu itu asli."

Kyai Ahmad membuka matanya, menatap Zikri dengan air mata yang mulai mengalir. "Zikri... anakku..."

"Jangan panggil aku anakmu kalau Abah lebih mencintai tembok pesantren ini daripada nyawa Ummi!" Zikri akhirnya bersuara, serak dan penuh luka. "Selama sepuluh tahun aku dipaksa menjadi iblis agar Abah bisa terlihat seperti malaikat.

Abah membiarkanku dibenci orang-orang agar rahasia Abah aman!"

Said, yang merasa posisinya terancam, mencoba melakukan manuver terakhir. "Lalu bagaimana dengan video balapan liar itu? Bagaimana dengan hubungan Gus Zikri dengan geng motor? Apakah itu juga fitnah? Dia tetaplah sampah yang tidak layak memimpin kita!"

"Memang benar aku balapan," Zikri berdiri perlahan, menatap seluruh hadirin. "Aku melakukannya karena di aspal, aku merasa hidup. Di sana, tidak ada yang berbohong demi citra. Tapi Said... bagaimana dengan kerja samamu dengan Marco? Bagaimana dengan uang yayasan yang kamu gunakan untuk membayar preman agar membungkam mereka yang tahu rahasiamu?"

Arini terkejut. Zikri ternyata tidak hanya diam selama disekap.

Zikri melemparkan sebuah alat perekam kecil ke lantai. Suara yang keluar adalah rekaman pembicaraan Said dan Marco di bengkel malam itu—rencana untuk menjatuhkan Zikri dan menguasai yayasan secara administratif.

Aula itu meledak dalam kegaduhan. Anggota Dewan Syuro berdiri, menatap Said dengan jijik.

Said mencoba melarikan diri, namun santri-santri senior yang dipimpin Yusuf segera menghadangnya di pintu keluar.

"Bawa Said ke kantor polisi," perintah Kyai Hamzah tanpa ampun. "Dan seluruh tim keamanan yang terlibat dalam penyekapan Zikri akan diberhentikan secara tidak hormat."

Satu per satu orang meninggalkan aula, menyisakan Kyai Ahmad, Zikri, Arini, dan Kyai Hamzah. Suasana berubah dari panas menjadi pilu yang mendalam.

Kyai Ahmad menggerakkan kursi rodanya mendekati Zikri. Tangan tuanya yang gemetar mencoba meraih tangan Zikri, namun Zikri menarik diri.

"Abah melakukan semuanya karena Abah takut, Zikri," tangis Kyai Ahmad pecah. "Dulu, pesantren ini baru saja berdiri. Jika orang tahu Nyai-nya depresi, orang-orang akan menganggap ilmu kita tidak berkah. Abah pikir... Abah bisa menyembuhkannya sendiri dengan doa. Abah salah."

"Doa tanpa obat adalah kesombongan, Bah," sahut Zikri dingin. "Abah membunuh Ummi dengan kesombongan itu."

Zikri kemudian menoleh pada Arini. Ia berjalan mendekat dan menggenggam tangan Arini erat, di depan ayahnya, di depan Mbah Kyai. "Terima kasih, Arin. Kamu adalah satu-satunya orang yang tidak menyerah padaku saat aku sendiri sudah menyerah."

"Aku tidak akan pernah menyerah, Zik," bisik Arini.

Kyai Hamzah menghela napas. "Masalah hukum memang akan selesai. Said akan diproses. Tapi luka di pesantren ini butuh waktu. Ahmad, kamu harus turun dari jabatanmu. Pesantren ini butuh masa transisi."

"Aku setuju," jawab Kyai Ahmad lemah. "Biarkan Zikri..."

"Tidak," potong Zikri cepat. "Aku tidak akan memimpin Al-Ikhlas sebagai Gus yang kalian inginkan. Aku akan pergi bersama Arini. Kami butuh waktu untuk menyembuhkan diri kami sendiri sebelum mencoba menyembuhkan orang lain."

Kyai Ahmad terpaku. Ia menatap putra satu-satunya yang kini tampak begitu dewasa namun begitu jauh.

Malam harinya, di bawah langit Al-Ikhlas yang akhirnya tampak bersih dari mendung, Zikri dan Arini berdiri di gerbang belakang dekat gudang.

Motor Ninja itu sudah bersih, siap untuk dikendarai kembali.

"Kamu yakin ingin pergi sekarang?" tanya Arini. "Abah masih di rumah sakit."

"Mbah Kyai Hamzah akan menjaganya. Aku akan kembali berkunjung, tapi bukan sebagai 'proyek' Abah. Aku ingin kembali sebagai anak yang sudah memaafkan, dan itu butuh waktu," Zikri memakaikan helm ke kepala Arini.

Arini tersenyum di balik kaca helmnya. "Ke mana kita pergi?"

"Ke mana saja. Mungkin ke tempat di mana orang tidak mengenalku sebagai Gus Zikri, dan tidak mengenalmu sebagai penulis anonim itu. Hanya Zikri dan Arini."

Zikri menyalakan mesin motornya. Suaranya menderu, memecah keheningan malam pesantren. Namun kali ini, suara itu tidak terdengar seperti pemberontakan. Suara itu terdengar seperti sebuah keberangkatan menuju bab baru yang lebih jujur.

Saat motor itu melesat keluar dari gerbang Al-Ikhlas, Arini memeluk pinggang Zikri seerat mungkin. Ia tahu, di balik kemenangan ini, masih ada Marco yang dendam, masih ada pengikut Said yang benci, dan masih ada ribuan pembaca ceritanya yang menanti kelanjutan nasib mereka.

Namun bagi Arini, bab ini sudah selesai. Ia telah membuktikan bahwa pena memang lebih tajam dari belati, dan cinta yang tulus mampu meruntuhkan tembok-tembok kemunafikan yang paling tebal sekalipun.

"Hari ini selesai," gumam Arini dalam hati, saat angin malam menerpa wajahnya. "Dan cerita kita yang sebenarnya, baru saja dimulai."

Di kejauhan, di balik bayang-bayang pepohonan, seseorang mengawasi kepergian mereka dengan tatapan dingin. Sebuah puntung rokok dilemparkan ke tanah, apinya masih menyala kecil sebelum diinjak hingga padam. Marco belum selesai dengan mereka.

Tetapi malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Zikri tertawa lepas di balik helmnya, merasakan aspal yang jujur di bawah rodanya.

1
Titik Sofiah
awal yg menari ya Thor moga konfliknya nggak trllau berat 😍
sefira🐼
makasih kak semangat juga💪
nis_ma
semangatttt Thor 🔥🔥
ceritanya menarikkk, sukses selalu thorr
Rian Moontero
lanjoooott👍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!