NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang

Cinta Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Teen / Single Mom
Popularitas:954
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Naura hanya seorang gadis yang jatuh cinta terlalu dalam… dan harus membayar semuanya dengan kehilangan.

Ditinggalkan oleh lelaki yang ia cintai 'tanpa pernah tahu bahwa itu semua hanyalah kebohongan kejam'. Naura memilih pergi, membawa luka dan kehidupan baru yang tumbuh dalam rahimnya sendirian.

Selama delapan belas tahun, ia bertahan di tengah kemiskinan, mengorbankan segalanya demi satu alasan: anaknya, Genesis.

Namun saat dunia Genesis hanya tersisa ibunya… takdir kembali merenggut satu-satunya alasan ia bertahan hidup.

Kini, di antara sepi, kehilangan, dan batas tipis antara kewarasan dan kegilaan…

Satu minggu kemudian, Alexa datang menyelamatkan Genesis yang sedang terpuruk setelah Naura meninggal.

Namun ternyata, Alexa adalah Naura...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26

Hening itu berubah bentuk.

Bukan lagi sekadar sunyi yang canggung, tapi tekanan yang benar-benar terasa di dada. Alexa berdiri di tengah ruangan, napasnya masih belum stabil setelah tangis yang baru saja pecah. Di satu sisi, Genesis berdiri sedikit di depannya, refleks melindungi. Di sisi lain, Genta berdiri tegak dengan aura tenang yang justru membuat suasana semakin mencekam.

Dua dunia. Dua masa. Dua laki-laki.

Dan Alexa terjebak tepat di tengahnya.

Genesis yang pertama bergerak. Ia maju setengah langkah, bahunya menegang, rahangnya mengeras. Tatapannya tidak lepas dari wajah Genta yang berdiri beberapa meter di depan mereka.

“Lo siapa?” tanyanya tanpa basa-basi, nada suaranya rendah tapi jelas menantang.

Genta tidak langsung menjawab. Ia hanya mengamati. Dari kepala sampai kaki. Cara Genesis berdiri, cara ia melindungi, cara tubuhnya sedikit condong ke arah Alexa seolah siap menerima apa pun yang datang. Tatapan Genta tajam, tapi tetap tenang.

“Menarik,” gumamnya pelan, lalu akhirnya membuka suara, “harusnya saya yang bertanya itu pada Anda.”

Genesis tersenyum miring, tanpa kehangatan sedikit pun. “Gue nggak suka orang yang muter-muter. Lo masuk ke sini tanpa izin. Jadi jawab pertanyaan gue.”

Satu detik. Dua detik.

Genta melangkah maju satu langkah. Suara sepatu kulitnya terdengar jelas menyentuh lantai marmer.

“Anda tahu? Ini bukan tempat umum,” katanya pelan, tapi setiap katanya terasa berat. “Dan Anda jelas bukan orang yang seharusnya ada di sini.”

Kalimat itu bukan sekadar pernyataan. Itu penegasan posisi.

Genesis tidak mundur. Sedikit pun. “Gue tahu ini tempat siapa,” balasnya cepat. “Dan gue juga tahu kenapa gue ada di sini.”

“Benarkah?” Genta mengangkat satu alis tipis. Tatapannya beralih sekilas ke pakaian Genesis, lalu kembali ke wajahnya. “Apa sebagai koki tambahan? Tukang kebun baru? Atau… penyusup yang terlalu berani?”

Deg.

Alexa menahan napas.

Genesis langsung terpancing, tapi ia menahannya. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal di samping tubuhnya.

“Gue ke sini buat dia,” katanya tegas sambil sedikit menggeser tubuhnya, semakin menutup posisi Alexa dari pandangan Genta. “Bukan buat urusan sama lo.”

Genta mengalihkan pandangannya perlahan ke arah Alexa.

Dan dunia seakan berhenti.

Alexa membeku. Tatapan itu… terlalu dalam. Terlalu lama. Terlalu… familiar dengan cara yang tidak bisa ia jelaskan. Nafasnya tiba-tiba terasa pendek, jantungnya berdegup tidak beraturan.

“Alexa,” panggil Genta.

Satu kata itu jatuh pelan, tapi menghantam keras.

Cara ia mengucapkannya—nada, ritme, tekanan—membuat sesuatu di dalam diri Alexa seperti tergores. Seolah ada bagian dari dirinya yang mengenali suara itu lebih dulu daripada pikirannya.

“Dia nggak mau ketemu lo,” potong Genesis cepat, suaranya lebih tajam dari sebelumnya.

Genta tidak menoleh. Matanya tetap pada Alexa. “Saya ingin mendengarnya langsung darinya.”

Hening.

Genesis menoleh ke Alexa, suaranya langsung berubah lebih lembut. “Lex… bilang aja. Lo nggak mau ikut dia, kan?”

Semua kembali ke Alexa.

Dada Alexa terasa sesak. Di satu sisi, Genesis berdiri di sana—hangat, nyata, melindunginya tanpa ragu. Di sisi lain, Genta berdiri dengan ketenangan yang mengganggu, menarik sesuatu dari dalam dirinya yang tidak bisa ia pahami.

Ia membuka mulut.

“Aku—” Suara itu terhenti.

Genta sedikit memiringkan kepala. “Aku masih menunggu, Alex..”

Alexa menelan ludah. Tangannya gemetar. Kepalanya terasa penuh. Kenapa sulit sekali mengucapkannya?

“Aku… tidak mau dipaksa,” akhirnya keluar juga, pelan tapi jelas.

Genesis langsung menghela napas lega, meski masih waspada. “Denger itu?”

Genta mengangguk kecil, seolah benar-benar mempertimbangkan jawaban itu. “Tidak mau dipaksa ya?,” ulangnya pelan. “Bukan tidak mau kembali.”

Alexa terdiam. Kesalahan kecil itu langsung terasa seperti jebakan.

Genesis mengerutkan kening. “Apaan sih maksud lo—”

“Tidak apa, bukan sesuatu yang bisa dipikirkan oleh seseorang dengan otak dangkal.,” potong Genta tenang. Ia melangkah lebih dekat satu langkah lagi.

Sekarang jarak mereka benar-benar dekat.

Genesis refleks maju, hampir berhadapan langsung dengannya. “Cukup,” katanya tegas.

Genta akhirnya menoleh ke arah Genesis. Tatapan mereka bertemu. Tajam. Tegang. Tidak ada yang mundur.

“Kalau saya mau,” kata Genta pelan, suaranya turun satu tingkat, “..saya bisa panggil security sekarang. Dalam lima menit, Anda sudah keluar dari area ini tanpa sempat menjelaskan apa pun.”

Dalam sekejap ruangan menjadi hening. Ancaman itu nyata. Alexa langsung menegang. Matanya membesar.

Genesis tahu itu bukan gertakan. Tapi ia tetap berdiri di tempatnya.

“Lakuin aja,” jawabnya dingin. “Gue nggak akan pergi kalau dia belum aman.”

Genta memperhatikannya beberapa detik. Menilai. Mengukur. Lalu… tersenyum tipis.

Ia bukan mengejek. Lebih seperti seseorang yang baru menemukan sesuatu yang menarik.

Ia kembali menoleh ke Alexa. Kali ini lebih dalam. Lebih lama. Seolah mencoba menembus sesuatu yang tersembunyi di balik mata itu.

Dan di saat itulah— Alexa melihatnya. Bukan sebagai pria di depannya. Tapi sebagai bayangan. Bayangan seseorang dari masa lalu.

Cara dia berdiri. Cara dia diam. Cara dia menatap. Semuanya… terlalu mirip.

“Gen—” Alexa tersentak. Kata itu keluar setengah. Salah. Harusnya bukan itu.

Genesis langsung menoleh. “Apa?”

“Enggak… aku…” Alexa menggeleng cepat, panik. Jantungnya berdetak kacau. “Aku cuma… pusing.”

Genta tidak bicara. Tapi matanya berubah. Lebih tajam dari sebelumnya.

Ia menangkap itu dengan jelas. Ada sesuatu yang tidak beres. Dan itu bukan sekadar rasa takut.

“Cukup untuk malam ini,” kata Genta akhirnya.

Genesis mengernyit. “Hah?”

“Saya tidak akan memaksanya sekarang,” lanjut Genta santai, merapikan manset jasnya. “Karena saya lebih tertarik melihat… pilihan yang akan dia buat.”

Ia melangkah mundur. Satu langkah. Dua langkah. Tapi sebelum berbalik, ia berhenti. Menatap Alexa sekali lagi.

“Cepat atau lambat,” katanya pelan, suaranya hampir seperti bisikan yang hanya bisa didengar oleh mereka bertiga, “kamu akan kembali.”

Deg.

Kata itu menancap.

Tanpa menunggu jawaban, Genta berbalik dan berjalan keluar ruangan. Langkahnya tenang, tidak tergesa, seolah ia sama sekali tidak kehilangan apa pun.

Pintu terbuka.

Lalu tertutup kembali.

Klik.

Tapi kali ini bukan hening yang damai.

Alexa berdiri kaku. Nafasnya berat. Kepalanya penuh. Kata-kata, suara, tatapan itu… semuanya berputar tanpa henti di dalam pikirannya.

“Lex…” Suara Genesis menariknya kembali.

Alexa menoleh, dan tanpa sadar langsung memeluknya erat. Tangannya mencengkeram baju Genesis, seolah itu satu-satunya hal yang membuatnya tetap berdiri.

Genesis kaget sesaat, lalu langsung membalas pelukan itu. Tangannya mengusap punggung Alexa pelan. “Udah… gue di sini. Tenang.”

Alexa menutup matanya. Air matanya jatuh lagi. Tapi kali ini bukan hanya karena takut kehilangan.

Melainkan karena satu hal yang mulai muncul perlahan, tanpa bisa ia tahan—

Perasaan itu… Bukan baru. Dan jika itu benar…

Maka seseorang yang seharusnya sudah lama hilang dari hidupnya… mungkin tidak pernah benar-benar pergi. Dan orang dengan nama yang sama kemungkinan besar adalah memang orang yang sama dengan yang Naura kenal.

1
Mak e Tongblung
insting gen hebat👍
Mak e Tongblung
kukira genesis itu perempuan 😄
zhafira: laki kak.. 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!