Aku Andrea Sayne memiliki Satu kakak laki laki bernama Hazel, kakak ku Memiliki banyak teman Salah satu nya Panggil saja Luq, Luq bukan sekadar teman baik Hazel. Bagiku, dia adalah "bintang" yang selalu mampir ke ruang tamu kami, membawa tawa yang sama, namun dengan efek yang berbeda di hatiku.
Sejak kecil, aku sudah terbiasa melihat punggung Luq saat dia berjalan masuk ke rumah, atau mendengar candaannya dengan Kak Hazel dari balik pintu kamar. Aku tumbuh dengan mengaguminya dalam diam, membiarkan perasaan itu menetap, bahkan ketika aku mulai beranjak remaja dan menyadari bahwa perasaanku tidak lagi sesederhana saat kami masih bermain Mobile Legends Bersama Di ruang tamu.
Dulu, aku hanya "adik kecil yang menyebalkan". Sekarang, saat aku beranjak dewasa, jarak antara aku dan Luq terasa semakin membingungkan. Apakah mungkin dia melihatku lebih dari sekadar "adiknya Hazel"? Atau, apakah perasaanku hanya akan menjadi rahasia yang terkunci rapat di balik pintu ruang tamu kami?..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rea Sayne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PROLOG : Sore di Ruang Tamu
Kadang, aku merasa ingatan itu seperti tumpukan foto polaroid yang terselip di balik lemari. Warnanya mungkin sedikit memudar, sudut-sudutnya mungkin sudah melengkung karena dimakan waktu, tapi ketika aku menyentuhnya—saat aku memejamkan mata dan mencoba mengingat kembali—semuanya terasa hidup. Begitu hidup sampai aku bisa mencium aroma udara sore itu, aroma yang selalu identik dengan masa kecilku.
Namaku Andrea. Sekarang, saat aku menatap cermin dan melihat diriku yang sudah beranjak remaja, aku sering bertanya-tanya; apakah gadis kecil di masa lalu itu tahu bahwa perasaan yang ia tanam di lubuk hatinya akan tumbuh begitu dalam?
Mari kita kembali ke hari itu. Hari di mana semuanya bermula.
Tahun itu, aku baru saja duduk di bangku kelas 1 SD. Hidupku adalah tentang pita rambut yang selalu miring, sepatu sekolah yang ujungnya sudah mulai kusam, dan tentu saja, Kak Hazel. Kakak laki-lakiku yang duduk di kelas 3 SD itu adalah dunianya sendiri. Dia berisik, jahil, dan selalu membawa "dunianya" masuk ke dalam rumah kami. Dunia itu bernama Luq.
Sore itu adalah salah satu hari Selasa yang panas. Cahaya matahari masuk melalui celah gorden ruang tamu, menciptakan garis-garis cahaya yang penuh debu beterbangan. Aku sedang duduk di karpet bulu abu-abu di ruang tamu, sibuk membolak-balik buku gambar, mencoba mewarnai karakter kartun dengan krayon yang ujungnya sudah patah. Rumah sedang sepi, Ibu sedang di dapur, dan Ayah masih bekerja.
Lalu, bunyi itu terdengar.
BRAKK!!
Pintu kayu depan rumah kami digebrak kasar, diikuti tawa renyah yang terdengar seperti musik bagi telingaku. Itu Kak Hazel. Dia masuk sambil berlari, tas sekolahnya yang penuh dengan buku tulis berat dihempaskan begitu saja ke lantai.
"Luq! Cepat masuk, jangan lambat!" seru Kak Hazel, suaranya menggema di seluruh ruangan.
Di belakangnya, muncul sosok yang sudah sangat kukenal. Luq. Dia berjalan masuk dengan tenang, tidak seberisik Kak Hazel, tapi kehadirannya selalu memberikan efek magnetik yang aneh. Luq melepas sepatunya dengan rapi, menaruhnya di rak, lalu berjalan masuk ke ruang tamu dengan langkah yang santai. Seragam putih-merah mereka terlihat kusut, bukti bahwa mereka baru saja menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain atau mungkin sekadar lari-larian di lapangan sekolah.
Aku, seperti biasa, segera menarik diri. Aku merangkak mundur, bersembunyi di balik sofa yang besar—tempat persembunyian favoritku. Dari sana, aku bisa melihat mereka tanpa terlihat.
"Ah, panas banget hari ini," keluh Kak Hazel sambil menjatuhkan tubuhnya ke sofa, tepat di atas bantal tempatku biasanya bersandar. "Ibu ada minum dingin nggak ya?"
Luq duduk di lantai, tepat di samping meja kopi yang juga menjadi batas antara persembunyianku dan mereka. Dia terlihat mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Itu adalah bungkus permen berwarna cerah. Dia tidak langsung memakannya. Dia malah memutar-mutar bungkusan itu di antara jemarinya yang masih kecil.
"Tadi di kantin aku beli ini, tapi lupa dimakan," gumam Luq pelan, suaranya tenang.
Aku menahan napas. Dari balik celah sofa, aku mengintip. Mata Luq terlihat fokus pada apa yang dia pegang, tapi sesekali dia menoleh ke arah Kak Hazel. Jantungku berdetak tidak karuan. Bukan karena aku takut ketahuan, tapi karena ada rasa hangat yang menjalar di dadaku. Perasaan yang aneh, yang tidak bisa kujelaskan saat itu. Aku hanya tahu, aku suka melihat Luq tertawa, dan aku suka melihatnya ada di rumah ini.
"Eh, Andrea mana?" tanya Luq tiba-tiba.
Suara itu membuatku nyaris melompat. Bagaimana dia bisa tahu aku di sana? Padahal aku sudah berusaha diam.
"Andrea? Paling lagi main ponsel atau boneka atau gambar-gambar nggak jelas di kamar," jawab Kak Hazel acuh tak acuh sambil sibuk membongkar tasnya untuk mencari sesuatu. "Biarkan saja, dia memang suka menyendiri."
"Oh," gumam Luq singkat.
Hening sejenak. Hanya terdengar suara kipas angin yang berputar di langit-langit, mengeluarkan bunyi nging yang samar. Lalu, tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki mendekat ke arah sofa. Aku memejamkan mata, memeluk boneka kelinciku erat-erat. Jantungku rasanya mau copot!.
"Andrea?"
Itu suara Luq. Lebih dekat sekarang.
Aku memberanikan diri membuka mata sedikit. Di sana, di balik celah sofa, wajah Luq muncul. Rambutnya sedikit berantakan, dan dia tersenyum. Bukan senyum jahil seperti Kak Hazel, tapi senyum yang... entahlah, senyum yang membuat dunia di sekitarku seolah berhenti berputar.
"Tahu nggak, aku lihat kamu dari tadi," bisiknya pelan, seolah kami sedang berbagi rahasia besar.
Wajahku memerah. Pasti merah sekali. Aku hanya bisa mengangguk kecil, tidak berani menjawab apa-apa. Lidahku kelu.
"Nih," dia menyodorkan permen yang tadi dia pegang. Permen rasa stroberi kesukaanku. "Buat kamu aja. Jangan kasih tahu Hazel, nanti dia minta."
Dia mengedipkan sebelah mata, lalu kembali duduk di tempatnya semula, meninggalkan aku yang masih mematung dengan jantung yang berdegup kencang. Aku memegang permen itu—masih terasa hangat bekas tangannya—dan merasa seperti baru saja mendapatkan harta karun yang paling berharga di dunia.
Saat itu, di usia yang sangat muda, aku belum tahu apa itu cinta. Aku belum mengerti kenapa pipiku terasa panas setiap kali melihatnya, atau kenapa aku selalu mencari-cari alasan untuk keluar kamar setiap kali mendengar suara nya terdengar di luar rumah ataupun di ruang tamu. Aku tidak tahu bahwa perasaan itu adalah awal dari sebuah perjalanan panjang.
Aku tidak tahu bahwa "teman abangku" ini akan menjadi satu-satunya orang yang mengisi ruang di hatiku selama bertahun-tahun ke depan.
Kini, bertahun-tahun kemudian, aku duduk di sini, menatap ponsel dengan catatan kosong, mencoba merangkai kata-kata untuk menceritakan kisah itu. Kisah tentang seorang gadis kecil, seorang kakak laki-laki yang berisik, dan seorang teman yang tanpa sadar telah mencuri hati si adik kecilnya.
Ini bukan sekadar cerita tentang rasa suka masa kecil. Ini adalah cerita tentang bagaimana sebuah senyuman di sore hari bisa mengubah seluruh hidupku, dan bagaimana sebuah rahasia kecil di balik sofa ruang tamu itu perlahan-lahan menjadi pusat dari duniaku yang terus tumbuh.
Mari kita mulai ceritanya! (MY KISAH AKAN DIMULAI)