Di usia 23 tahun, Laras harus memikul beban berat sebagai istri Kepala Desa yang disegani. Di balik potret keluarga harmonis, ia berjuang sendirian mengurus rumah dan dua balita yang masih menyusu, sementara perutnya kian membesar dengan anak ketiga.
Sebagai anak tunggal, sang suami menuntut Laras terus melahirkan demi garis keturunan, tanpa peduli pada raga Laras yang remuk karena kelelahan. Di siang hari ia menjadi pengabdi warga, dan di malam hari ia dipaksa tetap "siaga" melayani suami. Laras terjebak dalam pengabdian yang membunuh perlahan: antara cinta, tuntutan tradisi, dan batas akhir kekuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
***
Sinar matahari pagi menyelinap lembut melalui celah ventilasi, membawa aroma embun dan kayu yang basah. Laras membuka matanya perlahan, merasakan sisa-sisa kehangatan dari malam yang panjang dan emosional. Tubuhnya terasa remuk, setiap sendinya seolah menagih istirahat lebih lama akibat beban kehamilan yang mencapai puncaknya, namun hatinya terasa lebih ringan daripada hari-hari sebelumnya.
Saat ia mencoba mendudukkan diri, suara tawa kecil terdengar dari arah meja makan di sudut luar kamar yang pintunya terbuka lebar. Laras bangkit, merapikan daster rayon bermotif bunga yang melekat di tubuhnya, lalu berjalan tertatih dengan tangan menyangga pinggang bawah.
Di sana, sebuah pemandangan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya tersaji di depan mata. Bagas, sang Kepala Desa yang biasanya tampil rapi dengan kemeja dinas kaku, kini hanya mengenakan kaos dalam putih dan sarung yang diikat asal di pinggang. Di depannya, Gilang dan Arka duduk dengan tenang—sebuah keajaiban pagi yang langka.
"Ayo, Arka sayang... buka mulutnya. Kapal terbang mau masuk... wuuusss!" Bagas menggerakkan sendok berisi bubur dengan sabar.
"Bapak, Mamas mau telurnya lagi," celoteh Gilang sambil mengunyah dengan lahap.
"Sabar, Mas Gilang. Habiskan dulu nasinya, baru Bapak kasih telurnya. Anak hebat harus makan sayur juga, biar nanti bisa jaga Mamah," sahut Bagas lembut.
Laras bersandar di kosen pintu, air matanya nyaris luruh melihat pemandangan itu. Kehangatan yang menjalar di wajahnya bukan karena sinar matahari, melainkan karena melihat suaminya akhirnya benar-benar "pulang" ke rumah.
"Mas..." bisik Laras lirih.
Bagas menoleh, matanya yang masih menunjukkan sisa kelelahan langsung berbinar. "Ras? Kenapa bangun? Mas baru mau antar sarapan ke dalam. Sini, jangan berdiri lama-lama."
Bagas segera meletakkan sendok, membantu Laras duduk di kursi kayu. Ia menarik piring berisi nasi goreng yang aromanya sangat menggugah selera.
"Mas yang masak?" tanya Laras tak percaya.
"Mas dibantu resep dari YouTube tadi subuh. Mas tahu rasanya mungkin nggak seenak buatanmu, tapi Mas pastikan ini bergizi buat kamu dan adek bayi," Bagas mengusap pipi Laras, lalu mencium keningnya di depan anak-anak.
"Mamah! Bapak tadi lucu banget pas goreng telur, telurnya meletus!" seru Gilang tertawa.
"Iya, Mamah... Bapak teliak 'Aduh!'" tambah Arka sambil mempraktekkan gaya kaget ayahnya.
Laras tertawa kecil, tawa pertama yang benar-benar lepas dari dadanya. "Oh ya? Wah, Bapak hebat ya sudah bisa masak buat kita."
Bagas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, wajahnya memerah. "Demi kalian, Bapak belajar jadi koki dadakan. Bapak baru tahu kalau masak sambil dengerin Arka nangis itu butuh kesabaran setingkat dewa."
Pagi itu, meja makan kecil itu menjadi saksi bisu kembalinya keharmonisan yang sempat retak. Bagas membuktikan bahwa ia tidak lagi hanya ingin menjadi tuan di rumahnya sendiri, melainkan menjadi pelayan bagi kebahagiaan istri dan anak-anaknya.
**
Beberapa hari kemudian, suasana damai itu kembali berubah menjadi ketegangan, namun dalam frekuensi yang berbeda. Laras mulai merasakan mulas yang tidak biasa. Bukan lagi Braxton Hicks yang datang dan pergi, melainkan rasa sakit yang melingkar dari punggung ke perut bawah dengan pola yang teratur.
Masa bedrest resmi berakhir, digantikan oleh perjuangan persalinan. Namun, bayi di dalam rahim Laras seolah ingin memberikan ujian kesabaran terakhir bagi ayahnya.
Sudah dua hari satu malam Laras merasakan kontraksi. Namun, setiap kali Bidan Siti datang mengecek, pembukaan rahim Laras seolah berhenti di angka dua.
"Nngghhh... Mas... sakit," rintih Laras.
Tubuhnya bersandar pada dada bidang Bagas yang duduk di belakangnya di atas ranjang. Bagas membiarkan tubuhnya menjadi sandaran bagi istrinya, tangannya tak henti-henti mengusap punggung bawah Laras dengan gerakan memutar.
"Istighfar, Ras... tarik napas pelan dari hidung, keluarkan dari mulut. Mas di sini," bisik Bagas tenang.
Suara Bagas tidak lagi mengandung kepanikan egois seperti dulu. Ia tidak mengeluh karena harus begadang dua malam. Ia tidak bertanya "kapan lahirnya?" dengan nada menuntut. Bagas benar-benar hadir. Ia menyeka keringat di pelipis Laras, menyuapinya air madu setiap kali Laras merasa lemas, dan terus membisikkan kata-kata penguatan.
Bidan Siti masuk kembali ke kamar, melakukan pemeriksaan dalam untuk kesekian kalinya. "Masih pembukaan dua, Bu Laras. Belum ada kemajuan yang signifikan. Janinnya masih betah di dalam."
Laras mulai menangis putus asa. "Kenapa lama sekali, Bu? Laras sudah nggak kuat... badanku rasanya mau pecah."
"Sabar, Bu Laras. Persalinan ketiga kadang memang bisa lama kalau bayinya masih mencari jalan lahir yang pas. Yang penting Ibu jangan menyerah," hibur Bu Siti.
Setelah Bidan Siti keluar, Laras memutar tubuhnya, membenamkan wajahnya di leher Bagas. "Mas... apa Laras berdosa ya? Kenapa susah sekali anak ini keluar?"
Bagas memeluk istrinya erat, menciumi rambut Laras yang lepek karena keringat. "Jangan bicara begitu, Sayang. Mungkin ini cara adek bayi bilang kalau dia mau kita benar-benar siap. Mas nggak akan ke mana-mana. Mas temani sampai anak kita lahir. Kalau perlu dua hari lagi, Mas akan tetap di sini memelukmu."
"Tapi Mas capek... Mas belum tidur dari kemarin," isak Laras.
"Capek Mas nggak sebanding dengan rasa sakitmu, Ras. Kamu sedang bertaruh nyawa. Tugas Mas cuma memastikan kamu nggak berjuang sendirian," Bagas meraih tangan Laras, menaruhnya di pipinya. "Ayo, kita jalan-jalan kecil di dalam kamar ya? Biar bayinya cepat turun."
Dengan sisa tenaganya, Laras bangkit. Bagas menyangga tubuh Laras sepenuhnya. Setiap kali kontraksi datang, Laras akan mencengkeram bahu Bagas, membenamkan wajahnya di dada suaminya sambil merintih hebat. Bagas hanya diam, membiarkan bahunya sakit karena cengkeraman Laras, membiarkan bajunya basah oleh air mata istrinya.
"Aaaakhhh... sakit, Mas! Sakit banget!" rintih Laras saat gelombang kontraksi yang kencang datang kembali.
"Iya, Mas tahu. Kuat, Ras... demi anak kita. Kamu hebat, kamu istri Mas yang paling luar biasa," Bagas terus membisikkan kalimat itu tepat di telinga Laras, memberikan kekuatan yang tak terlihat namun sangat terasa.
Dua hari dalam perjuangan melawan waktu dan rasa sakit, Bagas menunjukkan ketegasan seorang pemimpin bukan lewat perintah, melainkan lewat ketabahan mendampingi yang lemah. Di kamar yang pengap oleh aroma minyak kayu putih dan keringat itu, Laras menyadari bahwa meski pembukaan rahimnya lambat, pintu hati suaminya telah terbuka lebar untuknya selamanya.
***
Bersambung