NovelToon NovelToon
Identitas Rahasia Nyonya Yang Terbuang

Identitas Rahasia Nyonya Yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Perjodohan / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Dulu ia dibuang bak sampah, kini ia kembali untuk mengambil semuanya.
Setelah dikhianati dan dicampakkan begitu saja oleh keluarga serta suaminya, sang "Nyonya" menghilang tanpa jejak. Dunia mengira dia sudah hancur, namun mereka salah besar.
Ia kembali dengan wajah baru, kekayaan yang tak terhitung, dan identitas rahasia yang mematikan. Bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas, ia datang untuk menjatuhkan mereka yang pernah tertawa di atas penderitaannya.
"Satu per satu akan hancur, dan mereka bahkan takkan sadar siapa yang melakukannya."
Bersiaplah menyaksikan pembalasan dendam yang dingin, cerdik, dan penuh kemewahan. Siapa yang akan bertahan saat rahasianya terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Darah yang Lebih Kental dari Dosa

Meskipun London menjadi saksi runtuhnya The Obsidian, dunia kekuasaan tidak pernah benar-benar membiarkan pelakunya pensiun dengan tenang.

Ada satu rahasia terakhir yang tersimpan dalam foto yang Elena temukan di brankas Haryo—rahasia yang belum sempat ia pecahkan.

​Satu bulan setelah malam berdarah di London, Elena tidak menghilang ke pulau tropis seperti yang ia rencanakan.

Ia justru terduduk di sebuah perpustakaan kuno di sudut kota Florence, Italia.

Di depannya, tersebar dokumen-dokumen kusam yang ia tebus dengan harga selangit dari seorang informan Vatikan.

​"Nona, Anda sudah tidak tidur selama tiga puluh jam," Paman Han meletakkan secangkir kopi espresso yang sangat pekat di meja.

"Reza sudah menunggu di luar. Dia bilang tiket ke Maladewa sudah siap, tapi Anda malah sibuk dengan kertas-kertas tua ini."

​Elena tidak mendongak. Jemarinya gemetar saat menunjuk sebuah silsilah keluarga dalam bahasa Latin kuno.

"Paman, lihat ini. Haryo Adiguna bukan sekadar mencuri aset ibuku. Dia 'dipilih' untuk menikahi ibuku."

​Paman Han mengerutkan kening. "Dipilih? Oleh siapa?"

​"Oleh sebuah entitas yang lebih tua dari The Obsidian. Namanya 'The Origin'. Selama ini kita pikir The Obsidian adalah puncaknya, tapi ternyata mereka cuma divisi keamanan.

'The Origin' adalah keluarga-keluarga yang merasa mereka memiliki hak ilahi untuk mengatur dunia.

Dan ibuku... Sarah... dia bukan korban biasa. Dia adalah pewaris utama yang mencoba melarikan diri."

​Pintu perpustakaan terbuka.

Reza masuk dengan wajah cemas, bukan karena tiket pesawat, tapi karena ponselnya terus bergetar.

​"Elena, kita harus pergi sekarang," bisik Reza.

"Ada pergerakan aneh di Jakarta. Yayasanmu... seseorang sedang mencoba mengambil alih secara paksa lewat jalur hukum yang sangat legal. Bukan lewat peretasan, tapi lewat klaim pertalian darah."

​Elena akhirnya berdiri. "Siapa?"

​"Namanya Elara. Dia muncul entah dari mana, mengklaim sebagai kakak kandungmu yang selama ini disembunyikan Haryo. Dan dia punya bukti DNA yang validitasnya 99%."

​Elena tertawa sinis.

"Kakak kandung? Haryo tidak pernah bilang aku punya kakak. Ini pasti pion baru dari 'The Origin'."

​"Tapi masalahnya, Elena," Reza menatapnya dengan serius, "rakyat Jakarta mencintainya. Dia tampil sebagai sosok 'malaikat' yang lebih lembut darimu. Dia membagikan aset yayasanmu kembali ke publik dalam bentuk hibah yang nggak masuk akal. Dia sedang menghancurkan sistem yang kau bangun dengan cara menjadi lebih baik darimu."

​Elena kembali ke Jakarta, tapi tidak melalui bandara utama.

Ia mendarat di pangkalan udara pribadi dan langsung menuju kantor pusat Sarah Foundation.

Di sana, gedung yang dulunya sunyi kini dipenuhi wartawan.

​Di lobi utama, seorang wanita berdiri dengan anggun.

Rambutnya panjang, wajahnya sangat mirip dengan Alana sebelum operasi—begitu murni, begitu polos.

Dia mengenakan gaun putih sederhana, terlihat seperti dewi di tengah kekacauan.

​"Alana... adikku yang malang," ujar Elara saat melihat Elena masuk.

Suaranya begitu merdu hingga membuat orang-orang di sekitar terpesona.

​"Berhenti memanggilku dengan nama itu," desis Elena.

"Siapa kau sebenarnya? Siapa yang membayarmu untuk memakai wajah lama saya?"

​Elara mendekat, lalu membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh Elena.

"Haryo tidak membunuh ibumu, Elena. Dia menyembunyikannya. Dan sekarang, Ibu ingin bertemu denganmu. Tapi kau harus menyerahkan takhta ini padaku lebih dulu. Kau terlalu... 'kotor' untuk memimpin kami kembali."

​Elena merasakan hantaman di dadanya. Ibu? Masih hidup?

​Malam itu, Elena mengikuti instruksi Elara menuju sebuah rumah tua di pinggiran kota Bogor—rumah yang sama tempat Alana menghabiskan masa kecilnya.

Reza dan Paman Han menunggu di luar dengan senjata siap tembak, namun Elena bersikeras masuk sendiri.

​Di dalam, di ruang tengah yang penuh dengan tanaman bunga lili putih, seorang wanita tua duduk di kursi roda.

Wajahnya penuh kerutan, tapi matanya... mata itu persis seperti mata yang Elena lihat di cermin setiap pagi.

​"Sarah?" gumam Elena.

​Wanita itu tersenyum sedih.

"Elena... maafkan Ibu. Haryo harus melakukan semua itu untuk menjagamu dari 'The Origin'. Elara adalah kakakmu, dia lahir saat Ibu masih dalam pelarian. Kami harus memisahkan kalian agar setidaknya salah satu dari kalian selamat."

​Elena merasa dunianya runtuh.

Selama ini dia berjuang untuk membalas dendam ibunya, tapi ternyata ibunya adalah bagian dari permainan itu sendiri.

​"Lalu kenapa sekarang?" tanya Elena dengan suara parau.

"Kenapa muncul sekarang saat semuanya sudah tenang?"

​"Karena 'The Origin' membutuhkan pemimpin baru. Dan mereka memilih Elara karena dia tidak tercemar oleh darah yang kau tumpahkan di London dan Singapura," sahut Sarah.

"Mereka ingin kau mundur, Elena. Pergilah dengan Reza, hiduplah dengan tenang. Biarkan Elara yang memegang kendali dunia bawah."

​Elena mundur perlahan.

Ia melihat Elara berdiri di belakang kursi roda ibunya, tersenyum penuh kemenangan.

Namun, ada sesuatu yang salah. Elena melihat ke arah cermin besar di ruangan itu.

​Ia melihat gerakan tangan Elara yang sedang memegang sebuah jarum suntik kecil di belakang leher Sarah.

​"KAU BERBOHONG!" teriak Elena.

​Elena menerjang Elara, tapi wanita itu ternyata memiliki kemampuan beladiri yang jauh di atas manusia biasa.

Gerakannya cepat, hampir tidak terlihat.

​"Ibu hanyalah umpan, Elena!" Elara tertawa sambil melempar Sarah—yang ternyata hanyalah seorang aktris yang dioperasi plastik—ke lantai.

"Kau terlalu emosional kalau soal keluarga. 'The Origin' tidak butuh pemimpin yang punya kelemahan."

​Tiba-tiba, suara tembakan terdengar.

Kaca jendela pecah.

Reza masuk dengan meluncur dari tali.

​"Elena! Keluar dari sana! Tempat ini sudah dipasangi gas saraf!" teriak Reza.

​Elena tidak mau pergi tanpa memberikan pelajaran pada wanita yang berani menghina memori ibunya.

Ia mengambil lampu minyak di meja dan melemparkannya ke arah tirai, seketika api berkobar.

​Dalam kekacauan api dan asap, Elena dan Elara bertarung.

Ini bukan lagi soal harta, ini soal siapa yang asli dan siapa yang palsu.

Elena berhasil menyudutkan Elara di dekat jendela.

​"Kau pikir kau bisa menggantikanku?" desis Elena sambil mencengkeram leher Elara.

"Aku sudah melewati neraka. Kau cuma diciptakan di dalam laboratorium yang bersih!"

​Elena melempar Elara keluar jendela, tepat ke arah kolam tua yang sudah kering.

Namun, saat Elena hendak menyusul, ia melihat sesuatu di pergelangan tangan Elara yang pingsan.

Sebuah tato kecil berbentuk simbol 'The Origin'—tapi di bawahnya ada angka: 02.

​Elena menatap lengannya sendiri.

Di bawah luka bekas jahitan di London, perlahan ia melihat sebuah pola yang selama ini tersembunyi.

Sebuah pola yang hanya muncul saat terkena panas api.

Angka 01.

​Elena terpaku di tengah api yang mulai melahap rumah itu.

​Reza menarik Elena keluar tepat sebelum rumah itu meledak.

Mereka berdiri di kegelapan malam, melihat api yang menghanguskan sejarah masa kecil Elena.

​"Dia bukan kakakmu, Elena," bisik Reza sambil memegang bahu Elena.

"Kalian berdua adalah hasil rekayasa genetika dari Sarah Adiguna yang asli. Sarah yang asli sudah lama meninggal di Sanatorium. Haryo mencoba menciptakan kembali 'pewaris' agar dia tetap punya kuasa atas aset 'The Origin'."

​Elena menatap tangannya yang gemetar.

"Jadi... aku bukan Alana? Aku cuma... subjek nomor satu?"

​"Kau adalah Elena," tegas Reza.

"Kau adalah satu-satunya yang memberontak. Elara adalah versi yang patuh, tapi kau... kau adalah kegagalan sistem yang paling indah."

​Elena menatap langit malam. Rasa sakit itu kini bukan lagi soal dendam, tapi soal krisis eksistensi.

Namun, di tengah kehancuran itu, ia menemukan satu kekuatan baru.

Jika dia adalah sebuah "produk", maka dia adalah produk yang sudah menghancurkan penciptanya.

​"Paman Han," panggil Elena.

​"Ya, Nona?"

​"Hapus semua data tentang 'The Origin'. Kita tidak akan lari. Kita akan memburu setiap anggota keluarga mereka sampai tidak ada lagi yang tersisa. Jika mereka ingin aku menjadi pemimpin mereka, aku akan menjadi pemimpin yang akan membakar seluruh organisasi itu dari dalam."

​Elena menoleh ke arah Reza.

"Kau masih mau bersamaku, meski aku bukan manusia yang sesungguhnya?"

​Reza tersenyum, menarik Elena ke dalam pelukannya.

"Aku tidak peduli kau nomor satu atau nomor seribu. Di mataku, kau adalah satu-satunya wanita yang bisa bikin duniaku berantakan. Dan aku suka itu."

​Di bawah cahaya bulan yang dingin, Sang Nyonya yang Terbuang kini menyadari takdir barunya.

Ia bukan pewaris, ia bukan korban.

Ia adalah anomali.

Dan ia akan memastikan bahwa dunia tidak akan pernah melupakan namanya.

​Perjalanan belum berakhir.

Ini adalah awal dari pembersihan yang sesungguhnya.

​Bersambung...

1
gaby
Aq baru gabung thor, sepertinya menarik. Smoga upnya rajin jgn kelamaan, biar pembaca ga kabur
Alya Alya
Saya baru saja rilis Karya baru....
Ayo buruan baca...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!