NovelToon NovelToon
Mantan Pemilik Sistem

Mantan Pemilik Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kairon04

"Aku sudah menaklukkan ribuan dunia, menghancurkan dewa-dewa kuno, dan memimpin pasukan bintang. Sekarang? Aku hanya ingin memastikan sawiku tidak dimakan ulat."

Zhou Ji Ran adalah legenda yang terlupakan—secara harfiah. Setelah menyelesaikan misi terakhir dari "Sistem Penguasa Multisemesta" yang mahakuasa, sistem tersebut hancur dan menghapus setiap jejak keberadaan Zhou Ji Ran dari memori seluruh makhluk di multisemesta. Dia bebas. Tanpa beban, tanpa misi, dan tanpa musuh yang mengejarnya.

Kini, ia hanya seorang pemuda 25 tahun yang hidup santai sebagai petani di pinggiran Desa Jinan yang terpencil. Baginya, kebahagiaan adalah melihat matahari terbit dan menyeruput teh pahit di teras rumah kayu sederhananya.

Namun, kedamaian "pensiunnya" hancur saat seorang murid jenius dari sekte besar, yang bersimbah darah dan ketakutan, mendobrak pintunya dan memohon perlindungan.

apakah sang penguasa akan kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairon04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Puluh Tujuh

Sinar mentari pagi yang menerobos rimbunnya daun Pohon Memori menciptakan pola-pola cahaya yang menari di atas teras kayu Kedai Teh Kedamaian. Di bawah sana, di dalam kegelapan tanah yang subur, Gui Xu—sang mantan entitas primordial yang dulunya ingin menghapus akar realitas—kini sedang menjalankan fungsinya dengan sangat patuh. Setiap kali ada sisa sayuran yang membusuk, kotoran ternak, atau energi negatif yang terbawa angin, segel konversi milik Zhou Ji Ran akan menariknya ke bawah, menyerahkannya pada Gui Xu untuk diurai menjadi sari pati tanah yang paling murni. Hasilnya terlihat jelas; tanaman sawi di kebun Zhou Ji Ran kini memiliki warna hijau yang begitu pekat hingga hampir terlihat seperti zamrud cair yang memancarkan pendaran cahaya kehidupan.

Zhou Ji Ran duduk di kursi goyangnya, memegang sebuah teko kecil yang terbuat dari tanah liat ungu. Ia memperhatikan bagaimana uap teh melati yang ia seduh perlahan-lahan naik dan menghilang di udara yang sejuk. Di sampingnya, nampan kayu berisi roti gandum madu sudah hampir kosong, menyisakan beberapa remah yang segera disambar oleh sekelompok burung pipit yang tampak jauh lebih berani dan gemuk daripada burung-burung di desa lain.

"Pagi ini air telaganya terasa sangat manis, Tuan," ucap Lin Xiaoqi yang baru saja kembali dari arah selatan sambil membawa ember kayu berisi air segar. "Ao Kun bilang, sejak Teratai Salju mulai mekar sepenuhnya, kualitas esensi air di dasar telaga menjadi jauh lebih stabil. Ia bahkan merasa kultivasinya meningkat hanya dengan berenang di sekeliling akarnya."

Zhou Ji Ran mengangguk pelan, matanya masih terpejam menikmati hembusan angin. "Itu karena Gui Xu bekerja dengan sangat rajin di bawah sana. Dia sedang mencoba membuktikan bahwa dia adalah sistem pengolah limbah terbaik di multisemesta agar aku tidak menjadikannya pupuk cair. Katakan pada Ao Kun, jangan terlalu sering memamerkan cahaya birunya di malam hari, penduduk desa mulai mengira ada hantu naga yang bergentayangan di telaga kita."

Lin Xiaoqi tertawa kecil, suara tawanya yang bening menyatu dengan suara gemericik air sungai di kejauhan. "Baik, Tuan. Oh ya, Huo Fen dan Lu Xing sudah menyelesaikan bagian ujung Jembatan Pertumbuhan. Mereka sekarang sedang berdebat tentang apakah mereka harus menambahkan ukiran naga atau ukiran padi di pagar pembatas jembatan."

"Biarkan mereka berdebat. Selama jembatannya tidak roboh saat dilewati gerobak Qian Fugui, aku tidak peduli dengan hiasannya," sahut Zhou Ji Ran.

Namun, di tengah suasana yang begitu tenang itu, Yan Fei berjalan mendekat dengan langkah yang terburu-buru. Wajah pemuda dari dimensi teknologi itu tampak sangat tegang. Di tangannya, kotak hitam detektor partikelnya terus mengeluarkan suara dengung yang sangat halus, dan layar kecilnya memancarkan cahaya putih yang stabil—sebuah tanda bahwa ada sesuatu yang memiliki keteraturan sangat tinggi sedang memasuki wilayah mereka.

"Tuan Zhou... sinyal undangan itu bukan lagi sekadar getaran jarak jauh. Sesuatu... sesuatu yang sangat besar baru saja mendarat di gerbang desa. Tapi anehnya, detektor saya tidak mendeteksi adanya massa atau energi destruktif. Ini seperti... sebuah kehampaan yang terorganisir," lapor Yan Fei dengan suara yang sedikit gemetar.

Zhou Ji Ran perlahan membuka matanya. Ia menoleh ke arah jalan setapak utama desa. Di sana, di balik kabut pagi yang mulai menipis, muncul sebuah kereta kencana yang sangat unik. Kereta itu tidak terbuat dari kayu, logam, atau emas. Seluruh strukturnya tampak terbuat dari jalinan benang-benang cahaya perak yang membentuk pola geometris yang sangat rumit. Tidak ada hewan yang menariknya; kereta itu melayang beberapa inci di atas tanah, bergerak dengan keheningan yang absolut.

Pintu kereta terbuka, dan seorang wanita melangkah turun. Ia mengenakan jubah putih panjang yang tampak seperti terbuat dari awan murni. Rambut hitamnya yang panjang dihiasi dengan tusuk konde berbentuk timbangan yang terbuat dari kristal transparan. Di tangannya, ia membawa sebuah gulungan kertas yang memancarkan aura 'Kepastian Takdir'. Wajahnya sangat cantik, namun kecantikannya terasa dingin dan jauh, seolah-olah ia bukan makhluk yang terbuat dari daging dan darah, melainkan sebuah personifikasi dari hukum alam itu sendiri.

Namanya adalah Qin Shi, Sang Utusan dari Paviliun Takdir Abadi, organisasi yang berada di atas Aliansi Besar dan Serikat Pedagang, yang bertugas menjaga alur sejarah multisemesta agar tetap berada pada naskah yang telah ditentukan oleh para Pencetus Utama.

Qin Shi berjalan melewati gerbang desa tanpa menyentuh tanah. Setiap kali kakinya melangkah, bunga-bunga di pinggir jalan yang tadinya mekar karena energi Padi Surgawi, tiba-tiba tertutup kembali, seolah-olah waktu di sekitar mereka sedang ditarik mundur atau dikunci dalam status diam.

"Zhou Ji Ran," suara Qin Shi terdengar sangat merdu namun tidak memiliki emosi, seperti nada yang keluar dari instrumen musik yang sempurna. "Keberadaan domain ini telah menyebabkan sepuluh ribu variabel tak terduga dalam jalinan sejarah. Anda telah menawan para penjaga keseimbangan dan mengubah entitas penghancur menjadi bagian dari siklus pertanian. Paviliun Takdir Abadi tidak bisa lagi mengamati dalam diam."

Zhou Ji Ran berdiri dari kursi goyangnya, ia merapikan baju raminya yang sedikit kusut. "Paviliun Takdir, ya? Kalian adalah orang-orang yang suka duduk di menara tinggi dan merasa tahu apa yang terbaik untuk semua orang, bukan? Dengar, Nona Qin Shi. Aku baru saja akan memulai diskusi menu sarapan baru dengan Chen Long. Jika kau datang untuk bicara soal variabel takdir, sebaiknya kau duduk dulu dan minum teh. Teh melati ini sangat bagus untuk menurunkan ketegangan saraf."

Qin Shi berhenti di depan teras, matanya yang berwarna perak menatap Zhou Ji Ran dengan kedalaman yang bisa membuat ahli Nirvana mana pun kehilangan kesadarannya. "Saya tidak datang untuk minum teh. Saya datang untuk membawa 'Kontrak Netralitas'. Paviliun bersedia mengakui domain ini sebagai wilayah otonom, asalkan Anda menandatangani janji bahwa Anda tidak akan pernah lagi mencampuri urusan dunia luar dan mengembalikan seluruh elit yang Anda tawan ke posisi asalnya."

Ia membuka gulungan kertas di tangannya. Seketika, ribuan simbol kuno yang bersinar keemasan melayang di udara, membentuk sebuah perjanjian yang memiliki kekuatan pengikat jiwa yang tak terelakkan. Aura yang dipancarkan oleh gulungan itu begitu kuat hingga Ye Hua, Su Ruo, dan Bai Ling harus mundur beberapa langkah karena merasa dada mereka sesak.

"Jika Anda menolak," lanjut Qin Shi, "seluruh wilayah ini akan dianggap sebagai 'Dahan Kering'. Dan Anda tahu apa yang dilakukan sistem terhadap dahan yang sudah tidak lagi mengikuti pertumbuhan pohon utama."

Zhou Ji Ran menatap simbol-simbol emas di udara itu seolah-olah ia sedang melihat daftar cucian yang membosankan. Ia berjalan mendekati gulungan kertas tersebut, lalu dengan santai mengulurkan tangannya dan mengambil salah satu simbol emas yang paling terang—simbol yang mewakili 'Kekuatan Hukum'.

"Kontrak, janji, paksaan... kalian benar-benar tidak pernah belajar," ucap Zhou Ji Ran pelan. Ia memainkan simbol emas itu di ujung jarinya seperti sebuah koin mainan. "Kalian menyebut tempat ini variabel tak terduga. Tapi bagiku, ini hanyalah rumah. Dan di rumahku, tidak ada kontrak yang lebih tinggi daripada kontrak untuk tumbuh bersama tanah."

Zhou Ji Ran kemudian melakukan sesuatu yang membuat Qin Shi, untuk pertama kalinya dalam jutaan tahun eksistensinya, menunjukkan ekspresi terkejut. Zhou Ji Ran meniup simbol emas di jarinya itu, dan simbol yang memiliki kekuatan hukum dimensi tersebut seketika hancur menjadi debu cahaya dan masuk ke dalam cangkir teh melatinya.

"Rasa hukum ini sedikit pahit, tapi memberikan tekstur yang unik pada tehku," gumam Zhou Ji Ran setelah menyesap tehnya yang sudah tercampur debu hukum.

"Anda... Anda baru saja menghancurkan simbol Otoritas Utama?!" Qin Shi mundur selangkah, jubah awannya bergejolak hebat. "Anda tidak mengerti konsekuensinya! Tanpa kontrak ini, Paviliun akan menganggap Anda sebagai pemberontak terhadap penciptaan!"

"Aku sudah memberontak sejak aku menghancurkan sistemku sendiri, Nona," jawab Zhou Ji Ran. "Dan soal mengembalikan orang-orang ini... kau bisa tanya pada mereka sendiri. Zhang Tian! Huo Fen! Apakah kalian ingin kembali ke langit yang dingin itu?"

Zhang Tian yang sedang membersihkan kandang ayam berteriak keras, "Tidak! Di sini telurnya nyata! Di sana hanya ada kepalsuan!"

Huo Fen yang sedang memegang palu di jembatan menimpali, "Aku belum selesai membangun pagar jembatan ini! Jangan ganggu konsentrasiku dengan urusan takdirmu!"

Qin Shi menatap ke sekeliling, melihat bagaimana para elit yang seharusnya menguasai benua kini tampak sangat puas dengan kehidupan mereka yang sederhana. Ia merasakan adanya sebuah anomali yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar kekuatan fisik; ia merasakan adanya 'Kebahagiaan' yang tidak terdaftar dalam parameter sistem manapun.

"Begitu rupanya," ucap Qin Shi, suaranya kini mengandung nada ancaman yang dingin. "Jika kata-kata tidak bisa membawa keteraturan, maka 'Hukum Pembersihan' yang akan bicara. Jika Anda menolak untuk terikat oleh kontrak, maka keberadaan Anda akan kami bekukan dalam penjara waktu."

Qin Shi mengangkat tangannya, dan tusuk konde berbentuk timbangan di rambutnya melayang ke udara. Timbangan itu membesar hingga menutupi seluruh langit desa. Sisi kiri timbangan berisi cahaya keemasan yang melambangkan 'Masa Lalu yang Agung', dan sisi kanan berisi kegelapan hampa yang melambangkan 'Masa Depan yang Dihapus'.

"Timbangan Takdir: Penentuan Akhir!"

Seketika, seluruh gerakan di Desa Jinan berhenti. Angin berhenti bertiup, burung-burung membeku di udara, dan bahkan aliran sungai irigasi berhenti mengalir. Ini adalah teknik pembekuan waktu tingkat tertinggi yang dimiliki oleh Paviliun Takdir. Di bawah pengaruh timbangan ini, hanya mereka yang memiliki otoritas setingkat Pencetus yang bisa bergerak.

Qin Shi menatap Zhou Ji Ran yang juga tampak berdiri diam. Ia menghela napas panjang, merasa sedikit kecewa karena harus menghapus individu yang begitu menarik. "Sayang sekali. Anda memiliki potensi untuk menjadi salah satu dari kami."

Namun, saat ia melangkah maju untuk menyentuh dahi Zhou Ji Ran demi menghapus ingatannya, tangan Zhou Ji Ran tiba-tiba bergerak dan menangkap pergelangan tangannya.

"Siapa yang bilang kau boleh menyentuhku tanpa izin?" ucap Zhou Ji Ran dengan suara yang sangat normal, seolah-olah pembekuan waktu itu tidak berpengaruh sama sekali padanya.

Mata Qin Shi membelalak. "Bagaimana... bagaimana mungkin?! Timbangan ini mengunci seluruh hukum fisika dan spiritual!"

"Hukummu hanya mengunci apa yang memiliki 'massa' dan 'energi'," jawab Zhou Ji Ran. Ia perlahan berjalan mendekati timbangan raksasa di langit, menarik Qin Shi bersamanya seperti menarik seorang anak kecil. "Tapi kau lupa satu hal. Kedamaian adalah kondisi di mana tidak ada lagi perlawanan terhadap waktu. Ketika kau sudah benar-benar damai, waktu tidak lagi memiliki kuasa atasmu. Kau tidak melawannya, kau hanya... ada."

Zhou Ji Ran mengambil sapu lidi yang terselip di pagar kedainya. Ia mengibaskan sapu lidi itu ke arah timbangan raksasa di langit seolah-olah ia sedang mengusir lalat yang mengganggu tidurnya.

*PRAAAK!*

Timbangan kristal yang melambangkan hukum takdir abadi itu hancur berkeping-keping. Pecahannya jatuh ke tanah, namun saat menyentuh bumi Jinan, pecahan kristal itu tidak melukai siapa pun. Sebaliknya, mereka berubah menjadi butiran pasir berkilau yang menyatu dengan tanah, memberikan lapisan mineral baru yang membuat tanah semakin subur.

Pembekuan waktu seketika buyar. Angin kembali bertiup, burung-burung kembali terbang, dan kehidupan kembali berjalan seolah tidak terjadi apa-apa.

Qin Shi jatuh berlutut di tanah, wajahnya pucat pasi. Seluruh basis kultivasi 'Takdir' miliknya terasa hampa. "Hukumku... dihancurkan oleh sapu lidi... Apakah ini... kenyataan?"

"Ini adalah realitas yang tidak kau temukan di buku besarmu, Nona," ucap Zhou Ji Ran. Ia berjongkok di depan Qin Shi, menatapnya dengan tatapan yang lebih lembut. "Dengar. Kau datang ke sini dengan niat baik untuk menawarkan netralitas, meskipun caranya salah. Karena itu, aku tidak akan menjadikannya pupuk seperti yang lain. Tapi kau butuh belajar sesuatu."

Zhou Ji Ran mengambil gulungan kontrak yang sudah kosong di tangan Qin Shi. Ia mencelupkan jemarinya ke dalam cangkir teh melatinya, lalu menuliskan beberapa baris kata di atas gulungan tersebut menggunakan air teh.

**"Aturan Desa Jinan:

Hargai setiap benih yang tumbuh.

Jangan pernah bicara soal takdir saat sedang makan siang.

Kebersihan teras adalah tanggung jawab bersama."**

"Ini adalah kontrak baru yang harus kau jalankan," ucap Zhou Ji Ran. "Kau punya kemampuan untuk melihat detail yang sangat kecil dalam setiap jalinan energi. Kebetulan sekali, Wu Tie sedang mengeluh bahwa dia kesulitan mengklasifikasikan jenis-jenis benih padi yang memiliki variasi energi berbeda. Kau akan menjadi 'Kepala Klasifikasi Benih' di gudang emas."

Qin Shi menatap gulungan kertas yang kini hanya berisi aturan sederhana tentang pertanian dan kebersihan. Ia merasakan adanya sebuah kekuatan yang jauh lebih murni dari kekuatan takdir yang mengalir dari tulisan air teh tersebut ke dalam jiwanya.

"Klasifikasi... benih?" gumam Qin Shi bingung.

"Ya. Dan jangan gunakan jubah awan itu saat bekerja di gudang, debu padi akan membuatnya sangat kotor. Mintalah pakaian kerja yang layak pada Lin Xiaoqi," tambah Zhou Ji Ran sambil berdiri dan berjalan kembali ke kursi goyangnya.

Sore harinya, pemandangan di gudang emas menjadi sangat surreal. Qin Shi, sang Utusan Takdir yang agung, kini terlihat mengenakan pakaian rami berwarna biru pucat dengan rambut yang diikat sederhana menggunakan seutas tali kain. Ia duduk di sebuah meja kayu panjang, memegang butiran-butiran Padi Surgawi satu per satu. Ia menggunakan mata peraknya untuk memisahkan padi yang memiliki esensi matahari, esensi bulan, dan esensi bumi ke dalam kotak-kotak yang berbeda.

Wu Tie berdiri di sampingnya, mengawasi dengan ekspresi puas. "Kerja bagus, Qin Shi. Kecepatan klasifikasimu sangat membantu sistem inventarisku. Jika kita terus begini, kita bisa menyelesaikan audit stok sebelum festival musim gugur."

Qin Shi tidak menjawab, ia terus fokus pada tugasnya. Ia menemukan bahwa dalam memisahkan butiran padi ini, ia merasakan kepuasan yang belum pernah ia rasakan saat memisahkan takdir ribuan orang. Ada sebuah kejelasan dan kejujuran dalam setiap butir padi yang tidak dimiliki oleh jalinan sejarah yang penuh dengan tipu daya.

Di Kedai Teh Kedamaian, Zhou Ji Ran sedang duduk bersama Gu Lao, Ye Hua, dan Bai Ling. Mereka sedang menikmati camilan berupa manisan jeruk purut yang baru saja selesai dibuat oleh Lin Xiaoqi.

"Ji Ran," ucap Gu Lao sambil tertawa kecil. "Kau benar-benar tidak pandang bulu. Utusan Takdir pun kau jadikan buruh gudang. Aku khawatir jika besok 'Sang Pencetus' sendiri yang datang, kau akan memintanya untuk menjadi tukang cuci piring."

"Jika dia punya tangan yang terampil dan tahu cara menghemat sabun cuci, kenapa tidak?" jawab Zhou Ji Ran santai. "Lagi pula, piring kotor di restoran Chen Long semakin banyak sejak Jenderal Lu Xing dan pasukannya mulai makan tiga kali sehari di sana."

Ye Hua menuangkan teh baru untuk Zhou Ji Ran. "Tuan, apakah Anda merasa bahwa dengan semakin banyaknya elit yang berkumpul di sini, desa ini akan menjadi target yang lebih besar?"

"Tentu saja, Ye Hua. Tapi bukankah itu bagus? Semakin banyak yang datang, semakin lengkap ekosistem kita. Kita sudah punya tenaga keamanan, tenaga logistik, tukang kebun, pandai besi, dan sekarang ahli klasifikasi benih. Kita hampir menjadi sebuah dunia kecil yang sempurna," jawab Zhou Ji Ran dengan senyum yang menenangkan.

Namun, di balik sikap santainya, Zhou Ji Ran menatap ke arah langit yang mulai berubah warna menjadi ungu kemerahan. Ia tahu bahwa penghancuran 'Timbangan Takdir' telah mengirimkan gelombang kejut yang akan mencapai pusat multisemesta dalam hitungan jam. Para Pencetus Utama, entitas yang berada di luar ruang dan waktu, pasti akan menyadari bahwa ada sebuah kekuatan yang menolak untuk dituliskan dalam sejarah mereka.

"Biarkan mereka datang," bisik Zhou Ji Ran dalam hati. "Selama mereka tidak menginjak tanamanku, aku akan memberikan mereka teh terbaik yang pernah mereka rasakan sebelum mereka mulai mencangkul."

Malam mulai turun menyelimuti Desa Jinan. Lampu-lampu lampion mulai menyala di sepanjang Jembatan Pertumbuhan, memberikan pemandangan yang sangat indah dan megah. Suara tawa dari restoran Chen Long menyatu dengan gemericik air dan suara serangga malam, menciptakan sebuah simfoni kedamaian yang tak ternilai harganya.

Zhou Ji Ran berdiri di bawah Pohon Memori, menatap ke arah Telaga Teratai di mana Ao Kun sedang melompat kecil di atas permukaan air, menikmati pendaran cahaya dari Teratai Salju. Ia merasa puas. Kehidupan ini, betapa pun berisiknya tamu-tamu yang datang, adalah kehidupan yang nyata. Ia tidak lagi mengejar level, ia tidak lagi mengejar poin. Ia hanya mengejar pertumbuhan.

"Esok pagi, kita akan mulai menanam bibit gandum di lahan baru sebelah barat jembatan," gumam Zhou Ji Ran. Ia menoleh ke arah Qin Shi yang baru saja keluar dari gudang dengan wajah yang tampak lelah namun damai. "Qin Shi! Jangan lupa siapkan laporan klasifikasimu besok pagi pukul tujuh. Kita butuh data itu untuk perencanaan penanaman!"

"Siap... Tuan Zhou," jawab Qin Shi dengan suara yang kini terdengar lebih manusiawi.

Zhou Ji Ran tersenyum tipis. Satu lagi jiwa yang tersesat dalam kekuasaan telah menemukan jalan pulangnya menuju tanah. Perjalanan ini terus berlanjut, satu hari pada satu waktu, di atas tanah Jinan yang subur. Tanpa perintah sistem, setiap langkah yang ia ambil adalah langkah menuju kebebasan yang sesungguhnya.

Malam semakin larut, dan Desa Jinan pun tenggelam dalam kesunyian yang penuh dengan harapan. Sang petani legenda telah membangun surga kecilnya, dan ia akan memastikan tidak ada hukum takdir mana pun yang bisa menghancurkannya. Kehidupan ini memang benar-benar luar biasa.

"Selamat tidur, kawan-kawanku. Sampai jumpa di fajar berikutnya untuk mulai menanam lagi," bisik angin di sela-sela daun padi yang melambai tertiup angin malam.

Dan di kegelapan yang jauh, para Pencetus Utama mulai mengamati Desa Jinan dengan rasa takut yang mendalam, menyadari bahwa takdir tidak lagi berada di tangan mereka, melainkan di tangan seorang pria yang hanya ingin memastikan sawinya tidak dimakan ulat. Perjalanan ini baru saja memasuki babak yang lebih dalam, dan di setiap jengkal tanah Jinan, kedamaian telah menang. Kehidupan sang mantan pemilik sistem kini telah menjadi sebuah narasi abadi yang terukir di setiap butir tanah yang ia cintai. Segalanya berjalan dengan perlahan, penuh makna, dan sangat memuaskan._

1
Kairon
dah balik kerumahnya
gak balik jadi orang2ngan sawah soalnya..🤣🤣
Luthfi Afifzaidan
up lg
Luthfi Afifzaidan
up
Luthfi Afifzaidan
lanjutkan
Luthfi Afifzaidan
oya thor wanita yg datang sama pangeran long wei kemana ya thor?
Kairon
dijadiin orang2ngan sawah bang🤣🤣
Luthfi Afifzaidan
oya thor Prajurit yg dibawa jendral han di kemanain ya thor?
anggita
pernah baca novel terjemahan yg ceritanya mirip ini di platform lain. tapi lupa judulnya🤭. dukung like👍, 2iklan☝☝.
anggita: oke👌Thor.
total 2 replies
anggita
Zhou Ji Ran.... joss 💪😊. moga lancar novelnya.
anggita
cerita yg cukup menarik..👍☝👌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!