Merasa kesal karena ada yang mengatakan bahwa dirinya tidak akan laku bahkan akan terus menjomblo seumur hidup, tidak ada satu pun pria yang tertarik padanya.
"Enak aja dia bilang begitu padaku! Awas saja kau! Akan aku buktikan diriku ini bisa memiliki seorang kekasih dan layak untuk dicintai!" geramnya wanita cantik itu.
Ia bersumpah pada dirinya sendiri, setelah mendapatkan kekasih justru ia akan langsung memamerkan kemesraannya terhadap orang yang telah berani berkata seperti itu.
"Tapi tunggu! Dari mana aku akan mendapatkan seorang kekasih!?" ia gelisah dan mondar-mandir.
"Astaga..." dirinya mengusap wajah dengan kasar.
"Hah, semoga dapat ya?" batinnya berdoa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xeynica_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Gundah Seketika
Kemudian wanita itu menyerahkan ponsel tersebut ke sepupu tampannya.
"Ini, terima kasih" dibalas anggukkan kepala oleh remaja lelaki itu.
"Ekhem..." Aleix berdehem.
"Kenapa?" tanya Cellsyia dengan bingung.
"Tidak jadi, Kak. Hehehe..." sahut Aleix diakhiri kekehan pelan.
"....." wanita itu menanggapinya dengan memutarkan matanya.
"Mari pulang saja, sudah pukul 5 sore nih" celetuk Cellsyia setelah melihat jam tangannya.
"Ayo..." balas Aleix dan diangguki kekasih tampannya.
***
"Oh iya, ini sebelum kita pulang berhenti dulu di lantai 6, ya" kata wanita itu.
Sontak remaja lelaki itu melirik ke arah dirinya.
"Lantai 6?" Aleix bergumam.
"Itu, aku mau mengambil belanjaan buku novelku" jawab Cellsyia.
"Oh, kiran apa, Kak" ucap Aleix lalu menyadarkan punggungnya.
Saat ini mereka bertiga tengah berada di dalam lif lantai 7.
Beberapa Menit Kemudian.....
"Nih, kalian bawa" wanita itu memberikan barang belanjaan buku novelnya ke orang yang berada dihadapannya.
"Lah? Ke kita, Kak?" remaja lelaki itu bertanya sekaligus memastikannya.
"Iya" anggukkan kepala sepupu cantiknya.
"Cepat, ambil barang belanjaanku ini!" titahnya Cellsyia dan langsung diambil oleh keduanya.
Sang kekasih bule tampannya serta sepupu tampannya masing-masing membawa 1 totebag yang cukup besar.
"Berasa kayak babu nih" batin Aleix, ia tak berani berkata langsung karena pasti akan kena marah sepupunya.
Remaja lelaki itu melihat ke melihat ke samping dirinya, terlihat kekasih sepupunya tengah memandangi lekat sepupunya.
"Hm..." dahinya sedikit mengernyit.
"Kelihatannya dia sudah kecintaan banget, ya? pikirnya remaja lelaki itu.
"Sttt...Sayang" pria bule mendekatinya seraya berbisik pada sang kekasih cantiknya.
"Apa?" tanya wanita itu.
"Kamu yakin buku novel sebanyak ini mam..." ucapannya terhenti kala sebuah ciuman singkat di pipinya.
Cup
"Sayangku, cintaku, manisku and my tampan" Cellsyia berkata pelan.
"....." seketika sepupunya yang mendengar perkataannya itu bergidik ngeri.
"Kak Cell, apakah kecintaan juga kepada kekasih bule nya itu?" batin Aleix, tatapan melirik sekilas ke arah satu pasangan yang sedang berdiri berdekatan seraya keduanya bertatapan mesra.
"Hm? Apa Sayangku?" balas pria bule itu, tangannya membelai lembut wajah cantik kekasihnya.
"....." Cellsyia terdiam membeku.
"Tunggu-tunggu deh, kenapa diriku menjadi seperti ini?" pikirnya wanita itu.
Kedua matanya berkedip 2 kali dan membiarkan pria itu membelai wajah cantiknya.
Aren, kekasihnya, dirinya menatap lekat wanita itu.
Sedangkan sepupunya, Aleix, remaja lelaki itu membulatkan matanya.
"Apa-apaan mereka? Astaga! Dekat sekali wajah keduanya! Aku harus segera bertindak" pikirnya Aleix.
Ketika dirinya akan berjalan, langkahnya terhenti karena sepupunya menjauh dari pria bule itu.
"Syukurlah, sudah menjauh" batinnya remaja lelaki itu.
"Sayang? Mengapa tanganku kamu lepaskan?" Aren bingung kenapa kekasih hatinya tiba-tiba saja melepas kedua tangannya dari wajahnya dan langsung menjauhi kemudian menghampiri remaja lelaki itu.
"Ekhem, Aleix" Cellsyia memanggil dirinya.
"Kenapa, Kak?" tanya Aleix, menyadari satu hal yang janggal ia pun menanyakannya.
"Kak, wajahmu kenapa? Lagi ada masalah dengan kekasihmu itu?" remaja lelaki itu berbisik.
"Tidak ada" jawab singkat sepupu cantiknya tanpa melihat ke arahnya.
"Hufh..." terdengar helaan nafas di sebelahnya, Aleix terdiam.
"Tadi Kak Cell terlihat mesra sekali bersama kekasihnya, tapi kenapa saat ku tanyain respons nya seperti itu? Jangan-jangan kekasihnya memiliki wanita lain? Astaga, aku jangan berpikir seperti itu" pikirnya Aleix.
"Sayang, kenapa kamu menjauhi diriku ini?"