Aneska (25 tahun) berada dalam situasi darurat: menikah dalam seminggu atau dijodohkan dengan "om-om" pilihan Papanya yang bernama Argani Sebasta. Demi kebebasan, Aneska nekat mencari pacar sewaan lewat bantuan sahabatnya.
Namun, kecerobohan berbuah petaka—atau mungkin keberuntungan. Di sebuah kafe, Aneska salah mendatangi meja. Bukannya bertemu pria dari aplikasi kencan, ia justru mengajak kencan seorang pria asing yang tampak dewasa dan sangat tampan.
Aneska tidak tahu bahwa pria itu adalah Argani Sebasta, calon tunangan yang sangat ia hindari. Arga yang menyadari kesalahan Aneska justru merasa tertarik dan memilih menyamar menjadi "Gani" si pria biasa.
Permainan menjadi serius saat Arga tiba-tiba mengajukan syarat gila: "Jangan cuma pacaran, ayo langsung menikah saja."
Terdesak waktu dan terpesona pada ketampanan "Gani", Aneska setuju. Akankah Aneska tetap bahagia saat tahu bahwa suami yang ia pilih sendiri sebenarnya adalah pria yang paling ingin ia tolak sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Benteng Pertahanan Arga
Malam sebelum hari besar itu tiba. Suasana di kediaman Arga terasa sangat tenang namun intim. Aneska, yang biasanya bar-bar dan suka menyalak, kini duduk merapat di samping Arga di sofa panjang. Rasa bersalah karena insiden pelarian ke kosan Miska masih membekas di hatinya.
"Mas... maaf ya," bisik Aneska manja. Ia menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Arga, jemarinya memainkan kancing kemeja pria itu. "Gue beneran trauma, makanya gue langsung shutdown."
Arga meletakkan tablet kerjanya, lalu merangkul bahu Aneska, menariknya hingga gadis itu duduk di pangkuannya. Posisi dominan yang selalu membuat Aneska merasa kecil namun aman.
"Permintaan maaf diterima," ucap Arga dengan suara baritonnya yang rendah. "Tapi lo tahu kan, Nes? Di dunia bisnis, nggak ada yang gratis. Apalagi buat calon istri yang udah bikin calon suaminya hampir kena serangan jantung."
Aneska mendongak, matanya yang bulat menatap Arga dengan polos. "Terus lo mau apa?"
Arga menyeringai, jemarinya mengusap bibir bawah Aneska dengan ibu jari. "Gue mau 'DP' tiap satu jam sekali sampai besok pagi kita di depan altar. Ciuman panas, tanpa bantahan. Gimana?"
"Dih! Dasar perjaka tua mesum!" Aneska sempat ingin protes, tapi sebelum kata-kata pedas lainnya keluar, Arga sudah membungkam bibirnya dengan ciuman yang dalam dan menuntut. Aneska hanya bisa pasrah, tangannya melingkar di leher Arga, membalas dengan malu-malu yang membuat Arga semakin gemas.
Namun, ketenangan itu terusik saat ponsel Aneska yang diletakkan di meja terus-menerus bergetar. Notifikasi Instagram dan berita online meledak.
"Mas, lihat ini..." Aneska menjauhkan wajahnya, meraih ponsel dengan tangan gemetar.
Di layar terpampang foto-foto editan yang sangat kasar namun terlihat nyata bagi orang awam. Foto Aneska sedang berpelukan mesra dengan seorang pria di sebuah klub malam, padahal Aneska paling malas menginjakkan kaki ke tempat bising seperti itu. Di bawahnya tertulis headline: "Calon Istri CEO Sebasta Group Ternyata Simpanan Pengusaha Muda?"
"Clara beneran cari mati," desis Aneska, matanya berkilat marah. Sisi bar-barnya kembali bangkit. "Gue bahkan nggak kenal cowok di foto ini siapa!"
Arga hanya melirik sekilas ke arah layar ponsel itu tanpa ekspresi terkejut sedikit pun. Ia justru menarik ponsel itu dari tangan Aneska dan melemparnya kembali ke meja.
"Lo nggak marah? Lo nggak mau nanya gue beneran main di belakang lo atau nggak?" tanya Aneska heran melihat ketenangan Arga.
Arga terkekeh, ia memeluk pinggang Aneska lebih erat. "Anes, gue udah tahu semua riwayat hidup lo bahkan sebelum gue mutusin buat jadi 'Gani' hari itu. Gue tahu lo itu cewek paling cuek sedunia kalau soal cowok. Edo selingkuh karena lo terlalu membosankan buat dia, kan? Lo terlalu sibuk sama diri lo sendiri, terlalu puas sama kasih sayang Papa Hendra sampai lo nggak pernah merasa butuh buat cari perhatian dari cowok lain."
Aneska melongo. "Lo... lo tahu sedetail itu?"
"Gue tahu lo itu tipe cewek yang kalau diajak kenalan bakal pasang muka tembok. Lo nggak bakal sudi dipeluk cowok di tempat umum kayak gitu," Arga mencium hidung Aneska gemas. "Jadi, foto editan kelas teri kayak gitu nggak bakal bikin gue ragu. Justru gue kasihan sama Clara, dia buang-buang uang buat bayar editor yang nggak pinter."
"Tapi Mas, ini udah viral! Nama keluarga gue bisa jelek!" Aneska mulai panik lagi.
Arga meraih ponselnya sendiri, menekan satu tombol panggilan cepat ke asistennya. "Jalankan rencana B. Kirim semua bukti penggelapan dana keluarga Mahendra ke bursa efek sekarang juga. Dan pastikan akun-akun yang menyebarkan foto Aneska langsung diblokir secara hukum dalam sepuluh menit."
Arga menutup teleponnya, lalu kembali menatap Aneska dengan tatapan yang sangat protektif.
"Besok adalah hari kita. Nggak akan ada naga, hantu model, atau apa pun yang bisa ngerusak itu. Lo cuma perlu fokus jadi pengantin gue yang paling cantik, dan tetep galak kayak biasanya," ucap Arga tenang.
Aneska menatap Arga dengan kekaguman yang tidak bisa disembunyikan. Pria di depannya ini benar-benar gila—gila kekuasaan, gila kontrol, dan yang paling penting, gila padanya.
"Mas Arga..."
"Hmm?"
"Makasih udah percaya sama cewek membosankan kayak gue."
Arga menarik tengkuk Aneska, menyatukan kening mereka. "Lo nggak membosankan, Anes. Lo itu tantangan terbesar dalam hidup gue. Dan gue punya waktu seumur hidup buat naklukin lo tiap hari."
Arga melirik jam di dinding. "Sudah satu jam. Waktunya DP kedua."
Aneska tertawa kecil di sela omelannya, membiarkan Arga kembali mendominasi malam terakhir mereka sebelum resmi menjadi suami istri. Ternyata, menjadi milik Arga berarti menyerahkan seluruh dunianya ke dalam perlindungan yang paling absolut.