"Salah klik jurusan saat kuliah adalah bencana, tapi bangun dari koma dan bisa melihat hantu adalah petaka!"
Arini, dokter forensik yang aslinya clumsy dan penakut, harus menerima kenyataan pahit: ia terbangun dari koma dengan "bonus" mata batin terbuka. Kini, ruang otopsinya jadi ramai! Ia harus membedah mayat sambil mendengarkan curhat para arwah yang menuntut keadilan (dan permintaan konyol lainnya).
Untungnya, ada Mika—hantu gadis Tionghoa yang centil dan bar-bar—yang setia membantu Arini mengungkap fakta medis lewat "jalur gaib".
Masalahnya satu: Tunangan Arini, Baskara, adalah Jaksa kaku yang skeptis dan hanya percaya logika. Baskara memang bucin parah, tapi bagaimana jadinya jika sang Jaksa tahu bahwa bukti-bukti kemenangan kasusnya berasal dari bisikan makhluk halus?
Di tengah konspirasi maut yang mengancam nyawa, Arini harus memilih: Tetap waras di antara para hantu, atau terjebak dalam pelukan posesif sang Jaksa yang benci takhayul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Pelukan Dingin dan Aroma Sandalwood
Suara pintu yang tertutup rapat meninggalkan keheningan yang janggal di ruang otopsi. Arini masih berdiri mematung, menatap pintu baja seolah-olah bayangan Baskara masih tertinggal di sana. Jantungnya masih berdegup tidak keruan, bukan karena takut pada jenazah di depannya, melainkan karena sentuhan dingin Baskara di lehernya tadi.
"Cieee... yang masih bengong. Pipinya merah tuh, lebih merah dari baju aku," ledek Mika. Hantu cantik itu terbang rendah, lalu mendarat dengan anggun di atas brankar, tepat di sebelah kaki jenazah yang kaku.
Arini tersentak, lalu menghela napas panjang. Ia berusaha mengembalikan fokusnya. "Mika, bisa tidak kamu berhenti menggoda? Dan tolong, jangan duduk di atas jenazah. Itu tidak sopan!"
Mika mencibir, bibirnya yang transparan mengerucut lucu. "Dia sudah tidak merasa apa-apa, Rin. Lagian, dia lebih sibuk mikirin tato naganya daripada kehadiranku. Iya kan, Bang?"
Hantu bertato yang tadi berdiri di pojok kini mendekat lagi. Wajahnya yang pucat terlihat sangat memelas. "Dokter cantik... tolong ya, ingat janji Dokter. Jangan sampai naga saya buntung."
Arini memijat keningnya. Benar-benar situasi yang tidak masuk akal. Di satu sisi ada tunangan robot yang menuntut logika, di sisi lain ada arwah preman yang menangisi tato.
"Iya, Pak. Saya janji," sahut Arini pasrah. Ia mulai menggerakkan tangannya, memeriksa area telinga jenazah dengan sangat teliti menggunakan kaca pembesar.
Di bawah lampu operasi yang benderang, Arini menemukan lubang mikroskopis itu lagi. Sangat halus, hampir menyerupai pori-pori kulit jika tidak dilihat dengan seksama. Arini mengambil sebuah jarum tipis dan mencoba memasukkannya ke dalam lubang tersebut.
"Rin, orang yang nusuk itu pakai jarum yang ada racun sarafnya," celetuk Mika tiba-tiba. Wajahnya yang tadinya ceria berubah sedikit serius. "Aku lihat waktu di 'sana' tadi. Arwah Bang Tato ini bingung banget kenapa tiba-tiba badannya kaku pas lagi makan seblak di pinggir jalan."
Arini terhenti. "Berarti ini pembunuhan terencana yang sangat rapi. Pelakunya tahu betul cara mematikan saraf tanpa meninggalkan jejak banyak."
"Dan tahu nggak siapa yang ada di sekitar dia saat itu?" Mika menggantung kalimatnya, membuat Arini menoleh. "Ada orang pakai seragam hitam, mirip pengawal. Dia nggak sengaja nabrak Bang Tato ini, terus 'cekit', Bang Tato ngerasa kayak digigit semut doang."
Arini mencatat semua informasi itu dalam otaknya. Ia merasa seperti detektif yang dibantu oleh informan gaib. Sambil tangannya sibuk melakukan prosedur otopsi yang sebenarnya—tentu saja dengan hati-hati menghindari tato naga si Bapak—Arini terus berdiskusi dengan Mika.
Setengah jam berlalu. Arini selesai menjahit kembali tubuh jenazah itu dengan sangat rapi, jauh lebih rapi dari biasanya.
"Selesai, Pak. Naga Anda masih utuh dan gagah," bisik Arini.
Hantu bertato itu melihat tubuhnya sendiri, lalu tersenyum lebar hingga matanya menyipit. "Terima kasih, Dokter! Dokter baik banget. Saya doakan Dokter cepat nikah sama Jaksa galak itu ya!" Setelah berkata begitu, sosoknya perlahan memudar, menjadi butiran cahaya biru yang menghilang ke udara.
Arini tersenyum tipis. Ada rasa hangat yang aneh di hatinya. Ternyata, menjadi dokter forensik indigo tidak buruk-buruk amat. Ada kedamaian yang bisa ia berikan pada mereka yang telah pergi.
Baru saja ia hendak melepas sarung tangan latexnya, pintu kembali terbuka. Baskara masuk dengan langkah yang sama persis seperti tadi—terukur dan penuh wibawa.
"Lima belas menitmu sudah lewat sepuluh menit, Arini," ucap Baskara sambil melirik jam tangan mekanik di pergelangan tangannya.
Arini berbalik. "Tapi hasilnya sepadan, Bas."
Baskara berhenti tepat di depan Arini. Ruangan ini dingin, tapi keberadaan Baskara entah kenapa selalu membuat suhu di sekitar Arini terasa naik. Pria itu tidak langsung bertanya soal hasil otopsi. Matanya justru menatap wajah Arini yang tampak kelelahan.
"Kamu pucat," gumam Baskara. Tanpa aba-aba, ia mengulurkan tangannya yang besar dan hangat, menangkup pipi Arini. "Sudah kubilang, jangan dipaksakan. Kamu baru saja bangun dari koma panjang."
Arini tertegun. Sifat tsundere Baskara selalu muncul di saat yang tidak terduga. Bicaranya dingin, tapi tatapannya... tajam namun melindungi.
"Aku tidak apa-apa, Bas. Lihat ini," Arini menunjukkan foto makro yang ia ambil dari lubang di telinga jenazah. "Kematian ini bukan karena serangan jantung alami. Ada tusukan jarum halus di sini. Aku yakin ini racun saraf yang bekerja cepat."
Baskara mengambil tablet dari tangan Arini, matanya menatap tajam foto tersebut. Garis rahangnya mengeras. "Ini... teknik yang sama dengan yang menyerang saksi kunci kasus korupsi bulan lalu."
"Itu artinya, dugaanmu tentang konspirasi itu benar, kan?" tanya Arini.
Baskara terdiam sesaat, lalu ia menatap Arini dengan tatapan yang sulit diartikan. Tiba-tiba, ia menarik Arini ke dalam pelukannya. Bukan pelukan yang mesra dan manis, tapi pelukan yang posesif dan protektif. Wajah Arini terbenam di dada bidang Baskara, menghirup aroma sandalwood dan wangi sabun maskulin yang menenangkan.
"Arini," bisik Baskara di dekat telinganya, suaranya terdengar sangat rendah dan sedikit parau. "Jangan terlibat terlalu jauh. Aku bisa menangani kasus ini. Aku tidak mau kehilangan kamu... untuk kedua kalinya."
Arini merasakan jantungnya berdebar kencang. Ia ingin membalas pelukan itu, tapi...
"Ekhem! Permisi, Mas Jaksa Posesif. Aku masih di sini lho, nonton gratis!" Mika tiba-tiba muncul tepat di antara kepala Arini dan bahu Baskara, menjulurkan lidahnya nakal.
Arini langsung tersentak dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Baskara. Wajahnya panas.
Baskara mengernyit, tangannya masih enggan melepas pinggang Arini. "Ada apa? Kamu tiba-tiba kaget begitu?"
"Ah... itu... ada nyamuk! Iya, nyamuknya gede banget tadi lewat di depan mukaku!" Arini beralasan sambil memukul-mukul udara dengan kikuk.
Baskara menatap langit-langit ruang otopsi yang bersih. "Nyamuk di ruangan steril dengan suhu 18 derajat?"
"Nyamuknya... nyamuk kutub mungkin, Bas. Sudah, ayo kita keluar. Aku lapar," Arini menarik tangan Baskara, berusaha mengalihkan pembicaraan sebelum Mika berbuat yang lebih aneh lagi.
Baskara hanya mendengus kecil, tapi ia membiarkan Arini menariknya. Sebelum keluar, Baskara menyampirkan jasnya ke bahu Arini lagi, memastikan tunangannya itu tidak kedinginan.
Mika terbang di belakang mereka sambil tertawa kecil. "Dunia memang adil ya. Arini dapat cowok ganteng tapi kaku kayak kanebo kering, dan aku dapat hiburan drakor live tiap hari. Lanjut, Rin! Jangan kasih kendor!"
Arini hanya bisa membatin, Ya Tuhan, kuatkan hamba menghadapi dua makhluk ini.
lanjut thorr
lagian botol parfum taro diluar dulu deh rin kalo mau bikin anak. hantu lu resek🤭🤣🤣🤣