Alya, seorang mahasiswi cerdas dan mandiri, dipaksa menerima perjodohan dengan dosennya sendiri.
Arka, pria dingin dan tegas yang menyimpan masa lalu kelam. Hubungan yang awalnya penuh penolakan berubah menjadi konflik batin, kecemburuan, dan rahasia yang perlahan terungkap.
Di antara kewajiban, harga diri, dan cinta yang tumbuh diam-diam, mereka harus memilih: bertahan dalam keterpaksaan, atau memperjuangkan perasaan yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noel_piss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Pagi di kampus terasa sedikit berbeda bagi Alya. Entah kenapa, sejak pertemuan hangat bersama keluarganya beberapa hari lalu, perasaannya terhadap Arka semakin sulit dijelaskan. Bukan hanya nyaman… tapi juga mulai tumbuh sesuatu yang lebih dalam sesuatu yang membuatnya sering diam sendiri, tersenyum tanpa alasan.
Namun pagi itu, suasana hatinya sedikit terusik.
Ia berjalan menuju kelas seperti biasa, ditemani Raka yang sejak awal memang selalu menjadi sahabat terdekatnya.
“Ly, kamu kenapa sih akhir-akhir ini sering bengong?” tanya Raka sambil melirik.
Alya tersenyum tipis. “Nggak kenapa-kenapa kok.”
Raka mendengus pelan. “Jangan bohong. Aku kenal kamu dari awal kuliah. Kalau kamu mulai sering senyum sendiri kayak gitu, pasti ada sesuatu.”
Alya tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap ke depan, lalu berkata pelan, “Rak… menurut kamu… hubungan yang awalnya dipaksa itu bisa berubah jadi tulus nggak sih?”
Raka terdiam beberapa detik. Pertanyaan itu terasa lebih dalam dari biasanya.
“Bisa,” jawabnya akhirnya. “Tapi tergantung… dua-duanya mau berjuang atau nggak.”
Alya mengangguk pelan. Jawaban itu cukup untuk membuatnya berpikir lebih jauh.
Namun sebelum percakapan mereka berlanjut, suara langkah sepatu hak tinggi terdengar dari arah lorong.
Seorang wanita berdiri tak jauh dari mereka.
Penampilannya rapi, elegan, dan terlihat sangat percaya diri. Tatapannya tajam, seolah sedang mencari seseorang.
Dan ketika matanya bertemu dengan Arka yang baru saja keluar dari ruang dosen senyumnya berubah.
“Arka.”
Suasana langsung terasa berbeda.
Alya yang berdiri tidak jauh dari sana refleks menoleh. Ia melihat bagaimana ekspresi Arka berubah… kaku. Tidak seperti biasanya.
Wanita itu mendekat.
“Aku pikir kamu nggak akan menghindar selamanya,” ucapnya dengan nada tenang, tapi penuh makna.
Alya tidak tahu siapa wanita itu. Tapi ada sesuatu dalam cara mereka saling menatap… yang membuat dadanya terasa tidak nyaman.
Arka menarik napas pelan. “Kita tidak perlu membicarakan ini di sini.”
Wanita itu tersenyum tipis. “Oh? Jadi sekarang kamu menjaga jarak? Setelah semua yang terjadi?”
Kalimat itu membuat Alya semakin bingung.
Raka yang berdiri di samping Alya ikut memperhatikan. “Itu siapa?” bisiknya.
Alya menggeleng. “Aku nggak tahu…”
Arka akhirnya berkata tegas, “Cukup, Mira.”
Nama itu terdengar jelas.
Mira.
Wanita itu tertawa kecil. “Jadi kamu masih ingat namaku.”
Alya merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Bukan marah… tapi lebih ke rasa tidak nyaman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Ia tidak mendekat. Tapi juga tidak pergi.
Seolah ingin tahu… tapi takut dengan jawabannya.
Mira melirik ke arah Alya sekilas. Tatapannya tajam, menilai.
“Mahasiswimu?” tanyanya santai.
Arka tidak menjawab.
Dan justru itu yang membuat suasana semakin canggung. Alya akhirnya memilih pergi. Tanpa berkata apa-apa.
Langkahnya cepat… lebih cepat dari biasanya.
Raka segera mengejarnya. “Ly! Tunggu!”
Alya berhenti di taman kampus, tempat yang sama seperti ia bertemu Arka beberapa hari lalu.
“Kenapa kamu pergi?” tanya Raka.
Alya menarik napas panjang. “Aku nggak tahu… aku cuma merasa… bukan tempatku di situ.”
Raka menatapnya serius. “Kamu cemburu ya?”
Alya langsung menggeleng. “Nggak!”
Tapi suaranya tidak meyakinkan.
Raka tersenyum tipis. “Kalau kamu nggak peduli, kamu nggak akan pergi secepat itu.”
Alya terdiam.
Untuk pertama kalinya… ia tidak bisa menyangkal.
Sementara itu, di sisi lain kampus, Arka berdiri berhadapan dengan Mira.
Wajahnya tenang, tapi sorot matanya tidak bisa menyembunyikan sesuatu yang berat.
“Apa yang kamu mau?” tanyanya singkat.
Mira menatapnya dalam. “Aku cuma ingin memastikan… kamu benar-benar sudah melanjutkan hidup.”
“Aku sudah.”
Jawaban itu cepat. Tegas.
Namun Mira tersenyum tipis. “Dengan dia?”
Arka tidak menjawab.
Dan diamnya… adalah jawaban itu sendiri.
Mira menghela napas pelan. “Aku nggak nyangka, Arka. Kamu yang dulu… sekarang bisa terlihat setenang ini.”
Arka menatapnya datar. “Orang berubah.”
“Termasuk kamu yang dulu bilang nggak akan pernah membuka hati lagi?”
Kalimat itu menusuk.
Tapi Arka tetap diam.
Mira melangkah lebih dekat. “Atau… dia yang membuatmu berubah?”
Arka akhirnya berkata, “Itu bukan urusanmu lagi.”
Untuk pertama kalinya, senyum Mira memudar.
Sore harinya,Alya duduk di kamarnya. Buku terbuka di depannya, tapi pikirannya tidak di sana.
Bayangan wanita itu terus muncul di kepalanya.
Cara Arka menatapnya....
Cara mereka berbicara....
Dan yang paling mengganggu…
Adalah fakta bahwa Arka tidak pernah menceritakan tentangnya.
Ponselnya bergetar.
Nama Arka muncul di layar.
Alya menatapnya cukup lama… sebelum akhirnya mengangkat.
“Ya, Pak…”
“Alya… kita bisa bicara?”
Suara Arka terdengar lebih serius dari biasanya.
Alya menelan ludah. “Tentang… tadi?”
“Iya.”
Hening beberapa detik.
Lalu Alya menjawab pelan, “Baik, Pak…”
Malam itu, mereka bertemu lagi di taman kampus.
Tempat yang dulu terasa hangat…
Kini terasa sedikit berbeda.
Ada jarak yang tidak terlihat… tapi terasa.
Arka berdiri di depan Alya.
“Alya… aku minta maaf.”
Alya terkejut. “Maaf… untuk apa?”
“Karena kamu harus melihat itu tanpa penjelasan.”
Alya menatapnya. “Dia siapa, Pak?”
Pertanyaan itu akhirnya keluar. Dan tidak bisa ditarik kembali. Arka terdiam beberapa saat.
Lalu berkata pelan
“Dia… masa laluku.”
Alya tidak langsung menjawab. Tapi hatinya… terasa sedikit berat.
Karena untuk pertama kalinya…
Ia sadar,Bahwa hubungan ini… tidak hanya tentang mereka berdua.
Ada masa lalu.....
Ada luka.....
Dan mungkin… akan ada masalah yang lebih besar ke depannya.
maaf lancang🙏🙏🙏