"Aku Jadi Ibu?" Melisa Wulandari, seorang gadis desa yang bercita-cita menjadi pengacara, berjuang menempuh pendidikan hukum di kota demi melindungi tanah kelahirannya dari mafia tanah. Hidupnya sederhana, hanya ditemani dua sahabat setianya, Diana dan Riki. Namun, suatu malam yang seharusnya biasa berubah menjadi titik balik hidupnya. Di sebuah gang sepi, tangisan bayi menggema, menggiring Melisa pada pemandangan mengejutkan—dua bayi mungil tergeletak dalam sebuah kotak. Nalurinya mengatakan untuk menyerahkan mereka kepada pihak berwajib, tetapi dunia tidak seadil yang ia kira. Alih-alih mendapatkan keadilan, Melisa justru dituduh sebagai ibu bayi-bayi itu dan dianggap berniat membuang mereka. Tak ada jalan keluar. Nama baiknya tercoreng, keluarganya di desa tak boleh tahu, dan tak ada yang percaya bahwa dia hanyalah seorang mahasiswa yang kebetulan menemukan bayi-bayi malang itu. Dengan segala keterbatasan, Melisa mengambil keputusan gila—merawat bayi-bayi itu diam-diam bersama Diana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susiajaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9
Pagi kembali menjemput, dan seperti biasa, Meli sudah berjalan kaki menuju kampus pukul 07.20. Udara pagi di kota tak lagi terasa segar seperti di kampung halamannya—lebih banyak suara klakson, deru motor, dan hiruk-pikuk manusia yang berlomba dengan waktu. Tapi bagi Meli, semua itu sudah menjadi pemandangan biasa setelah dua tahun menjalani hidup sebagai mahasiswi di sana. Yang penting, dia tetap bisa berjalan santai sambil menghirup secuil ketenangan sebelum kelas dimulai.
Langkahnya menyusuri koridor kampus dengan tenang, earphone hanya terpasang satu di telinga, dan tangannya menenteng map tugas. Ia bukan tipe yang suka ramai, dan tanpa Diana atau Riki, biasanya ia hanya menjadi bayangan sunyi yang melintas di lorong fakultas.
Pagi itu pun tak jauh berbeda. Tapi seperti adegan yang sudah hafal naskahnya, ia melihat sosok familiar Riki, lengkap dengan gaya santainya, sedang menggandeng seorang mahasiswi berbeda dari yang ia lihat kemarin. Meli hanya menggeleng pelan sambil menahan senyum. Sudah tak terhitung berapa kali ia melihat pemandangan seperti itu. Riki dan cerita barunya.
Dan seperti biasa juga, Riki yang seolah punya radar terhadap Meli langsung melambaikan tangan.
"Woi, Mel! Tungguin!" serunya dengan suara beratnya yang khas, terdengar seperti bapak-bapak yang manggil anaknya pulang main.
Meli menghentikan langkah, menoleh, dan pandangannya langsung bertemu dengan tatapan sinis dari mahasiswi di samping Riki. Tatapan yang seolah berkata, “Siapa lo?”
Meli hanya tersenyum tipis, malas menanggapi. Ia terlalu kenyang dengan drama-drama cewek-cewek yang salah paham karena Riki.
"Apa, Ki?" tanyanya datar.
"Mau ke kelas kan? Titip tas ya, manis." ucap Riki santai, tanpa dosa, sebelum menyerahkan tasnya ke pelukan Meli dan segera berbalik, kembali menggandeng si cewek dengan manja.
Meli terdiam sesaat, menatap tas berat itu dengan ekspresi datar.
"Manis kepala kamu..." gumamnya sambil menghela napas. Gadis pendiam itu akan hilang kesabaran jika berurusan dengan makhluk bernama Riki, dengan malas Ia melanjutkan langkah ke gedung kelas, menenteng tas Riki seolah menggendong beban dosa laki-laki itu.
Sesampainya di gedung, Meli hanya bisa duduk di bangku kelas sambil mengelus dahinya.
“Kenapa aku harus temenan sama makhluk satu itu…” rutuknya pelan, meski di balik gerutuan itu, ia tahu—hidupnya di rantau ini akan lebih sunyi tanpa kekacauan Riki dan suara ribut Diana.
Ternyata drama hari itu belum usai. Sore menjelang malam, mereka bertiga masih tertahan di kampus demi menyelesaikan tugas kelompok yang harus dikumpulkan keesokan pagi. Dosen mereka terkenal killer dan super disiplin—terlambat lima menit saja, bisa langsung nol. Maka, mau tak mau, Meli, Riki, dan Diana memilih bertahan di sudut ruang diskusi fakultas, berselimut suara kipas angin dan cahaya lampu yang mulai redup.
"Tuh dosen... gue curiga dia keturunan iblis," gerutu Diana sambil mengetik malas di laptopnya. "Masa disuruh ngerjain tugas segede gaban ini cuma semalam. Dia kira kita Bandung Bondowoso kali ya, bikin candi semalam."
Riki yang duduk menyender di kursi ikut bersuara, ekspresi wajahnya penuh penderitaan.
"Gue udah pusing banget sumpah, ini tugas susahnya kayak soal ujian CPNS. Tiap baca soal, rasanya pengen migrain."
Di tengah kekacauan dua sejoli itu, Meli tetap tenang menatap layar laptopnya, jari-jarinya lincah mengetik.
"Udah hampir siap kok, tinggal dikit lagi. Kalo kita fokus, sejam juga siap," ucapnya pelan tapi mantap.
Diana menatap Meli seolah sedang menatap makhluk asing.
"Mel... please deh, sesekali Lo ngeluh dong. Kita ini udah dua tahun lebih temenan, gue belum pernah denger suara Lo ngeluh. Lo tuh manusia bukan sih?"
Riki mengangguk dramatis.
"Fix, Meli bukan manusia. Gue curiga dia peri yang jatuh dari langit. Tenang, pinter, ga pernah emosi. Udah gitu rajin pula. Lo peri ya Mel?"
"Kalo iya, berarti pas jatuh dari langit, Lo nyangkut dulu di pohon mangga sebelum sampe ke bumi," sambung Diana sembari tertawa.
"Soalnya kalo langsung jatuh, bisa geprek dong."
Meli menghela napas dan menoleh ke dua temannya yang sudah mulai tidak waras.
"Kalau aku peri, kalian berdua cocoknya jadi apa dong?" tanyanya setengah lelah.
Riki menunjuk dirinya sendiri sambil menepuk dada.
"Gue? Gue cocoknya jadi pangeran dong, yang terjebak di dunia nyata. Ganteng, tapi kurang beruntung."
Diana langsung melempar tisu ke arahnya.
"Pangeran darimana, Lo mah lebih cocok jadi kurcaci terakhir yang lupa pulang!"
"Eh jangan nyamber terus, Lo tuh mulutnya kayak knalpot racing, berisik mulu."
"Lo juga mulut kayak emak-emak, ga bisa berhenti ngomong meski salah terus."
Perdebatan klasik itu kembali memanas, membuat suasana yang awalnya tegang jadi lebih hidup. Di tengah-tengah kehebohan dua temannya yang saling lempar lelucon dan sindiran, Meli hanya bisa menatap layar laptop sambil tersenyum lelah.
Meski kadang bikin pusing, Meli tahu... tanpa mereka, hari-harinya di sini tak akan seberwarna ini.