NovelToon NovelToon
Yun Miao 1: Satu Sabda Penyembuh

Yun Miao 1: Satu Sabda Penyembuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyelamat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Auzora Maleeka

"Di saat napas terakhir Pak Tua Arman dianggap sebagai akhir dari kejayaan keluarga Chandra, seorang asing berpakaian putih muncul tanpa suara. Tak ada obat, tak ada mantra rumit. Ia hanya membungkuk, membisikkan satu kalimat di telinga kakek yang sekarat itu, lalu berbalik pergi. Detik berikutnya, jantung kembali berdetak kuat, membuat para anak tercengang. Siapakah dia? Dan apa yang diucapkannya untuk menantang kematian?"

"Sebuah kalimat yang mengubah takdir. Saat dunia medis menyatakan Kakek sekarat, seorang asing bernama Yun Miao muncul dan menyembuhkannya hanya dengan satu kalimat perintah. Siapakah Yun Miao, dan bagaimana kalimat sederhana bisa melawan maut?"

Mohon maaf ya teman-teman kalau novel pertamaku belum bisa membuat kalian puas bacanya. InsyaAllah aku akan terus berusaha agar novelku selanjutnya bisa memenuhi keinginan dan kriteria kalian semua.... Terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auzora Maleeka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26

" Kalau semuanya lancar, kau akan mengira dia yang akan melakukannya." Jawab Tuan Heri sambil melihat ke arah Nyonya Desi kemudian dia pun langsung melihat ke arah Nyonya Rania.

Nyonya Desi pun mengikuti kemana arah mata Tuan Heri berlalu, Yaitu melihat sang ibu mertua.

"Ternyata begitu. Jadi, kau sengaja menceritakan semua hal tentang ibumu di masa lalu. Ini semua adalah rencanamu." Kata Nyonya Desi sambil menampar Tuan Heri, Nyonya Desi begitu murka saat mengetahui fakta itu dia marah-marah setelah menampar Tuan Heri, setelah berdiri pun dia langsung tetap memukul Tuan Heri.

"Benar! Semuanya sesuai dengan rencanaku. Sayangnya, Yuna hanya bisa membantuku sebentar. Jadi aku mencari pendeta Bima. Dia bilang asalkan aku menyerahkan jenazah Yuna padanya, dia bisa membantu ku." Dia berbicara begitu santai sambil menatap ke arah Nyonya Desi dan lalu melihat kearah Nadira, seakan-akan dia tidak takut dengan aura Nadira.

"Siapa sangka,...." Kata Tuan Heri.

"Siapa sangka, ada masalah di tengah jalan. Peti es Yuna jatuh ke tangan keluarga Chandra." Potong Nadira.

Nyonya berdua hanya bisa diam membisu mengetahui perdebatan ini. Mereka sudah lelah dan pasrah untuk berbicara lagi. yang ingin mereka ketahui apa motif dan tujuan selanjutnya dari iblis tersebut, karena Nyonya berdua ingin membalaskan dendam sang anak kepada pria tersebut. Meski itu mustahil dilakukan sendiri tanpa bantuan dari Nadira

"Tinggal sedikit lagi. Tinggal sedikit lagi. Aku bisa tinggal di dunia ini selamanya. Aku nggak terima. Seandainya aku tahu, aku seharusnya mencari lebih banyak wanita di luar sana untuk memberiku anak, lalu aku akan,....." Teriak Tuan Heri.

Nyonya Desi, pun murka dan langsung menampar wajah Tuan Heri dengan sangat keras.

"Bedebah! Aku bunuh kamu." Histeris Nyonya Desi, hingga tubuhnya nyaris limbung, kalau tidak di tangkap oleh Nyonya Rania, dan langsung memeluknya.

"Hahahaha... Nona, yang ku bunuh andalan anakku sendiri. Menurut logika, kau nggak bisa membunuhku." Kata Tuan Heri.

Nyonya Desi menangis di pelukan Nyonya Rania. Dia begitu terpukul, karena kehilangan anak satu-satunya dan anak yang dia sayangi. Tapi dengan teganya sang iblis malah membunuh sang anak demi kepentingan pribadinya.

Tangan Nadira pun terangkat kembali, sehingga memunculkan warna emas dari telapak tangannya, dan di arahkan ke Tuan Heri yang masih berlutut dan terikat oleh benang merah.

Tuan Heri begitu kesakitan dan terus berteriak, hingga pada akhirnya dia mati di tangan Nadira. Ditempat Tuan Heri berada tadi, muncullah lukisan iblis.

Dan selanjutnya, tangan Nadira menengadah sehingga muncullah boneka beruang milik Yuna.

"Ternyata begitu. Ayo. Aku selesaikan keinginanmu." Ajak Nadira sambil terus melihat ke arah boneka tersebut. Setelah Nadira mengajak pergi barulah boneka beruang tersebut menghilang dari tangan Nadira.

Nadira pun berdiri dari tempat duduknya, tangan kirinya menengadah dan lalu muncullah payungnya yang mana tadi terbuka dan terbang di atas.

Nadira pun langsung pergi dari hadapan mereka untuk memenuhi keinginan terakhir dari Yuna.

Sedangkan di luar kediaman, Adrian masih setia menunggu Nadira hingga urusan Nadira selesai. Dan pada akhirnya Nadira pun muncul di belakang Adrian. Dan Adrian pun membungkukkan badannya sedikit karena kedatangan Nadira.

"Nona Nadira. Bagaimana?" Tanya Adrian.

"Dimana kalian menemukan jenazah?" Bukannya menjawab tapi Nadira malah balik bertanya.

"Aku tanya dulu." Kata Adrian dan langsung mengambil handphonenya untuk menelfon sang Ayah. Karena Nadira ingin tahu di mana tempat menemukan jenazah Yuna.

"Halo, ayah. Menemukan jenazah...... Ok." Kata Adrian. Setelah selesai menelfon dan menaruh kembali handphonenya di saku jasnya. Adrian pun kembali menghadap Nadira

"Nona Nadira, aku sudah tanya. Ini perbuatan Ordo Suci. Mereka sering berkumpul. Konon, bos di balik layar bernama Bima." Kata Adrian.

"Bima Septa?" Tanya Nadira.

"Masih belum pasti, tapi kemungkinan besar benar. Coba pikirkan, baik tragedi Keluarga Wibowo maupun tragedi Hutama. Orang ini merencanakannya secara diam-diam. Mungkinkah dia adalah bos di balik layar?" Kata Adrian sambil menganalisis semuanya, dengan masalah yang terjadi akhir-akhir ini yang mana menimpa 2 keluarga.

"Ayo." Ajak Nadira.

"Hah... Kemana?" Tanya Adrian yang mana Nadira terus berjalan sambil menuruni tangga.

"Membunuh orang." Kata Nadira.

"Aku akan memanggil Ayahku untuk berkumpul." Kata Adrian yang sudah mengambil handphonenya dari saku jasnya itu.

"Nggak perlu." Kata Nadira. Akhirnya Adrian urungkan untuk menelpon Ayahnya, dan langsung mengejar Nadira yang sudah berjalan lebih dulu.

Pada saat yang sama, Nadira maupun Adrian sudah sampai di tempat Ordo Suci. Tempat itu sangat mirip dengan kastil dan juga sangat megah. Tempat itu tidak seperti kastil lainnya tapi tempat itu seperti tempat ibadah.

Setelah sampai Nadira pun berhenti, tapi Adrian masih melihat-lihat tempat itu, karena menurut Adrian tempat itu terlalu sunyi untuk ukuran kastil yang mewah.

"Nona Nadira, bukankah disini agak terlalu sunyi?" Tanya Adrian.

"Mereka sudah kabur." Jawab Nadira sambil menghela nafas pelan.

"Ohh... Memang benar. Seluruh aula sudah kosong melompong, perlukah aku mengirimkan orang untuk melacak mereka?" Kata Adrian sambil menghadap ke arah Nadira.

"Kau nggak bisa mengejarnya."Kata Nadira, lalu setelah itu berbalik ingin meninggalkan tempat itu.

"Ikuti aku." Lanjut Nadira.

"Eehhh... Sebentar, Nona Nadira. Kita nggak bisa menyerah begitu saja." Kata Adrian sambil berlari kecil untuk mengejar Nadira dan berhenti tepat di belakang Nadira.

Nadira berbalik, menghadap Adrian, "Nanti kau yang bertanggung jawab. Bakar tempat ini." Kata Nadira.

"Ah! Bakar tempat ini?" Tanya Adrian.

"Nggak berani?" Kata Nadira sambil mengangkat sedikit alisnya dan memiringkan kepalanya sedikit.

"Bukan, bukan, bukan. Bukan nggak berani. Aku cuma merasa cara anda bertindak masih sulit untuk ditebak." Kata Adrian sambil menggaruk telinganya pelan.

Nadira mengangkat tangan kanannya, lalu keluarlah sinar keemasan dari telapak tangannya, dan mengangkat tangannya sedikit keatas membiarkan sinar itu terus terbang.

"Wow." Adrian begitu takjub dengan apa yang dia lihat saat ini.

"Apa ini, Nona Nadira? Rasanya sangat hangat sekali." Tanya Adrian yang mana matanya masih fokus ke arah sinar keemasan yang menurut Adrian itu hangat.

"Keinginan tercapai, obsesi terpenuhi, begitulah adanya." Jawab Nadira yang mana ia juga masih melihat ke arah keemasan tersebut.

"Aku kurang pendidikan. Nggak mengerti." Kata Adrian sambil menggaruk tengkuknya dan sambil cengengesan pula.

"Maksudnya, kau bisa tetap di sisiku sekarang." Kata Nadira sambil melihat ke arah Adrian.

"Benarkah?" Tanya Adrian bahagia.

"Kau sangat berbeda dengan Dito." Kata Nadira.

"Apanya yang berbeda? Apakah aku kurang hati-hati dalam melayani, atau kurang baik?" Tanya Adrian.

"Sifat." Jawab Nadira.

"Aku,...... Oh, ya, Nona Nadira. Tadi anda bilang aku bisa berada di sisi Anda, apa itu benar?" Tanya Adrian lagi, untuk memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.

"Benar." Kata Nadira tersenyum tipis.

"Hahahaha...... Baguslah. Jadi, maksudmu aku sudah lulus ujian?" Tanya Adrian sambil tersenyum senang.

"Dari penampilanmu beberapa hari ini. Jelas belum." Jawaban Nadira justru melunturkan senyum senang Adrian hingga dia mengerucutkan bibirnya.

"Lalu, mengapa kau menahan ku di sisimu?" Tanya Adrian lesu.

"Karaktermu cocok untuk membantuku menyelesaikan pekerjaan." Kata Nadira.

"Aku nggak begitu mengerti, tapi Nona Nadira, apapun yang anda katakan, itulah yang berlaku. Apapun yang anda perintahkan untuk kulakukan, akan aku lakukan dengan baik." Kata Adrian sambil menaruh tangannya di dada.

"Lanjutkan penyelidikan terhadap Ordo Suci." Kata Nadira sambil berbalik dihadapan Adrian.

Dengan sigap, Adrian pun langsung membungkukkan badannya sedikit, lalu menjauh sedikit untuk melakukan telepon terhadap Joe.

Di tempat yang berbeda, Joe sedang santai dengan seorang Lelaki tua sambil meminum tehnya.

"Halo." Kata Joe.

"Halo, Kak Joe. Bantu aku selidiki Ordo Suci. Aku mohon." Kata Adrian sambil berbisik.

"Nggak bisa diselidiki." Kata Tuan Joe.

"Aahh! Sebentar, kau harus membantuku sampai selesai. Aku mohon padamu, Kak Joe." Kata Adrian lesu.

"Tuan Bima yang ada di belakang Ordo Suci sangat hebat." Kata Tuan Joe.

"Kalau aku bersikeras untuk mencari tahu?" Kata Adrian.

"Keluarga Chandra kalian nggak sanggup melawannya. Tapi, kalau Nona Nadira yang ingin menyelidiki, boleh saja." Kata Tuan Joe sambil melihat ke arah lelaki Tua itu.

"Apakah Nona Nadira sanggup melawannya?" Tanya Adrian.

Tanpa basa-basi lagi Joe langsung mengirimi foto Nadira kepada Adrian, sedangkan Adrian yang melihat foto tersebut kaget karena foto itu adalah foto Nadira.

"Sebentar, untuk apa kau mengirimiku foto Nona Nadira? Kau diam-diam memotretnya?" Kata Adrian.

Sedangkan orang yang dibicarakan, menoleh sedikit ke arah Adrian, karena penasaran kenapa membawa-bawa namanya

"Foto ini, dipotret oleh Nenek buyutku." Kata Tuan Joe.

"Bukankah Nenek buyutmu sudah lama meninggal?" Tanya Adrian kaget.

"Ketika aku masih kecil, Nenek buyutku belum meninggal. Dia sering mengambil foto ini dan bercerita tentang masa lalu, dia bilang dulu di Gunung Jima ada naga jahat muncul. Nona setelah mendengar kabar itu, lalu turun gunung untuk menaklukkan naga." Kata Tuan Joe.

Pada saat Tuan Joe bercerita, Adrian diam-diam membandingkan foto tersebut dengan orangnya langsung, tapi dari belakang. Sedangkan yang dibicarakan hanya diam saja.

"Bukankah itu hanya cerita bohong untuk anak-anak?" Tanya Adrian.

"Awalnya aku juga berpikir begitu, sampai aku bertemu orang dari keluargamu itu, yang membuatku goyah." Kata Tuan Joe.

Tanpa berkata lagi, Tuan Joe langsung mengirimkan sebuah foto lagi.

"Kau lihat lagi foto ini." Ujar Tuan Joe.

"Bukankah ini Nona Nadira dan payungnya?" Kata Adrian setelah meng-zoom foto yang diberikan oleh Tuan Joe

"Menurutmu, berapa usia patung Dewi ini?" Tanya Tuan Joe.

"Kalau dilihat dari bekas ausnya, rasanya nggak mungkin hanya beberapa dekade saja." Kata Adrian sambil menganalisis foto tersebut.

"Inilah mengapa aku bilang dia pantas ditakuti. Aku sangat curiga nggak ada orang di dunia ini yang nggak bisa dia taklukkan, jadi bekerja untuknya, aku berani." Kata Tuan Joe.

"Tapi Ayahmu?" Tanya Adrian.

"Dia? Dia mungkin lebih ingin melakukan sesuatu untuknya daripada aku." Kata Tuan Joe sambil melihat ke arah lelaki Tua disampingnya.

"Baik. Sudah dulu." Kata Adrian sambil mematikan teleponnya.

"Beres." Kata Tuan Joe kepada kepada lelaki Tua disampingnya.

"Baik, baik, baik. Sekarang kau siapkan mobil. Aku ingin pergi sendiri." Kata lelaki tua itu sambil berdiri, sehingga Tuan Joe juga ikut berdiri.

"Anda pergi sendiri? Apakah ini nggak akan....." Kata Tuan Joe.

"Apa yang kau tahu? Sekarang nggak pergi, orang lain akan mendahului kita. Apakah kau tahu orang yang dulunya berada di sisinya, orang yang paling buruk keadaannya sekarang Adalah Arman Chandra." Kata lelaki tua itu.

"Pak Arman? Dia sekarang adalah tokoh terkemuka di kota Jata. Dia hidup susah." Ujar Tuan Joe.

"Dasar anak nakal, dengarkan. Apa kau merasa terkejut?" Tanya lelaki Tua itu.

"Aku benar-benar nggak menyangka dan nggak berani membayangkan. Jika pak Arman Saja hidup susah, lalu bagaimana dengan mereka yang hidup makmur?" Kata Tuan Joe.

"Itulah mengapa aku menyuruhmu untuk segera menemui Nona Nadira. Tunggu...." Kata lelaki tua itu.

Mereka melihat ke arah luar jendela, dimana dijalanan tersebut bergilir mobil mewah lewat.

"Itu Keluarga Limanto, Keluarga Hudan, Keluarga Cakra. Semua orang telah keluar untuk menyambutnya." Kata Tuan Joe yang masih kaget dengan apa yang dia lihat.

"Gawat. Mereka mendengar kabar itu, dan nggak bisa menahan diri lagi. Cepat, panggil semua Jaryadi untuk segera pergi menemui Nona Nadira." perintah lelaki tua itu kepada Tuan Joe.

Ditempat lain, Adrian menyiapkan makanan untuk Nadira, dia benar-benar telah menjadi pelayan dari Nadira.

"Nona Nadira, anda cepat duduk." Kata Adrian. sambil menghidangkan makanan di depannya itu

"Cobalah. Nona Nadira tenang saja. Aku selalu mengawasi mereka. mereka akan segera memberi kabar. Aku yakin para penjahat itu akan segera kura tangkap." Kata Adrian

"Orang yang kau panggil terlalu banyak." Ujar Nadira.

"Apa maksudnya orang yang ku panggil? Aku cuman panggil Joe. Hahahaha." Kata Adrian sambil tertawa garing.

"Delapan keluarga besar terhubung oleh semangat yang sama. Jika satu keluarga tahu, maka semua keluarga akan tahu." Kata Nadira sambil melihat ke arah Adrian.

"Delapan Keluarga besar apa? Anda sedang bicara apa?" Tanya Adrian yang masih belum paham.

"Sudah datang."Kata Nadira.

Pada saat itu keluarga Chandra dan Nadira keluar, hingga mereka terkejut begitu melihat banyak orang.

Delapan Keluarga besar tersebut, berlutut satu kaki penuh hormat ke arah Nadira. Keluarga Chandra tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.

"Delapan Keluarga besar dengan hormat menyambut kembalinya Nona Nadira."

Keluarga Chandra bengong dan tak tahu mau berbicara apa lagi, karena mereka sangat syok mengetahui bahwa Delapan Keluarga besar begitu menghormati Nadira.

"Tamatlah sudah novelku ini. Makasih teman-teman atas dukungan dan support kalian dalam membantu aku, sehingga novelku yang sedikit bab ini masih bisa aku lanjut dalam novel ke 2."

Maaf apabila novelku tidak sampai 30 bab, itu dikarenakan nanti kalau aku mau cetak novel ini bisa digabung dari Yun Miao 1 sampa 5. Terimakasih.

1
Andira Rahmawati
absend dulu thor...
Chen Nadari
mampir Thorr
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!