NovelToon NovelToon
Undefined: The Guardian Dog

Undefined: The Guardian Dog

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Mafia / Romansa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: hrarou

🌶️ WARNING!!🌶️

Mengandungi ***** ****** yang mungkin tidak sesuai untuk semua pembaca.
.
.
.
Dalam dunia gelap yang dipenuhi darah, senjata, dan pengkhianatan, Seravina dikenal sebagai wanita sempurna yang tidak pernah gagal.

Cantik. Elegan. Mematikan.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah anggunnya, tersembunyi monster dingin yang tidak ragu membunuh siapa pun yang membuatnya jijik.

Hingga suatu malam, pencarian anjing baru membawanya ke arena pertarungan underground.

Dan di sanalah dia bertemu Viktor—pria yang bertarung bukan demi uang atau kemenangan, tetapi demi merasakan sesuatu yang bahkan tidak dia pahami.

Satu kehilangan diri karena trauma.

Satu lagi hidup tanpa pernah benar-benar memilikinya.

Ketika dua manusia yang sama-sama rusak dipertemukan, siapa yang akan hancur lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketagihan

Seravina duduk di sofa velvet sambil menyilangkan kakinya, sementara Viktor berdiri di depannya seperti menara yang kokoh. Seravina membawa sebuah tablet kecil, siap melakukan sesi tanya-jawab untuk memetakan kemampuan anjing barunya ini.

"Duduk, Viktor. Kita perlu bicara soal fungsionalitasmu," perintah Seravina.

Setelah Viktor duduk di kursi kayu yang tampak terlalu kecil untuk ukuran tubuhnya, Seravina mulai memberondongnya dengan pertanyaan.

"Kau bisa mengemudi mobil?"

Viktor mengangguk kaku. "Bisa. Tapi aku lebih suka menabrakkan mobilnya jika itu perlu"

Seravina memutar bola matanya.

Catatan: Jangan beri dia mobil mewah kecuali mau hancur.

"Pandai menembak dengan pistol?"

"Bisa. Tapi tanganku lebih cepat dari peluru," jawabnya datar. Viktor lebih percaya pada kepalan tangannya yang sekeras beton daripada sebuah mesin bising berpeluru.

"Bahasa Inggris?"

"Sedikit. Aku mengerti saat mereka memaki di ring."

"Berarti perlu kursus singkat," gumam Seravina sambil mengetik.

"Pandai memasak?"

Viktor terdiam sejenak. "Aku tahu cara membakar daging di atas api. Itu saja."

Seravina mendesah. "Lupakan saja. Aku bisa masak untukmu."

"Jadi pengawal?"

Kali ini Viktor menatap mata Seravina dengan intensitas yang membuat napas wanita itu sedikit tertahan. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu... kecuali mereka mau mati."

Seravina tersenyum puas. "Jawaban bagus."

"Bahasa isyarat?"

"Hanya isyarat untuk 'mati' dan 'menyerah' di arena."

"Suka makan apa? Minum apa?"

Viktor menjawab tanpa pikir panjang, "Daging mahal... dan air putih."

Seravina mengerutkan kening. "Daging? Kau benar-benar binatang, ya. Mulai besok kau akan makan makanan manusia yang layak."

"Lalu... apa hobimu? Apa yang kau sukai?"

Viktor terdiam cukup lama. Selama ini dunianya hanya berisi bau keringat, darah, dan suara tulang patah. Ia tidak punya hobi. Ia tidak pernah menyukai apa pun. Tapi, matanya perlahan turun ke bibir Seravina yang masih sedikit bengkak karena sesi ciuman tadi.

"Aku tidak punya hobi," jawab Viktor, suaranya memberat. "Tapi aku suka... yang tadi. Ganjaranmu."

Seravina hampir menjatuhkan tabletnya. Pria ini benar-benar tidak bisa disaring bicaranya. "Itu bukan hobi, Viktor! Itu... ah, lupakan saja."

Seravina menutup tabletnya dengan kasar. "Kesimpulannya: Kau adalah mesin pembunuh yang buta huruf soal kehidupan normal, tidak bisa masak, sangat obsesif. Sempurna untuk jadi peliharaanku."

Seravina baru saja hendak beranjak dari sofa untuk mengakhiri sesi tanya-jawab itu, tiba-tiba sebuah tangan besar dan kasar mencengkeram pergelangan tangannya. Tenaganya tidak menyakiti, tapi sangat tidak bisa dibantah.

Seravina menoleh, mendapati Viktor sudah berdiri tepat di hadapannya. Pria itu menjulang tinggi, menatapnya dengan tatapan lapar yang sama seperti sebelumnya.

"Sesi tanya jawab... sudah selesai," ucap Viktor, suaranya rendah dan serak, bergetar di dalam dadanya yang bidang.

"Lalu?" Seravina mengangkat dagunya, mencoba tetap terlihat berkuasa.

"Ganjaran," tuntut Viktor singkat.

Seravina hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Viktor, aku baru saja bertanya padamu! Kau bahkan belum melakukan tugas apa pun! Itu tadi cuma tes kepribadian!"

Tapi Viktor sepertinya tidak peduli dengan birokrasi hadiah yang diciptakan Seravina. Menjawab pertanyaan-pertanyaan membosankan tentang memasak dan bahasa Inggris itu sudah merupakan kerja keras yang luar biasa bagi otaknya yang biasanya hanya berisi strategi bertarung.

"Aku sudah menjawab semuanya," kata Viktor lagi, kali ini ia melangkah maju, memaksa Seravina mundur hingga terhimpit di antara sofa dan tubuh raksasanya. "Tadi itu sulit. Aku mau ganjaran... sekarang."

Ia benar-benar pria polos yang berbahaya. Ia tidak mengerti sistem poin atau bonus akhir bulan; yang dia tahu adalah dia sudah menjadi anak baik dengan duduk diam dan menjawab, jadi ia berhak atas candu barunya.

Seravina menghela napas, setengah kesal tapi juga setengah terhibur dan mungkin sedikit menikmati dominasi pria ini. Ia meletakkan tangannya di dada Viktor, bisa merasakan detak jantung pria itu yang mulai menggila lagi hanya karena jarak mereka yang dekat.

"Kau benar-benar anjing yang tidak sabaran, ya?" bisik Seravina sambil menarik leher Viktor, memaksa wajah pria itu turun.

"Bibir," gumam Viktor pelan, matanya benar-benar terkunci pada targetnya.

Seravina tersenyum tipis, lalu memejamkan matanya. "Hanya satu menit. Kalau kau berani lebih dari itu, aku akan—"

Belum sempat Seravina menyelesaikan ancamannya, Viktor sudah membungkamnya. Kali ini dia mencoba mempraktikkan pelajaran tadi dengan sangat hati-hati.

......................

Pintu kamar besar itu terbuka, dan beberapa pelayan masuk membawa rak-rak gantung yang dipenuhi dengan puluhan setel jas, kemeja, hingga pakaian kasual kelas atas.

Di belakang mereka, seorang pria paruh baya dengan gaya necis—sang perancang busana ternama yang dipesan khusus oleh Seravina—melangkah masuk sambil membungkuk hormat.

"Nona Seravina, semua pesanan Anda sudah siap. Ini adalah bahan-bahan terbaik dari Italia dan Inggris, dijahit khusus mengikuti estimasi ukuran pria yang Anda sebutkan... yang ternyata sangat besar," ucap sang desainer sambil melirik Viktor dengan tatapan antara kagum.

Viktor berdiri mematung di tengah ruangan, hanya mengenakan celana panjang kemeja yang tadi. Ia menatap tumpukan baju yang tidak ia mengerti cara pakainya.

"Coba yang ini dulu," perintah Seravina sambil menunjuk sebuah jas three-piece berwarna hitam midnight dengan detail sutra di kerahnya.

Viktor menghela napas berat, namun karena bayangan ganjaran masih segar di otaknya, ia menurut. Ia mulai mencoba satu per satu pakaian itu. Setiap kali Viktor berganti baju, sang desainer sibuk mengoceh di samping Seravina.

"Lihat ini, Nona! Bahunya sangat lebar, saya harus memberi ruang ekstra agar jahitannya tidak meledak saat dia bergerak. Dan pinggangnya... sangat ramping untuk ukuran pria setinggi ini. Benar-benar proporsi seorang pria maskulin!" ujar desainer itu penuh semangat sambil sesekali mencoba mengukur lengan Viktor yang sekeras baja.

Viktor mulai merasa risih. Ia ditarik ke sana kemari, kancingnya dipasangkan, dan dasinya dikencangkan. "Ini terlalu sempit," gerutu Viktor saat mencoba jas abu-abu tua.

"Itu namanya slim fit. Kau terlihat mahal, bukan seperti gembel lagi," sahut Seravina dari sofanya, matanya menilai setiap inci tubuh Viktor dalam balutan pakaian mewah itu. "Jangan banyak protes."

"Nona, saya juga membawakan beberapa kemeja linen untuk harian dan jaket kulit dengan proteksi khusus," lanjut si desainer. "Semuanya sudah disesuaikan agar tetap terlihat elegan meski dia harus melakukan... aktivitas berat."

Setelah hampir dua jam disiksa dengan kain-kain mahal, Viktor berdiri di depan cermin besar mengenakan jas hitam pekat dengan kemeja putih tanpa dasi, dua kancing teratas terbuka. Ia terlihat seperti pembunuh bayaran kelas atas atau pangeran kegelapan yang sangat berbahaya.

Viktor menatap bayangannya sendiri, lalu menoleh ke Seravina dengan tatapan lelah. "Sudah selesai? Ini lebih melelahkan daripada bertarung 12 ronde."

Seravina berdiri, berjalan mengitari Viktor, dan merapikan kerah jas pria itu. "Sempurna. Sekarang kau terlihat seperti anjing yang layak bersanding denganku di depan publik."

Viktor tidak peduli soal pujian itu. Ia merunduk sedikit, berbisik tepat di telinga Seravina hingga desainer di samping mereka pura-pura sibuk melihat kain.

"Pakaiannya banyak... aku sudah coba semua," bisik Viktor dengan nada menagih yang sangat jelas. "Berapa banyak ganjaran yang kudapat untuk ini?"

Seravina memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. Ia menatap tumpukan jas mewah seharga mobil sport di sekelilingnya, lalu menatap wajah Viktor yang datar namun penuh tuntutan itu.

"Kau..." Seravina menggeram rendah, matanya berkilat kesal. "Baru saja aku mendandanimu agar terlihat seperti manusia berkelas, dan satu-satunya hal yang ada di otakmu hanyalah itu?!"

Viktor hanya diam, ia tidak mundur. Ia berdiri tegak dengan jas hitam yang sangat pas di tubuhnya. Tatapannya tetap terkunci pada bibir Seravina, tidak teralihkan oleh kekesalan wanita itu.

"Sialan," umpat Seravina pelan. Ia benar-benar merasa kalah telak. Ia yang berencana menjadi majikan yang pegang kendali, malah merasa seperti sedang diperas oleh anjingnya sendiri.

Ia menoleh ke arah desainer dan para pelayan yang masih berdiri kikuk di sudut ruangan. "Keluar! Semuanya keluar sekarang!" bentak Seravina.

Si desainer buru-buru membereskan alat ukurnya dan lari keluar seolah nyawanya terancam, diikuti para pelayan yang menutup pintu dengan sangat rapat. Begitu suasana hening, Seravina langsung berbalik dan menunjuk dada Viktor dengan jari telunjuknya.

"Dengar ya, kau anjing bodoh! Ganjaran itu harusnya istimewa! Kalau kau minta terus setiap lima menit, itu namanya bukan ganjaran, itu namanya penagihan utang!" Seravina berteriak kesal, wajahnya memerah karena emosi yang campur aduk.

Viktor justru maju selangkah, membuat Seravina terpaksa mendongak. "Tadi kau bilang... kalau aku jadi anjing yang baik. Aku sudah pakai semua baju gatal ini. Aku sudah diam saat orang itu menyentuh bahuku. Aku sudah... baik."

Seravina ingin sekali menampar wajah datar itu lagi, tapi melihat betapa tulusnya (dan bodohnya) Viktor menagih haknya, ia malah merasa gemas yang luar biasa.

"Kau bener-bener membuatku gila!" Seravina menarik kerah jas mahal Viktor dengan kasar hingga pria itu membungkuk di depannya. "Baik! Kau mau ganjaran?! Sini, ambil!"

Seravina langsung menarik wajah Viktor dan membungkam bibirnya dengan kasar, meluapkan seluruh kekesalannya dalam ciuman itu. Viktor, bukannya takut, malah menyambutnya dengan gairah yang makin menjadi-jadi, tangannya langsung mengunci pinggang Seravina.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!