NovelToon NovelToon
Milik Bos Mafia: Benci Tapi Harus Jadi Istrinya

Milik Bos Mafia: Benci Tapi Harus Jadi Istrinya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jumling

Rayya, seorang perawat yang terperangkap dalam permainan cinta dan kekuasaan Marsel, seorang ketua Mafia yang sangat di takuti.
Marsel tidak mau melepaskan nya, Rayya sudah memiliki pacar dan akan segera menikah, akan tetapi Marsel menyatakan kepemilikan terhadap Rayya.

Marsel membuat Rayya tidak bisa menikah selain dengan nya. Ciuman di pertemuan pertama mereka membuat Marsel tidak bisa tenang memikirkan Rayya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumling, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kematian Liam

"Liam, sorry gara-gara gue lo harus kayak gini."

Dari arah belakang orang yang entah siapa itu bersuara, Rio bisa mendengar perkataan pria tersebut. Rio ingin bertanya tapi mendengar ungkapan yang begitu tiba-tiba membuatnya penasaran.

"Aku nggak bisa menepati Janji gue sama Lo. Kalau saja dulu gue denger perkataan Lo, Liam."

Suara orang itu kembali terdengar.

Rio bertanya-tanya dalam hati, apa maksud dari janji dan tidak mendengarkan perkataan Liam?

Apa dari nada bicara nya seperti ketakutan.

"Rayya sudah menikah dengan Marsel, harusnya dia menikah dengan ku supaya aku bisa selalu menjaga nya dan menempati janjiku padamu."

Ya, orang itu adalah Riko. Ia datang mengadu di kuburan Liam, karena tidak ada seorang pun yang tahu apa yang sedari lama menghimpit dadanya.

Rasa bersalah karena membunuh Liam membuat Riko tidak bisa hidup dengan tenang setelah kematian temannya tersebut.

Liam memang lebih muda darinya, tapi Liam lebih unggul daripada Riko dalam hal apapun. Pertemanan di antara mereka membuat Riko merasa iri dan selalu ingin berada di atas Liam. Kejadian tak terduga dan tanpa di sengaja kala itu membuat Liam harus merenggut nyawa.

_______________

Dua tahun lalu dalam sebuah kesatuan yang mendapat tugas untuk mengawasi sebuah perbuatan ilegal. Dalam kelompok tersebut ada Liam dan Riko yang menjadi anggota. Kebetulan mereka mendapatkan tugas untuk menjaga kamp dan yang lain membagi regu untuk memantau pergerakan terlarang itu dari kejauhan.

Riko yang memang baru bergabung belum memiliki pengalaman, berbeda dengan Liam. Makanya Riko tidak di biarkan untuk bekerja sendiri dan akhirnya di temani oleh Liam.

"Liam, gue bisa pinjam pistolmu nggak."

Kala itu, Riko memang sedang ingin sekali untuk belajar menembak, namun dirinya belum bisa memiliki pistol sendiri.

Berhubung Riko cukup kenal pada Liam, sehingga Riko tidak sungkan untuk meminjam dan Liam mengira Riko sudah bisa menggunakan benda berbahaya tersebut.

"Boleh, ambil saja. Tapi jangan menembak ya. Takut terdengar oleh para Mafia itu dan keberadaan kita di ketahui," kata Liam mengingatkan Riko.

"Tenang aja, gue nggak bakal nembak," ujar Riko meyakinkan.

Liam hanya mengangguk dan keluar dari tenda dan mengeluarkan teropong untuk melihat situasi dari kejauhan, belum ada tanda-tanda teman lain, berarti mereka masih stay dalam pemantauan. Liam pun kembali ke dalam tenda.

"Eh, Riko jangan tarik pelatuknya," cegah Liam melihat pergerakan Riko pada pistolnya tersebut.

"Gue nggak bakal tembak kok," kata Riko.

Sejujurnya Ia sangat ingin menembak.

"Sini berikan pistol nya. Kalau kamu tanpa sengaja menembak bagaimana."

Terjadilah aksi perebutan pistol tersebut dan tanpa senjata sebuah tembakan berbunyi.

DOR!

Tembakan itu mengenai kaki Liam membuat pria itu terjatuh seketika karena kesulitan dalam menahan berat badannya sendiri.

"Riko, sudah ku bilang jangan tarik pelatuknya. Kenapa kamu tidak mendengar apa yang ku katakan!" marah Liam sambil menahan rasa sakit di kakinya.

Sedangkan Riko malah diam di tempat setelah menembak Liam.

"Kalau tembakan tadi terdengar di luar bagaimana," lanjut Liam.

Riko yang mendengar nya terkejut dan takut, Ia lalu berlari keluar dan hendak meninggalkan Liam.

"Riko, kau mau kemana," panggil Liam.

"Maaf, Liam. Aku masih ingin hidup. Takutnya mafia mendekat dan datang kesini lalu ikut membunuh ku."

Setelah mengatakan itu Riko langsung kembali melanjutkan pelariannya, Liam ingin bersembunyi juga, tetapi kakinya yang kesakitan membuat pergerakan Liam melambat.

Diluar, Riko yang sudah berhasil kabur melihat ada pergerakan di sekitar sana dan memaksanya bersembunyi. Ia takut kalau yang datang itu adalah para Mafia yang sedang mereka pantau.

Cepat sekali pergerakan mereka, padahal tenda di dirikan di tempat yang sangat jauh. Entah bagaimana nasib teman lain yang bertugas memantau pergerakan para Mafia yang sedang melakukan ilegal.

"Aduh, pasti Liam tidak bisa melarikan diri. Kakinya kan kena tembak tadi," katanya antara bimbang kembali melihat Liam atau tetap bersembunyi.

Tapi kalau dia kembali maka dirinya juga pasti dalam bahaya. Anggota Mafia Cosa Nostra berlarian di sekitar persembunyian Riko, pria itu menahan nafas agar tidak terdengar sedikitpun.

Akhirnya Riko memilih untuk tidak kembali dan segera melarikan diri saat para Mafia pergi ke arah Liam. Riko takut dan cemas memikirkan Liam tidak bisa melarikan diri, apalagi tidak lama setelah nya saat sedang berlari, Ia mendengar suara tembakan yang berulang-ulang.

"Maaf Liam," lirih Riko sambil menutup mata dan melanjutkan pelarian nya

Dalam tugas itu, hanya Riko yang berhasil melarikan diri. Para aparat yang bertugas semuanya di temukan dalam keadaan tidak bernyawa lagi, termasuk Liam.

Setelah kejadian tersebut Riko yang merasa bersalah memilih keluar dari pekerjaan. Ia tidak bisa mendapatkan lagi pekerjaan tetap, sepertinya itu adalah karma untuk nya.

Riko mencoba menembus nya dengan membahagiakan Rayya sebisanya dan akhirnya mereka saling suka dan ingin lebih serius.

______________

"Riko...!"

Riko kesetrum kaget karena ada yang memanggil namanya. Ia berbalik dan mematung sejenak melihat Rio berdiri dua meter darinya. Napasnya ngos-ngosan dan mata memerah.

"Om..." Riko mundur selangkah.

"Ulangi yg kau bilang tadi," suara Rio rendah dan bahaya.

"Tentang Liam. Tentang janji."

"Eng... enggak ada, Om. Om salah dengar," Riko senyum maksa, keringet dingin sudah mulai bermunculan di wajah nya.

Buagh!

Rio maju, menarik kerah Riko. Didorongnya sampai punggung Riko menghantam nisan Liam.

"ANAK KU MATI KARENA MU?!" Rio meraung. Air matanya jatuh mengingat Liam putranya.

"Kau! Liam tidak pernah mencari masalah dengan orang lain. Kami juga menerima mu dengan baik. Tapi apa yang sudah kau lakukan untuk keluarga kami, hah!?"

Rio sangat emosi pada Rio dan ingin membunuh anak itu. Andai saja hukum tidak akan membalasnya, Rio tidak akan membuat Riko hidup lagi.

"Om, bukan... itu tidak sengaja! Sungguh Om!" Riko ketakutan melihat amarah Rio yang berapi-api.

"Pistolnya... kepencet dan mengenai kaki Liam. Aku panik dan Aku lari! Tapi yg bunuh Liam itu... itu Mafia, Om! Cosa Nostra, bukan aku!"

Rio terdiem. Tangannya gemetar, dan tarikan tangan nya pada kerah Riko mulai sedikit berkurang sebelum akhirnya kembali menatap nyalang pada Riko setelah berpikir sejenak.

"Kamu yang tembak kakinya," bisik Rio. "Kamu bikin Liam tidak k bisa kabur. Kau...!"

Krak.

Tinju Rio mendarat di muka Riko.

"Itu sama saja kayak kamu yang bunuh anakku!"

1
Ruth Berliana
bagus ceritanya tp msh sepi yg baca nya
Jumli: makasih ❤️
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!