NovelToon NovelToon
Kejar Tenggat

Kejar Tenggat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Honey Brezee

Gwen baru sadar bahwa menjadi dewasa itu tidak seasyik telenovela favoritnya. Tagihan menumpuk, kopi tidak pernah cukup, dan setiap pertemuan keluarga selalu berakhir dengan satu pertanyaan maut: “Kapan nikah?” Bisakah Gwen bertahan, menghindari pertanyaan itu, dan tetap mempertahankan kebebasannya—tanpa menyerah pada “dunia dewasa” yang penuh aturan absurd?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Honey Brezee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

08 - Kesempatan Kedua

Mobil SUV hitam melaju perlahan meninggalkan kawasan pantai. Di dalam kabin yang remang-remang, Gwen duduk di kursi penumpang depan dengan tatapan kosong ke arah jendela. Ayahnya yang mengemudi sesekali melirik dengan ekspresi bertanya, tapi Gwen hanya membalas dengan senyum tipis.

"Ada apa denganmu, Gwen?" tanya ayahnya akhirnya, suaranya lembut tapi tegas.

"Nothing, Yah. Hanya lelah," jawab Gwen cepat, terlalu cepat mungkin.

Dari kursi belakang, Pandji menyeringai. "Lebih ke love-sick , Yah. Abis di—"

"Pandji!" seru Gwen, wajahnya memanas.

Ayah mereka mengangkat alis di kaca spion, tapi untungnya tidak mengejar topik itu. "Besok pagi-pagi sekali Ayah harus ke Jakarta ada kerjaan disana. Kalian berdua mau ikut?"

"Aku ikut, Yah," jawab Pandji cepat. "Ada yang mau aku cek di sana."

"Alah, Bilang aja mau ketemu Nadine," seloroh Gwen, tahu persis kemana tujuan hati adiknya yang tengah jatuh cinta pada seorang wanita yang sedang kuliah di Jakarta.

Pandji menoleh sejenak ke Gwen, wajahnya memerah. "Sirik aja, Mba!" ucapnya sewot.

Gwen menyeringai “Kasihan deh, Bolak-balik Bali–Jakarta cuma buat digantung terus.”

“Eh, itu namanya effort, Mba. Bukan sekadar buang-buang waktu.”

Gwen terkekeh pelan. “Iya deh, si paling effort,” ucapnya, nada setengah meledek, setengah mengakui usaha Pandji.

Pandji cemberut, masih menatap Gwen kesal. “Lo kok gitu sih, Mba?”

Linda menegur cepat, nada tegas tapi tetap tenang. “Pandji, sopan sama orang yang lebih tua! Kalian harus belajar menghormati yang lebih tua.”

Gwen menunduk pelan, tersadar apa yang dimaksud sang ibu—pesan terselubung untuk menegur dirinya juga.

“Sudah,” ucap sang ayah, memotong ketegangan yang mulai terasa mencekam.

“Gwen, kamu ikut ke Jakarta?”

“Aku… aku di rumah aja, Yah. Besok ada interview,” jawab Gwen ragu-ragu.

Ayahnya mengangguk pelan. “Baiklah.”

SUV hitam itu melaju di jalan pesisir Bali, angin laut membawa aroma asin dan suara ombak yang lembut, seakan menenangkan suasana tegang di dalam mobil. Pandji duduk di sampingnya, sesekali melirik Gwen dengan mata penasaran, tapi Gwen tetap menatap jauh ke arah laut, bibirnya mengatup rapat, seolah sedang menenangkan pikirannya sendiri.

...__Kejar Target__...

Ponsel Gwen bergetar di meja rias. Pesan dari nomor tak dikenal.

Aga: Ini aku. Dapet nomor dari Pandji. Maaf kalau ganggu.

Gwen tersenyum sendiri, jari-jarinya melayang di atas layar.

Gwen: Pandji ngasih nomorku? Since when?

Aga: Tadi di mobil. Dia bilang, "Lo berdua jadian cepetan biar gue dapet duit dari taruhan sama temen gue."

Gwen tertawa pelan, suaranya terdengar terlalu keras di kamar yang sunyi.

Gwen: Dia emang nggak pernah serius.

Aga: Tapi aku serius. Tentang tadi.

Gwen menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang.

Aga: Aku masih ngerasa bibir kamu di pipi aku.

Gwen: Aga...

Aga: Iya, aku tahu. Kamu butuh waktu. Tapi aku nggak bisa pura-pura nggak ngerasa apa-apa. Sudah terlalu lama aku pendem.

Gwen menatap layar, kata-kata terbentuk di ujung jarinya tapi tidak pernah terkirim. Bagaimana dia bisa menjelaskan? Bahwa dia juga merasa sesuatu—sesuatu yang dilarang oleh jarak usia.

Aga: Tidur yang nyenyak, Gwen. Mimpiin aku kalau bisa.

Gwen meletakkan ponselnya, wajahnya terbenam dalam bantal. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, dia tertidur dengan senyum di bibir.

...__Kejar Tenggat__...

ArtVia Headquarters, Denpasar

Gwen berdiri di depan gedung pencakar langit yang anggun, desainnya futuristik dengan kaca-kaca biru yang memantulkan sinar matahari Bali. ArtVia. Nama yang selama lima tahun terakhir mendominasi industri arsitektur Indonesia—dan menjadi mimpi bagi setiap arsitek muda yang ingin kembali ke jalur setelah jatuh.

Dia memeriksa penampilannya untuk kesekian kalinya. Blazer navy, rok pensil hitam, sepatu hak tinggi yang masih nyaman meski sudah bertahun-tahun tersimpan. Rambut dikuncir kuda rapi, makeup minimalis. Professional. Competent. Worthy. Tiga kata yang ingin dia proyeksikan, meski di dalam dadanya berkecamuk keraguan.

"Gwen Oktavia Atmadja?"

Seorang receptionist memanggil namanya dengan senyum ramah. Gwen mengangguk, mengikuti wanita itu ke dalam lift yang berdinding kaca. Lantai 42.

Ruang meeting eksekutif dengan pemandangan laut Bali yang memukau. Tapi Gwen tidak punya waktu untuk mengagumi panorama. Matanya tertuju pada tiga orang yang duduk di ujung meja panjang—dua pria paruh baya dan seorang wanita berambut perak dengan kacamata statement yang menakutkan.

"Silakan duduk," ucap wanita berambut perak. Namanya tertera di name tag. Elena Wijaya, Creative Director.

Gwen duduk, kakinya saling mengunci di bawah meja untuk menghentikan gemetar.

"Jadi," Elena membuka map di depannya, "Anda pernah di Emporio Architect."

Bukan pertanyaan. Pernyataan. Gwen mengangguk. "Empat tahun, Ma'am. Sebagai junior architect, lalu dipromosikan menjadi project lead."

"Project lead di usia dua puluh enam," salah satu pria—yang namanya Hendra, HR Director —mengangguk puas. "Impressive."

"Terlalu impressive, mungkin," gumam Elena, matanya menyipit di balik kacamata.

"Sampai-sampai Anda memutuskan untuk resign tanpa alasan yang jelas."

Gwen menelan ludah. Ini yang selalu ditakutkannya. Bayangannya yang menghantui dari setiap lamaran yang dia kirim.

"Personal reason, Ma'am."

"Personal reason," Elena mengulang, suaranya datar. "Yang membuat Anda menganggur selama dua tahun? Dua tahun adalah waktu yang lama dalam industri ini. Teknologi berkembang. Tren berubah. Klien semakin menuntut."

Gwen merasa wajahnya memanas. "Saya tetap mengikuti perkembangan, Ma'am. Saya mengambil kursus online, mengikuti webinar internasional, dan—"

"Dan menulis?" Elena mengangkat sehelai kertas dari meja. "Kami menemukan blog Anda. Esai-esai tentang arsitektur berkelanjutan. Tentang ruang yang manusiawi. Cukup... idealis."

Gwen tidak tahu harus merasa bangga atau malu. "Saya menulis untuk... untuk tetap waras, Ma'am."

Hendra terkekeh pelan. Elena tidak. Tapi sudut bibirnya bergerak sedikit—hampir seperti senyum.

"Waras," Elena mengulang. "Bagus. Karena proyek kami selanjutnya membutuhkan seseorang yang waras. Bukan hanya pintar."

Dia melempar sebentuk folder ke arah Gwen. "Villa kompleks di Ubud. Client-nya adalah seorang pengusaha yang baru saja bercerai dan ingin membangun 'rumah baru untuk hidup baru'-nya. Dramatis. Emosional. Dan sangat, sangat menuntut."

Gwen membuka folder itu. Blueprint dasar, brief client, dan catatan-catatan tangan yang penuh coretan merah.

"Anda punya tiga hari," lanjut Elena. "Buatkan konsep awal. Bukan yang aman. Bukan yang biasa. Buat sesuatu yang membuat client ini merasa... dipahami."

"Ma'am, apakah ini berarti—"

"Belum berarti apa-apa, Ms. Atmadja." Elena berdiri, dua pria lainnya mengikuti.

"Tapi ini kesempatan Anda untuk membuktikan bahwa dua tahun 'mencari jati diri' Anda tidak membuang-buang waktu kami."

Mereka berlalu, meninggalkan Gwen sendirian di ruang meeting yang besar. Dia menatap folder di tangannya, kemudian menatap pemandangan laut di luar jendela.

Ini dia. Kesempatan kedua. 

1
mitha
Lanjut kak
lilyrose
syuukkurin 🤣
Honey Brezee: hihi 🤭
total 1 replies
lilyrose
to the point aman sih si hilman 😂😂😂
Honey Brezee: iy, hahaha 🤣
total 1 replies
Patrish
nyambung amat Bang
Honey Brezee: nyambung di next kak 🤣
total 2 replies
mitha
Ceritanya gak ngebosenin 😍
Anita
Ibu tiri 😭
Anita
Seruuuuuu 😍
Patrish
hati hayi anak muda jangan sampai kebablasan
Honey Brezee: tenang ada penjaga nya si pandji 🤣🤣
total 1 replies
Patrish
ini ibu kandung apa ibu tiri sih...
Patrish: 🤣🤣🤣🤣pokoknya dibuat sakit tapi jangan sampai menyusahkan anaknya🤣🤣🤣
total 4 replies
Patrish
setiap keputusan membawa resiko..(baik maupun buruk)..setiap pilihan menuntut keberanian
inilah inti perjalanan ke depan
Honey Brezee: makasih kak ❤
total 1 replies
Patrish
ini ceritanya mereka hidup di Bali...sedang ayah Gwen di jakarta....nadine tinggal di mana?
Honey Brezee: gwen di Bali kak, ayah gwen bolak balik ke jakarta karna ada kerjaan
total 1 replies
Patrish
aku gagal focus di sini..Pikirku Panji nganter Nadine ke luar kota...
Honey Brezee: nanti aku revisi 🙏
total 1 replies
Patrish
Panji....pinter ya
Patrish
mulai....ada bara menyala...
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru merilis cerita berjudul : "Pacar Melamar Mantan Menggoda" ✨️✨️
Silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Mila tidak pernah menyangka kalau 'penghancur' masa remajanya akan kembali lagi jadi bosnya di kantor. Ini bukan cuma soal benci, tapi soal luka yang dipaksa sembuh saat pelakunya ada di depan mata. Kudu baca kalau kalian suka drama yang deep dan dewasa 🤌
total 1 replies
lilyrose
keren banget..ga muter muter ceritanya
good job thor
lanjuttt
Honey Brezee: huhuhu..Thankyou 😭🙏❤
total 1 replies
lilyrose
baru nemu novel sebagus ini..keren banget
ga berasa baca marathon dari bab 1 - 15 tiba2 habis... 👍
Honey Brezee: makasih kak 🥺😭🙏❤
total 1 replies
Patrish
novel bagus gini...belum ada yang nemu....🤭🤭🤭🤭aku juga baru kemarin😀😀😀
Patrish: semoga segera banyak yang baca
total 2 replies
Patrish
sampai di sini...kalimatnya enak dinikmati....lanjuut aku...👍🏻👍🏻
Honey Brezee: terimakasih kak 🥺🙏❤
total 1 replies
Patrish
tapi kamu keren Gwen....seharusnya sejak kemarin kamu begitu...
Patrish
yoookkkk...lanjuuut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!