" Dua puluh tahun terkurung. Sebuah pernikahan tanpa suara. Dan seorang pria yang lebih memilih diam dari pada berjuang.
Arumi mengira ia akan mekar setelah menikah. Ternyata , ia hanya berpindah ke sangkar yg lebih dingin. Ketika kehidupan hidup mulai mencekik dan suaminya tetap membatu, Arumi menyadari satu hal : Untuk bisa bernafas lagi, ia harus merelakan segalanya. Termasuk status yg selama ini di anggap suci."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miss tiii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cabe Rawit dan Parfum Palsu
Siang itu, ruko baru Arumi mendadak riuh. Bukan karena pembeli, tapi karena Clarissa datang dengan pengacara pribadinya yang berwajah kaku. Ia tampak tidak terima dengan rekaman suara yang disebarkan Erick dan berniat menggugat balik Arumi atas pencemaran nama baik.
"Arumi! Keluar kamu tukang bumbu rendang!" teriak Clarissa, berdiri di tengah ruko yang masih setengah jadi. "Berani-beraninya kamu menyebarkan rekaman palsu itu! Pengacaraku akan memastikan kamu membusuk di penjara bareng mantan suamimu yang bau itu!"
Dania yang sedang asyik makan cilok pedas di pojokan langsung berdiri, bibirnya masih merah terkena sambal. "Heh, Lampir! Masih berani nampakin batang hidung operasi plastikmu di sini?"
"Jaga mulutmu, Dania! Kamu cuma anak mafia yang nggak punya etika!" Clarissa menudingkan telunjuknya yang dipasangi kuku palsu panjang.
Rendra yang baru saja datang membawa kopi latte mahal, menghela napas dramatis. Ia melangkah maju dengan gaya model catwalk. "Duh, Clarissa... secara estetika visual, marah-marah di tempat yang banyak debu renovasi itu bikin pori-porimu makin lebar lho. Dan itu kuku... ya ampun, model tahun berapa? Ketinggalan zaman banget, kayak selera makanmu."
"Diam kamu, Rendra! Jangan sok tahu soal gaya!" Clarissa meradang.
Arumi keluar dari ruangan belakang, wajahnya tenang namun matanya menatap tajam. Di sampingnya, Adnan berdiri dengan tangan bersedekap, auranya sangat mengintimidasi.
"Mbak Clarissa, jika Mbak ingin bicara soal hukum, silakan hubungi pengacara saya. Tapi jika Mbak datang hanya untuk merusak suasana ruko saya, lebih baik Mbak pergi," ujar Arumi tegas.
"Hukum? Aku akan menghancurkanmu, Arumi! Aku akan buat semua orang tahu kalau bumbumu itu pakai pengawet mayat!" Clarissa mulai histeris.
Tiba-tiba, Kinan berlari keluar membawa sebuah semprotan botol kecil berisi air yang dicampur ulekan cabai rawit sisa dapur. "Tante Jahat! Jangan ganggu Ibu! Ibu Kinan itu pahlawan!"
CROT! CROT!
Kinan menyemprotkan air cabai itu tepat ke arah wajah Clarissa.
"AAAAARGH! MATAKU! PANAS! PANAS!" Clarissa menjerit-jerit sambil memegangi wajahnya. Parfum mahalnya kini berganti aroma pedas menyengat.
Dania tertawa terbahak-bahak sampai tersedak ciloknya. "GILA! KINAN! Kamu beneran keponakan aku! Headshot banget!"
Rendra menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan tawa. "Waduh... secara sensorik, ini namanya spicy treatment. Clarissa, sekarang wajahmu beneran jadi 'panas' seperti yang kamu mau."
Pengacara Clarissa tampak bingung dan malu, mencoba menolong kliennya yang sedang guling-guling tidak jelas. "Ini... ini penganiayaan terhadap anak di bawah umur! Eh, maksud saya, penganiayaan oleh anak kecil!"
Adnan melangkah maju, suaranya dingin seperti es. "Sampaikan pada klienmu, ini baru air cabai. Kalau dia masih mengganggu Arumi, yang akan menyemprotnya bukan anak kecil lagi, tapi seluruh kekuatan hukum yang saya punya. Sekarang, bawa dia keluar sebelum saya panggil keamanan pasar untuk menyeretnya!"
Clarissa diseret keluar oleh pengacaranya dengan wajah merah padam dan air mata yang terus mengalir karena pedas. Aroma cabai rawit tertinggal di udara ruko.
"Kinan... kamu dapat ide dari mana?" tanya Arumi, antara kaget dan ingin tertawa.
Kinan menyimpan botol semprotannya dengan bangga. "Dari Kak Dania, Bu! Katanya kalau ada lalat hijau, disemprot pakai ini biar kapok!"
Dania mengacungkan jempol pada Kinan. "Pintar! High five, Sayang!"
Adnan menggelengkan kepala, lalu menatap Arumi sambil tersenyum tipis. "Sepertinya anakmu sudah mulai belajar cara menjaga diri dengan cara yang... unik."
"Unik?" Rendra menyahut sambil membetulkan kacamatanya. "Ini namanya masterpiece. Arum, bumbu cabaimu memang luar biasa, bahkan bisa jadi senjata pertahanan tingkat tinggi!"
Di luar ruko, dari balik tiang listrik, Ibu Maryam menyaksikan pemandangan itu. Ia merasa sedih melihat Arumi kini dikelilingi orang-orang hebat, sementara anaknya sendiri, Baskara, sedang meringkuk kesakitan di penjara. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah surat kecil yang ditulis Baskara dari sel—surat penuh manipulasi yang meminta Ibu Maryam melakukan satu hal terakhir untuknya.