Selama tiga tahun, Nayra mendedikasikan hidup untuk suaminya, Lettu Ardana Prajakelana. Seorang pria abdi negara yang merangkap profesi sebagai psikolog kesatuan. Semua terjadi karena perjodohan.
Namun, menjelang usia pernikahan yang ke ketiga, sebuah nama lain justru sering digaungkan Ardana. Mantan kekasihnya kembali, mengemis harap dan memohon Ardana menceraikan Nayra. Lalu apa yang akan terjadi dengan pernikahan Ardana dan Nayra setelah mantan kekasih Ardana kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Sebuah Perjodohan
Nayra sedikit terkejut, namun ia segera menguasai keadaan. Walaupun begitu, Nayra merasa sedikit malu, ternyata pulangnya justru keduluan Ardana.
Ardana masih berdiri menatap tajam ke arahnya. Membuat Nayra serba salah.
"Iya, Mas, Nay baru pulang. Mas Arda sudah lama?" sahut Nayra tidak berani menatap lama suaminya yang kini menghampiri dan masih menatapnya tajam seperti saat tadi pertama melihat Nayra datang. Kebahagian yang dirasakan di kafe saat halal bihalal tadi, kini lenyap sudah.
Ardana mendekat, ia memerhatikan Nayra dari atas sampai bawah. Nayra sangat berbeda di matanya. Dandanannya lebih mirip anak muda yang asik pulang dari tongkrongan.
Ada getar dalam dada Ardana, ketika melihat betapa ternyata Nayra begitu cantik dengan dandanan minimalisnya. Gayanya yang anak muda benar-benar tidak memperlihatkan kalau Nayra sudah menikah.
"Dengan siapa saja di sana?" tanyanya kemudian, tanpa menjawab pertanyaan Nayra tadi.
Nayra mendongak, lalu menatap sekilas Ardana. Saat itu pandangan mata mereka bertemu, tapi Nayra segera menunduk. "Banyak, Mas. Ada laki-laki dan perempuan."
"Hmmmm."
Ardana tidak bicara apa-apa. Dia hanya berdehem, kemudian menjauh.
Nayra pun segera berlalu, menuju tangga untuk ke kamar. Sementara itu, Ardana diam-diam menatap kepergian Nayra. Jantungnya tiba-tiba berdebar kencang saat punggung itu perlahan menjauh dan menghilang di balik tembok.
Sosok lemah lembut masih muda dan sangat mencintainya, tapi semua itu tidak cukup buat Ardana membalas cinta Nayra.
Ardana mendesah, ada dua rasa yang kini tiba-tiba menghantam dadanya. Antara istri yang masih belum dicintainya dan mantan kekasih yang kembali hadir dengan kondisi yang membuatnya prihatin.
"Apa ini semua salahku?" gumamnya.
Flash back
Tiga tahun yang lalu, sebuah perjodohan itu terjadi ketika Tiana kekasih Ardana sedang meniti karir sebagai Pramugari di salah satu maskapai penerbangan nasional.
Ardana sempat menolak dengan alasan dia sudah memiliki kekasih. Namun kedua orang tua Ardana memaksa, terlebih mereka memang tidak setuju kalau Ardana menjalin kasih dengan seorang Pramugari. Poin penting dalam perjodohan itu adalah, ternyata kedua orang tua Ardana memang sudah berniat menjodohkan Ardana dengan anak dari sahabat mereka, sejak sebelum Nayra lahir.
"Nanti, kalau anakmu salah satunya ada yang perempuan, maka aku ingin anak perempuanmu dijodohkan dengan Ardana anakku," seru Bu Karina, Ibunya Ardana kala itu, saat usia Ardana baru lima tahun.
Rencana dua sahabat itu disepakati dengan senang hati oleh kedua belah pihak. Lalu anak perempuan pertama Bu Lila lahir, dan dua tahun kemudian Bu Lila melahirkan lagi anak perempuan yang kedua, yang diberi nama Nayra. Bu Karina ternyata lebih menyukai Nayra, dan memilih Nayra yang ingin dijodohkan dengan Ardana.
Ardana tidak bisa menolak, terlebih saat itu Tiana pun begitu sibuk dengan karirnya, sehingga hubungan Ardana dan Tiana mulai renggang karena jarang bertemu, dan komunikasi pun mulai jarang. Sehingga Ardana berada di posisi jenuh, lalu mengambil keputusan yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ardana menerima perjodohan, namun terpaksa.
Flash back off
Lalu setelah usia pernikahan Ardana dan Nayra akan menginjak tiga tahun, tiba-tiba Tiana hadir kembali, dengan membawa perubahan. Tiana datang, mengemis harap dengan menyertakan kenyataan pahit, bahwa setelah kabar pernikahan Ardana dan Nayra sampai di telinganya, Tiana stres.
Dia down sampai sempat mengalami gangguan mental. Setidaknya itu yang Ardana dengar dari pengakuan Tiana, membuat Ardana merasa sangat prihatin dan bersalah. Saat ini pun Tiana sedang menjalani terapi psikologis di salah satu rumah sakit Angkatan Udara, dan Ardana menjadi salah satu terapis atau konselor bagi Tiana. Sehingga pertemuan itu tidak terelakkan lagi.
Hari-hari berjalan masih dengan irama yang sama. Tidak banyak terjadi interaksi, selain ajakan makan, ucapan hati-hati dan perhatian kecil lainnya yang selalu Nayra sampaikan. Ia masih belum lelah mengejar dan berharap cinta Ardana. Namun, sikap Ardana masih sama, dingin.
Nayra tidak akan menyerah, ia yakin kalau ia hamil, Ardana pasti berubah. Sebab menurut feelingnya, Ardana hanya akan berubah ketika ia mengandung.
Malam menjelang. Setelah makan malam Nayra segera menuju kamar. Yang ia lakukan di dalam kamar itu gelisah dan termenung. Namun ketika derap langkah kaki Ardana mulai terdengar menuju kamar, Nayra buru-buru menaiki ranjang lalu merebahkan diri.
"Kriettt...."
Pintu kamar terdengar berderit, Ardana memasuki kamar. Pemandangan di depannya sudah beberapa kali ia dapati dalam seminggu ini, Nayra sudah terbaring membelakanginya.
Sejenak ia menatap punggung itu seperti biasanya. Tiba-tiba ponsel Ardana berdering. Ia tersenyum kala nama Tiana muncul di layar ponsel. Ardana menjauh dari ranjang, ia keluar menuju balkon dan menerima panggilan dari Tiana di sana.
"Gimana, kamu sudah mulai baikan kan? Dengar saran dokter Arka kemarin, kamu jangan tidur malam-malam dan jangan sampai bergadang. Ingat, kamu harus jaga tingkat stres kamu," peringatnya lembut.
"Iya, Mas aku juga akan tidur, tapi ingin mendengar suara kamu dulu," balas suara di sana manja.
"Sudah, jangan membuat sambungan telpon ini menjadi lama. Mas tidak mau kamu stres . Nanti pengobatan kamu akan berjalan lama." Ardana memperingatkannya lagi dengan nada sangat perhatian.
"Baiklah. Aku sudah agak baikan kalau sudah mendengar suaramu, Mas."
Sambungan telpon itu pun berakhir, karena Ardana memaksanya. Sebab kalau tidak begitu, maka kesehatan Tiana akan kembali kambuh. Dia akan mudah stress.
Nayra kembali mendesah, ia tahu Ardana sedang berbicara dengan perempuan yang bernama Tiana.
"Siapa Tiana itu? Apakah aku tanyakan saja besok sama Mas Arda?" gumamnya sedih.
Keesokan harinya, tepat di hari Minggu. Ardana sudah terlihat bersiap dengan out fit olah raganya. Kebiasaan yang selalu Ardana lakukan setiap Minggu.
"Mas...tidak sarapan dulu?" Nayra menahan langkah Ardana.
Ardana menoleh lalu berkata. "Tidak usah."
"Mas...sudah lama kita tidak ke rumah Ibunya Nay. Nanti siang kalau Mas Arda tidak ada kegiatan lagi, kita ke sana, Mas?" ajak Nayra.
Ardana memejamkan mata. Ia tersadar, memang sudah lama hampir kurang lebih enam bulan tidak berkunjung ke rumah mertuanya itu.
"Kamu pergilah dulu sendiri, aku masih ada urusan hari ini. Nanti berikan saja uang dariku. Aku transfer buat Ibumu."
Nayra menunduk mendapat penolakan Ardana. Ia kecewa, lagi-lagi Ardana menolak ajakannya. Padahal kali ini untuk menengok orang tuanya.
"Mas... apakah Mas Arda mau bertemu perempuan bernama Tiana hari ini? Kalau boleh tahu, siapa Tiana itu?"
Langkah kaki Ardana benar-benar terhenti, ia memutar tubuhnya pelan, menata Nayra begitu tajam. Sorotnya memperlihatkan bahwa ia tidak suka kalau Nayra ikut campur dengan urusannya.
"Sudah aku katakan, kamu nggak perlu tahu urusanku. Apa masih belum paham juga? Aku tidak suka. Atau...kamu memang ingin tahu siapa Tiana?" balas Ardana dengan nada kesal.
Nayra mengangguk sangat yakin.
"Baiklah, aku katakan kalau Tiana adalah...."
Kringggg
Dering ponsel Ardana terpaksa memotong kalimatnya, Ardana meraih ponselnya dengan wajah dipenuhi senyum.
Jangan lupa dukungannya ya. Dan bagi yang belum follow, follow dulu ya. Makasih.
Dan Ardana kamu tuh bodoh , mau aja dibohongin sama Tiana 😡😡😡
Udah deh ini mah fix kamu harus harus pergi Nayra daripada tersiksa batin kamu , kamu berhak bahagia Nayra 🫢🫢🫢
mantau dikit lagi nih...