" Nak. Ayo kita pulang, tak baik loh melamun di waktu senja, apalagi kamu melamun nya di bawah pohon randu." Tegur wanita tua, lembut dan tersenyum hangat kepada pemuda berusia 20 tahun.
" Ehk. Nek... Ayo.." Jawab pemuda itu tak beraturan ucapannya. Lalu bangkit dari tempat duduk di bawah pohon itu.
" Kamu kenapa Nak. Akhir akhir ini Nenek perhatikan kamu suka melamun seorang diri?"
" Gak kenapa-kenapa kok Nek." Jawab nya.
" Hmmmmmmm.." Gumam Nenek tak puas dengan jawaban dari pemuda yang kini berjalan berbarengan pulang ke rumah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Pagar besi hitam yang menjulang tinggi tampak mengancam di bawah bulan purnama yang bersinar redup, tirai kabut tipis menyelimuti setiap unsur dekorasi yang seharusnya memukau.
Mansion Seri Dewata berdiri seperti raksasa yang sedang merenung, dinding batu kapur pucatnya bersinar dengan kilau aneh, sementara beberapa jendela tetap gelap gulita—seolah mata yang menutup erat—dan yang lain hanya menerbitkan cahaya kuning samar yang tidak pernah mencapai sudut-sudut taman yang tumbuh liar di sekelilingnya.
Di dalam, lantai marmer yang dulu mengkilap kini tertutup lapisan debu tipis yang menyimpan jejak-jejak langkah tak dikenal. Lampu gantung kristal Bohemia yang megah terlihat seperti reruntuhan yang terlupakan, beberapa sisinya pecah dan meninggalkan bentuk yang menyeramkan di dinding.
Angin menerobos celah-celah jendela yang tidak tertutup rapat, membuat tirai sutra tua berwarna krem bergoyang seperti bayangan yang sedang menari sendirian. Bau kayu lapuk bercampur dengan aroma tak dikenal—seperti dupa kuno dan tanah basah—mengisi setiap ruangan yang penuh dengan furnitur berlapis kain berselimut tirai.
Tiba-tiba, suara hentakan keras dari kamar utama di lantai atas bergema melintasi lorong kosong. Di tengah ruang tamu yang sepi, sebuah buku tua dengan sampul kulit hitam yang terletak di atas meja kayu mahoni tiba-tiba terbuka sendirian. Halaman putih kekuningan bergulir perlahan, berhenti tepat di bagian yang ditandai dengan sehelai rambut hitam lurus—rambut yang sama persis dengan yang terjepit di antara kaca jendela kamar di atas, di mana sepasang mata hitam sedang mengawasi setiap gerakan di dalam ruangan itu.
Pintu kayu berat terbuka perlahan tanpa suara. JAYA, kakek yang menjadi kepala keluarga masuk dengan langkah lambat tapi penuh kuasa. Wajahnya keriput tapi mata hitamnya menyala tajam, memindai setiap orang di sekitar meja. Udara yang sudah pekat kini terasa seperti akan membeku.
JAYA
Suaranya dalam dan menggema, tanpa perlu meningkatkan nada.
"Saya dengar ada pembicaraan yang tidak seharusnya terjadi di rumah saya. Mengungkap noda hitam 19 tahun yang lalu.!
Semua orang langsung berdiri, kepala sedikit menunduk. Hanya BINTANG yang tetap tegak, meskipun tangannya mulai menggigil di bawah meja.
"Kakek, kita harus berbicara berdua semua orang di sini tidak boleh tahu masalah waktu itu." Suara sedikit gemetar tapi tetap tegas.
Delima menarik nafas dalam dalam mencoba berbicara untuk memberi nasehat agar kasus 19 tahun itu tidak pernah di ungkit lagi, tapi langsung terhenti saat tatapan Jaya menyambar padanya.
"Saya sudah memutuskan hal itu. Kasusnya ditutup. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi.!
Ini yang di inginkan dan sekuat apapun Bintang membujuk kakek nya, tidak akan pernah di anggap karna sebuah kesalahan yang begitu fatal. " Delima tersenyum licik sesaat menoleh pada irwan dan Sandi, sama sama tersenyum licik.
Lagi dan lagi jawaban seperti itu yang Bintang dapatkan dari kakek nya, selama lima tahun ini dia sadar akan kesalahan masa lalu nya itu. Kesalahan terbesar nya membuang darah dagingnya akibat hubungan terlarang bersama seorang pemuda yang telah menyelamatkan nya.
Namun penjelasan seperti apapun yang Bintang sampaikan, tidak ada yang mempercayai nya waktu itu, karna hasutan dari ibu tirinya, kesalahan terbesar yang ia lakukan tidak menginginkan bayi tersebut.
"Tapi Kek, ini penting bagi ki..............!
JAYA, berjalan maju hingga berdiri di tengah ruangan, menatap satu per satu. "Keluarga ini bertahan selama tiga generasi karena kita mengikuti aturan yang sudah ditetapkan. Tidak ada satu pun anggota keluarga yang boleh membongkar rahasia yang telah kita simpan dengan darah dan air mata. Bahkan jika itu berarti mengorbankan satu orang.
Bulan, menangis diam-diam, menyembunyikan wajahnya di kedua tangan. Jupiter mengangkat kepala, matanya penuh perjuangan.!
Kita tidak bisa terus seperti ini, Ayah. Semua yang terjadi akhir-akhir ini... itu karena kita terlalu lama menyembunyikan kebenaran." Jupiter mencoba untuk membuat ayahnya itu luluh.
Tatapannya menjadi lebih menyakitkan, menatap Jupiter dengan penuh ancaman." Kau berani membantah saya? Setelah semua yang telah saya berikan pada keluarga ini? Rumah megah ini, kehormatan yang kita punya, semua ada karena saya menjaga aturan itu dengan erat.
Dia berjalan mendekat ke Bintang, wajahnya hanya beberapa sentimeter dari wajahnya.
Suara rendah tapi penuh tekanan." Kau adalah yang paling saya harapkan bisa memahami, Bintang. Jika kau tetap ingin mencari tahu... bersiaplah menerima konsekuensinya. Bukan hanya untukmu sendiri, tapi untuk semua orang yang kau cintai di dalam rumah ini.
Tanpa menunggu jawaban, dia berbalik dan keluar dengan langkah yang sama mantapnya. Pintu tertutup dengan keras, membuat seluruh ruangan bergoyang. Semua orang jatuh ke kursinya, tubuh mereka lemas karena tekanan yang baru saja mereka rasakan. Hanya mereka bertiga yang tampak bahagia setelah keputusan dari kepala keluarga mengeluarkan titahnya.
Delima, Irwan dan anaknya Sandi tersenyum sumbing, bangkit melangkah pergi dari ruangan keluarga dengan perasaan bahagia." Ini sesuatu yang besar dan aku akan segera mengirim kabar pada kakekku untuk segera mengeksekusi anak haram itu.
Setelah keluar dari ruangan keluarga, Jaya tidak langsung ke kamarnya. Dia berjalan perlahan menuju ruang kerja rahasia di bawah tangga utama—suatu tempat yang hanya diketahui oleh dia dan satu orang saja.
Dia mengetuk pola khusus pada tembok bata, dan sebuah pintu tersembunyi terbuka perlahan. Di dalam, seorang pria berusia sekitar 50 tahun dengan wajah sungguh-sungguh sudah menunggu.
Menutup pintu dengan hati-hati, wajahnya berubah dari keras menjadi penuh kekhawatiran."Sudah siapkah kamu, Sutarjo?"
SUTARJO Orang kepercayaan Jaya selama 30 tahun. "Siap, Pak. Sejak Anda memberi tahu saya tentang dugaan tidak benarnya cerita yang kita dengar 19 tahun yang lalu."
Jaya mengambil sehelai foto kuno dari laci rahasia—foto Bintang muda yang sedang tersenyum bersama seorang pemuda yang wajahnya sudah sedikit pudar.
"Saya harus bersikap keras di depan keluarga. Jika mereka tahu saya masih menyelidiki hal ini, terutama Delima dan keluarganya, mereka akan melakukan sesuatu yang lebih kejam. Bintang adalah cucu kesayanganku... saya tidak pernah benar-benar percaya bahwa dia akan tega meninggalkan anaknya sendiri." Ucap Jaya.
"Saya sudah menemukan jejak pemuda itu—dia tidak mati seperti yang diberitakan. Dan ada kabar bahwa anaknya mungkin masih hidup juga, Pak."
Jaya menghela napas dalam, menggenggam foto dengan erat.
"Cari dengan hati-hati. Jangan biarkan siapapun mengetahuinya. Jika benar cucu kita masih ada di luar sana, kita harus melindunginya sebelum Delima dan kelompoknya melakukan tindakan yang tidak bisa diubah. Bintang sudah menderita cukup lama—waktunya kita tahu kebenaran yang sebenarnya."
Sutarjo mengangguk dan keluar melalui pintu belakang ruangan. Jaya tetap berdiri sendirian, menatap foto lama itu sambil merenung. Di balik wajah kepala keluarga yang tegas, tersembunyi rasa cinta dan rasa bersalah yang telah menyiksa dia selama bertahun-tahun.
CATATAN PEMBACA:
SESUDAH MEMBACA JANGAN LUPA KLIK LIKE YA!
SYUKUR-SYUKUR DAPAT VOTE DAN GIFT KALAU KALIAN SUKA DENGAN CERITA INI.
JANGAN LUPA JUGA ADD KE LIBRARY / FAVORIT AGAR TIDAK KETINGGALAN UPDATE SELANJUTNYA!
SALAM DARI ANAK KAMPUNG,
ARIS.
Bersambung.