Ini cerita tentang rumah makan yang menu spesialnya, tumbal manusia.
Kabur enggak bisa. Resign taruhannya nyawa.
" Selamat bekerja dirumah makan Dermawan." Seru Pak Dermawan selaku pemilik usaha yang suaranya masih terngiang-ngiang layaknya mimpi buruk yang terus berulang.
Namaku Naya. Umur 21. Anak rantau. Dan inilah kisahku.
_
Tayang : 16 mei 2026
Tamat : 06 juni 2026
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mia AR-F, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19 : Nama yang disebut dalam gelap
Naya terbangun perlahan. Matanya masih berat, kepalanya sedikit pusing seperti habis mimpi panjang yang tidak bisa dia ingat. Dia menatap langit-langit beberapa detik… diam. Lalu sesuatu terasa aneh. Hangat. Terlalu hangat. Naya menunduk. Sebuah selimut menutupi tubuhnya sampai dada. Dia mengernyit. Perlahan, tangannya menyentuh kain itu. Bukan miliknya. Bukan soal mahal atau tidak, tapi teksturnya asing. Aroma selimutnya juga terasa lebih harum.
Selimut berwarna biru itu, Naya melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 8 pagi, dan dengan segera dia merapikan tempat tidur untuk segera siap-siap bekerja.
Tapi entah selimut siapa yang dia pakai itu..
_
RM DERMAWAN BINTARO
Rosa berdiri di balik kasir, tangannya sibuk merapikan struk, tapi matanya.. Kosong. Masih teringat akan pertengkarannya semalam dengan Naya, dan arwah jahat yang terlihat akan mencekik Naya saat tidur di sofa membuatnya semakin terpaku.
"Siapa arwah yang mau menyakiti Naya?" Gumam Rosa pada dirinya sendiri.
Tidak ada musik. Tidak ada pelanggan. Hanya suara kipas angin yang berdecit pelan.
"Itu bukan Sari, tapi.._ Ada yang lain."
Pintu toko tiba-tiba terbuka keras.
Seorang pria tua masuk dengan napas berat. Wajahnya kusut, matanya merah seperti tidak tidur semalaman.
"ANAK SAYA KERJA DI SINI KAN?!" Bentaknya tanpa salam.
Rosa memperhatikan itu.
"Pak, bisa pelan-pelan dulu.." Salah satu karyawan mencoba menenangkan.
"PELAAAAAN?!" Pria itu menghantam meja makan.
"Anak saya enggak pernah pulang udah mau satu bulan! Terakhir dia bilang kerja DI SINI!" Teriak Pria tua itu.
Semua orang nampak menonton perdebatan itu.
"Nama anak bapak siapa?" Tanya Rosa.
"Agus Salim."
"Kerja di sini?" Tanya Rosa pelan.
"Tentu saja! Anak saya memang kerja di sini!" Tegas pria tua itu.
"Bagaimana kalau pada dasarnya anak bapak gak pernah kerja di sini?" Tanya Rosa dengan begitu yakin.
"Apa maksud kamu?" Tanya Pria tua itu dengan marah.
"Kami ada CCTV 24 jam yang bisa di cek." Jelas Rosa mengangkat kedua alisnya.
CCTV itu berkedip beberapa kali merekam apa yang sedang terjadi.
Rosa melirik Gian yang tersenyum miring memperhatikan mereka. Gian pun berjalan keluar dari rumah makan, menuju parkiran tepatnya ke sebuah motor terparkir ngasal yang sudah Gian tahu lebih dulu siapa pemiliknya.
_
Naya mendorong pintu Rumah Makan Dermawan yang terlihat masih ditutup. Suasana di dalam belum seramai biasanya. Bukan karena sepi pelanggan, tapi karena.. Karyawannya memang sisa sedikit.
Ada Agus, Zuan, dan Mbak Nesya yang berdiri nampak berbaris, dan di depan mereka ada Pak Dermawan.
Naya berhenti sejenak di pintu, merasa agak canggung karena datang di tengah-tengah.
"Masuk aja, Naya." ujar Mbak Nesya singkat tanpa menoleh.
Naya mengangguk kecil dan mendekat. Lalu dia melihatnya. Seorang perempuan berdiri di samping Pak Dermawan. Tubuhnya pendek, berisi. Rambutnya diikat rapi. Wajahnya.. Jutek.
"Baik, saya ulang sedikit." Kata Pak Dermawan, "Ini karyawan baru di cabang kita."
Perempuan itu menatap mereka semua satu persatu dengan yakin.
"Namanya Nikmah. Umur 33 tahun. Sudah kerja di cabang BSD dua tahun." Jelas Pak Dermawan dengan tegas.
"Mulai hari ini, dia akan bantu pembukuan di sini." Lanjut Pak Dermawan.
"Salam kenal," Ucap Nikmah.
Agus hanya mengangguk singkat. Zuan menyunggingkan senyum kecil. Mbak Nesya menatap sebentar, lalu kembali sibuk dengan pikirannya sendiri. Dan Naya... Terdiam.
Saat mata mereka bertemu ada sesuatu yang aneh. Bukan rasa takut. Tapi seperti... Ancaman baru padahal mereka belum pernah bertemu.
"Sudah ya, kembali kerja masing-masing," Ujar Pak Dermawan.
Mereka pun mulai bubar perlahan. Naya berbalik hendak menuju belakang. Tapi saat dia melewati Nikmah, perempuan itu sedikit memiringkan kepala.
"Kamu tumbal selanjutnya bukan?" Tanya Nikmah dengan wajah sumringah.
Langkah Naya langsung berhenti. Darahnya terasa dingin. Dia menoleh cepat.
"Hah?"
Nikmah tersenyum. Seolah tidak terjadi apa-apa. Di belakang, Zuan memperhatikan sekilas. Alisnya sedikit mengernyit.
"Lu kenapa, Nay? Mbak Nikmah itu senior kita disini." Jelas Zuan.
"Oohh.." Jawab Naya.
Tapi tangannya tanpa sadar meremas ujung bajunya sendiri lalu pergi menuju lantai 2.
_
Kamar itu gelap. Bukan karena lampunya mati tapi karena memang tidak ada cahaya yang berani masuk. Hanya beberapa lilin kecil yang menyala di lantai. Disusun melingkar. Di tengah lingkaran itu seorang perempuan duduk bersila. Kepalanya sedikit menunduk. Rambutnya terurai menutup sebagian wajah. Di depannya sebuah mangkuk kecil. Di dalamnya ada air, dan suatu foto yang mengambang yaitu foto Abel dan juga foto Naya yang mulai tenggelam disana.
_
Lantai 2 lebih sunyi dari biasanya. Naya berjalan pelan di lorong menuju tangga. Tangannya menyentuh dinding, dingin. Kepalanya masih sedikit berat sejak bangun tadi pagi belum lagi kemunculan orang baru yang sepertinya akan menjadi ancaman baru bagi dirinya. Rasanya tubuhnya terasa sangat dingin seolah dia berada di kutub utara.
_
Perempuan itu mengangkat kepalanya perlahan. Matanya kosong tapi fokus. Tangannya bergerak pelan. Mengaduk air dalam mangkuk dengan jari.
"Wis cedhak." Bisiknya lirih.
Lilin-lilin di sekelilingnya berkedip bersamaan. Api mengecil. Tiba-tiba air di dalam mangkuk bergetar. Di permukaan air terlihat bayangan arwah, dan juga Naya yang sedang menaiki tangga menuju ke lantai 2.
_
Perempuan itu tersenyum tipis.
"Dorong.." Ucapnya pelan.
_
Naya berhenti sebentar di ujung tangga. Menatap ke bawah. Kosong. Namun terasa seperti ada yang menahan kakinya untuk terus melangkah menaiki tangga.
Naya kembali menaiki tangga namun hanya selangkah terasa sangat berat. Ada sensasi aneh di punggungnya. Seperti ada yang berdiri sangat dekat. Naya menoleh cepat namun kosong. Apa jangan-jangan itu..??
"Sari." Sapa Naya.
Namun tidak ada siapa-siapa. Sari bahkan tak ada menampakkan dirinya.
"Apa perasaanku doang ya." Bisik Naya kepada dirinya sendiri.
_
"Saiki!!" Teriaknya keras.
Api lilin langsung memanjang tinggi.
_
Dan dari sudut ruangan suatu bayangan bergerak sangat cepat. Sosok perempuan lain. Basah. Pucat. Abel.
Dia berdiri tepat di belakang Naya.
"Gawe dheweke tiba.." Teriakan itu terdengar keras begitu pun Abel yang langsung menarik kaki kanan Naya.
"AAAA...!!"
Ada yang menarik kaki kanan Naya dengan sangat amat cepat saat akan menstabilkan tubuhnya ada mendorong tepat di tengah punggung Naya.
Mata Naya langsung membesar. Kakinya kehilangan pijakan.
DUG! DUG! DUG!
Punggungnya menghantam tiap tangga. Tubuhnya terguling turun tanpa bisa menahan. Sikunya terbentur. Pinggangnya menghantam keras. Kepalanya nyaris mengenai sudut tangga. Di antara jatuhnya sepersekian detik Naya melihat ke atas.
Ada seseorang berdiri di ujung tangga. Perempuan. Rambutnya basah dan panjang menutupi sebagian wajah. Kulitnya pucat, dan matanya menghitam seluruhnya malah nampak seperti lobang hitam dengan penuh dendam menatap lurus ke Naya.
BRAK!
Tubuh Naya berhenti di lantai bawah. Napasnya tercekat. Dadanya naik turun cepat.
Abel menghilang. Seketika.
"NAYA?!" Suara Agus terdengar kaget. Langkah kaki berlari mendekat.
Zuan ikut menyusul.
Mbak Nesya dari arah dapur langsung keluar dari dapur. Pembeli juga terkejut.
Nikmah juga tidak kalah terkejut namun tidak bergerak dari tempatnya.
Naya mencoba bicara namun darah terasa cepat mengucur dari kepalanya membuatnya kehilangan kesadaran.
"Naya? Gila ?!" Teriak Zuan cepat.
Agus memanggil berkali-kali namun Agus yang merasa ada yang tidak beres menoleh ke atas tangga namun kosong tidak ada siapa-siapa.
"Ada yang mendorong Naya." Kata Agus pelan, tapi nadanya ragu.
"Mang gak mungkin." Zuan tidak menerima karna menurutnya tidak logis.
Semua orang sudah nampak ramai mengerumuni Naya. Pak Dermawan berjalan mendekat, dengan wajah bingung namun masih terlihat datar.
"Bawa dia ke rumah sakit!" Suruh Pak Dermawan kepada Agus yang menatap Pak Dermawan.
Agus mengangguk lalu menggendong tubuh Naya keluar dari rumah makan.
"Pakai mobil saya, jangan sampai Naya mati. Naya masih saya butuhkan." Ujar Pak Dermawan membuka pintu mobilnya lalu memberikan kunci mobilnya kepada Agus.
"Baik, Pak!" Jawab Agus.
_
Seketika semua lilin padam bersamaan. Begitu pun dengan perempuan penuh dendam itu jatuh setelah mengerahkan seluruh kekuatan gelapnya.
Menarik sih, kalau ada waktu aku akan lanjut. 👍
Semangattt. 💪