NovelToon NovelToon
Pendekar Legenda Naga

Pendekar Legenda Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

“Ibu … apa Ibu akan kembali menjemputku?”

Itu adalah kata-kata terakhir Lu Ming sebelum ibunya pergi dan tak pernah kembali.

Ditinggalkan di kota asing, ia tumbuh dengan harapan yang tak pernah padam—menunggu seseorang yang mungkin tak akan pernah datang.

Saat ia berumur 10 tahun, ia berhenti menunggu dan memilih mencari. Perjalanan itu membawanya pada satu tujuan: menemukan ibunya.

Namun ketika akhirnya ia bertemu … bukan pelukan hangat yang ia dapatkan, melainkan kenyataan pahit yang menghancurkan segalanya.

Apakah kebenaran yang begitu kejam itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Tanaman obat

​Hari-hari berikutnya berubah menjadi siksaan yang seolah tidak memiliki ujung.

Lu Ming bukan lagi bocah bersih yang turun dari kereta kuda dengan binar harapan di matanya.

Pakaiannya kini telah menjelma menjadi rongsokan kain dekil yang kaku karena lumpur kering dan noda darah yang menghitam.

Harapan bahwa ibunya akan muncul di tikungan jalan mulai terkikis oleh kenyataan, namun ia menolak membiarkan api kecil di hatinya padam.

​"Aku harus hidup... Ibu bilang aku harus menunggu," bisiknya dengan bibir pecah-pecah yang terkadang mengeluarkan darah jika ia berbicara terlalu keras.

​Setelah berhari-hari mengais sisa makanan dari tumpukan sampah dan berebut tulang kering dengan anjing jalanan yang lebih kuat darinya, Lu Ming menyadari sesuatu.

Ia memperhatikan orang-orang berpakaian lusuh para pengumpul herbal tingkat rendah berjalan menuju pinggiran Hutan Kabut Hitam di kaki gunung. Mereka kembali dengan kantong berisi tanaman layu yang ditukar dengan sekeping perunggu di toko obat.

​Dengan kaki yang gemetar hebat karena kekurangan nutrisi, Lu Ming memutuskan mengikuti jejak mereka.

Baginya, hutan itu adalah raksasa hijau yang menakutkan, namun rasa lapar yang melilit perutnya jauh lebih mengerikan daripada kematian itu sendiri.

​Memasuki hutan, hawa dingin yang lembap langsung menyergap kulitnya yang tipis.

Lu Ming merangkak di antara semak berduri, jari-jarinya yang kecil mencakar tanah, mencari tanaman yang ciri-cirinya terus ia rapalkan dalam hati: berdaun tiga dengan gumpalan bulu putih di tengahnya, Rumput Penenang Jiwa.

​"Dapat..." suaranya serak saat menemukan satu tangkai tanaman itu terjepit di antara akar pohon tua.

​Namun, kegembiraannya hanya sekejap. Tanah di bawah kakinya bergetar. Dari balik kabut tebal, sepasang mata merah menyala menatapnya penuh haus darah. Itu adalah Babi Hutan Bertaring Besi, binatang buas yang sering memangsa para pencari herbal ceroboh.

​Lu Ming terpaku. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa sakit di dadanya. Hewan itu mendengus, menyebarkan aroma busuk bangkai, lalu menerjang dengan kecepatan yang tak masuk akal bagi tubuh kecil Lu Ming.

​"Lari! Lu Ming, lari!" teriak batinnya.

​Ia membalikkan badan dan berlari sekuat tenaga. Akar-akar pohon yang menonjol seolah sengaja ingin menjatuhkannya.

Duri-duri hutan menggores pipi dan lengannya, merobek kulitnya hingga darah segar mengalir, namun ia tidak berani menoleh. Di tangannya, ia menggenggam erat tanaman obat itu seolah-olah itu adalah jantungnya sendiri.

​Ia melihat celah sempit di bawah batu besar dan segera melempar tubuhnya ke dalam.

Binatang itu menabrak batu dengan dentuman keras, menggeram marah di depan lubang selama beberapa menit yang terasa seperti selamanya bagi Lu Ming.

Bocah itu meringkuk di kegelapan yang sempit, menggigil hebat dengan tangan membekap mulutnya sendiri agar isak tangisnya tidak mengundang maut kembali.

​Setelah merasa aman, dengan tubuh penuh luka baru yang perih tersiram keringat, ia merangkak keluar dan berjalan pincang kembali ke kota.

​Toko Obat "Lentera Hijau" tampak sangat megah dan mengintimidasi. Dengan langkah ragu, Lu Ming mendekati meja kayu tinggi tempat seorang pelayan tua sedang menghitung batu ruh.

​"Tuan... ini... tanaman obat," bisik Lu Ming pelan, meletakkan tanaman yang sudah layu dan kotor di atas meja.

​Pelayan itu menatap Lu Ming dengan pandangan jijik, seolah melihat tikus got masuk ke tokonya.

Ia menggunakan sepotong kayu untuk menggeser tanaman itu. "Hanya satu? Kondisinya buruk sekali. Aku hanya bisa memberimu dua keping perunggu. Ambil atau pergi."

1
Dhewa Iblis
Kereenn...
Beni: makasiihhh. lanjut teruuus
total 1 replies
Dhewa Iblis
Mantapp...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Mantap...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Mantap...
Dhewa Iblis
Lanjut...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Lanjut...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Semangaatt thorr...
Dhewa Iblis
😥😥😥
Dhewa Iblis
Laaannnjjjuuttt...
Dhewa Iblis
Laaannjuut..
Nanik S
Apakah Liu Shen dibawa kesekte Suci
Nanik S
Wajah yang lama dirindukan tapi akhirnya menjadi kebencian tiada batas
Beni: lebih memilih harta dan membuang masa lalu/Scowl/
total 1 replies
Nanik S
kenapa mereka tidak bekerja sama menghancurkan ke Kaisaran
Beni: perbedaan pendapat
total 1 replies
Nanik S
Ceritanya bagus Tir
Nanik S
Cerita yang sama sama membawa kekecewaan
Nanik S
Liu Ming benar benar kecewa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!