NovelToon NovelToon
Cinta Dititik Nol Rupiah

Cinta Dititik Nol Rupiah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:694
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Agus adalah seorang pemuda yang hidup dalam jeratan ekonomi. Di rumahnya yang sederhana, ia harus berbagi beban dengan ayahnya, Marjuki, yang mulai sakit-sakitan, dan ibunya, Asmah, yang hanya bisa pasrah pada keadaan. Di tengah rasa sepi, Agus mengunduh sebuah aplikasi jodoh dan bertemu dengan Nor Rahma.

Bagi Agus, Rahma adalah sosok yang terlalu sempurna. Rahma memiliki pekerjaan tetap, pendidikan yang baik, dan paras yang menawan. Hubungan mereka yang bermula dari layar ponsel berlanjut ke arah yang lebih serius. Namun, tantangan muncul saat Rahma meminta bukti keseriusan berupa komitmen untuk melamar dan membangun masa depan yang stabil.

Agus terjepit. Di satu sisi, ia sangat mencintai Rahma. Di sisi lain, pendapatannya sebagai pekerja serabutan tidak pernah cukup untuk menabung, apalagi membiayai pernikahan yang layak. Keluarga Agus tidak memiliki simpanan sama sekali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Hujan sisa semalam masih meninggalkan jejak becek di halaman tanah rumah Agus. Pagi ini, udara terasa sangat lembap, membuat sendi-sendi pergelangan kaki Agus yang bengkak terasa semakin kaku dan berdenyut. Ia duduk diplataran depan rumah, memandangi kakinya yang dibalut kain sarung lusuh. Ibu agus tadi pagi sudah mengompresnya dengan air hangat dan parutan kencur, namun bengkaknya belum juga surut.

Agus menghela napas. Hari ini ia tidak bisa masuk kerja. Itu berarti upah delapan puluh ribu rupiah hilang lagi. Di dalam kepalanya, ia terus menghitung bunga denda dari koperasi yang akan terus berjalan. Setiap detik yang ia habiskan dengan duduk diam di sini terasa seperti tumpukan beban yang siap merobohkan bahunya.

"Gus, ini ada air teh hangat. Diminum dulu supaya badanmu enak," ucap ibu agus sambil meletakkan gelas plastik berwarna hijau yang permukaannya sudah kusam.

"Terima kasih, Bu," jawab Agus pendek. Ia menyesap teh tawar itu. Rasanya sepat, sama seperti suasana hatinya.

Tiba-tiba, suara deru mesin motor yang halus terdengar dari ujung gang. Sebuah motor matik berwarna biru cerah dengan kotak besar di bagian belakangnya berhenti tepat di depan pagar kayu rumah Agus yang sudah miring. Seorang pemuda berseragam kurir ekspedisi turun, celananya tampak bersih dan sepatunya mengkilap, sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya yang berlumpur.

"Permisi, benar ini rumah Bapak Agus?" tanya kurir itu sambil melihat ke arah layar ponselnya yang canggih.

Agus mengernyitkan dahi. Ia jarang sekali menerima kiriman barang. "Iya, benar. Saya sendiri. Ada apa, Mas?"

"Ada paket dari Jakarta, Mas. Pengirimnya atas nama Nor Rahma. Tolong tanda tangan di sini ya," ucap kurir itu sambil menyodorkan sebuah alat pemindai.

Agus terdiam sejenak. Jantungnya berdegup tidak menentu. Ia menerima sebuah kardus berukuran sedang yang dibungkus dengan plastik pelapis yang sangat rapi. Beratnya cukup lumayan. Setelah kurir itu pergi, Agus membawa kardus itu masuk ke dalam rumah dengan langkah terpincang-pincang.

Ke2 orang tua agus yang sedang duduk di ruang tengah langsung menoleh. Mata mereka tertuju pada benda asing yang dibawa Agus.

"Paket apa itu, Gus? Besar sekali," tanya bapak agus, suaranya masih terdengar serak.

"Dari Rahma, Pak. Katanya cuma vitamin sama makanan buat Bapak," jawab Agus pelan. Ia meletakkan kardus itu di atas meja kayu.

Ibu agus mendekat, rasa penasaran terpancar dari wajahnya. "Coba dibuka, Gus. Ibu ingin lihat apa isinya."

Agus merogoh saku celananya, mengambil pisau kecil yang biasa ia gunakan untuk memotong tali sak semen. Ia menyayat lakban bening itu dengan hati-hati. Saat kardus terbuka, aroma wangi yang sangat lembut mirip dengan aroma tubuh Rahma tempo hari menyeruak keluar.

Di dalamnya terdapat beberapa botol vitamin dengan label bahasa Inggris yang terlihat sangat mahal. Ada juga beberapa kotak biskuit gandum import, dua kaleng susu khusus untuk lansia, dan sebuah kantong kain kecil berisi buah-buahan segar seperti apel merah dan anggur yang kulitnya masih mengkilap. Di paling atas, terdapat sebuah kartu ucapan berwarna putih bersih dengan tulisan tangan yang sangat rapi.

"Untuk Mas Agus dan keluarga. Semoga Bapak lekas sembuh. Jangan lupa diminum vitaminnya ya, Mas. Semangat kerjanya."

Ibu agus mengambil salah satu kotak biskuit itu, membolak-baliknya dengan tangan gemetar. "Ya Allah, ini biskuit yang biasanya ada di iklan televisi itu kan, Gus? Mahal sekali sepertinya. Rahma ini benar-benar anak yang baik."

Bapak agus melihat susu kaleng itu, lalu beralih menatap Agus yang hanya berdiri terpaku. "Gus, Rahma tahu keadaan kita sampai sejauh ini?"

Agus menggeleng. "Agus cuma bilang Bapak lagi sakit, Pak. Agus nggak pernah minta apa-apa sama dia."

"Tapi kiriman ini... ini bukan kiriman biasa, Gus," ucap bapak agus dengan nada yang tiba-tiba berubah menjadi berat. "Buah-buahan ini, vitamin ini... harganya mungkin setara dengan upah kerjamu satu minggu. Bapak merasa tidak enak hati menerima barang semewah ini."

Agus mengepalkan tangannya di samping paha. Apa yang dikatakan ayahnya adalah tepat apa yang ia rasakan. Bingung, malu, dan terhina. Bagi orang lain, kiriman ini adalah bentuk perhatian. Namun bagi Agus, setiap botol vitamin itu seolah-olah berteriak kepadanya: "Kamu tidak mampu membelikan ini untuk ayahmu, jadi biar aku saja yang belikan."

Harga diri Agus sebagai laki-laki yang ingin meminang Rahma terasa sedang diinjak-injak oleh kebaikan Rahma sendiri. Ia merasa kecil. Ia merasa seperti pengemis yang sedang diberi sedekah oleh calon istrinya.

"Ibu simpan saja di dapur, buat Bapak makan nanti," ucap Agus ketus. Ia berbalik dan masuk ke dalam kamarnya, mengabaikan tatapan bingung dari ibunya.

Di dalam kamar yang pengap, Agus membanting tubuhnya ke atas kasur lantai. Ia meraih ponselnya yang layarnya retak. Ia ingin mengirim pesan pada Rahma. Ia ingin marah, tapi ia juga tahu itu tidak adil. Rahma hanya ingin membantu. Rahma punya niat baik.

Agus: "Rahma, paketnya sudah sampai. Terima kasih banyak. Tapi lain kali tolong jangan kirim barang-barang semahal itu lagi. Saya merasa tidak enak."

Agus menekan tombol kirim dengan perasaan sesak. Ia menunggu balasan itu sambil menatap atap kamarnya yang hitam karena rembesan air hujan.

Hanya butuh dua menit bagi Rahma untuk membalas.

Nor Rahma: "Loh, kenapa Mas? Aku cuma ingin bantu sedikit supaya Bapak cepat sehat. Apa ada yang salah? Aku tidak bermaksud menyinggung, Mas Agus."

Agus: "Saya tahu maksudmu baik. Tapi saya laki-laki, Rahma. Saya yang seharusnya mengurus orang tua saya. Melihat kamu mengirim barang-barang yang bahkan saya tidak mampu beli, itu membuat saya merasa gagal."

Nor Rahma: "Mas Agus, jangan berpikir begitu. Kita kan sedang mencoba membangun hubungan. Hubungan itu soal saling berbagi, bukan soal siapa yang lebih mampu. Mas tidak gagal, Mas hanya sedang berjuang. Kenapa harga dirimu harus setinggi itu di depanku?"

Agus tidak membalas lagi. Ia melempar ponselnya ke ujung kasur. Kalimat "Kenapa harga dirimu harus setinggi itu di depanku?" terasa seperti tamparan. Rahma tidak mengerti. Rahma tidak pernah tahu rasanya menjadi laki-laki yang setiap hari harus menghitung uang kembalian untuk membeli beras. Rahma tidak pernah tahu rasanya harus menahan lapar di gudang agar ibunya bisa membeli telur di rumah.

Bagi Rahma yang hidup dalam kecukupan, berbagi adalah hal yang ringan. Namun bagi Agus, menerima bantuan adalah pengakuan atas ketidakmampuannya.

Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. ibu agus masuk membawa satu buah apel merah yang sudah dicuci bersih.

"Gus, dimakan dulu. Sayang kalau busuk. Rahma sudah niat baik, jangan kamu balas dengan wajah cemberut begitu. Kamu harusnya bersyukur dapat calon istri yang perhatian sama mertuanya," ucap ibu agus lembut.

Agus menatap apel itu. Merah, sempurna, tanpa cacat sedikit pun. Persis seperti Nor Rahma. Sementara tangannya yang memegang apel itu kasar, pecah-pecah, dan kotor oleh noda semen yang tak kunjung hilang.

"Ibu tidak mengerti," bisik Agus pelan.

"Ibu mengerti, Gus. Ibu tahu kamu merasa rendah diri karena kita orang susah. Tapi dengar Ibu... kalau kamu terus-terusan menutup diri karena malu, kamu akan kehilangan dia. Orang seperti Rahma itu langka. Jangan biarkan miskin hartamu membuat miskin juga hatimu," nasihat ibu agus sambil mengelus rambut anaknya.

Agus hanya diam. Ia mengambil apel itu dan menggigitnya. Rasanya manis dan renyah, jauh lebih enak daripada buah apa pun yang pernah ia makan seumur hidupnya. Namun, rasa manis itu menyangkut di tenggorokannya. Setiap kunyahan mengingatkannya pada jurang pemisah yang semakin lebar antara dirinya dan Rahma.

Di ruang tengah, bapak agus mulai meminum vitamin pemberian Rahma. Agus bisa mendengar suara ayahnya yang memuji rasa susu kaleng itu. Ia senang ayahnya bisa mendapatkan gizi yang lebih baik, tapi di sisi lain, ia benci fakta bahwa bukan dialah yang menyediakannya.

Malam harinya, Agus kembali membuka ponselnya. Ia melihat status WhatsApp Rahma. Foto sebuah meja kantor yang rapi dengan laptop bermerek dan secangkir kopi mahal. Keterangannya berbunyi, "Lembur lagi. Semangat buat masa depan."

Agus melihat ke arah kakinya yang masih bengkak. Ia melihat ke sekeliling kamarnya yang hanya berisi tumpukan baju di dalam kardus. Ia menyadari satu hal yang menyakitkan, Rahma sedang berlari menuju masa depan dengan langkah yang pasti, sementara Agus sedang tertatih-tatih di tempat, mencoba menarik kakinya dari lumpur kemiskinan yang terus menghisapnya.

Ponselnya bergetar lagi. Pesan dari Pak Jono, mandor gudang.

Pak Jono: "Gus, besok alat berat ekskavator sudah mulai masuk untuk meratakan area belakang. Pekerjaan panggul semen dikurangi setengahnya mulai besok. Kalau kakimu masih sakit, mungkin sebaiknya kamu istirahat lama saja dulu. Saya harus kasih jatah orang yang fit."

Agus memejamkan mata. Dunianya seolah sedang runtuh satu per satu. Rahma mengiriminya vitamin agar ia sehat, tapi semesta justru menutup pintu rezekinya. Ia sedang jatuh cinta pada seorang wanita yang memintanya memiliki rencana masa depan, namun untuk rencana makan besok pagi saja, ia sudah tidak punya jawaban.

Agus mematikan lampu kamarnya. Dalam kegelapan, ia berbisik lirih, "Bagaimana cara mencintaimu tanpa harus merasa terhina, Rahma?"

Air mata yang sejak kemarin ia tahan, akhirnya jatuh juga, membasahi bantalnya yang keras dan tipis. Malam itu, aroma apel merah dari kiriman Rahma masih tercium di dalam kamar, menjadi saksi bisu betapa pahitnya rasa sebuah pemberian bagi laki-laki yang sedang kehilangan harga diri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!