🍀AYO, MAMPIR 🍀
Galang Langit jatmika sama sekali tidak mengenal sosok Hanum Sekar Salsabila.
Tapi di ranjang kematian ibunya, ia di paksa mengucap ijab Kabul untuk menikahi gadis itu.
"Nikahi Sekar, jaga gadis itu untuk ibu."
Pernikahan tanpa cinta, masa lalu yang datang, dan rumah tangga yang semakin terasa hambar.
Tapi bagaimana kalau wasiat itu justru jadi jalan satu-satunya untuk menyembuhkan hati mereka berdua yang penuh luka?
Yuk, cari jawabannya di sini 🍀
°°°°°°°°
Jangan lupa subscribe, like, vote, dan komen🫶
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11. Perhatian kecil
Sekar langsung membalikkan tubuhnya meninggalkan dapur.
Langkah gadis itu cepat, terlalu cepat untuk telapak kaki yang baru saja terkena pecahan beling. Rasa perih menjalar sampai ke betisnya, tetapi malu yang membakar dadanya jauh lebih menyiksa dibanding luka kecil itu.
"Neng--"
Ia tidak menoleh saat Galang memanggilnya. Pintu kamar terbuka sedikit keras sebelum akhirnya tertutup rapat dari dalam.
Brak.
Sunyi.
Hanya suara detik jam dari ruang tengah yang samar terdengar.
Di balik pintu itu Sekar bersandar lemah. Napasnya memburu. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya sendiri.
Astaghfirullah...
Kenapa tadi aku ngomong begitu?
Wajahnya memanas mengingat kalimat yang baru saja lolos dari bibirnya.
"Terserah mau makan sama siapa aja."
Padahal jelas sekali ucapan itu terdengar seperti perempuan yang sedang cemburu. Sekar menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia bahkan tidak berani membayangkan ekspresi Galang tadi. Pasti pria itu menganggap dirinya aneh. Atau lebih buruknya lagi terlalu berharap.
Padahal sejak awal ia tahu posisi dirinya.
Ia hanya istri karena wasiat terakhir Bu Rahman.
Bukan perempuan yang dipilih Galang dengan cinta.
Sekar berjalan pelan menuju sisi ranjang, tetapi langkahnya terhenti ketika rasa nyeri menusuk telapak kaki. Gadis itu meringis pelan lalu duduk di tepi kasur. Saat menunduk, ia baru menyadari ada darah segar yang menetes dari telapak kakinya.
Beberapa serpihan beling kecil rupanya masih tertinggal.
Sekar mengembuskan napas lelah.
Di sisi lain rumah, Galang masih berdiri diam di dapur. Pria itu menatap ke arah pintu kamar yang sejak tadi tertutup. Lalu perlahan pandangnya turun ke lantai.
Ada beberapa tetes darah kecil memanjang dari dapur menuju kamar.
Rahang Galang mengeras samar.
Ia tahu kenapa Sekar berbicara seperti itu tadi.
Melisa menelepon tepat saat mereka sarapan. Suara perempuan itu terdengar cukup jelas dari ponsel. Mengajak makan siang seperti biasa. Dan...Sekar mungkin salah paham.
Mungkin istrinya memang cemburu.
Galang mengembuskan napas panjang. Perasaannya terasa datar, bukan karena ia membenci Sekar.
Hanya saja kepergian ibunya, ada bagian dari dirinya yang seperti mati perlahan. Ia terlalu lelah untuk memikirkan perasaan lain. Pernikahan ini pun terjadi begitu cepat. Bahkan sampai sekarang Galang masih berusaha menerima kenyataan bahwa ada seseorang yang kini tinggal sekamar dengannya.
Namun satu hal yang pasti.
Ia sudah berjanji.
Pada kedua orang tua Sekar.
Pada almarhumah ibunya.
Ia akan menjaga gadis itu dengan baik.
Meskipun mungkin...ia tidak bisa memberikan hati yang diharapkan Sekar.
Galang melangkah menuju ruang tengah. Tangannya mengambil kotak P3K yang tersimpan di lemari kecil dekat televisi. Setelah itu pria tersebut berjalan menuju kamar.
Tetes darah di lantai masih terlihat samar.
Galang mengetuk pintu sekali.
"Neng." Panggilnya.
Namun tidak ada jawaban.
Ia membuka pintu perlahan.
Sekar yang semula duduk di tepi kasur langsung menoleh. Tatapan mereka bertemu sesaat sebelum mata Sekar buru-buru menghindar.
Galang berdiri di ambang pintu sambil memegang kotak P3K.
"Darahnya sampai keluar," ucapnya tenang.
Sekar refleks menyembunyikan telapak kakinya ke balik kain panjang daster biru yang ia kenakan.
"Cuma sedikit."
Galang masuk lalu menutup pintu pelan di belakangnya.
"Pecahan belingnya mungkin masih ada di dalam."
Sekar menelan ludah kecil.
"Bisa aku obati sendiri nanti."
Galang tidak menjawab. Ia justru berjalan mendekat sampai berdiri tepat di depan Sekar. Tatapan pria itu turun ke noda darah di lantai dekat kaki ranjang.
"Kalau enggak di bersihin bisa infeksi."
Nada suaranya datar seperti biasa. Tidak lembut, tetapi tidak juga dingin.
Sekar mengigit bibir bawahnya pelan.
Entah kenapa itu justru membuatnya makin malu.
Galang membuka kotak P3K lalu mengeluarkan kapas, cairan antiseptik, dan pinset kecil.
"Duduk yang benar."
Sekar mengangkat wajah.
"Aku bisa sendiri--"
"Sekar."
Kali ini suara Galang tegas.
"Duduk."
Gadis itu akhirnya menurut. perlahan ia menggeser tubuhnya hingga duduk lebih nyaman di tepi ranjang.
Galang kemudian duduk di lantai tepat di depan Sekar.
Jantung gadis itu langsung berdegup aneh. Pria itu mengambil telapak kakinya hati-hati lalu meletakkannya di atas paha sendiri.
Sekar spontan menahan panas.
Dekat sekali.
Ia bisa mencium samar aroma sabun mandi dan parfum tipis dari tubuh Galang. Sedangkan Galang fokus memperhatikan luka di telapak kaki istrinya.
"Masih ada serpihannya," gumamnya pelan.
Sekar menunduk, memperhatikan wajah pria di hadapannya. Rambut Galang sedikit jatuh ke dahi. Sorot matanya terlihat serius saat membersihkan darah dengan kapas.
Gerakannya hati-hati.
Sangat hati-hati.
Padahal tadi pagi pria itu bahkan hampir tidak banyak bicara dengannya. Perlahan rasa hangat menjalar ke dada Sekar.
"Perih?" tanya Galang tanpa mengangkat kepala.
Sekar cepat-cepat menggeleng. "Enggak."
Padahal bohong.
Saat antiseptik menyentuh luka, telapak kakinya terasa menyengat. Namun Sekar memilih diam.
Galang mengambil pinset kecil lalu menatap serpihan bening yang menancap tipis di kulit.
"Tahan ya, sedikit sakit." Kata Galang seraya mendongak menatap wajah Sekar.
Sekar mengangguk pelan.
Galang kembali menunduk dan fokus pada serpihan beling tersebut, dan beberapa detik kemudian Galang mengeluarkan serpihan beling itu dengan hati-hati.
Sekar sepontan meringis kecil.
"Nah," ujar Galang pelan. "Keluar."
Pria itu meletakkan pecahan kecil tersebut di atas kapas sebelum kembali memastikan tidak ada sisa lagi.
Kamar menjadi sunyi.
Hanya ada suara napas pelan dan gesekan kecil alat medis dari tangan Galang.
Sekar menatap pria itu dalam-dalam. Kadang ia bingung sendiri.
Galang memang tidak pernah menunjukkan kasih sayang seperti suami pada umumnya. Tidak pernah menggombal, tidak pernah bersikap manis, bahkan senyumnya pun jarang.
"Besok jangan jalan tanpa sandal dulu," ucap Galang setelah menempelkan plester kecil di telapak kaki Sekar.
Sekar mengangguk pelan.
"Makasih"
Galang hanya menjawab dengan anggukan singkat. Ia mulai membereskan isi kotak P3K. Namun sebelum pria itu benar-benar berdiri, suara Sekar terdengar lirih.
"A..."
Galang menoleh.
Sekar meremas ujung lengannya sendiri. "Soal tadi...aku nggak maksud--"
"Sekar." Ucapnya memotong pelan.
Gadis itu langsung diam.
Pria tersebut menatapnya beberapa saat sebelum berkata tenang. "Nggak usah di bahas."
Kalimat itu sederhana, tetapi entah kenapa justru membuat dada Sekar semakin terasa sesak. Karena Sekar sadar, bagi dirinya ucapan tadi sangat memalukan.
Namun bagi Galang, mungkin itu memang tidak penting sama sekali.
"Jam sebelas nanti, aku mau ke Ciplaz. Ada barang yang harus di beli, kamu mau ikut? Aku lihat lihat beras tinggal sedikit, telur dan bahan lainnya juga udah pada mau abis. Sekalian beli belanja bulanan ke sana." Ujar Galang seraya meletakan ponselnya di meja tempat buku-buku medis tebal miliknya.
"Eh?" gumam Sekar tidak jelas.
.
.
.
Bantu Yehppee menaikan performa buku ini dong please 🙏
Jangan loncat bab
Komen, vote, like, subscribe dan jangan lupa follow akun Yehppee ya🙏
Kira-kira nanti Galang bakal makan siang bareng Melisa gak ya? Atau Galang lebih milih ajak Sekar buat jalan-jalan ke Ciplaz???
Bersambung...