Empat tahun Inara menjadi ibu susu bagi Zidan. Selama itu pula, ia mendapatkan cinta dari Reno, ayah Zidan, bahkan mereka berencana untuk menikah.
Namun semuanya berubah saat Zoya, mantan istri Reno sekaligus ibu kandung Zidan, kembali dengan niat menebus kesalahan. Sejak saat itu, kehidupan Reno dan Zidan perlahan berpusat pada Zoya. Sementara Inara justru merasa tersisih dan selalu menjadi pihak yang disalahkan.
Inara tidak pernah tahu di mana letak kesalahannya, hingga membuat Reno yang dulu mencintainya kini berubah dingin.
Apa yang sebenarnya terjadi? Akankah Inara memilih bertahan atau justru akan pergi karena merasa sudah tidak dipilih lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
"Tante baik hati di sini?"
Suara kecil itu membuat Inara dan Nila menoleh bersamaan. Seorang anak laki-laki berpipi bulat berlari kecil ke arah mereka sambil tersenyum lebar. Anak itu tak lain adalah Baba.
Inara tampak sedikit terkejut sebelum akhirnya tersenyum hangat. "Eh, Baba? Kamu ngapain di sini?"
Baba langsung berhenti di depan Inara dengan wajah antusias. "Baba ikut Ayah kerja."
Cara anak itu berbicara dengan nyaman membuat Nila mengangkat sebelah alisnya heran. Ia lalu menyenggol pelan lengan Inara.
"Aura keibuanmu kuat banget ya, Ra?" godanya pelan.
Inara langsung memutar bola mata malas. "Apaan sih kamu, Nil."
Namun Nila malah terkekeh kecil sambil memperhatikan Baba yang terus berdiri dekat Inara, seolah sudah akrab sejak lama.
"Serius," bisiknya lagi. "Baba itu terkenal susah dekat sama orang lain, loh. Apalagi sama pemeran yang jadi ibu tirinya di proyek ini. Gara-gara dia gak mau nurut, adegannya sampai sering take ulang."
Inara langsung menoleh penasaran. "Hah? Memangnya dia artis?"
"Pendatang baru," jawab Nila santai. "Ayahnya pemilik perusahaan agensi yang ngurus proyek ini. Jadi Baba sekalian diajak syuting."
Baba yang sejak tadi mendengar mereka berbisik-bisik langsung manyun kecil karena merasa diabaikan.
"Kalian lagi ngomongin Ayah Baba ya?" tanyanya polos sambil menatap mereka bergantian.
Inara dan Nila langsung saling pandang sesaat sebelum akhirnya tertawa kecil melihat ekspresi curiga anak itu.
"Enggak tuh," jawab Inara sambil menahan senyum. "Memangnya Ayah Baba kenapa?"
Baba langsung mengangkat dagunya bangga. "Ayah Baba ganteng. Jadi Tante masih berminat jadi ibu Baba?"
Nila spontan terkekeh pelan mendengar ucapan polos itu.
"Wow, Baba semangat banget nyari ibu baru?" godanya gemas.
"Iya!" jawab Baba cepat tanpa malu-malu. "Tante kan baik hati, jadi Baba mau Tante jadi ibu Baba."
Inara hanya bisa menggeleng pelan sambil tersenyum tipis melihat tingkahnya. Sudah lama rasanya ia tidak berada di dekat anak kecil seceria ini tanpa merasa dadanya sesak mengingat Zidan. Namun senyum itu perlahan memudar saat bayangan Zidan kembali muncul di kepalanya. Suara kecil anak itu yang mengatakan benci padanya masih terus terngiang sampai sekarang.
Baba yang menyadari perubahan ekspresi Inara langsung memiringkan kepala bingung.
"Tante baik hati kenapa sedih?" tanyanya pelan. "Kalau gak mau juga gak apa-apa."
Pertanyaan polos itu membuat Inara tersentak kecil. Ia buru-buru menggeleng lalu mengusap kepala Baba pelan.
"Gak sedih kok. Baba kan tahu Tante ini sudah punya anak."
"Bohong," celetuk Baba cepat. "Mata Tante kayak mau nangis."
Anak kecil itu lalu mendekat sedikit sambil berkata dengan suara polosnya, "Kalau Tante punya anak kayak Baba, Tante pasti bahagia terus. Baba gak bakal bikin Tante sedih."
Kalimat sederhana itu justru membuat dada Inara terasa semakin sesak. Ia sampai harus mengalihkan wajah sejenak agar air matanya tidak jatuh di depan anak kecil itu.
Nila yang melihat sahabatnya hanya bisa diam. Ia tahu luka Inara masih terlalu dalam untuk benar-benar hilang dalam waktu singkat.
Beruntung sebelum suasana berubah semakin canggung, suara seseorang terdengar dari arah belakang.
"Baba."
Suara laki-laki yang berat dan tenang itu membuat Baba langsung menoleh cepat.
"Ayah!" serunya antusias. Namun anak kecil itu tidak langsung berlari menghampiri. Ia justru semakin merapat ke sisi Inara seolah belum puas mengobrol dengannya.
Memang sejak awal Baba yang merengek ingin ikut ke lokasi syuting. Alasannya sederhana, ia ingin dekat dengan ayahnya. Karena itulah Altaf akhirnya mengizinkan Baba ikut sekaligus bermain dalam proyek film tersebut.
Altaf berjalan mendekat dengan tatapan datar yang langsung tertuju pada putranya.
"Sebentar lagi kamu take," ucapnya tenang, tetapi tetap terdengar tegas. "Jadi jangan bikin ulah. Kalau kamu bikin ulah lagi, lebih baik di rumah saja."
Baba langsung mengerucutkan bibirnya kesal. "Baba gak bikin ulah."
"Yang kemarin itu apa?" tanya Altaf tanpa ekspresi. "Siapa yang nolak syuting sampai semua orang nungguin?"
"Itu karena Baba gak suka sama Tante jahat itu," protes Baba cepat sambil melipat tangan kecilnya di dada. "Dia galak."
Nila yang melihat Altaf akhirnya tersenyum kecil lalu memperkenalkan Inara.
"Pak Al, ini teman saya. Namanya Inara."
Baru kali itu Altaf benar-benar mengalihkan pandangannya pada Inara. Tatapannya tenang, tetapi cukup tajam untuk membuat Inara sedikit salah tingkah.
"Oh," jawab Altaf singkat sambil mengangguk kecil.
Respons datar itu membuat Nila langsung melirik Inara seolah ingin berkata, tuh kan benar orangnya dingin.
Sementara Baba yang berdiri di dekat mereka malah mendengus kecil.
"Ayah kebiasaan," celetuknya polos. "Dingin, cuek. Pantes gak laku-laku."
"Ingat umur," gumam Altaf sambil meraup wajahnya frustrasi.
Kadang ia sendiri tidak mengerti dari mana anak itu belajar bicara seperti orang dewasa. Namun Altaf sadar Baba memang berbeda dari anak seusianya. Di umur yang bahkan belum genap lima tahun, anak itu sudah bisa menangkap banyak hal dengan cepat dan sering berbicara di luar dugaan.
Baba sama sekali tidak merasa bersalah. Ia malah kembali menatap Inara dengan mata berbinar.
"Tante namanya Inara?" tanyanya memastikan.
Inara mengangguk kecil sambil tersenyum tipis. "Iya."
"Wah…" Baba tampak kagum. "Namanya cantik, orangnya juga cantik."
Pujian spontan itu langsung membuat Inara salah tingkah. Sudah lama rasanya ia tidak mendengar pujian setulus itu, apalagi keluar dari mulut anak kecil dengan ekspresi sejujur Baba.
Nila langsung menahan tawa melihat wajah Inara yang mulai memerah.
"Bahaya, Ra. Kamu udah dapat penggemar cilik," godanya pelan.
Sementara Altaf hanya berdiri diam sambil memperhatikan putranya yang terus menempel di dekat Inara. Tatapan pria itu perlahan berubah samar, seolah sedang mengingat sesuatu. Karena anehnya, ini bukan pertama kali Baba bersikap seakrab itu pada Inara.