NovelToon NovelToon
Pergi Sakit Bertahan Sulit

Pergi Sakit Bertahan Sulit

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:242
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Rahayu

Cinta adalah anugerah... tapi bagaimana jika cinta harus kamu berikan pada orang lain?

Aletta syavira levania dan Dilan Wijaya Kusuma saling mencintai sejak SMA – cinta yang tumbuh perlahan seperti bunga di musim hujan. Namun ketika sahabatnya Tamara Amelia Siregar mengaku jatuh cinta pada Dilan untuk pertama kalinya, Aletta membuat keputusan berat, melepaskan orang yang dicintainya demi menyenangkan sahabatnya.

"Dia butuh kesempatan, aku mohon Dilan, aku jaminan kamu akan lebih bahagia sama dia." Ucapnya dengan nada yang memelas sampai Dilan pun tak tega untuk menolaknya

Untuk memenuhi janjinya, Aletta mencari cinta baru melalui media sosial dan bertemu Jonathan Adista sanjaya. Sementara itu, Dilan dengan berat hati menjalin hubungan dengan Tamara. Di depan orang lain, semuanya terlihat sempurna – dua pasangan yang harmonis dan bahagia. Namun di balik senyum dan candaan, setiap tatapan Aletta dan Dilan menyimpan rasa rindu yang tak bisa disembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Pagi itu, langit masih terlihat agak mendung seolah belum sepenuhnya cerah dari hujan kemarin. Di depan pagar rumah Aletta, terjadi pemandangan yang sedikit canggung namun penuh makna.

Dua pemuda datang bersamaan dengan tujuan yang sama menjemput Aletta untuk berangkat ke tempat PKL di Puskesmas.

Di sana ada Jonathan, wajahnya terlihat lelah dan matanya tampak sembab karena semalam tidak tidur sama sekali menjaga Yuda di Rumah Sakit.

Namun dia tetap berusaha datang tepat waktu karena dia ingin sekali mengantar kekasihnya sendiri, meskipun kondisinya sedang tidak baik-baik saja.

Dan di sampingnya ada Diego, yang tampak segar, rapi, dan bersemangat, seolah dengan senang hati menunggu momen ini untuk bisa berangkat bersama Aletta seperti yang diminta oleh Baskara.

"Pagi, Al. Ayo berangkat, gue sudah siap nungguin," sapa Diego dengan nada ceria dan senyum lebarnya.

Sementara itu, Jonathan hanya diam dan menatap Aletta dengan pandangan yang sulit diartikan, campuran antara rasa lelah, harapan, dan kekhawatiran.

Dia berharap Aletta akan memilih untuk ikut bersamanya, meskipun dia tahu dia tidak punya kendaraan sekeren milik Diego dan kondisinya sedang buruk.

Aletta melihat kedua pemuda itu bergantian, lalu matanya tertuju pada wajah pucat dan kantuk Jonathan. Hatinya terasa perih melihat keadaan kekasihnya yang begitu lelah.

Dia tahu betul seberapa berat beban yang dipikul Jonathan saat ini, dan dia tidak ingin Jonathan semakin lelah hanya demi mengantarnya.

"Jo..." panggil Aletta lirih sambil mendekat ke arah Jonathan. Matanya menatap dalam ke mata kekasihnya.

"Kamu lihat sendiri kan kondisi. Kamu? Kamu nggak tidur semalam, wajah kamu pucat sekali, dan papah kamu masih sakit parah di Rumah Sakit. Aku nggak tenang rasanya kalau kamu harus capek-capek bolak-balik cuma buat antar jemput aku." Mencoba memegang tangan Jonathan dengan lembut.

"Kamu lebih baik langsung kembali ke sana dan jaga papah kamu saja ya? Itu jauh lebih penting dan mendesak. Aku bisa berangkat sama Diego kok, kan Ayah juga sudah minta dia buat antar jemput aku. Kamu jangan khawatir, aku aman-aman kok sama dia." Ucap Aletta mengacungkan jempol pertanda dia tidak keberatan diantar oleh Diego.

Mendengar ucapan itu, hati Jonathan terasa seperti ditusuk jarum yang tajam. Dia kesal, dia kecewa, dan dia merasa tidak berguna.

Dia datang jauh-jauh dalam keadaan sakit dan lelah hanya karena dia ingin memastikan keselamatan Aletta, dan hanya karena dia ingin sedikit saja memiliki waktu bersamanya.

Tapi kini dia malah disuruh kembali ke Rumah Sakit merawat papahnya Yuda, dan Aletta memilih pergi bersama laki-laki lain yang dia sedang cemburui. Rasanya sakit sekali.

Namun, saat dia melihat tatapan mata Aletta yang penuh perhatian dan kekhawatiran padanya, perlahan rasa kesal itu luntur. Dia sadar, apa yang dikatakan Aletta itu benar dan masuk akal.

Yuda memang masih butuh pengawasan terus-menerus, kondisinya masih kritis. Dan Aletta mengatakan itu bukan karena dia tidak mau bersamanya, tapi karena dia sayang dan tidak ingin dia sakit juga. Meskipun rasanya berat dan pahit sekali, Jonathan mencoba mengerti dan menerima keadaan itu dengan lapang dada.

"Iya... kamu benar, Al. Maaf ya kalau aku merepotkan dan bikin kamu bingung. Aku kembali ke Rumah Sakit sekarang. Kamu hati-hati di jalan ya, pakai helm yang kencang, jangan ngebut. Kalau ada apa-apa langsung telepon aku, apa pun yang terjadi," kata Jonathan dengan suara lemah namun berusaha terdengar tegas.

Dia mengusap kepala Aletta sebentar dengan kasih sayang, lalu menatap tajam ke arah Diego seolah mengingatkan "Jaga dia baik-baik, kalau sampai dia kenapa-napa, gue nggak akan maafin loh."

Setelah itu, dengan berat hati Jonathan menyalakan mesin motornya dan berangkat kembali menuju Rumah Sakit, meninggalkan Aletta yang segera naik ke atas motor Diego dengan perasaan yang sama beratnya.

Sesampainya di Puskesmas, Aletta dan Diego langsung melapor kepada petugas yang bertugas dan segera ditempatkan sesuai pembagian tugas.

Dan ternyata, takdir memang seringkali membawa kejutan yang tak terduga. Mereka berdua ditempatkan di ruangan yang sama Ruang Pendaftaran dan Pengukuran Tekanan Darah.

Di ruangan itu, tugas mereka adalah membantu petugas kesehatan untuk mendata pasien yang datang, mengukur tekanan darah, berat badan, tinggi badan, serta mencatat riwayat keluhan penyakit pasien. Ruangan itu cukup sibuk dan ramai dikunjungi orang, terutama pada jam-jam pagi.

Meskipun begitu, suasana di antara Aletta dan Diego terasa sangat akrab dan menyenangkan. Mereka bekerja sama dengan sangat baik dan kompak. Diego yang cekatan dan ceria selalu berusaha membantu Aletta kapan saja dia kesulitan.

Dia selalu mengambil tugas-tugas berat agar Aletta tidak kelelahan, dan dia selalu berusaha membuat suasana menjadi santai dan tidak tegang dengan lelucon-leluconnya. Orang-orang di sana pun mengira mereka adalah pasangan kekasih karena terlihat begitu serasi dan dekat saat bekerja.

Namun, Aletta sendiri selalu bersikap sopan, menjaga jarak yang pantas, dan hanya menganggap Diego sebagai teman sekerja dan teman sekolah biasa, meskipun dia berterima kasih sekali atas kebaikan dan bantuannya.

Waktu berlalu dengan cepat karena kesibukan mereka melayani pasien yang datang silih berganti.

Tepat saat jam istirahat makan siang tiba, suasana di Puskesmas menjadi lebih tenang. Para petugas dan pekerja magang mulai duduk santai untuk makan dan beristirahat sejenak. Aletta duduk di kursi panjang di beranda depan ruangan, membuka bekal makanannya dengan santai.

Di saat itulah, ponselnya berdering nyaring di tangannya. Saat dilihat di layar, ternyata ada panggilan Video Call masuk dari Jonathan. Dengan wajah yang langsung berseri-seri karena senang, Aletta segera mengangkatnya.

Di layar ponsel itu, wajah Jonathan tampak terlihat sedikit lebih segar meskipun matanya masih terlihat lelah dan merah. Di latar belakangnya terlihat suasana ruang rawat inap rumah sakit, menandakan dia masih setia menjaga Yuda.

"Halo, Sayang... Lagi apa kamu?" sapa Jonathan lembut dari seberang sana, matanya menatap lekat-lekat ke layar ponsel seolah ingin menelan gambar wajah Aletta sepenuhnya.

"Lagi istirahat makan siang nih, Jo. Kamu gimana di sana? papah kamu gimana kondisinya?" jawab Aletta ramah dan senang.

"Papah agak lebih baik sekarang, sudah bisa tidur tenang. Tapi aku... aku kangen banget sama kamu, Al," kata Jonathan lirih. Kemudian, matanya bergerak cepat meneliti keadaan di sekitar Aletta lewat layar ponselnya.

Dia terus saja merasa cemas dan curiga, pikirannya terus membayangkan bahwa Diego pasti ada di dekat Aletta dan sedang berusaha mendekatinya. "Kamu sendirian aja di sana? Di mana Diego? Dia nggak makan bareng kamu kan?" tanyanya dengan nada yang sedikit tegang dan khawatir.

Aletta tersenyum tipis menyadari betapa cemburunya pacarnya itu, meskipun sedang dalam keadaan sulit sekalipun.

"Tenang saja, Jo. Aku sendirian kok di sini. Diego lagi makan di kantin Puskesmas sama teman-teman yang lain. Dia duduknya agak jauh dari sini. Kamu jangan terlalu curiga dan cemas terus ya, percaya sama aku. Aku tahu batasan dan aku tahu siapa orang yang sebenarnya ada di hatiku," jawab Aletta menenangkan.

Meskipun hatinya masih belum sepenuhnya tenang, tapi melihat wajah tulus dan senyum manis Aletta di layar itu sedikit bisa meredakan rasa cemas Jonathan.

Mereka mengobrol cukup lama, saling bercerita sedikit tentang kegiatan masing-masing, sampai akhirnya Aletta harus mengakhiri panggilan karena jam istirahat hampir habis dan dia harus kembali bekerja.

Hari kerja pun akhirnya selesai. Langit di luar sana kembali terlihat gelap dan kelabu, angin mulai bertiup sejuk membawa aroma hujan yang khas. Para petugas dan pekerja magang mulai pulang satu per satu.

Aletta berdiri di depan gerbang Puskesmas, memeluk kedua lengannya karena udara yang mulai dingin. Dia menunduk melihat layar ponselnya berkali-kali, berharap ada pesan masuk atau panggilan dari Jonathan.

Sejak siang tadi, komunikasi mereka terputus. Aletta sudah mencoba mengirim pesan dan menelepon berkali-kali, namun tidak ada jawaban sama sekali.

Pesannya hanya terkirim namun tidak pernah dibaca, dan teleponnya selalu masuk ke pesan suara. Aletta mulai merasa cemas dan gelisah. Dia khawatir ada sesuatu yang terjadi pada Jonathan atau keluarganya.

Sementara itu, Diego ternyata belum pulang juga. Dia masih duduk santai di atas motornya di dekat gerbang, tampak sabar sekali menunggu Aletta. Dia tahu Aletta sedang menunggu seseorang, tapi dia tetap memilih untuk tetap ada di sana demi memastikan keselamatan gadis itu.

"Al, loh nunggu siapa lagi sih? udah hampir satu jam kita berdiri di sini, cuacanya makin gelap dan mau hujan. Kalau loh nunggu Jonathan, sepertinya dia nggak bisa datang deh. Coba lihat awan itu, sebentar lagi pasti turun hujan deras," kata Diego akhirnya memecah keheningan, suaranya terdengar lembut dan penuh perhatian.

"Tapi... dia janji mau jemput gue hari ini, Diego. Dia juga belum kasih kabar apa pun sama gue. Gue takut kalau ada apa-apa sama dia atau papahnya," jawab Aletta dengan nada cemas dan wajah sedih.

Tak lama kemudian, apa yang dikhawatirkan terjadi. Langit seolah pecah, air hujan turun dengan sangat deras dan lebat, disertai angin yang cukup kencang. Aletta dan Diego tidak punya pilihan lain selain segera mencari tempat berteduh. Diego segera mengajak Aletta naik ke motornya dan melaju kencang mencari tempat berlindung.

Tempat pemberhentian pertama dan satu-satunya yang terlihat di sepanjang jalan itu hanyalah sebuah Pom Bensin Mini kecil dengan atap yang sempit di pinggir jalan. Mereka pun segera berteduh di sana, basah kuyup sebagian karena derasnya air hujan yang sulit dihindari.

Di tengah suara hujan yang berisik itu, akhirnya ponsel Aletta bergetar. Sebuah pesan masuk dari Jonathan. Dengan tangan gemetar karena dingin dan cemas, Aletta segera membacanya:

"Maaf, Sayang... Aku nggak bisa datang jemput kamu hari ini. Kondisi papah mendadak memburuk sore tadi, ginjalnya berhenti bekerja dan dokter harus segera menangani dia di ruang intensif. Aku sibuk mengurus administrasi dan menemani dokter, makanya aku nggak sempat membalas pesan dan telepon dari kamu. Maafkan aku ya... Aku bener-bener nggak bisa pergi dari sini sekarang. Kamu pulang dengan Diego yah, dia orang baik dan bisa dipercaya. Maafkan aku..."

Membaca pesan itu, hati Aletta langsung lega sekaligus sedih, lega karena Jonathan mengajarinya dan sedih sekali mendengar kondisi Yuda yang makin parah, tapi dia juga mengerti sepenuhnya posisi Jonathan. Dia tidak boleh memaksakan kehendak atau marah padanya dalam situasi seperti ini.

"Ada kabar dari Jonathan, Al?" tanya Diego pelan melihat wajah Aletta yang berubah sendu sejak menatap layar ponselnya.

Aletta mengangguk pelan sambil mengusap air mata yang hampir jatuh. "Iya... Papahnya Jo sakit parah dan kondisinya makin kritis. Dia nggak bisa datang jemput gue."

"Kalau begitu, kita pulang sekarang ya? Hujannya sepertinya nggak akan reda sebentar lagi. Kita pakai jas hujan saja, nanti gue pastikan kalau loh nggak terlalu basah. Bokap loh pasti khawatir kalau loh pulang terlambat," kata Diego lembut.

Aletta menatap derasnya air hujan di depannya, lalu mengangguk pasrah. "Iya... ayo kita pulang, Diego. Terima kasih sudah nungguin gue dan mau nganterin gue terus-menerus."

Tanpa mereka sadari, di saat yang sama di Rumah Sakit, Jonathan sedang berdiri di depan jendela kaca ruang rawat intensif, menatap derasnya hujan di luar sana dengan hati yang hancur dan penuh rasa bersalah.

Dia membayangkan Aletta sedang basah kuyup dan kedinginan, atau sedang pulang bersama laki-laki lain. Dia merasa begitu tidak berguna dan menyedihkan, tidak bisa melakukan apa-apa selain memohon pada Tuhan agar melindungi kekasihnya dan menyembuhkan Yuda secepatnya.

~be to continuous~

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!