“Di kehidupan ini, Akulah yang memegang kendali takdir.”
"Reinkarnasi sebagai saudara kembar Itachi dengan Supreme System."
"Aku akan mengubah takdir klan uchiha."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wawan wan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27: Kartu As Baru dan Gerakan Rahasia di Sektor Bayangan
Bab 27: Kartu As Baru dan Gerakan Rahasia di Sektor Bayangan
Tiga hari penundaan misi yang disebabkan oleh paranoia akut faksi Hiruzen dan Danzo menjadi berkah tersendiri bagi Uchiha Veil. Sementara seluruh instansi militer Konoha sibuk melakukan interogasi internal dan memperketat patroli di sepanjang pipa bawah tanah desa, kediaman utama Uchiha tetap menjadi zona tenang yang mustahil ditembus berkat Asura Barrier.
Malam itu, di dalam ruang rahasia bawah tanah kompleks Uchiha yang hanya diketahui oleh si kembar dan Shisui, Veil duduk bermeditasi di tengah ruangan. Di hadapannya, terhampar 6.000 Poin Sistem yang siap dieksekusi.
Sistem, buka Toko Terbatas. Aku butuh sesuatu yang bisa memperkuat lini pertahanan spiritual dan fisik klan untuk jangka panjang, perintah Veil dalam hati.
【Ding! Menampilkan Rekomendasi Toko Terbatas berbasis Kondisi Tuan Rumah...】
[Pil Pemurni Jiwa Yin - Grade Tinggi]: 3.000 Poin (Meningkatkan kemurnian chakra spiritual Uchiha secara instan tanpa efek samping).
[Segel Pengikat Jiwa - Vajra Chain]: 3.000 Poin (Teknik segel rantai energi kuno yang mampu menekan fluktuasi chakra monster berekor atau membatasi pergerakan pengguna Ruang-Waktu).
Veil menyipitkan matanya. Kombinasi yang sempurna. Vajra Chain versi sistem ini akan menjadi tandingan mutlak jika bajingan bertopeng itu (Obito) mencoba menyusup kembali atau jika faksi Root menggunakan segel kutukan lidah pada anggota klan.
"Beli keduanya, Sistem. Eksekusi sekarang," ucap Veil tanpa ragu.
【Ding! Berhasil membeli [Pil Pemurni Jiwa Yin] dan [Segel Vajra Chain]! Sisa Poin Tuan Rumah: 0 Poin.】
【Notifikasi: [Segel Vajra Chain] telah diintegrasikan langsung ke dalam jalur memori otot dan chakra Tuan Rumah!】
Seketika, gelombang pengetahuan tentang jutsu penyegelan kuno mengalir masuk ke dalam otak Veil. Di saat yang sama, dia membuka botol pil ungu yang baru muncul di tangannya. Dia tidak meminumnya sendiri, melainkan menyimpannya dalam wadah khusus. Pil ini ditujukan untuk mematangkan Sharingan milik Shisui agar melompat ke tingkat Mangekyou lebih cepat tanpa perlu memicu tragedi kematian.
Keesokan paginya, di dalam hutan latihan rahasia, Shisui berlutut dengan satu kaki di hadapan Veil setelah menerima pil tersebut.
"Veil... energi di dalam pil ini... benar-benar menekan kegelapan di dalam mataku," ucap Shisui takjub, meraba kelopak matanya yang memancarkan pendaran chakra merah yang sangat padat. "Aku merasa penglihatan Shunshin-ku kini menjadi berkali-kali lipat lebih tajam."
"Bagus," jawab Veil datar, berdiri dengan tangan di belakang punggung. "Gunakan kekuatan itu untuk terus mengawasi pergerakan Uchiha Yashiro. Danzo mulai mencurigai orang-orang di sekitarnya. Pastikan laporan palsu dari Yashiro tetap konsisten dan tidak memicu kecurigaan bahwa dia berada di bawah pengaruh kita."
"Dimengerti, Veil," Shisui mengangguk patuh sebelum tubuhnya memudar dalam keheningan absolut teknik Langkah Tanpa Bayangan.
Setelah Shisui pergi, Itachi berjalan mendekat dengan pakaian misi Tim 11 yang sudah lengkap. "Veil, Yugao-sensei baru saja mengirimkan pesan. Masa penundaan telah berakhir. Hokage-sama memanggil kita ke kantornya untuk menerima misi baru secara langsung."
Veil melirik ikat kepala besi Konoha di lengan kirinya, seulas senyuman dingin terukir samar. "Mari kita lihat, permainan apa lagi yang ingin dimainkan oleh Paman Minato setelah berhasil menekan dewan tua."
Di kantor Hokage, atmosfer ruangan tampak jauh lebih bersih dibandingkan tiga hari lalu. Minato Namikaze berdiri di dekat jendela, menatap pemandangan desa dengan raut wajah yang segar. Begitu Tim 11 masuk dan berlutut memberi hormat, Minato berbalik dengan senyum khasnya.
"Veil, Itachi, Yugao. Terima kasih sudah menunggu," ucap Minato hangat. Dia berjalan mendekati mejanya dan mengambil sebuah gulungan misi berwarna merah tua—simbol untuk misi kelas tinggi.
"Situasi internal desa telah distabilkan," lanjut Minato dengan nada penuh arti, melirik si kembar. "Oleh karena itu, aku memiliki tugas penting yang hanya bisa kupercayakan kepada Tim 11. Ini adalah misi tingkat A resmi pertama kalian."
Uzuki Yugao sedikit terkejut. Misi tingkat A untuk dua bocah berusia enam tahun? Namun mengingat performa mengerikan si kembar di misi sebelumnya, dia menahan suaranya.
"Misi kalian adalah menuju ke wilayah perbatasan Negara Api yang berbatasan dengan Negara Rumput. Berdasarkan laporan intelijen terbaru, ada aktivitas mencurigakan dari sisa-sisa faksi ninja pelarian Kirigakure yang mencoba membangun markas transit ilegal di sana," jelas Minato, matanya berkilat tajam. "Tugas kalian adalah menghancurkan markas tersebut dan mengamankan dokumen dokumen logistik yang mereka miliki."
Minato sengaja mengirim Tim 11 ke rute tersebut. Mengapa? Karena itu adalah wilayah yang sama di mana "Faksi Bayangan Gagak" membantai klan Kaguya dan karavan Root. Minato ingin menggunakan Tim 11 yang dia percayai untuk mengonfirmasi atau memancing kembali kehadiran faksi misterius tersebut, sekaligus membersihkan sisa-sisa gangguan di luar jangkauan Hiruzen.
Minato mengira dia sedang memanfaatkan si kembar Uchiha sebagai bidak umpan yang cerdas. Namun, dari balik pandangan matanya yang hitam pekat, Veil justru membaca seluruh alur berpikir sang Hokage Keempat seperti membaca buku anak-anak.
Mengirim kami ke tempat pembantaian yang kuatur sendiri? batin Veil kejam, menahan keinginan untuk tertawa sinis. Pilihan yang sangat menarik, Paman Minato. Kau mencoba menari di atas wilayah kekuasaanku tanpa menyadari siapa pemilik bayangan yang kau puja selama ini.
"Kami menerima misi ini, Hokage-sama," ucap Veil datar, suaranya sedingin es namun memancarkan kepatuhan formal yang sempurna.
Dengan diterimanya gulungan merah tersebut, Tim 11 secara resmi bergerak menuju perbatasan utara sekali lagi. Di bawah bayang-bayang pepohonan Konoha yang mereka tinggalkan, rantai takdir baru mulai berputar—di mana sang umpan sebenarnya adalah sang pemburu mutlak yang siap menelan siapa pun yang berani mengusik jalurnya.