Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.
Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.
Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.
Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.
Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:
Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.
Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-
Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25
Kamar sederhana.
Dua kasur terpisah.
Dinding kayu.
Lampu kecil di sudut ruangan.
Cukup.
Untuk beristirahat.
Grachius berdiri di tengah ruangan.
Menatap sekeliling sebentar.
Lalu duduk di salah satu kasur.
Daji menjatuhkan dirinya ke kasur lain.
“Akhirnya…”
Nada lega.
Namun—
tidak lama.
Grachius membuka suara.
“Aku akan tinggal di sini selama tiga hari.”
Daji menoleh.
“Lalu?”
Grachius menjawab tenang.
“Aku akan meditasi.”
Sunyi sejenak.
“…tiga hari penuh.”
Daji mengernyit.
“Lalu aku?”
Grachius melirik.
“Cari pekerjaan.”
Sunyi.
Beberapa detik.
Lalu—
“Hah?!”
Daji langsung bangkit duduk.
“Kau serius?!”
Grachius tetap tenang.
“Uang kita tidak cukup.”
Ia mengeluarkan kantong kecil.
Membukanya.
“Dua Silvar.”
Ia menjatuhkan dua koin perak ke tangannya.
“Dan lima Coppra.”
Koin perunggu menyusul.
“Tidak akan cukup untuk lama.”
Sunyi.
Daji menghela napas panjang.
“Kau ini…”
Ia menunjuk Grachius.
“…kau yang membawa ku ke sini!”
Grachius menatap datar.
“Kau yang ikut.”
Telak.
Daji terdiam.
Tidak bisa membalas.
“…tch.”
Ia membuang muka.
Mengeluh pelan.
“Menyebalkan.”
Grachius hanya tersenyum tipis.
Tanpa berkata apa-apa lagi.
Ia duduk bersila di atas kasur.
Menutup mata.
Napasnya perlahan teratur.
Energi di dalam tubuhnya mulai bergerak.
Tenang.
Dalam.
Meditasi dimulai.
Daji menatapnya sebentar.
Lalu menghela napas.
“…baiklah.”
Ia berdiri.
Berjalan ke pintu.
“…aku cari kerja.”
Tanpa menunggu jawaban—
ia keluar.
...----------------...
...----------------...
Di luar—
suasana penginapan tetap hidup.
Hangat.
Ramai.
Daji berjalan.
Matanya mencari seseorang.
Dan menemukan—
Thorgar.
Sedang duduk.
Memperhatikan sesuatu dengan serius.
Di tangannya—
Enjin.
Daji mendekat.
“Kau serius sekali.”
Thorgar tidak langsung menjawab.
Matanya masih terpaku pada bilah pedang itu.
“Ini bukan pedang biasa.”
Daji menyeringai kecil.
“Aku tahu.”
Ia menyandarkan tubuhnya ke meja.
“Ngomong-ngomong…”
“…kau butuh pekerja?”
Thorgar akhirnya menoleh.
Melihat Daji dari atas ke bawah.
Beberapa detik.
Lalu—
“Tidak.”
Jawaban cepat.
Tanpa ragu.
Daji langsung mengeluh.
“Cepat sekali menolaknya…”
Ia menghela napas.
“…padahal aku butuh uang.”
Thorgar kembali melihat Enjin.
Namun—
ia berbicara.
“Aku tidak butuh pekerja.”
Sedikit jeda.
“…tapi…”
Daji mengangkat alis.
“…aku punya teman.”
“…mungkin dia butuh.”
Daji langsung tertarik.
“Siapa?”
Thorgar menjawab santai.
“Helga.”
Helga.
“Dia punya bar.”
“…biasanya kekurangan orang.”
Daji tersenyum lebar.
“Itu baru kabar baik.”
Thorgar mengangguk kecil.
“Aku bisa mengenalkanmu.”
Daji menepuk meja.
“Ayo.”
Matanya kembali bersemangat.
Sementara di kamar—
Grachius tetap diam.
Tenggelam dalam meditasi.
Menguatkan dirinya.
Tanpa tahu—
di luar sana—
jalannya—
dan jalan orang-orang di sekitarnya—
mulai berkembang ke arah yang baru.
...----------------...
...----------------...
Langkah kaki terdengar di jalan batu.
Daji berjalan santai.
Di sampingnya—
Thorgar.
Mereka berhenti di depan sebuah bangunan.
Lebih ramai.
Lebih hidup.
Suara tawa terdengar dari dalam.
Dan aroma minuman—
menyambut dari pintu.
Thorgar mendorong pintu.
CREEEK.
Di dalam—
suasana hangat.
Meja-meja penuh.
Beberapa dwarf tertawa keras.
Yang lain minum.
Seorang wanita berdiri di balik meja panjang.
Tubuhnya kekar.
Namun gerakannya cepat.
Tatapannya tajam.
Helga.
Ia melirik.
“Thorgar.”
Nada datar.
“Kau bawa apa lagi?”
Thorgar menunjuk Daji.
“Pekerja.”
Helga menyipitkan mata.
Menilai.
Dari atas—
ke bawah.
“Dia?”
Daji menyeringai.
“Aku.”
Ia melangkah maju.
“Aku butuh kerja.”
Sedikit jeda.
“…tapi hanya tiga hari.”
Sunyi sejenak.
Helga mengangkat alis.
“Tiga hari?”
Daji mengangguk.
“Ya.”
Helga terdiam beberapa detik.
Lalu—
mengangkat bahu.
“Tidak masalah.”
Jawaban cepat.
“…aku memang butuh orang.”
Daji tersenyum lebar.
“Bagus.”
Helga menunjuk ke dalam.
“Langsung mulai hari ini.”
Daji mengedip.
“Cepat juga.”
Helga menyeringai tipis.
“Aku tidak suka menunggu.”
...----------------...
Beberapa saat kemudian—
Daji sudah berada di balik meja.
Belajar cepat.
Menyajikan minuman.
Menghindari tangan usil.
Dan—
menggerutu pelan.
“Ini lebih melelahkan dari berburu manusia…”
...----------------...
...----------------...
Jauh dari Kota Baldr—
di tengah hutan—
suara kapak terdengar.
THAK.
THAK.
Kayu terbelah.
Seorang pria berdiri.
Tenang.
Terbiasa.
Purus.
Ia mengangkat kapak lagi.
Namun—
berhenti.
Ia merasakan sesuatu.
Angin berubah.
Dan—
seseorang muncul.
Bukan perlahan.
Namun—
seketika.
Di hadapannya.
Seorang wanita.
Bersinar lembut.
Wujud aslinya.
Vita.
Purus menurunkan kapaknya.
“Sudah lama.”
Vita tersenyum tipis.
“Aku datang untuk berkunjung.”
Purus menatapnya.
“Grachius.”
Vita mengangguk.
“Dia sudah jauh.”
Sedikit jeda.
“Dia sudah sampai di Kota Baldr.”
Purus diam.
Mendengarkan.
Vita melanjutkan.
“Namun sebelum itu…”
Tatapannya sedikit berubah.
“…dia membuat masalah di Heimdall.”
Purus menghela napas kecil.
“Aku tidak terkejut.”
Vita melanjutkan.
“Dia menghancurkan patung Sagitta.”
Sunyi.
Purus menatap tanah sejenak.
“Itu buruk.”
Vita mengangguk.
“Dan akibatnya…”
“…dia diburu.”
Nada suaranya sedikit berat.
“Oleh empat Ksatria Templar.”
Purus menatap Vita.
“Dan?”
Vita menjawab tenang.
“Mereka mati.”
Sunyi.
Tidak ada ekspresi berlebihan.
Namun—
jelas.
Purus mengerti.
Vita melanjutkan.
“Dia juga tidak sendiri.”
Sedikit jeda.
“Seorang siluman rubah mengikutinya.”
Purus mengangkat alis sedikit.
“Menarik.”
Vita mengangguk.
“Dan satu hal lagi.”
Tatapannya menjadi lebih dalam.
“…dia mendamaikan Light Elf dan Dark Elf di Hutan Alfheim.”
Sunyi.
Purus benar-benar terdiam kali ini.
Kapaknya masih di tangannya.
Namun pikirannya—
jauh.
“Anak itu…”
Ia menghela napas pelan.
“…tidak hanya berjalan.”
Vita tersenyum tipis.
“Itulah yang aku maksud.”
Purus menatap ke arah hutan.
Ke arah yang tidak terlihat.
Namun—
seolah ia tahu.
Dimana Grachius berada.
“Perjalanannya…”
“…akan mengubah banyak hal.”
Vita tidak menyangkal.
Karena ia tahu—
itu benar.
Dan di tempat lain—
Grachius sedang bermeditasi.
Tanpa sadar—
riak yang ia buat—
sudah mulai menyebar.
Ke seluruh dunia.
...----------------...
...----------------...
Malam mulai hidup.
Di dalam bar—
suara tawa.
Dentuman gelas.
Dan obrolan yang tidak ada habisnya.
Daji bergerak di balik meja.
Menyajikan minuman.
Dengan ekspresi setengah malas.
“Kenapa aku harus melakukan ini…”
Namun—
ia tetap bekerja.
Cepat.
Efisien.
Pintu terbuka keras.
BAM!
Beberapa orang masuk.
Langkah berat.
Suara keras.
Manusia.
Party petualang.
Tatapan mereka liar.
Salah satu dari mereka tertawa kasar.
“Tempat kecil seperti ini ramai juga.”
Mereka duduk.
Namun tidak lama.
Suasana berubah.
Salah satu dari mereka mulai mendorong seorang dwarf.
“Apa yang kau lihat?”
Dwarf itu diam.
Tidak melawan.
Yang lain ikut tertawa.
Mendorong meja.
Menjatuhkan minuman.
Keributan dimulai.
Daji melihat.
Matanya menyipit.
"Menyebalkan."
Ia melirik para dwarf.
Tubuh mereka kuat.
Namun—
gerakan mereka kaku.
Terbiasa dengan palu.
Bukan perkelahian.
"Mereka tidak terbiasa bertarung…"
Daji menghela napas.
“Baiklah.”
Ia melangkah keluar dari balik meja.
Salah satu petualang menoleh.
“Hah?”
Belum sempat bereaksi—
BUK!
Tinju Daji mendarat.
Langsung menjatuhkan.
Yang lain terkejut.
“Apa—?!”
Namun Daji tidak memberi waktu.
Gerakannya cepat.
Tepat.
Tanpa ragu.
Satu per satu—
jatuh.
Tidak ada yang bisa menyentuhnya.
Hingga tersisa satu.
Pemimpin mereka.
Tubuh tinggi.
Kekar.
Ia berdiri.
Mencoba menyerang.
Namun—
dalam satu gerakan—
Daji sudah di depannya.
Tangannya mencengkeram leher pria itu.
Mata Daji berubah.
Lebih dalam.
Lebih gelap.
“Kau berisik.”
Pria itu mencoba meronta.
Namun—
terlambat.
Daji mendekatkan wajahnya.
Dan—
menghisap.
Sunyi.
Beberapa detik.
Tubuh pria itu melemas.
Jatuh.
Tidak bergerak.
Daji berdiri diam.
Matanya sedikit melebar.
"Ini…"
Ia merasakan sesuatu.
Di dalam dirinya.
Mengalir.
Berkembang.
Kuat.
Ia menoleh sedikit.
Dan—
ekornya—
bertambah.
Dari satu—
menjadi dua.
Sunyi.
Seluruh bar terdiam.
Tidak ada suara.
Tidak ada gerakan.
Semua mata—
tertuju pada Daji.
Para petualang yang tersisa—
wajah mereka pucat.
“…m-monster…”
Tanpa menunggu—
mereka kabur.
Meninggalkan bar.
Daji berdiri.
Melihat sekitar.
Semua diam.
Ia menghela napas kecil.
“Maaf.”
Nada suaranya lebih pelan.
“…aku tidak seharusnya…”
Ia menunduk sedikit.
“…memperlihatkan itu.”
Sunyi.
Beberapa detik.
Lalu—
“WOOO!!!”
Suara keras.
Daji mengangkat kepala.
Terkejut.
Para dwarf—
bersorak.
Tertawa.
Mengangkat gelas.
“Bagus sekali!”
“…akhirnya ada yang menghajar mereka!”
“Kerja bagus!”
Dwarf yang tadi didorong—
mendekat.
“Terima kasih.”
Nada tulus.
Daji membeku sejenak.
Tidak menyangka.
Langkah kaki mendekat.
Helga.
Ia menepuk punggung Daji.
BUK.
Kuat.
“Kau hebat.”
Daji menoleh.
Masih bingung.
“Aku pikir…”
Ia tidak melanjutkan.
Helga menyeringai.
“…selama kau tidak membuat masalah di tempatku…”
“…kau bebas melakukan apa yang perlu.”
Daji terdiam.
Menatap sekitar.
Orang-orang tertawa.
Minum.
Seolah tidak terjadi apa-apa—
kecuali—
mereka sekarang—
menghormatinya.
"Aneh…"
Pikirannya berbisik.
"Selama 200 tahun…"
"Aku tidak pernah…"
Ia menatap tangannya sendiri.
"…membantu orang."
Sunyi.
Untuk pertama kalinya—
perasaan itu muncul.
Bukan lapar.
Bukan keinginan.
Namun—
sesuatu yang asing.
Dan—
ia tidak tahu—
apakah ia menyukainya.
Atau tidak.