NovelToon NovelToon
Di Balik Niqab Maryam: Rahasia Pewaris Yang Terbuang

Di Balik Niqab Maryam: Rahasia Pewaris Yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / CEO
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Diusir dan dihinakan akibat video fitnah keji, Aaliyah Humaira, putri seorang kyai besar, terpaksa menanggalkan identitasnya dan bersembunyi di balik niqab dan kode peretas legendaris 'H_Zero'. Namun, takdir pelariannya justru membawanya ke dalam pelukan Zayn Al-Fatih, CEO berdarah dingin penerus klan aristokrat mafia Eropa yang hidupnya dipenuhi ancaman pembunuhan. Saat rahasia triliunan dolar dan masa lalu leluhur mereka saling bertabrakan, Aaliyah dan Zayn harus menyatukan kejeniusan siber dan kekuatan militer untuk melawan sindikat pembunuh bayaran, dewan bangsawan yang rasis, dan konspirasi global. Ini bukan sekadar kisah cinta antara gadis pesantren dan sang Raja Es; ini adalah perang epik di mana iman, kecerdasan, dan peluru menjadi penentu kedaulatan sebuah negara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: PERISAI DI BALIK DINDING

​Siang yang terik itu mendadak berubah menjadi mencekam ketika suara sirene yang melengking membelah keheningan kompleks elit perumahan Al-Ghifari. Suara itu bukan sekadar bising biasa; bagi Aaliyah Humaira, itu adalah suara terompet kematian yang memanggil kembali semua memori kelam tentang fitnah, pengusiran, dan kehinaan yang ia alami di pesantren dulu.

​Zayn Al-Fatih yang masih berada di dalam kamar tamu bersama Aaliyah, segera berdiri tegak. Wajahnya yang tadinya melembut kini kembali mengeras bagaikan batu karang. Ia melirik ke arah jendela, di mana lampu biru dan merah dari mobil patroli polisi mulai memantul di kaca-kaca jendela besar rumahnya.

​(Zayn membatin: Sial! Mereka benar-benar datang secepat ini. Sabrina... kau benar-benar ingin bermain api denganku? Kau pikir dengan membawa polisi ke rumahku, kau bisa menjatuhkanku? Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh Aaliyah. Tidak hari ini, tidak selamanya. Aku akan menunjukkan padamu bahwa singa yang terluka jauh lebih berbahaya daripada ular berbisa seperti papamu.)

​Zayn menoleh ke arah Aaliyah yang kini wajahnya sepucat kain kafan. Tubuh wanita itu gemetar hebat, tangannya mencengkeram sprei tempat tidur hingga buku-buku jarinya memutih.

​(Batin Aaliyah menjerit: Ya Allah... mereka datang. Polisi itu datang untuk menjemput hamba. Apakah ini akhir dari segalanya? Apakah hamba akan diseret di depan umum dengan borgol di tangan hamba? Ayah... maafkan Aaliyah yang lemah ini. Hamba pikir hamba sudah aman di sini, tapi ternyata lubang singa ini sedang dikepung oleh para pemburu. Ya Rabb, lindungilah kehormatan hamba yang tersisa. Jangan biarkan mereka melihat wajah hamba dalam keadaan terhina kembali.)

​"Tenanglah, Aaliyah," bisik Zayn, suaranya rendah namun penuh otoritas. Ia menghampiri Aaliyah dan memegang kedua bahu wanita itu, mencoba memberikan kekuatan melalui sentuhannya. "Tatapanmu harus tetap tenang. Jangan biarkan ketakutanmu memberikan kemenangan bagi mereka. Ikut aku sekarang juga."

​"Tuan... Zayn... mereka akan menangkap saya..." suara Aaliyah pecah oleh isak tangis yang tertahan.

​"Tidak akan ada yang menangkapmu selama kau berada di bawah perlindunganku," tegas Zayn.

​Zayn menarik tangan Aaliyah, membantunya turun dari ranjang. Meskipun kaki Aaliyah terasa seperti jelly karena sisa lemas pasca tenggelam, ia dipaksa oleh Zayn untuk berjalan cepat keluar dari kamar tamu tersebut melalui pintu belakang yang terhubung langsung dengan lorong menuju perpustakaan pribadi Zayn di lantai dua.

​Sementara itu, di depan gerbang utama, Sabrina berdiri dengan senyum kemenangan yang tak bisa ia sembunyikan. Di sampingnya, dua orang perwira polisi dan beberapa anggota tim penyidik berdiri dengan wajah serius.

​"Pak Polisi, saya yakin sekali wanita itu ada di dalam," ucap Sabrina dengan nada bicara yang dibuat-buat sedih. "Kami baru tahu identitas aslinya semalam. Kami sangat syok! Ternyata pelayan yang kami kasihanilah adalah buronan kasus skandal Al-Azhar yang dikabarkan meninggal itu. Dia menipu kami semua!"

​(Sabrina bersorak dalam hati: Rasakan ini! Begitu pintu gerbang itu terbuka, kamu akan diseret keluar, Maryam! Atau Aaliyah, atau siapa pun namamu! Aku ingin melihat wajah Zayn saat dia tahu bahwa wanita yang dia lindungi adalah seorang kriminal di mata hukum. Kamu akan membusuk di penjara, dan Zayn akan kembali merangkak padaku untuk menyelamatkan nama baik perusahaannya. Kemenangan ini terasa begitu manis!)

​"Buka gerbangnya!" perintah salah satu petugas kepolisian kepada satpam rumah Zayn.

​Satpam yang ketakutan itu segera membuka gerbang. Polisi-polisi itu melangkah masuk dengan tegap menuju pintu utama rumah. Di sana, Bi Inah sudah menunggu dengan wajah pucat pasi, tangannya terus memutar-mutar ujung celemeknya.

​"Di mana Zayn Al-Fatih?" tanya perwira polisi itu.

​"T-tuan Muda ada di atas, Pak... Beliau sedang istirahat," jawab Bi Inah terbata-bata.

​(Bi Inah membatin: Ya Allah, lindungilah Non Aaliyah... lindungilah Tuan Muda. Mengapa orang-orang jahat ini begitu tega membawa polisi ke rumah ini? Nona Sabrina benar-benar tidak punya hati nurani. Semoga Tuan Muda punya rencana untuk menyembunyikan Nona.)

​Di lantai dua, Zayn membawa Aaliyah masuk ke dalam perpustakaan pribadinya yang luas. Ruangan itu dipenuhi ribuan buku yang tertata rapi hingga ke langit-langit. Zayn menuju ke rak buku bagian tengah yang berisi koleksi buku sejarah kuno.

​Ia menekan sebuah tombol tersembunyi di balik salah satu buku tebal bersampul kulit. Seketika, terdengar bunyi klik mesin yang halus, dan satu bagian rak buku itu bergeser ke dalam, memperlihatkan sebuah ruangan kecil yang dilengkapi dengan monitor-monitor pengawas dan satu kursi empuk.

​"Masuk ke sini," perintah Zayn.

​Aaliyah menatap ruangan gelap itu dengan ragu. "Apa ini, Zayn?"

​"Ruang aman. Ayahku membangunnya saat perusahaan kami sedang diancam oleh mafia korporat bertahun-tahun lalu. Di sini kedap suara dan tidak bisa terdeteksi oleh pemindai panas. Masuklah, dan jangan bersuara sedikit pun sampai aku menjemputmu," jelas Zayn cepat.

​Aaliyah melangkah masuk. Ruangan itu sempit namun terasa sangat aman. Zayn ikut masuk sejenak untuk menyalakan monitor kecil di dalam sana agar Aaliyah bisa melihat apa yang terjadi di lantai bawah melalui kamera CCTV tersembunyi.

​Saat itulah, wajah mereka berada sangat dekat. Dalam cahaya remang ruangan rahasia, Zayn bisa melihat butiran keringat di dahi Aaliyah dan mata cokelatnya yang berkaca-kaca. Zayn terdiam sejenak, sebuah perasaan yang asing namun kuat menghantam dadanya.

​(Zayn membatin: Mengapa jantungku berdegup sekencang ini? Aku sudah terbiasa menghadapi negosiasi miliaran rupiah, tapi melihat ketakutan di mata wanita ini membuatku merasa lebih gugup daripada saat aku kehilangan seluruh sahamku. Aaliyah... kau bukan sekadar partner IT bagiku sekarang. Kau adalah tanggung jawabku. Kau adalah cahaya yang tidak boleh padam di rumah ini.)

​Zayn mengusap pipi Aaliyah dengan ibu jarinya, sebuah gerakan spontan yang membuat Aaliyah tersentak kecil namun tidak menghindar. "Percayalah padaku. Aku akan mengurus ular-ular di bawah sana."

​Aaliyah mengangguk lemah. "Terima kasih... Zayn."

​Zayn keluar dan menutup kembali rak buku itu hingga rapat sempurna. Tepat saat itu, terdengar suara langkah kaki banyak orang menaiki tangga dan suara Sabrina yang melengking.

​"Zayn! Zayn, buka pintunya! Polisi ada di sini!" teriak Sabrina.

​Zayn menarik napas panjang, merapikan jasnya yang masih sedikit lembap di bagian bawah, lalu berjalan dengan sangat tenang menuju pintu perpustakaan dan membukanya dengan satu sentakan kuat.

​"Ada apa ini? Mengapa kalian berisik sekali di depan ruang kerjaku?" tanya Zayn dengan nada dingin yang menusuk, menatap tajam ke arah perwira polisi dan Sabrina yang berdiri di depannya.

​Perwira polisi itu sedikit tertegun melihat aura kepemimpinan Zayn yang begitu kuat. "Maaf, Tuan Zayn Al-Fatih. Kami menerima laporan bahwa Anda menyembunyikan seorang buronan berinisial AH, alias Aaliyah Humaira, yang sedang dalam pencarian terkait kasus di Yayasan Al-Azhar."

​Zayn menyilangkan tangan di dadanya, sebuah seringai tipis yang sangat merendahkan muncul di bibirnya. "Laporan dari siapa? Dari wanita yang baru saja mencoba membunuh pelayanku di kolam renang tadi siang?" Zayn melirik tajam ke arah Sabrina.

​Sabrina tersentak, wajahnya memerah. "Jangan memutarbalikkan fakta, Zayn! Aku hanya ingin menegakkan hukum! Pelayan itu adalah penipu!"

​"Tuan Zayn, kami memiliki surat perintah penggeledahan resmi," ucap perwira itu sembari menunjukkan dokumen bermaterai. "Kami harus memeriksa seluruh ruangan ini."

​"Silakan," jawab Zayn santai, memberikan jalan bagi para polisi itu. "Tapi jika kalian tidak menemukannya, aku akan menuntut pihak pelapor atas pencemaran nama baik dan gangguan ketertiban. Dan Anda tahu, Pak Perwira, pengacaraku adalah yang terbaik di negeri ini."

​Di dalam ruang rahasia, Aaliyah duduk memeluk lututnya di depan monitor. Ia melihat melalui kamera CCTV bagaimana polisi-polisi itu menggeledah setiap sudut perpustakaan. Mereka mengetuk dinding, memeriksa bawah meja, bahkan membuka beberapa buku secara acak.

​(Batin Aaliyah menjerit: Ya Allah... satu orang polisi itu mendekati rak buku ini! Dia menyentuh pinggiran kayunya! Ya Rabb, tutupilah penglihatan mereka. Jangan biarkan mereka menemukan tombol itu. Hamba belum siap... hamba belum siap jika harus kembali ke kegelapan itu. Lindungilah Zayn... jangan biarkan dia terkena masalah karena mencoba melindungiku.)

​Jantung Aaliyah berdegup kencang saat melihat tangan salah satu polisi berada hanya beberapa inci dari buku "sejarah kuno" yang menjadi kunci pintu rahasia tersebut. Ia memejamkan matanya, mulutnya tak henti melantunkan ayat Kursi dengan suara yang nyaris tak terdengar.

​Di luar, Zayn tetap berdiri dengan tenang, namun matanya terus mengawasi gerak-gerik polisi di dekat rak buku tersebut. Tangannya di dalam saku celana terkepal kuat.

​(Zayn membatin: Maju satu langkah lagi, dan aku terpaksa akan menggunakan kartu AS-ku untuk menelepon Kapolda secara langsung. Aku tidak ingin melakukannya karena itu akan menarik perhatian lebih besar, tapi jika harus... aku akan melakukannya demi Aaliyah. Sabrina... lihatlah wajahmu. Kau tampak sangat kecewa karena polisi-polisi itu belum menemukan apa-apa. Kau pikir kau sudah menang, ya?)

​"Bagaimana, Pak?" tanya Zayn dengan nada bosan yang dibuat-buat. "Sudah sepuluh menit kalian mengobrak-abrik perpustakaanku. Apakah buronan yang kalian cari itu sekecil debu hingga tidak terlihat?"

​Perwira polisi itu menghela napas, menatap Sabrina dengan tatapan ragu. "Nona Sabrina, Anda bilang dia ada di area lantai dua ini. Kami sudah memeriksa kamar tamu, kamar mandi, dan perpustakaan ini."

​"Dia pasti ada di sini! Tadi aku melihat Zayn membawanya ke atas!" teriak Sabrina panik. Ia mulai mencari sendiri, menarik-narik beberapa buku dengan kasar. "Zayn, katakan padaku! Di mana kau menyembunyikan wanita ninja itu?!"

​Zayn melangkah maju dan menangkap tangan Sabrina dengan kasar. "Cukup, Sabrina! Kau sudah cukup membuat kekacauan hari ini. Kau masuk ke rumahku tanpa izin, membawa polisi dengan laporan palsu, dan merusak koleksi bukuku. Keluar sekarang juga!"

​"Zayn! Lepaskan! Sakit!" rintih Sabrina.

​"Pak Perwira, sepertinya informasi yang Anda terima salah. Wanita yang bernama Maryam itu sudah saya pecat dan saya suruh pergi dari rumah ini tepat setelah kejadian di kolam renang tadi karena dia ketahuan mencuri perhiasan Sabrina. Saya pikir dia sudah pergi jauh sekarang," ucap Zayn dengan nada bicara yang sangat meyakinkan.

​(Zayn membatin: Kebohongan demi kebohongan harus kuucapkan. Tapi ini adalah kebohongan yang suci untuk menyelamatkan kebenaran yang jauh lebih besar. Maafkan aku, Ayah... anakmu sekarang pandai bersandiwara.)

​Polisi itu saling pandang. "Tapi Tuan Zayn, kami belum melihatnya keluar dari gerbang depan."

​"Tentu saja tidak. Dia keluar melalui gerbang belakang, tempat pengangkutan sampah. Dia terlalu malu untuk lewat depan setelah aksinya terbongkar," tambah Zayn.

​Sabrina melotot. "Bohong! Kau berbohong, Zayn!"

​"Mana buktinya aku berbohong?" tantang Zayn. "Apakah kau punya rekaman dia masih di sini? Tidak ada kan? Karena area ini tadi CCTV-nya mati... bukankah itu hasil kerjamu sendiri, Sabrina?"

​Sabrina terdiam. Ia terjebak dalam lubang yang ia gali sendiri. Ia yang menyuruh Rian mematikan CCTV area belakang agar aksi dorongnya di kolam renang tidak terekam, namun kini justru ketiadaan rekaman itu menguntungkan Zayn untuk menyembunyikan keberadaan Aaliyah.

​Setelah perdebatan panjang dan penggeledahan yang nihil hasil, pihak kepolisian akhirnya memutuskan untuk mundur. Mereka meminta maaf kepada Zayn atas ketidaknyamanan tersebut. Sabrina dipaksa ikut keluar dengan wajah yang merah padam karena malu dan marah yang meledak-ledak.

​Begitu rumah itu kembali sunyi, Zayn tidak langsung membuka pintu rahasia. Ia menunggu selama lima menit, memastikan mobil polisi benar-benar sudah keluar dari kompleks. Ia kemudian berjalan menuju CCTV dan melihat Sabrina masih berdiri di depan gerbang dengan telepon di telinganya.

​(Zayn membatin: Dia belum menyerah. Dia pasti sedang menelepon Rian atau ayahnya. Aku harus bertindak cepat. Aku tidak bisa membiarkan Aaliyah di rumah ini lebih lama lagi jika Sabrina terus memantau.)

​Zayn kembali ke rak buku, menekan tombol rahasia, dan pintu itu terbuka. Aaliyah keluar dengan napas terengah-engah, matanya merah karena menangis. Tanpa sadar, ia langsung memegang lengan Zayn dengan erat.

​"Mereka sudah pergi?" tanya Aaliyah gemetar.

​"Sudah. Untuk saat ini kita aman," jawab Zayn, suaranya kini melunak. Ia menatap Aaliyah dengan tatapan yang sangat dalam. "Tapi Sabrina akan kembali. Dia tidak akan berhenti sampai dia melihatmu di penjara."

​Zayn mengajak Aaliyah duduk di kursi perpustakaan. Ia kemudian mengeluarkan ponselnya dan mendial sebuah nomor. "Siapkan jet pribadi di Bandara Halim. Satu jam lagi. Tujuan: Singapura."

​Aaliyah terperanjat. "Singapura? Untuk apa, Zayn?"

​Zayn menggenggam tangan Aaliyah, kali ini dengan kedua tangannya. "Aku akan membawamu ke tempat di mana Baskoro dan Sabrina tidak bisa menjangkaumu. Di sana, aku punya tim IT rahasia yang jauh lebih hebat dari Rian. Kita akan bekerja dari sana untuk menghancurkan mereka. Dan ibuku... aku juga akan membawanya bersamamu."

​Aaliyah terdiam. Ia menatap Zayn, mencari-cari apakah pria ini tulus atau hanya sedang menjalankan strategi bisnis lainnya.

​(Batin Aaliyah menjerit: Pergi bersamanya? Meninggalkan Indonesia saat ayah hamba masih koma? Tapi jika hamba tetap di sini, hamba hanya akan menjadi beban dan akhirnya ditangkap. Ya Allah, inikah jawaban dari petunjuk-Mu? Pergi bersama pria yang dulu menghinaku, tapi kini menjadi satu-satunya pelindungku? Mengapa hati hamba mulai merasa tenang saat berada di dekatnya?)

​"Zayn... bagaimana dengan ayah saya?" tanya Aaliyah lirih.

​"Aku sudah mengatur pemindahan ayahmu ke rumah sakit terbaik di Singapura malam ini juga dengan pengawalan medis rahasia. Dia akan aman di sana," jawab Zayn mantap.

​Aaliyah tidak bisa lagi membendung air matanya. Ia menunduk dan menangis, namun kali ini adalah tangisan syukur. "Terima kasih... terima kasih banyak, Zayn..."

​Zayn menarik Aaliyah ke dalam pelukannya. Sebuah pelukan yang canggung namun terasa sangat melindungi. Di luar, fajar drama baru saja akan menyingsing. Mereka akan melarikan diri dari fitnah, menuju medan pertempuran yang jauh lebih besar di negeri orang.

​(Zayn membatin: Aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi, Aaliyah. Bukan hanya karena kau partnerku, tapi karena aku sadar... duniaku yang dingin ini mulai terasa hangat sejak kau hadir, meskipun kau hadir sebagai Maryam si pelayan niqab yang misterius. Kita akan kembali ke sini sebagai pemenang, aku berjanji.)

​Malam itu, di bawah perlindungan kegelapan, sebuah jet pribadi lepas landas dari Jakarta. Di dalamnya, seorang CEO dingin dan seorang Hafizah buronan fitnah duduk berdampingan, menatap lampu-lampu kota yang perlahan mengecil. Perang sesungguhnya baru saja dimulai.

1
Rita Rita
sultan memang iblis,,, meski udah dihantam kuat dengan tabung oksigen masih lagi sehat walafiat,,
Rita Rita
orang jahat memang selalu menang duluan,,🤭
Rita Rita
dari part ke part menegangkan,, Aaliyah bener bener wanita kuat,,yg cerdas dan genius. dia berjuang sendiri demi cinta pertama nya sang ayah tercinta,,
Sri Jumiati
ceritanya bagus
Rita Rita
meski tegang masih ada sisi romantis nya. Zayn bisa aja bikin Aaliyah baper kalo ga sedang kritis keadaan,,
Rita Rita
cieee Zayn,,, belum apa apa udah mengklaim permaisuri ku🤭🤣😍😍
moga ditengah badai dusta ketulusan hati menghancurkan fitnah keji
Zulfa
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!