"Kultivasi energiku memang kembali jadi kecoa, tapi dengan fisik dewa ini... jika ada master yang mencoba meninjuku, tangannya sendiri yang akan patah menjadi tebu!"
Seratus tahun disiksa dan dibuang ke kolam darah Gunung Ming akibat konspirasi kejam di masa lalunya, Lin Ling akhirnya berhasil bangkit. Melalui ritual terlarang yang membakar habis basis kultivasi Nascent Soul-nya, ia melebur esensi Ular Purba Mahayana dan Kristal Dao Agung untuk menciptakan sebilah wadah kedewaan baru.
Namun, takdir bercanda dengannya. Tubuh barunya menjelma menjadi monster dengan kekuatan fisik murni ranah Mahayana Lapisan 1, tetapi dantian spiritualnya kosong melompati segala bentuk Qi. Karena bakatnya terkunci di Akar Spiritual Kelas Menengah, Lin Ling terpaksa harus merangkak kembali dari dasar bumi—ranah Body Tempering lapisan pertama.
Trauma masa lalu? Dendam yang meledak-ledak? Tidak ada waktu untuk itu! Lin Ling yang baru telah menjelma menjadi sosok Immortal yang bebas, konyol, super santai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pencari Dao Sejati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kota di Kaki Gunung dan Pertemuan di Pasar
Langkah kaki Lin Ling melambat saat dia mencapai ujung lereng perbukitan. Di bawah sana, sebuah desa besar yang menyerupai kota kecil tampak berdenyut oleh kehidupan. Pagar kayu yang terbuat dari batang-batang pohon utuh setinggi dua kali lipat tubuh orang dewasa mengelilingi seluruh pemukiman, memberikan kesan benteng yang kokoh di tengah keliaran gunung.
Asap mengepul dari ratusan cerobong asap bangunan kayu, bercampur dengan kabut musim dingin yang menggantung rendah di atas atap.
Bagi Lin Ling yang baru saja meloloskan diri dari cengkeraman maut hutan monster, pemandangan riuh ini terasa seperti fatamorgana. Namun, dia tidak membiarkan dirinya terlena. Sambil menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan jantungnya yang masih berdegup kencang, dia mulai melangkah menuruni lereng, menyusuri jalan tanah yang becek oleh salju yang mencair.
Semakin dekat dia dengan gerbang utama, suasana hangat itu perlahan digantikan oleh tekanan yang akrab.
Dua pengawal bertubuh tegap dengan baju zirah kulit dan tombak panjang berdiri di sisi gerbang. Sepasang mata mereka yang tajam segera terkunci pada sosok mungil Lin Ling yang berjalan sendirian.
Lin Ling bisa merasakan tatapan menyelidik itu menyapu tubuhnya. Pakaian merah tuanya yang kini lusuh, robek di beberapa bagian, dan memiliki noda darah kering yang samar dari luka pergelangan tangannya, jelas bukan pemandangan yang biasa untuk seorang anak kecil.
"Berhenti di sana, Bocah," salah satu pengawal melangkah maju, menurunkan ujung tombaknya sedikit untuk menghalangi jalan. "Dari mana asalmu? Mengapa seorang anak fana berjalan sendirian dari arah hutan utara dalam kondisi mengenaskan seperti ini?"
Lin Ling menghentikan langkahnya tepat tiga langkah di depan ujung tombak. Dia tidak menunjukkan ketakutan, namun dengan sengaja menurunkan bahunya dan memasang ekspresi wajah yang kuyu dan gemetar akibat hawa dingin—sebuah akting yang sempurna untuk menutupi kewaspadaannya.
"Tuan... pengawal," suara Lin Ling keluar dengan nada gemetar dan serak yang murni akibat tenggorokannya yang kering. "Karavan dagang yang kutumpangi... diserang oleh makhluk besar di dalam hutan. Semua orang... semuanya mati. Hanya aku yang berhasil bersembunyi di bawah kereta sebelum akhirnya merangkak keluar dan mengikuti jalan ini."
Kedua pengawal itu saling melirik sekilas. Cerita tentang karavan yang dibantai di hutan utara bukanlah hal baru minggu ini. Mengingat ukuran tubuh Lin Ling yang kecil, sangat masuk akal jika makhluk iblis mengabaikannya atau dia berhasil menyelinap di celah sempit.
Pengawal yang bertanya tadi mendengus pelan, lalu menarik kembali tombaknya. "Keberuntunganmu besar, Bocah. Masuklah, tapi jangan membuat kekacauan di dalam desa. Tempat ini berada di bawah yurisdiksi Klan Huang, setiap pelanggaran hukum akan dihukum berat."
"Terima kasih, Tuan." Lin Ling menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan kilatan dingin di matanya saat mendengar nama 'Klan Huang'. Klan kultivasi lain. Dunia ini benar-benar dikuasai oleh mereka yang memiliki kekuatan.
Begitu melewati gerbang kayu yang tebal, Lin Ling langsung disambut oleh gelombang udara yang berbeda.
Aroma sup daging yang gurih, uap arak hangat yang menguar dari kedai-kedai, dan bau jerami kuda yang terbakar bercampur menjadi satu, memenuhi rongga hidungnya yang selama ini hanya mencium bau darah dan tanah basah.
Jalanan desa terbuat dari susunan batu hitam yang padat, dilewati oleh puluhan karavan yang sedang memindahkan barang dagangan mereka.
Lin Ling berjalan di sepanjang tepi jalan, berusaha membaur dengan keramaian agar tidak menarik perhatian. Tangannya meraba kantong kain di balik lengan jubahnya, memastikan sisa roti gandum yang dia ambil dari karavan yang hancur masih aman. Itu adalah satu-satunya sumber makanannya saat ini.
Langkah kecilnya membawanya menuju area pasar terbuka di pusat desa. Tempat itu adalah pusat dari segala kebisingan.
"Ayo, kulit beruang musim dingin berkualitas tinggi! Hanya tiga koin perak!"
"Ramuan obat penahan luka dari sekte luar! Murah dan berkhasiat!"
Lin Ling berdiri di dekat sebuah pilar kayu penginapan besar, memperhatikan bagaimana transaksi dilakukan. Di tempat terpencil seperti ini, koin perak dan koin tembaga adalah alat tukar utama bagi manusia fana, sementara batu spiritual adalah sesuatu yang hanya digunakan oleh para kultivator di tingkat yang lebih tinggi.
Saat dia sedang mengamati sekitar, matanya tidak sengaja menangkap sosok seorang wanita tua yang sedang duduk sendirian di sudut pasar yang agak sepi.
Nenek tua itu mengenakan pakaian kain rami yang sangat tebal namun penuh tambalan. Rambutnya yang memutih seluruhnya diikat rapi dengan ranting kayu kecil. Di depannya, terdapat sebuah keranjang bambu kecil berisi beberapa ikat tanaman obat liar yang tampaknya sudah mulai layu akibat hawa dingin. Wajahnya dipenuhi guratan usia dan kelelahan, dan tangannya yang gemetar berulang kali menggosok kedua lengannya sendiri untuk mencari kehangatan.
Entah mengapa, melihat sosok tua yang terabaikan itu, bayangan tentang paviliun sunyi di klan lamanya kembali melintas di benak Lin Ling.
Tiba-tiba, dari arah jalan utama pasar, terdengar suara derap kaki kuda yang teratur dan angkuh. Kerumunan pedagang dan pemburu di depan Lin Ling seketika menyibak, memberikan jalan dengan ekspresi penuh hormat dan ketakutan.
Sesosok pemuda berusia sekitar belasan tahun berkuda perlahan melewati pasar. Pemuda itu mengenakan jubah sutra berwarna biru tua yang mewah, dengan sulaman benang emas berbentuk burung bangau di bagian dadanya. Di pinggangnya, tergantung sebuah klip giok putih yang memancarkan aura spiritual murni yang samar.
Wajahnya tampan, namun tatapan matanya yang malas mencerminkan arogansi yang mendalam. Di belakangnya, dua pengawal bertubuh kekar dengan pedang panjang di punggung mengikuti dengan langkah konstan.
Lin Ling segera merendahkan tubuhnya, mundur selangkah ke dalam bayangan pilar kayu.
Indra spiritualnya yang tajam—meski tubuhnya belum memiliki Qi—bisa merasakan fluktuasi energi yang kuat dari tubuh pemuda itu. 'Kultivator Tahap Kondensasi Qi (Qi Condensation)...' batin Lin Ling menduga. Orang-orang di pasar berbisik lirih, menyebut pemuda itu sebagai Tuan Muda Kedua dari Klan Huang, penguasa wilayah ini.
Tuan muda itu sama sekali tidak melirik ke arah manusia fana di sekitarnya. Baginya, orang-orang di pasar ini tidak lebih dari sekadar semut yang menopang roda ekonomi klannya. Rombongan kecil itu terus melaju menuju bangunan paviliun terbesar di ujung jalan.
Setelah rombongan klan besar itu menghilang, Lin Ling kembali menghela napas pelan. Kehadiran kultivator di tempat ini berarti dia harus ekstra hati-hati. Dengan Akar Spiritual Kelas Rendahnya yang belum terbangkitkan, dia benar-benar tidak memiliki kekuatan untuk membela diri jika memicu masalah.
Lin Ling berbalik, hendak mencari tempat yang aman untuk menghabiskan malam. Namun, saat dia melangkah melewati sudut pasar tempat nenek tua tadi duduk, dia melihat wanita tua itu menatapnya dengan sepasang mata yang keruh namun memancarkan kehangatan yang asing.
"Anak kecil..." suara nenek itu terdengar sangat pelan, bergetar oleh dingin. "Pakaianmu robek... dan kau sendirian di musim dingin ini. Apakah kau kehilangan keluargamu?"
Lin Ling terdiam sesaat. Pertanyaan sederhana itu terasa seperti jarum kecil yang menusuk dinding hatinya yang mulai membeku. Dia tidak menjawab, hanya menatap nenek itu dengan pandangan datar yang sulit diartikan.
Nenek tua itu menghela napas kecil, lalu dengan susah payah meraba bagian dalam jubah tebalnya dan mengeluarkan sebuah ubi jalar kecil yang masih mengeluarkan uap hangat samar. "Ambillah... ini tidak seberapa, tapi bisa menghangatkan perutmu malam ini."
Lin Ling menatap ubi hangat di tangan renta yang keriput itu. Di dunia yang baru saja membuangnya seperti sampah dan meninggalkannya mati di hutan monster, kebaikan tanpa motif dari seorang asing seperti ini terasa begitu aneh bagi Lin Ling. Namun, perutnya yang kembali melilit mengingatkannya pada realitas fisik.
Dia mengulurkan tangan kecilnya, menerima ubi tersebut. "Terima kasih, Nenek," ucap Lin Ling lirih, suaranya kini kehilangan sebagian dari nada dinginnya yang biasa.
Nenek tua itu tersenyum lembut, seolah melihat mendiang cucunya sendiri pada sosok Lin Ling yang malang. "Jika kau tidak memiliki tempat untuk pergi... rumah kayu tuaku di ujung timur desa selalu terbuka. Musim dingin di luar sini bisa membunuh anak seumurmu dalam satu malam."
Lin Ling menatap punggung nenek tua itu yang mulai berkemas untuk pulang karena hari mulai gelap. Sambil menggigit ubi hangat di tangannya, manik mata hitam Lin Ling menatap ke arah langit malam yang mulai menjatuhkan butiran salju pertama. Di tempat asing ini, sebuah benang takdir baru tampaknya mulai terikat.