NovelToon NovelToon
THE SILENCE OF ADORING YOU

THE SILENCE OF ADORING YOU

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Idola sekolah / Cintapertama
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Di bawah rindangnya pohon sakura yang menghiasi jalan setapak kampus, Alana menyimpan sebuah rahasia besar. Dari kejauhan, ia menyaksikan Raka, sosok pria yang selalu sibuk dengan sketsa-sketsa arsitekturnya. Kekaguman Alana tumbuh dalam diam, seperti bunga yang mekar di sudut perpustakaan yang paling sunyi. Setiap langkah Raka adalah sebuah melodi bagi hati Alana yang pemalu, sebuah lagu yang tak pernah ia berani nyanyikan dengan suara keras.
Namun, segalanya berubah saat Alana dan Raka terpaksa berada dalam satu kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN). Jarak yang selama ini memisahkan mereka tiba-tiba menghilang. Kini, Alana tidak hanya mengamati dari jauh, tapi harus bekerja bahu-membahu dengan pria yang ia kagumi. Setiap interaksi minimal-seperti sentuhan jari saat bertukar nomor telepon atau nama Alana yang terucap dari bibir Raka-menjadi ledakan listrik yang menyesakkan dada Alana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akar yang Merambat

Euforia peresmian "Gema Samudera" mulai memudar, digantikan oleh rutinitas yang tenang namun sarat makna. Bagi Raka, bangunan di atas tebing itu bukan sekadar proyek; itu adalah sebuah katarsis. Namun, setiap kali sebuah puncak tercapai, lembah baru selalu menanti.

Pagi itu di Yogyakarta, kabut masih betah menyelimuti pelataran Atelier Aksara. Raka duduk di meja kerjanya, bukan menghadap layar monitor, melainkan menatap selembar foto lama yang ditemukan pengacara kakeknya di balik kotak kayu wasiat itu. Foto itu menampilkan Kakek Ardianto muda, berdiri di depan sebuah bangunan kolonial yang sedang direnovasi, wajahnya penuh dengan binar idealisme yang belum tergerus oleh kerakusan korporasi.

"Ternyata kita tidak seberbeda itu, Kek," gumam Raka lirih.

Alana masuk membawa baki berisi dua cangkir kopi tubruk. Ia memperhatikan suaminya yang tampak tenggelam dalam refleksi. "Masih memikirkan 'Gema Samudera'?" tanya Alana lembut, meletakkan kopi di samping tumpukan maket.

"Aku memikirkan apa yang terjadi setelahnya, Lan. Membangun gedung itu mudah. Menjaga agar rohnya tetap hidup, itu yang sulit. Maudy sudah mulai mengirimkan calon-calon pengajar, dan kurikulum yang kamu buat sudah mulai didiskusikan di tingkat yayasan. Tapi aku merasa ada sesuatu yang belum tuntas dari sisi keluarga Ardianto."

Alana duduk di kursi di depan Raka. "Maksudmu, warisan yang lain? Saham dan properti di Jakarta itu?"

Raka mengangguk berat. "Pengacara kakek menghubungi lagi kemarin. Katanya, ada sebuah klausul dalam surat wasiat yang hanya boleh dibuka setelah 'Gema Samudera' berdiri. Aku merasa kakek belum selesai memberiku teka-teki."

Ketenangan pagi itu pecah ketika sebuah taksi berhenti di depan Atelier. Bukan Maudy, bukan pula Pak Surya. Yang turun adalah seorang wanita tua dengan kebaya kartini yang sangat bersahaja, namun dengan aura yang membuat siapa pun akan membungkuk hormat. Dia adalah Ibu Ratna, adik kandung Kakek Ardianto yang sudah puluhan tahun mengasingkan diri di sebuah panti jompo di Solo.

Raka dan Alana menyambutnya dengan takzim. Di ruang tamu yang beraroma kayu jati, Ibu Ratna membuka sebuah tas kain tua.

"Raka, kakekmu itu pria yang keras kepalanya lebih keras dari beton mutu K-500," ujar Ibu Ratna dengan tawa kecil yang terdengar seperti gesekan kertas perkamen. "Tapi dia mencintaimu dengan cara yang salah. Dia ingin kamu menjadi kuat agar tidak dihancurkan oleh dunia yang ia ciptakan sendiri."

Ibu Ratna mengeluarkan sebuah kunci kuno berbahan kuningan. "Kunci ini bukan untuk brankas uang. Ini adalah kunci sebuah gudang tua di kawasan Kotagede. Kakekmu membelinya atas namamu tepat di hari kamu lahir. Dia tidak pernah mengatakannya pada siapa pun, bahkan pada orang tuamu."

Raka menerima kunci itu dengan tangan sedikit gemetar. "Gudang untuk apa, Bu?"

"Untuk menyimpan 'kegagalan-kegagalannya'. Semua desain yang ditolak oleh klien karena dianggap terlalu idealis, semua maket yang dianggap tidak laku, dan semua mimpi yang ia kubur demi mengejar kontrak jutaan dolar. Dia ingin kamu memilikinya, bukan untuk diteruskan, tapi untuk kamu putuskan: apakah mimpi-mimpi itu layak diberi nyawa, atau biarkan mereka terkubur bersamanya."

Sore itu, Raka menuju Kotagede sendirian. Ia membutuhkan waktu untuk mencerna ini tanpa gangguan. Gudang itu berada di ujung gang sempit, tertutup oleh sulur-sulur tanaman merambat yang seolah-olah berusaha menyembunyikan rahasia di dalamnya.

Saat pintu terbuka, debu-debu menari di bawah sela-sela cahaya matahari yang menyelinap dari genteng yang bocor. Di dalamnya terdapat puluhan, mungkin ratusan, gulungan kertas kalkir dan maket kayu yang sudah lapuk dimakan usia.

Raka membuka salah satu gulungan. Itu adalah desain sebuah pasar tradisional yang terintegrasi dengan taman kota sebuah konsep yang sangat maju pada zamannya, mungkin sekitar tahun 70-an. Di sudut kertas, terdapat catatan kaki kakeknya: 'Ditolak pemerintah karena tidak memberikan ruang bagi mal modern. Mereka lebih suka lantai keramik daripada interaksi manusia.'

Raka merasa jantungnya berdenyut kencang. Ia melihat sebuah sisi dari kakeknya yang tidak pernah ia kenali. Kakeknya bukan sekadar penumpuk beton; dia adalah seorang arsitek yang patah hati. Kekerasan hatinya selama ini hanyalah topeng dari kekecewaan yang mendalam terhadap dunia yang tidak siap menerima visinya.

"Jadi ini sebabnya kau begitu marah saat aku memilih Yogyakarta, Kek?" bisik Raka pada kegelapan gudang. "Kau takut aku akan berakhir patah hati seperti kau."

Raka menghabiskan waktu berjam-jam di sana, memilah satu demi satu lembaran mimpi yang gagal. Ia menyadari bahwa karyanya selama ini—Perpustakaan Nasional, Atelier Aksara, hingga Gema Samudera adalah kelanjutan dari napas yang sempat terhenti di gudang ini. Ia bukan sedang melawan kakeknya; ia sedang menyelesaikan apa yang kakeknya tidak cukup berani untuk perjuangkan.

Namun, dunia luar tidak membiarkan Raka berlarut dalam melankoli arsitektural. Sekembalinya ke Atelier, ia mendapati Alana sedang berdebat di telepon dengan salah satu calon donatur sekolah Gema Samudera.

"Tapi Bapak tidak bisa memaksakan logo perusahaan Bapak terpampang besar di atap gedung! Itu sekolah seni, bukan papan iklan!" suara Alana meninggi, sesuatu yang jarang terjadi.

Setelah menutup telepon, Alana menjatuhkan diri di sofa, memijat keningnya. Arka kecil datang membawakan mainan mobil-mobilannya, berusaha menghibur ibunya dengan ocehan cadelnya.

"Ada masalah, Lan?" tanya Raka sambil menggendong Arka.

"Dunia ini sangat berisik, Raka. Mereka ingin memberikan uang, tapi mereka ingin membeli jiwa dari apa yang kita bangun. Mereka menganggap 'Gema Samudera' sebagai alat branding, bukan tempat belajar. Aku takut kita hanya memindahkan masalah kakekmu ke masa sekarang."

Raka duduk di samping Alana, membiarkan Arka bermain di antara kaki mereka. "Tadi aku ke gudang di Kotagede. Aku menemukan alasan kenapa kakek menjadi pria yang kita kenal selama ini. Dia menyerah, Lan. Dia membiarkan orang-orang itu menang, dan sebagai gantinya, dia mendapatkan kekayaan yang luar biasa tapi kehilangan dirinya sendiri."

Raka menatap Alana dengan keyakinan baru. "Kita tidak akan membiarkan itu terjadi. Jika mereka ingin memberikan dana dengan syarat merusak estetika dan filosofi sekolah itu, kita tolak. Kita akan mencari jalan lain."

"Tapi kita butuh dana operasional yang besar, Raka. Guru-guru butuh gaji, anak-anak butuh material seni yang berkualitas," ujar Alana dengan nada khawatir.

"Kita punya warisan yang lebih berharga dari sekadar uang donatur," Raka menunjukkan kunci kuningan tadi. "Kakek meninggalkan banyak aset yang bisa dikonversi tanpa harus menjual prinsip. Aku akan mengkurasi desain-desain kakek yang ada di gudang itu, menerbitkannya dalam sebuah buku, dan melelang beberapa maket bersejarahnya kepada kolektor. Hasilnya akan sepenuhnya untuk yayasan Gema Samudera. Kita akan menghidupkan mimpi kakek untuk membiayai mimpi anak-anak itu."

Bulan-bulan berikutnya adalah masa sibuk yang penuh dengan kerja keras. Raka dan Alana bekerja sama seperti biasanya, sebuah perpaduan antara visual dan naratif. Alana menyusun biografi emosional sang kakek, menceritakan sisi manusiawi yang tersembunyi, sementara Raka melakukan restorasi digital terhadap desain-desain lama yang sudah rusak.

Buku itu diberi judul "The Unbuilt Dreams of Ardianto". Peluncurannya dilakukan di selasar Gema Samudera saat matahari terbenam.

Maudy hadir, kali ini bukan sebagai utusan perusahaan, tapi sebagai sahabat. Ia terpaku melihat maket pasar tradisional yang telah direstorasi Raka. "Ini... ini luar biasa. Aku tidak tahu Tuan Ardianto punya pemikiran sehebat ini."

"Dia punya, Maudy. Dia hanya tidak punya orang-orang seperti kita di sampingnya saat itu," jawab Raka tulus.

Di tengah acara, Arka kecil berlari-lari di antara para tamu, tawanya berpadu dengan suara ombak. Ia tidak tahu tentang konflik beton, tentang saham, atau tentang wasiat. Baginya, bangunan itu hanyalah tempat yang menyenangkan untuk bermain. Dan itulah tujuan Raka yang sebenarnya: menciptakan ruang di mana masa depan bisa tertawa tanpa beban masa lalu.

Malam itu, setelah semua tamu pulang, Raka dan Alana berdiri di balkon yang menghadap ke laut. Bintang-bintang di langit selatan Yogyakarta terlihat sangat jelas, seolah-olah memberikan restu.

Alana membuka buku catatannya. Ia menuliskan sesuatu yang telah ia simpan sejak kunjungan mereka ke gudang Kotagede:

"Arsitektur bukan sekadar tentang membangun ruang yang tampak oleh mata, melainkan tentang menebus waktu yang sempat hilang. Kita sering kali berpikir bahwa kita sedang membangun sesuatu yang baru, padahal kita hanya sedang memulihkan janji-janji lama yang pernah diingkari."*

Ia menoleh ke arah Raka. "Bab 27 sudah selesai, Raka. Apa judul yang tepat untuk hari ini?"

Raka memeluk pinggang Alana, mencium keningnya, lalu menatap Arka yang tertidur di boks bayi lipat di sudut ruangan.

"Prasasti yang Hidup," jawab Raka singkat. "Karena gedung ini tidak lagi bicara tentang kematian kakek, tapi tentang kehidupan yang terus mengalir."

Suara ombak Samudera Hindia menghantam tebing di bawah mereka, bukan lagi sebagai suara ancaman, melainkan sebagai tepuk tangan alam bagi mereka yang berani jujur pada nurani. Di atas tebing itu, garis-garis desain Raka tidak lagi kaku; mereka melengkung mengikuti irama alam, seolah-olah semen dan batu itu telah berubah menjadi puisi yang bisa disentuh.

Kesunyian malam itu kembali hadir, namun kali ini ia tidak membawa kesepian. Ia membawa keutuhan. Sebuah gema yang telah menemukan jalannya pulang, bukan ke dalam gelapnya sejarah, melainkan ke dalam terangnya masa depan yang mereka bangun bersama.

1
🌹Widian,🧕🧕🌹
ini ada alinea yang berulang ya kak ?
Bunga
penggambaran keadaan n hati Alana seperti aku di masa kuliah
jadi nostalgia😍
Bunga
lanjut Thor
cerita yang bagus
🌷tinull💞
semangat terus Thor, terus berkarya 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!