NovelToon NovelToon
Chef Kirana Dan Jendral Berhati Dingin

Chef Kirana Dan Jendral Berhati Dingin

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Kirana, Executive Chef bintang lima di Jakarta, mati konyol karena ledakan gas. Sialnya, dia malah terbangun di tubuh Putri Tantri—tokoh antagonis dalam novel sejarah yang baru saja meracuni adik angkat suaminya!
​Di hadapannya, Jenderal Arga sang "Iblis Perang Utara" sudah menghunus pedang, siap memenggal kepalanya.
​Tak mau mati dua kali, Kirana mengajukan penawaran gila: "Jangan bunuh aku dulu! Izinkan aku masak makanan terakhir!"
​Bermodalkan bawang merah, kecap manis buatan sendiri, dan teknik masak modern, Kirana bertekad mengubah takdir kematiannya. Siapa sangka, masakan lezatnya tak hanya menyelamatkan lehernya, tapi juga menyembuhkan maag kronis sang Jenderal dan mengguncang lidah satu kerajaan?
​Tapi hati-hati, Kirana! Musuhmu bukan cuma panci gosong, tapi juga pelakor bermuka dua dan intrik politik yang mematikan. Sanggupkah Kirana bertahan hidup di zaman kuno tanpa rice cooker dan kulkas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Tangisan Bayi, Hilangnya Jiwa, dan Kembalinya Si Ratu Drama

​[Kamar Tidur Utama - Hujan Badai]

​"AAAAAARGHHH!"

​Jeritanku memecah suara guntur yang menggelegar. Rasa sakit ini bukan main-main. Ini bukan sekadar kontraksi melahirkan. Rasanya seperti rohku ditarik paksa dari setiap pori-pori kulit, sementara bayi di dalam sana mendorong sekuat tenaga untuk melihat dunia.

​"Tantri! Bertahanlah! Demi Dewa, bertahanlah!"

​Arga berada di sampingku, wajahnya pucat pasi, air mata bercampur keringat membasahi pipinya. Dia menggenggam tanganku begitu erat hingga rasanya tulangku mau remuk, tapi aku tidak peduli. Aku butuh jangkar.

​Di kaki ranjang, Tabib Li dan tiga asistennya bekerja dengan panik. Baskom-baskom berisi air panas yang masuk jernih, keluar merah pekat.

​"Pendarahannya hebat, Jenderal!" teriak Tabib Li, suaranya gemetar. "Energi bayi ini terlalu kuat! Dia menyerap vitalitas ibunya!"

​"Lakukan sesuatu! Kau Tabib terbaik!" bentak Arga histeris. "Selamatkan istriku! Aku tidak butuh pewaris kalau dia mati!"

​Aku membuka mata yang terasa sangat berat. Pandanganku kabur, seperti melihat televisi yang glitch (rusak). Kadang aku melihat wajah Arga, kadang aku melihat lampu operasi rumah sakit modern.

​"Arga..." panggilku lemah.

​"Aku di sini, Sayang. Aku di sini. Jangan bicara dulu, simpan tenagamu."

​Aku menarik kerah baju Arga, memaksanya mendekat. Napasku putus-putus.

"Dengar... di laci meja rias... ada buku biru tebal..."

​"Jangan bahas buku sekarang!" Arga menangis.

​"Dengar!" sentakku dengan sisa tenaga. "Itu... itu manual untukmu. Resep makanan kesukaanmu. Cara mengelola Kedai Nusantara. Dan... cara mengganti popok. Baca itu kalau aku pergi."

​"Kau tidak akan pergi! Kau sudah janji akan makan sate kambing denganku setelah ini!" Arga menggeleng kuat-kuat, menolak kenyataan.

​DUAR!

Petir menyambar pohon besar di halaman hingga tumbang. Lampu minyak di kamar berkedip-kedip.

​"Kepalanya sudah terlihat!" seru Tabib Li. "Nyonya! Dorong! Sekali lagi! Dorong sekuat tenaga atau bayi ini akan terjepit!"

​Ini saatnya.

Aku mengumpulkan sisa-sisa nyawaku. Sisa energi Kirana yang tersesat di waktu yang salah.

Demi anak ini. Demi darah daging Arga.

​"HNGGGGGGGH!"

​Aku mengejan sekuat tenaga, menumpahkan seluruh cinta dan pengorbanan dalam satu dorongan terakhir.

Rasanya seperti tubuhku terbelah dua.

Dunia menjadi putih.

​Lalu...

​OEk... OEk... OEEEEKKK!

​Tangisan nyaring memecah ketegangan. Tangisan kehidupan baru.

​"Laki-laki!" seru asisten tabib. "Tuan Muda lahir dengan selamat! Dia sehat! Dia besar!"

​Tubuhku terkulai lemas di bantal. Rasanya ringan. Sangat ringan.

Sakit itu hilang. Tapi rasa di tubuhku juga hilang.

Aku tidak bisa merasakan kakiku. Aku tidak bisa merasakan tanganku.

​Tabib Li memotong tali pusar, membungkus bayi merah yang montok itu dengan kain hangat, lalu menyerahkannya pada Arga.

​Arga menerima bayi itu dengan tangan gemetar. Dia melihat wajah putranya. Hidungnya mancung seperti Arga, tapi bibirnya... bibirnya persis Tantri.

"Bara..." bisik Arga, air matanya menetes ke pipi bayi itu. "Selamat datang, Bara."

​Arga segera menoleh padaku, ingin menunjukkan anak kami.

"Tantri, lihat... Lihat Bara. Dia tampan sepertimu..."

​Tapi senyum Arga membeku.

​Aku tersenyum melihat mereka berdua. Pemandangan terindah yang pernah kulihat.

Tapi aku tahu, Arga melihat sesuatu yang lain.

Dia melihat tubuhku mulai transparan.

​Cahaya putih mulai menyelimuti tubuhku, keluar dari raga Tantri yang terbaring lemah.

Waktuku habis. Misi selesai.

​"Tantri?!" Arga meletakkan bayi itu di sampingku, lalu mencoba memelukku.

Tapi tangannya... menembus bahuku.

​"Tidak... Tidak! TANTRI!" raung Arga.

​"Jaga dia, Arga..." suaraku menggema, bukan dari mulut, tapi langsung di kepalanya. "Jadilah ayah yang hebat. Jangan biarkan dia makan pedas sebelum umur 5 tahun."

​"Jangan pergi! Aku mohon! Ambil saja nyawaku!" Arga mencoba menangkap asap putih yang mulai naik ke atas.

​"Aku mencintaimu, Jenderal Iblis..."

​Cahaya itu semakin terang, menyilaukan seluruh ruangan.

Semua orang menutup mata.

​Dan kemudian...

Hening.

Cahaya itu lenyap.

​Di atas kasur, tubuh Tantri terbaring diam. Dadanya tidak bergerak.

Monitor jantung di dunia modern berbunyi panjang di telingaku. Piiiiiip.

​Arga mematung. Hatinya mati rasa.

Dia kehilangan. Dia benar-benar kehilangan.

​"Nyonya... Nyonya sudah tiada..." bisik Tabib Li menunduk.

​Tapi tiba-tiba.

​Uhuk!

​Tubuh di kasur itu tersentak.

Dada itu naik turun dengan rakus, menghirup udara.

Mata yang tadi tertutup rapat, kini terbuka lebar.

​Arga terbelalak. Harapan kembali menyala di matanya.

"Tantri?! Kau kembali? Kau hidup?!"

​Arga langsung memeluk tubuh istrinya itu. "Terima kasih Dewa! Terima kasih!"

​Wanita itu diam dalam pelukan Arga.

Lalu, dia mendorong dada Arga dengan lemah tapi kasar.

​"Aduh! Sakit bodoh! Jangan ditekan perutku!"

​Arga membeku. Suara itu. Nada bicara itu.

Arga melepaskan pelukannya, menatap wajah istrinya.

​Wanita itu menatap sekeliling dengan bingung, lalu menatap bayi merah yang menangis di sampingnya.

Wajahnya berubah menjadi ekspresi jijik dan ngeri.

​"Apa ini?! Kenapa ada bayi berdarah di kasurku?! Bau amis!" teriak wanita itu. "Sari! Ambilkan parfum! Singkirkan makhluk berisik ini!"

​Arga mundur selangkah. Kakinya lemas hingga dia hampir jatuh.

Dia menatap mata wanita itu.

Kosong. Dingin. Egois.

​Tidak ada lagi kehangatan Kirana.

Tidak ada lagi tatapan cinta.

Yang ada di depannya adalah tubuh istrinya yang selamat... tapi isinya telah kembali ke setelan pabrik.

Tantri yang Asli telah kembali.

​"Tantri..." bisik Arga hancur. "Kau... kau tidak mau menggendong Bara?"

​"Bara? Siapa Bara? Nama kampung macam apa itu?" cibir Tantri asli. "Badanku sakit semua! Rusak sudah bentuk tubuhku gara-gara anak sialan ini! Arga, kau harus belikan aku emas satu peti sebagai ganti rugi!"

​Arga tidak menjawab. Dia mengambil bayi Bara yang menangis, mendekapnya erat di dada bidangnya.

Dia menatap wanita yang dulu dia cintai 6 bulan terakhir, yang kini terasa seperti orang asing yang jahat.

​Arga berbalik, berjalan keluar kamar sambil menggendong putranya, meninggalkan Tantri yang terus mengoceh soal bentuk tubuh.

​Di koridor yang dingin, di bawah hujan yang mulai reda, Jenderal Besar itu menangis tanpa suara.

Dia memenangkan perang. Dia mendapatkan putra. Istrinya hidup.

Tapi dia kehilangan belahan jiwanya.

​"Selamat jalan, Kirana..." bisiknya pada angin malam.

​[Jakarta, Tahun 2024 - Rumah Sakit]

​"Dokter! Pasien sadar! Dia membuka mata!"

​Aku membuka mata. Cahaya lampu neon menyilaukan.

Tubuhku kaku, penuh selang.

Wajah Ibuku muncul, menangis bahagia. "Kirana! Akhirnya kamu bangun, Nak! Enam bulan kamu koma!"

​Aku menatap langit-langit putih.

Tidak ada ukiran kayu jati.

Tidak ada aroma dupa.

Tidak ada Arga.

​Aku mengangkat tanganku yang kurus. Tangan ini nyata. Tangan ini hidup.

Tapi hatiku... hatiku tertinggal di abad 14.

​Air mata menetes dari sudut mataku, membasahi bantal rumah sakit.

"Arga..." bisikku parau, suara pertamaku setelah 6 bulan.

​"Siapa Arga, Nak?" tanya Ibu bingung. "Teman barumu?"

​Aku menggeleng lemah, menutup mata. Membiarkan rasa rindu itu membunuhku perlahan di dunia modern yang sepi ini.

​(EPILOG - 5 TAHUN KEMUDIAN)

​[Majapahit]

Seorang bocah laki-laki berusia 5 tahun, Bara, sedang duduk di dapur Kedai Nusantara (yang kini dikelola Pangeran Panji dan Arga).

Dia sedang mengulek sambal dengan lincah.

​"Ayah! Lihat! Bara bikin sambal terasi!" serunya bangga.

​Arga tersenyum tipis, mengelus kepala anaknya.

"Pintar. Persis Ibumu."

​"Ibu?" Bara cemberut. "Ibu Tantri di rumah nggak bisa masak, Yah. Ibu cuma bisa marah-marah dan belanja."

​Arga terdiam. Hubungannya dengan Tantri asli sangat dingin. Mereka hidup terpisah meski satu rumah. Tantri sibuk foya-foya, Arga sibuk mengurus Bara dan negara.

​"Bukan Ibu yang di rumah," kata Arga pelan. "Tapi Ibu yang ada di sini..." Arga menunjuk dada Bara. "Dan Ibu yang menulis buku biru ini."

​Arga membuka buku resep usang peninggalan Kirana. Tulisan tangan itu adalah satu-satunya bukti bahwa Kirana pernah ada.

​[Jakarta]

Kirana (33 tahun) kini menjadi Executive Chef terkenal. Dia membuka restoran bernama "Kedai Majapahit".

Menu andalannya: Bebek Timbung Kencana dan Kopi Gula Aren.

​Dia belum menikah. Dia tidak bisa mencintai laki-laki lain karena standar-nya sudah dipatok setinggi Jenderal Majapahit.

​Suatu hari, seorang pengunjung datang.

Seorang pria tinggi, tegap, dengan wajah yang... sangat familiar.

Dia kolektor barang antik.

​"Permisi, Chef," kata pria itu. "Saya sangat suka masakan Anda. Rasanya... membuat saya rindu rumah, padahal saya belum pernah ke sana."

​Pria itu meletakkan sebuah barang di meja.

"Saya baru dapat barang antik ini dari penggalian situs Majapahit. Aneh sekali. Ini pisau dapur baja Damaskus, tapi ada ukiran nama modern di gagangnya."

​Kirana melihat pisau itu. Jantungnya berhenti berdetak.

Itu pisau yang diberikan Arga.

Dan di gagangnya, ada ukiran kasar yang sepertinya ditambahkan belakangan oleh seseorang di masa lalu:

UNTUK KIRANA - CINTAKU ABADI.

​Kirana menatap pria itu. Matanya... tatapan itu...

Pria itu tersenyum. "Nama saya Arga. Aneh ya? Saya merasa kita pernah bertemu sebelumnya."

​Kirana tersenyum, air mata haru menggenang di pelupuk matanya.

Takdir mungkin memisahkan ruang dan waktu. Tapi cinta... cinta selalu mencari jalan pulang.

​"Halo, Arga. Mau pesan Martabak Manis?"

...****************...

...​- SEASON 1 TAMAT -...

...****************...

1
Nunung Elasari
recommended, ceritanya bagus.......
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Ada kelegaan yang menyumbat rongga dada,
Kasih di mana tak dapat bersatu di masa itu ,kembali bereinkarnasi menemui cinta abadi nya.
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
cinta Arga membawa nya ke masa depan
tak berjodoh di masa lalu
berjodoh di masa depan
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
tdk bisa kah takdir di rubah kembali
Tantri akan bahagia bersma jenderal dan putra nya
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
seluruh istana pasti berduka atas hilangnya Tantri yang istimewa
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
waduhh , kisah masa lalu bisa kacau kembali ini
kalau Tantri kembali ke masa depan
apa tantrii sebenarnya yg telah meninggal
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
huhuhu.. /Sob/ bagaimana kelanjutannya ini thor? semoga happy ending..
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
taktik gerilyaa apalagi tantri
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
pengorbanan seorang ibu tidak akan pernah sia2, ....
siapa tahu "SUARA" itu akan tersentuh oleh ketulusan cinta kalian.
Hingga nanti semua akan berakhir bahagia
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
udah ngaku aja daripada disuruh makan ceker mercon yg isinya potongan jari2 sendiri 🙈🙀
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
tambahin irisan kol dan daun bawang 😆😆
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
gak main main, 5 liter minyak jelantah 🤣🤣
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
kAlau kirana bangun ,tantri kembali kesetelan awal donk🤣,kecuali tersisa memori dan sedikit keahlian kirana agar tantri hidupnya tak sengsara dengan kehilangan keahliannya.
Ahh ...kirana jangan kau kacaukan dulu perjalanan mereka, biar berdiri dulu sekolah tata boga tantri dan sukses mencetak lulusan terbaik baru kau kembali ke asalmu😄
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
refresh tenaga dlu ya tantrii
musuh baru akan segera datang
🤣
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Bebek timbung = bebek betutu, hhmmm yummy....
besok masakin bebek bengil yaa kirana, dengan lawar sayuran pedas🤤
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
yoo jadikan si cakar ayam bulan2an, yg kepleset minyak, kesiram air, kena tepung, kejepit pintu 🥳🥳🥳
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ: panjangin listnya /Determined//Determined//Scream//Scream//Scream/
total 2 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
eeh kirain namanya Pembunuh Bayaran Cakar Ayam 🤣🤣
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
cinta lama sulit terganti kan ya Diah
sampai segala cara di pake buat merebut arga
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
mantan jenderal kembali
seperti apa kisah cinta mu jenderal
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
🤣🤣🤣 tidur dulu biar bangun udah fresh, siap atur strategi hadapi ibu suri 🥳
Ai Emy Ningrum: turing#turumiring😴😴😴😴😴💤💤💤💤💤
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!