NovelToon NovelToon
Rumah Yang Terbagi

Rumah Yang Terbagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:925
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Garis ini adalah batas antara hakmu dan dosamu. Melangkah satu senti saja, kau kehilangan segalanya."

Sepuluh tahun lalu, Sasmita Janardana diusir dalam keadaan hancur. Fitnah keji dari Rena, sang ibu tiri, membuatnya kehilangan kasih sayang ayah dan haknya sebagai putri tunggal. Ia dibuang ke luar negeri, sementara Rena dan putranya, Vano, berpesta di atas penderitaan mendiang ibu Sasmita.

Kini, Sasmita kembali setelah kematian misterius ayahnya. Ia tidak datang untuk menangis. Ia datang dengan sebuah wasiat kuno yang sah secara hukum: Rumah mewah Janardana harus dibagi dua secara mutlak.

Sasmita tidak mengusir mereka. Ia justru melakukan penyiksaan yang lebih lambat: Memaksa musuh-musuhnya hidup di bawah atap yang sama, namun terpisah oleh garis merah yang tidak boleh dilintasi.

Di sisi kiri, Rena mulai kehilangan kewarasannya. Di sisi kanan, Sasmita mulai membongkar brankas rahasia yang menyimpan bukti pembunuhan ibunya. Di tengah persaingan panas itu, muncul Bramasta, pengacar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: SURAT DARI BALIK JERUJI

Malam di Singapura tidak pernah benar-benar gelap; cahaya dari gedung-gedung pencakar langit menciptakan pendaran perak yang memantul di kaca-kaca jendela penthouse Orchard. Namun, bagi Saga, kemewahan ini terasa seperti oksigen yang tipis. Ia berdiri di balkon, membiarkan angin malam menyapu wajahnya, sementara di dalam ruangan, suara denting gelas kristal dan tawa rendah Dmitri Volkov terdengar seperti lonceng kematian bagi kebebasannya.

Nikolai berdiri di bayang-bayang pintu geser, tangannya terlipat di depan dada. Ia tampak seperti patung yang menyatu dengan kegelapan.

"Dmitri bukan pria yang suka ditolak, Saga," Nikolai memecah keheningan. Suaranya rendah, nyaris tenggelam oleh deru pendingin udara sentral. "Di Moskow, dia dikenal sebagai 'Sang Arsitek'. Dia tidak membangun gedung, dia membangun jebakan finansial yang menghancurkan negara-negara kecil. Ayahmu melihatnya sebagai sekutu sempurna, tapi aku melihatnya sebagai predator yang sedang mengincar wilayah baru."

Saga menoleh, matanya berkilat tajam. "Aku bukan wilayah yang bisa diklaim, Nikolai. Aku sudah menghancurkan satu kekaisaran di Jakarta, aku tidak keberatan menghancurkan satu lagi di sini."

"Kamu butuh kartu as," Nikolai melangkah mendekat, menyerahkan sebuah tablet kecil yang layarnya terenkripsi. "Aku berhasil menyadap frekuensi komunikasi satelit Dmitri saat dia berada di dek kapal tadi. Ada aliran data konstan menuju sebuah bank di Zurich—Schröder & Co. Itu adalah tempat di mana sisa-sisa Dewan Waskita menyimpan dana darurat mereka. Dan ada satu hal lagi."

Saga mengerutkan kening. "Apa?"

"Agatha Waskita. Dia tidak diam di penjara Jakarta. Dia baru saja mengirimkan pesan terenkripsi melalui pengacara pribadinya yang ditujukan langsung kepada Viktor Sokolov. Pesan itu berisi kode akses yang hanya diketahui oleh keluarga inti Waskita."

Saga merasakan dingin yang menusuk tulang. Agatha, bahkan dari dalam sel isolasi, masih mencoba memanipulasi papan catur ini. Ia tahu bahwa Viktor adalah satu-satunya orang yang memiliki kekuatan untuk menghancurkan Dewan, dan ia mencoba menjual rahasia Dewan untuk membeli kebebasannya sendiri—atau setidaknya, memastikan Saga tidak pernah mendapatkan kedamaian.

"Bawa aku ke ruang kerja Viktor," perintah Saga. "Sekarang, sebelum Dmitri kembali ke kamarnya."

"Itu area terlarang, Saga. Penjaga biometriknya disetel khusus untuk DNA Viktor dan Nikolai," Nikolai ragu sejenak, namun kemudian ia menyeringai tipis. "Tapi untungnya, kamu memiliki DNA-nya."

Mereka menyelinap melalui lorong yang dijaga oleh sensor inframerah. Dengan bantuan Nikolai yang melumpuhkan sistem pengawasan selama tiga puluh detik, Saga menempelkan ibu jarinya ke pemindai di pintu ruang kerja Viktor. Klik. Pintu terbuka dengan desisan halus.

Ruangan itu berbau kayu ek tua dan tembakau. Di atas meja kerja jati yang masif, sebuah laptop militer terbuka, menampilkan barisan kode yang terus berjalan. Saga segera mencolokkan flash drive yang diberikan Nikolai.

"Cepat, Saga. Kita hanya punya waktu dua menit sebelum sistem melakukan re-boot otomatis," Nikolai berjaga di depan pintu.

Jari-jari Saga menari di atas papan ketik. Ia adalah seorang novelis digital, tapi tahun-tahunnya berurusan dengan sistem enkripsi Waskita telah mengajarinya cara membaca pola data. Ia menemukan folder tersembunyi dengan label "A.W. - JAKARTA".

Di dalamnya, terdapat sebuah rekaman suara yang baru saja diterima dua jam yang lalu. Saga menekan tombol putar.

"Viktor... suamiku yang tercinta. Kamu pikir kamu bisa membawanya pergi begitu saja? Sasmita bukan hanya anakmu. Dia adalah kunci dari 'Protokol Garuda' yang ditanamkan Wirya di dalam aset-aset yang dia hapus. Kamu butuh kode pemulihannya, dan hanya aku yang tahu di mana Wirya menyembunyikan kunci fisiknya. Dmitri Volkov tidak akan bisa membantumu jika datanya tidak ada. Temui aku di Jakarta, atau biarkan putrimu menjadi pengantin dari sebuah kekosongan."

Saga terpaku. "Protokol Garuda?"

"Itu adalah sistem pencucian uang otomatis yang mencakup seluruh Asia Tenggara," Nikolai berbisik dengan nada mendesak. "Jika itu benar, berarti uang yang kamu hapus tempo hari sebenarnya tidak hilang; itu hanya 'tertidur' dan menunggu dibangunkan kembali dengan kunci fisik."

Tiba-tiba, lampu ruangan menyala terang.

"Mencari sesuatu yang menarik, Tuan Putri?"

Dmitri Volkov berdiri di ambang pintu, bersandar pada kusen dengan gaya yang sangat santai. Di tangannya, ia memegang sebuah gelas kecil berisi vodka premium. Ia tidak tampak marah; ia justru tampak terhibur.

Nikolai segera memasang posisi siap tempur, namun Dmitri hanya melambaikan tangannya. "Tenang, Nikolai. Aku tidak akan melaporkan ini pada Viktor. Lagipula, aku juga ingin tahu apa yang dikatakan wanita ular itu dari Jakarta."

Dmitri melangkah masuk, aroma parfum mahalnya memenuhi ruangan. Ia berdiri di belakang Saga, menatap layar laptop. "Agatha cerdas. Dia tahu Viktor haus akan kekuasaan. Tapi dia tidak tahu bahwa aku tidak peduli pada Protokol Garuda. Aku hanya peduli pada siapa yang memegang kuncinya."

Dmitri meletakkan gelasnya di atas meja, tepat di samping tangan Saga. "Saga, ayahmu ingin kita menikah untuk menyatukan dua sindikat. Tapi aku punya tawaran yang lebih menarik. Kita pergi ke Zurich besok. Tanpa Viktor, tanpa Dewan Waskita. Kita ambil dana itu untuk diri kita sendiri, dan aku akan membantumu menghapus Agatha selamanya dari sejarah."

Saga menatap Dmitri, mencari jejak kejujuran di mata biru esnya. "Kenapa kamu ingin mengkhianati ayahku? Dia adalah sekutumu."

"Di dunia kami, aliansi adalah beban jika tidak menghasilkan keuntungan maksimal," Dmitri tersenyum, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Viktor sudah tua. Dia terlalu banyak menggunakan emosi sekarang karena kehadiranmu. Sindikat butuh darah baru. Dan kamu... kamu adalah darah baru yang paling murni."

Saga menarik flash drive-nya dan berdiri tegak. "Aku tidak akan mengkhianati ayahku untuk pria yang baru aku kenal selama lima jam, Dmitri. Dan aku tidak akan pergi ke Zurich bersamamu."

"Sayang sekali," Dmitri menghela napas. "Padahal aku sudah menyiapkan jet pribadi kita."

Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar dari lorong. Viktor masuk dengan wajah merah padam. Di belakangnya, sekelompok pengawal bersenjata lengkap mengepung ruangan.

"Apa yang terjadi di sini?!" guntur suara Viktor memenuhi ruangan.

Dmitri berbalik dengan tenang. "Hanya percakapan kecil antara calon mempelai, Viktor. Sepertinya putrimu sangat tertarik pada urusan bisnismu di Jakarta."

Viktor menatap Saga, lalu menatap laptopnya yang masih menampilkan folder Agatha. Matanya berkilat penuh amarah yang bisa meledakkan gedung ini seketika. "Saga... aku memberimu kemewahan, aku memberimu perlindungan, dan kamu mencuri dari ruang kerjaku?"

"Aku tidak mencuri, Ayah! Aku mencari kebenaran yang kamu sembunyikan!" seru Saga. "Agatha masih memegang kendali atas dirimu! Dia mengancammu dengan Protokol Garuda, dan kamu berniat menikahkanku hanya untuk mendapatkan dukungan Volkov guna mengambil kembali uang itu?"

Viktor terdiam. Otot rahangnya mengeras. "Dunia ini keras, Saga. Aku melakukan ini untuk memastikan masa depanmu tetap aman!"

"Masa depanku tidak akan pernah aman jika dibangun di atas pengkhianatan dan pernikahan paksa!" Saga melempar flash drive itu ke lantai. "Aku akan pergi ke Jakarta. Aku akan menemui Agatha sendiri. Aku akan mengakhiri ini dengan caraku, bukan dengan cara Sokolov atau Volkov."

"Kamu tidak akan pergi ke mana pun!" Viktor berteriak pada para pengawalnya. "Amankan dia! Bawa dia ke kamar isolasi!"

Namun, sebelum para pengawal bisa bergerak, Nikolai melakukan sesuatu yang tidak terduga. Ia menarik pin granat asap dari sabuknya dan melemparnya ke tengah ruangan.

BUM!

Asap putih pekat memenuhi ruang kerja. Dalam kekacauan itu, Nikolai menyambar tangan Saga. "Lari ke lift servis! Sakti dan Bramasta sudah berada di dalam van di lantai bawah!"

Mereka berlari menembus asap. Suara tembakan terdengar, namun Nikolai membalas dengan tembakan peringatan ke arah langit-langit untuk membingungkan para penjaga. Mereka melompat ke lift servis dan turun dengan kecepatan tinggi.

"Nikolai, kamu baru saja mengkhianati Viktor!" teriak Saga di tengah gemuruh lift.

"Aku tidak mengkhianati siapa pun," jawab Nikolai sambil mengisi ulang senjatanya. "Aku hanya menepati janjiku untuk melindungimu. Viktor sudah kehilangan akal sehatnya karena keserakahan. Dan Dmitri... dia jauh lebih berbahaya daripada Agatha."

Mereka sampai di basement. Sebuah van medis yang sudah dimodifikasi menunggu dengan mesin menderu. Sakti berada di kursi pengemudi, wajahnya tegang namun penuh tekad. Bramasta duduk di belakang dengan peralatan komputer yang sudah menyala.

"Masuk! Masuk!" teriak Sakti.

Saga melompat masuk, diikuti oleh Nikolai tepat saat pintu lift utama terbuka dan para pengawal Viktor mulai menembaki van tersebut. Peluru-peluru menghantam bodi van yang antipeluru dengan suara ting-ting yang mengerikan.

Sakti menginjak gas, memacu van itu keluar dari gedung penthouse menuju jalanan Singapura yang ramai.

"Ke mana kita, Nona?" tanya Sakti.

Saga menatap monitor di depan Bramasta. "Kita kembali ke Indonesia. Tapi tidak lewat jalur resmi. Kita harus menemui Bong di pelabuhan Batam. Dia punya koneksi untuk menyelundupkan kita kembali ke Jakarta tanpa terdeteksi oleh imigrasi atau Dewan Waskita."

"Nona, itu sangat berisiko!" Bramasta memperingatkan. "Seluruh aparat di Jakarta sudah diperintahkan untuk menangkap Anda begitu Anda menginjakkan kaki di sana."

"Biarkan saja," Saga mengepalkan tangannya. "Agatha ingin bermain dengan Protokol Garuda? Mari kita tunjukkan padanya bahwa aku adalah pemilik kunci yang sebenarnya. Dan kali ini, aku tidak akan menghapus asetnya. Aku akan menggunakannya untuk menghancurkan setiap orang yang pernah menyentuh ibuku."

1
Dania
semangat tor
@RearthaZ
awal cerita yang bagus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!