NovelToon NovelToon
Benang Yang Tersembunyi

Benang Yang Tersembunyi

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / CEO / Anak Genius / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Matteo Adrian Reins Smith kembali ke Seoul bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai pemimpin industri yang ia bangun dari rasa iri dan ambisi untuk melampaui bayang-bayang ayahnya dan keraguan kakaknya. Namun, di balik kemegahan takhtanya, hati Matteo kosong. Ia dihantui memori Manila—tentang Sheena yang tak lain adalah adik iparnya sendiri.

Di sisi lain kota Seoul, Park Chae-young hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang traumatis. Lima tahun lalu, sebuah pengkhianatan cinta membawanya ke sebuah bar, dan ia terbangun dengan hidup yang hancur. Ayahnya meninggal karena terkejut, meninggalkan Chae-young hamil di usia muda. Kini, di usia 28 tahun, ia adalah desainer hantu di balik brand ‘Forever-young’ yang viral. Ia membesarkan sepasang anak kembar yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup.

Akankah takdir mempertemukan mereka kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: Perbincangan di Balik Rerimbunan Magnolia

Di dalam kamar yang masih remang itu, Chae-young perlahan membuka matanya. Hal pertama yang ia rasakan adalah sepasang lengan kekar yang melingkari pinggangnya dengan posesif. Kesadarannya terkumpul dalam sekejap saat ia menyadari bahwa "guling" yang ia peluk sepanjang malam ternyata adalah suaminya sendiri.

Wajah Chae-young memanas hingga ke telinga. Ia menahan napas, menatap wajah Matteo yang tampak tertidur sangat pulas. Dengan gerakan yang sangat hati-hati—nyaris seperti pencuri—ia melepaskan pelukannya, menggeser tubuhnya inci demi inci, lalu berjinjit menuju kamar mandi. Begitu pintu berbunyi klik, Chae-young bersandar di balik pintu sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang.

Di atas ranjang, Matteo perlahan membuka mata. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum puas yang lebar. Ia sudah bangun sejak tadi, sengaja mematung agar bisa menikmati kepanikan menggemaskan istrinya.

"Ternyata kau bisa panik juga, Nyonya Smith," gumam Matteo pelan sebelum beranjak untuk bersiap membantu Mark di kantor.

Siang itu, mansion keluarga Smith terasa jauh lebih hidup. Sheena datang berkunjung sesuai permintaan ibu mertuanya, membawa Kendrick yang tampak sangat bangga bisa memamerkan koleksi mainannya kepada Chanyeol dan Chaerin. Di taman samping, Lee Young-ae duduk di gazebo, matanya berbinar melihat ketiga cucunya berlarian di atas rumput hijau.

Chae-young duduk di teras, menyesap teh melati sambil memperhatikan Sheena. Jika Chae-young memiliki daya tarik pada rambut bronte waves-nya yang elegan, Sheena memiliki pesona pada matanya yang bertipe sleepy eyes. Saat tersenyum, lesung pipi kecil muncul di bawah matanya, dan kelopak matanya melengkung seperti bulan sabit yang sangat imut.

Meskipun Sheena baru berusia 25 tahun—tiga tahun lebih muda dari Chae-young—auranya sebagai seorang dokter memberikan kesan dewasa yang tenang.

"Apa Kak Chae-young ada yang ingin ditanyakan sehingga memperhatikan aku terus-menerus?" tanya Sheena tiba-tiba, menyadari tatapan kakak iparnya.

Chae-young sedikit tersentak, lalu tersenyum canggung. "Ah, tidak. Aku hanya merasa kau wanita yang sangat beruntung, Sheena. Cantik, seorang dokter... pasti Mark sangat mencintai dan memujamu."

Sheena tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar jujur namun menyimpan sejuta cerita. "Ah tidak juga, Kak. Kami menikah hanya di atas kertas pada awalnya. Tidak ada pesta, bahkan dia baru muncul setelah tiga bulan pernikahan kami lewat. Banyak sekali peristiwa menyakitkan yang terjadi sampai kami bisa sekuat sekarang. Ini tidak semudah yang Kakak bayangkan."

Chae-young tertegun. "Oh ya?"

"Iya," Sheena mengangguk, ia merasa nyaman bercerita karena tahu Chae-young juga menghadapi pria dengan karakter sedingin es yang sama. "Aku bahkan sempat pergi meninggalkannya karena dia begitu menyebalkan dan kaku!"

Keduanya tertawa bersama, menertawakan kemiripan sifat suami mereka yang seperti robot. Namun, tawa Chae-young perlahan mereda saat sebuah ganjalan kembali muncul di hatinya.

"Sheena, sebenarnya ada satu hal yang membuatku gelisah," ucap Chae-young pelan. "Ini tentang Matteo dan dirimu yang sempat aku dengar dari berita miring di luar sana."

Sheena terdiam sejenak. Ia teringat betapa jahatnya mulut Cessie tempo hari. Dengan tenang, Sheena menaruh cangkirnya dan menatap Chae-young dengan tulus.

"Aku dan Kak Matteo hanyalah teman kecil, itu saja," ucap Sheena mantap. "Soal berita miring itu, itu tidak benar. Waktu itu Matteo hanya merasa iri dan sedikit tersesat. Maklumlah, pertengkaran antara saudara kembar. Matteo sempat menjadikanku 'tameng' hanya agar adiknya merasa menderita. Tapi entahlah, tiba-tiba dia berhenti dan meminta maaf atas semuanya."

Sheena memilih untuk menutup rapat bagian di mana Matteo sempat terobsesi padanya. Baginya, itu hanyalah fase salah jalan dari seorang pria yang terluka. Ia ingin menjaga perasaan Chae-young sepenuhnya.

"Matteo sudah benar-benar berubah sejak bertemu Kakak," lanjut Sheena lembut. "Dia pria yang baik. Jadi, Kakak harus mulai memaafkan dan lebih terbuka padanya, ya?"

Mendengar penjelasan langsung dari sumbernya, Chae-young merasa dadanya sesak oleh rasa bersalah. Ia teringat betapa ia hampir meninggalkan Matteo ke Paris tempo hari karena rasa curiga yang tak berdasar.

"Maaf ya Sheena, aku tidak bermaksud menanyakan hal sensitif," bisik Chae-young tulus.

"Aku paham, Kak. Jangan khawatir," balas Sheena sambil memegang tangan Chae-young.

Di kejauhan, Lee Young-ae yang tanpa sengaja mendengar percakapan itu dari balik tanaman hias tersenyum lega. Ia melihat dua menantunya kini saling menguatkan.

Terima kasih, Sheena. batin sang ibu mertua dengan penuh syukur.

Malam nanti, saat Matteo pulang, Chae-young sudah membulatkan tekad. Ia tidak akan lagi menjaga jarak. Ia akan menyambut suaminya dengan hati yang benar-benar terbuka.

Malam itu, kediaman utama Smith di Manila tampak begitu tenang di bawah guyuran cahaya lampu taman yang temaram. Matteo melangkah masuk ke dalam mansion dengan sisa lelah dari kantor Mark yang masih menempel di pundaknya. Namun, begitu ia menginjakkan kaki di dalam kamar pribadi mereka, langkahnya terhenti seketika.

BAB 32: Perubahan yang Tak Terduga

Chae-young langsung bangkit dari duduknya. Tanpa kata, ia menghampiri Matteo, lalu dengan gerakan yang luwes, ia mengambil tas kerja dan melepas jas hitam yang tersampir di bahu suaminya. Matteo hanya mematung, menatap istrinya dengan dahi berkerut heran.

Tak berhenti di situ, Chae-young bahkan berlutut kecil untuk merapikan sepatu pantofel Matteo dan menyimpannya di tempat yang seharusnya. Matteo yang biasanya selalu memegang kendali, kini benar-benar kehilangan kata-kata.

Ada apa dengan wanita ini? batin Matteo bingung. Jika Chae-young melakukan ini demi sandiwara di depan ibunya, bukankah ini sudah di dalam kamar? Tidak ada siapa pun yang melihat.

"Kau sudah makan, Matteo?" tanya Chae-young lembut sambil merapikan letak jas di gantungan.

Matteo berdehem pelan, mencoba menetralkan rasa herannya. "Sudah. Aku makan di luar bersama Mark tadi sebelum pulang."

Seketika, raut wajah Chae-young berubah. Ia menghela napas panjang dan menatap Matteo dengan tatapan sedikit kesal. "Kau benar-benar payah, Matteo. Aku menunggumu tidak makan sejak tadi, dan sekarang kau malah sudah makan?"

Matteo tertegun. Jantungnya mencelos mendengar pernyataan itu. "Jadi... kau belum makan?"

"Tentu saja belum. Aku menunggumu," sahut Chae-young pendek sambil memalingkan wajahnya.

Rasa bersalah langsung menghantam Matteo. Ia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam. "Kalau begitu, ayo turun. Kita makan sekarang."

"Ah, tidak perlu. Biar aku saja yang makan sendiri di dapur," tolak Chae-young, berniat melangkah keluar kamar.

Namun, tangan besar Matteo dengan cepat menahan lengannya. "Ayo, aku masih lapar," dustanya dengan wajah datar yang sangat meyakinkan. Padahal, perutnya sudah kenyang setelah makan malam bersama Mark, namun ia tidak mungkin membiarkan Chae-young makan sendirian dalam kondisi kesal seperti itu.

Suasana dapur mansion yang luas itu sangat sunyi. Lee Young-ae dan si kembar sudah lama terlelap di kamar masing-masing. Hanya ada suara dentingan sendok dan garpu saat Chae-young mulai menyantap makan malamnya yang sempat tertunda.

Matteo duduk di hadapannya, berpura-pura menikmati porsi kecil makan malamnya demi menemani sang istri. Ia berkali-kali mencuri pandang ke arah Chae-young. Sikap wanita ini benar-benar berubah drastis setelah perbincangannya dengan Sheena tadi siang—meskipun Matteo sendiri belum tahu apa isi pembicaraan itu.

Setelah ritual makan malam selesai, mereka kembali ke kamar. Matteo segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan merilekskan otot-ototnya yang kaku.

Sekitar lima belas menit kemudian, Matteo keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih mengalung di lehernya. Ia menatap ke arah ranjang besar mereka. Di sana, Chae-young sudah tertidur pulas dengan napas yang teratur. Sepertinya rasa lelah dan perut yang kenyang membuatnya langsung terlelap tanpa menunggu Matteo keluar.

Matteo berdiri di sisi ranjang, menatap wajah tenang istrinya cukup lama. Tangannya yang dingin menyentuh pipi Chae-young sebentar, lalu ia menarik selimut untuk menutupi tubuh wanita itu agar tidak kedinginan.

"Ada apa dengamu hari ini, Chae-young-ah?" gumam Matteo pelan pada kegelapan malam.

Ia benar-benar diliputi kebingungan. Sikap lembut Chae-young, perhatian kecilnya, hingga kekesalannya karena ditinggal makan—semuanya terasa seperti mimpi bagi Matteo. Sambil merebahkan diri di samping istrinya, Matteo tersenyum tipis. Meskipun bingung, ia tidak bisa memungkiri bahwa ia sangat menyukai perubahan ini. Ia merasa dinding es yang selama ini memisahkan mereka perlahan mulai mencair, meninggalkan kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!