NovelToon NovelToon
Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Roda Kultivasi: Keturunan Terakhir Sang Reinkarnasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Kultivasi
Popularitas:186
Nilai: 5
Nama Author: Girenda Dafa Putra

Langit tidak pernah lagi memerah sejak Harmoni tumbang. Yang tersisa hanya kelabu pucat, puing kuil, dan seorang pemuda bernama Ling Xu—berambut putih bercorak warna-warna aneh, berdiri di tebing tertinggi, menyaksikan lembah yang dulu suci kini dipenuhi tiang-tiang pancang ritual mengerikan.

Mereka menyebut diri mereka Ilahi Kedua. Tapi siapa sebenarnya mereka? Dan apa yang benar-benar terjadi pada sore ketika Harmoni runtuh? Ling Xu hanya memiliki mimpi buruk yang sama, luka yang tak pernah sembuh, dan ingatan tentang ibunya yang ia goreskan kembali setiap malam. Sementara ayahnya—yang pernah berkata "jangan benci"—kini tak lagi punya kepala untuk mengucapkannya.

Di tengah sunyi yang lebih mengerikan dari jeritan, Ling Xu merangkai ritual sendirian di atas altar ayahnya yang bersisa. Ia bersumpah. Bukan untuk berduka, tapi untuk bersiap. Tapi pertanyaannya tetap menggantung di angin yang bau anyir: apakah ia benar-benar sendirian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girenda Dafa Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kau Bukan Atasanku

...Chapter 19...

Ling Xu berdiri di pintu kedai, jubahnya basah oleh embun laut, matanya menatap Huan Zheng dengan campuran antara kekhawatiran dan kekecewaan yang tidak bisa ia sembunyikan. 

"Kita di sini bukan untuk bersenang-senang, Huan Zheng," ucapnya pelan, suaranya nyaris tergantikan oleh denting gelas dan tawa para pelanggan lain.

"Aku harus naik ke Lintang Esa Tingkat Kedua Puluh Dua. Atau bahkan Supranatural Lintang. Aku tidak bisa—" 

"Kau tidak bisa apa?" potong Huan Zheng tiba-tiba, suaranya yang biasanya malas kini terdengar tajam seperti belati yang baru diasah, matanya yang setengah terpejam terbuka lebar menatap Ling Xu dengan sesuatu yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya—amarah.

"Kau pikir kau atasanku? Kau pikir kau bisa mengatur jadwal tidur dan minumku hanya karena kita satu perjalanan?" 

Ia berdiri, gelas arak di tangannya bergetar, lalu ia menunjuk ke arah Ling Xu dengan jari telunjuk yang gemetar.

Bukan karena takut, melainkan karena amarah yang terlalu lama dipendam.

"Ingat, Nona Racun. Di antara kita tidak ada ikatan persahabatan, apalagi hubungan saudara seperguruan. Kau hanyalah Tuan Muda yang kupatuhi dengan ikatan tak terbantahkan. Aku menurut bukan karena otoritasmu sah di hadapanku, melainkan semata karena aku mengizinkan diriku untuk tunduk—bukan karena kau memiliki hak untuk memerintahku.”

Ling Xu mundur selangkah.

Bukan karena takut, melainkan karena ia tidak mengenali pria di hadapannya—pria yang selama berbulan-bulan berjalan di sisinya, yang tidur di atas gerobak sapi sambil mendengkur keras, yang membantai puluhan musuh dengan satu tendangan tanpa mengubah ekspresi malasnya, sekarang berdiri dengan wajah memerah karena arak dan amarah, matanya berkaca-kaca seperti orang yang sedang berusaha melupakan sesuatu yang terlalu berat. 

"Kau di tahap Lintang Esa Tingkat Kedelapan Belas, Ling Xu," lanjut Huan Zheng, suaranya mengejek tapi anehnya terdengar seperti orang yang sedang meyakinkan dirinya sendiri, bukan Ling Xu.

"Delapan ratus ribu keping di dadamu. Wabah Kanker yang menyebar di setiap denyut keping itu—tidak ada yang berani mendekatimu. Tidak ada yang bisa melukaimu. Kau pikir kau perlu naik tingkat secepat itu? Kau pikir dunia ini seberbahaya yang kau bayangkan?" 

Ia tertawa—tawa yang pahit, yang getir, yang terdengar seperti kayu kering yang patah di tengah hutan yang sunyi—lalu menenggak sisa arak di gelasnya sekaligus.

"Kau terlalu paranoid, Nona Racun. Terlalu terbakar dendam. Terlalu—" 

"Terlalu apa?" potong Ling Xu, suaranya tiba-tiba tidak lagi pelan, tidak lagi lembut, melainkan dingin seperti dasar samudra yang tidak pernah tersentuh matahari.

"Terlalu ingin hidup? Terlalu ingin membalaskan kematian ibuku? Terlalu ingin memastikan bahwa aku tidak akan mati di tangan manusia-manusia yang sama yang dulunya kau anggap teman?" 

Ia berbalik, meninggalkan kedai arak dengan langkah yang tegas, dan di belakangnya, Huan Zheng terdiam dengan gelas kosong di tangannya.

Malam itu, saat Ling Xu sedang bermeditasi di paviliun kerang, seorang dayang dengan tubuh setengah ikan datang membawa nampan berisi teh jahe hangat dan sepucuk surat yang disegel dengan lilin hijau—warna yang hanya digunakan oleh petinggi istana untuk urusan darurat. 

"Dari Panglima Pertahanan Kota, Nona," ucap dayang itu dengan suara bergetar, matanya tidak berani menatap Ling Xu langsung.

"Beliau mengundang Tuan Huan Zheng untuk minum arak di kediamannya malam ini. Undangan khusus. Hanya untuk beliau berdua." 

Ling Xu menatap surat itu, lalu menatap dayang itu, dan untuk sesaat, ia merasakan sesuatu yang ganjil—sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan, seperti ketika ia masih kecil dan ibunya pernah berkata.

‘Jika seseorang terlalu baik padamu tanpa alasan, periksa kembali apakah ada belati di balik punggungnya.’ 

"Katakan pada Panglima bahwa Huan Zheng sedang tidur," jawab Ling Xu datar, tapi dayang itu menggeleng cepat, terlalu cepat, seperti orang yang sudah dilatih untuk memberikan respons tertentu. 

"Panglima bersikeras, Nona. Beliau bilang... beliau bilang ini masalah hidup dan mati. Bahwa jika Tuan Huan Zheng tidak datang malam ini, maka... maka perlindungan kota laut atas kalian akan dicabut." 

Ling Xu terdiam. 

Ia menatap langit-langit paviliun yang terbuka, di mana cahaya bioluminesensi dari plankton laut masih masuk seperti bintang-bintang yang jatuh, tapi kali ini cahaya itu tidak lagi terlihat indah—cahaya itu terlihat seperti mata seribu serangga yang mengawasinya dari kegelapan, menunggu, mengintai, siap menerkam. 

Ia bangkit, mengambil jubahnya, lalu berjalan menuju kamar Huan Zheng tanpa mengetuk—dan di sana, di balik pintu yang terbuka sedikit, ia melihat Huan Zheng sudah berdiri dengan pakaian rapi, rambutnya disisir untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, dan di tangannya, ia memegang sebuah belati kecil.

Bukan untuk menyerang, melainkan untuk... bersenang-senang? 

“Kau tidak jadi datang, kan?" tanya Ling Xu, suaranya bergetar meskipun ia berusaha keras untuk tetap tenang, tapi Huan Zheng hanya tersenyum—senyum yang sama seperti saat ia pertama kali menawari Ling Xu racun di gua itu, senyum yang terlalu tenang, terlalu malas, terlalu... salah. 

"Aku akan datang, Nona Racun," jawabnya, "karena jika tidak, kita akan diusir. Dan kau tidak mau itu, kan? Kau masih perlu naik tingkat. Kau masih perlu menyelidiki sesuatu tentang kota ini. Aku hanya akan minum sebentar. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." 

Ling Xu menggenggam pergelangan tangan Huan Zheng di ambang pintu paviliun, jari-jarinya yang dingin mencengkeram dengan kekuatan yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya.

Bukan untuk melukai, melainkan untuk menahan, untuk mencegah, untuk menghentikan pria bodoh di hadapannya dari melangkah ke dalam jurang yang sudah ia cium dari jauh. "Ini jebakan, Huan Zheng," ucapnya, suaranya serak seperti orang yang berteriak dalam mimpi buruk tetapi tidak ada suara yang keluar.

"Aku tidak tahu apa yang mereka inginkan darimu. Aku tidak tahu tuduhan apa yang mereka gali dari masa lalumu. Tapi aku tahu—aku bisa merasakannya—bahwa malam ini, jika kau pergi, kau tidak akan kembali." 

Huan Zheng menoleh, matanya yang biasanya malas kini menyala dengan api yang aneh.

Bukan api semangat, melainkan api kebebalan yang sudah terlalu lama terpendam di bawah topeng acuh tak acuhnya. 

"Kau selalu melihat jebakan di mana-mana, Nona Racun," jawabnya, suaranya dingin, meremehkan, seperti orang yang sedang menepis lalat yang mengganggu ketenangannya.

"Tidak semua orang ingin membunuhmu. Tidak semua senyuman menyembunyikan belati. Mungkin—" 

Ia melepaskan genggaman Ling Xu dengan gerakan yang kasar, terlalu kasar untuk seseorang yang biasanya malas bergerak. 

"Mungkin kau yang terlalu paranoid. Mungkin kau yang terlalu terbakar dendam hingga lupa bahwa dunia ini juga punya tempat untuk tawa dan arak dan—" 

"Dan apa?" potong Ling Xu, suaranya tiba-tiba meledak seperti ombak yang menghantam karang setelah terlalu lama terpendam di laut lepas.

"Dan kematian? Kau pikir para petinggi di kota ini mengundangmu karena mereka menyukaimu? Kau pikir para nelayan dan pedagang itu duduk di sampingmu setiap malam karena mereka menganggapmu teman?" 

Ia melangkah maju, menatap Huan Zheng tepat di matanya—matanya yang mulai goyah, mulai retak, mulai menunjukkan keraguan yang tidak ingin ia akui.

"Huan Zheng, dengarkan aku. Sudah waktunya kita pergi. Sekarang. Sebelum—" 

"Cukup!" hardik Huan Zheng, dan untuk pertama kalinya, suaranya benar-benar bergetar.

Bukan karena marah, melainkan karena sesuatu yang lebih dalam, lebih tua, lebih menyakitkan.

"Kau tidak tahu apa-apa tentang diriku, Ling Xu. Kau tidak tahu apa yang kucari di tempat ini. Kau tidak tahu—" 

Ia berhenti, menelan kata-katanya sendiri, lalu berbalik dan melangkah keluar paviliun tanpa menoleh, meninggalkan Ling Xu yang berdiri di ambang pintu dengan tangan menggenggam udara kosong, jantungnya berdebar-debar mengikuti irama wabah Kanker di dadanya yang berdenyut semakin cepat, semakin keras, semakin panik—seperti peringatan terakhir sebelum badai.

Bersambung….

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!