Gladys Chandra Wiguna atau biasa dipanggil Gadis adalah mahasiswi berbakat dari fakultas bergengsi Kota A. Wajah cantik dan sosok mungilnya menyembunyikan jiwa pemberani yang kuat.
Malam itu, saat ia pulang dari cafe, seorang pria memaksanya masuk mobil. Di dalamnya menanti Langit Mahesa seorang bisnis man yang memiliki perusahaan raksasa di kota A. Pria yang sudah memiliki istri, Bella Safira. Akankah Gadis kembali ke kehidupannya yang tenang? Ataukah cinta tak terduga tumbuh di antara mereka, menggoyahkan semua yang ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceriwis07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kost Lama
Hari ini adalah akhir pekan, tidak ada pekerjaan yang menumpuk dan tidak ada jadwal yang harus dikejar.
Gadis dan Langit sudah bangun sejak pagi, tapi mereka memilih untuk bermalas-malasan sepuasnya. Masih berbaring di bawah selimut hangat, masing-masing asyik memegang ponsel mereka sendiri, menikmati kebersamaan dalam diam yang nyaman.
Tiba-tiba pikiran Gadis melayang jauh. Ia teringat akan tas tua yang sangat berharga, pemberian dari almarhum ibunya Sila.
Perlahan ia mematikan layar ponselnya, meletakkannya di nakas sebelah, lalu bergeser mendekat dan kembali menyandarkan kepalanya di dada bidang Langit yang menjadi tempat ternyaman.
Seperti kebiasaannya, jari telunjuk mungil itu asyik bergerak-gerak di atas dada kokoh pria itu, menggambar pola abstrak yang acak dan tak beraturan, seolah sedang menulis pesan rahasia yang hanya dirinya yang mengerti.
Langit yang merasa geli pun langsung menangkap jemari kecil itu, lalu dengan lembut ia menciumnya penuh kasih sayang.
"Ada apa,?" tanya Langit lembut tanpa melepas tatapannya dari wajah polos itu.
Dengan ragu-ragu dan nada pelan, Gadis akhirnya memberanikan diri membuka suara.
"Langit... boleh nggak aku keluar sebentar ke kosan lama aku?" tanyanya hati-hati. "Ada sesuatu yang harus aku ambil di sana."
Kening Langit langsung berkerut, wajahnya tampak serius menimbang.
"Barang itu.penting banget buat kamu?" tanya Langit memastikan, ia tidak ingin istrinya keluar rumah hanya untuk hal sepele.
Gadis mengangguk sangat cepat, kepalanya terangguk-angguk seperti boneka, matanya memohon penuh harap.
Melihat ketulusan di mata gadis itu, Langit pun menghela napas dan tersenyum lembut.
"Oke... Aku yang antar kamu," ucap Langit tegas.
Mendengar kalimat itu, wajah Gadis seketika bersinar terang. Rasa senang dan bahagia langsung meledak di dadanya.
"Makasih ya Sayang! Makasih!" teriaknya girang.
Tanpa aba-aba, Gadis langsung memeluk leher pria itu erat-erat. Ia menundukkan wajahnya dan mulai menghujani seluruh wajah tampan Langit dengan ciuman-ciuman manis dan cepat.
Cup! Cup! Cup!
Dahi, hidung, pipi, sampai bibir Langit tak luput dari serangan cinta itu.
Langit pun tertawa lebar tertawa geli dan bahagia, tangannya mengunci pinggang gadis itu sambil berguling-guling di atas kasur karena dimanja begitu manis oleh kekasihnya.
Segera setelah bersiap dan berpakaian rapi, keduanya langsung meluncur menuju garasi rumah.
Mobil hitam mewah dengan desain sporty dan elegan sudah menunggu. Ini bukan mobil dinas atau mobil operasional biasa. Mobil ini memang khusus dibeli oleh Langit sejak lama, saat ia ingin merasakan sensasi berkendara sendiri, bebas, tanpa harus ditemani oleh Charlie atau barisan pengawal yang biasanya mengiringi ke mana pun ia pergi.
Hari ini, mobil itu menjadi saksi perjalanan kecil mereka berdua saja.
Mobil pun melaju pelan keluar dari gerbang rumah utama, membawa mereka menuju tempat yang menyimpan kenangan lama Gadis, dengan hati yang ringan dan suasana yang sangat romantis.
Perjalanan terasa sangat singkat. Beruntung hari ini adalah akhir pekan dan jalanan jauh lebih lengang dibanding hari kerja, sehingga mobil hitam itu pun dengan cepat sampai di tujuan.
Mereka berhenti tepat di depan sebuah bangunan tua yang tampak kumuh dan sempit. Itulah kos-kosan lama tempat Gadis dulu tinggal, tempat di mana ia melepas penat setelah lelah berkuliah dan bekerja keras mencari nafkah sendiri.
Langit menatap bangunan reyot itu dengan tatapan tak suka dan penuh rasa miris.
"Jadi selama ini wanitaku hidup di tempat kayak gini?" batinnya perih. "Sempit, kumuh, dan pasti tidak nyaman. Dia bisa bertahan tidur di sini sendirian..."
Meski hatinya merasa enggan dan ragu, serta merasa tempat ini jauh di bawah standar kenyamanan, demi memenuhi permintaan Gadis ia tetap mengikuti langkah wanita itu masuk ke dalam.
Kreeeek...
Pintu kayu tua itu didorong terbuka perlahan.
Seketika udara pengap, bau apek, lembab, serta debu-debu halus langsung menyambut penciuman mereka. Suasana di dalam gelap dan pengap.
Gadis langsung mengarahkan pandangannya ke atas lemari tua yang berdiri di sudut ruangan. Ia ingat betul, saat ia pergi dulu ia melempar tas itu sembarangan ke atas sana.
Dan benar saja! Tas tua peninggalan ibunya itu masih tergeletak aman di sana, tertutup sedikit debu.
"Sayang..." panggil Gadis lembut sambil menunjuk ke atas. "Bisa tolong ambilin tas yang ada di atas lemari itu?"
Meskipun tinggi lemari itu sebenarnya tidak terlalu jauh melampaui tinggi badan Langit, tapi ia dengan mudahnya mengulurkan tangannya.
Hanya dengan sekali gerakan, tangan panjang pria itu meraba dan langsung berhasil menggapai tali tas tersebut. Tanpa perlu berjinjit atau mengambil kursi, dengan sangat mudah ia menurunkan benda berharga itu ke tangannya.
"Ini yang kamu maksud?" tanya Langit sambil menepuk-nepuk pelan tas itu untuk membersihkan debunya.
Gadis mengangguk sangat antusias, senyum lebar terukir di wajahnya melihat tas itu sudah bersih dari debu dan berada di tangan Langit.
Setelah memastikan tidak ada lagi debu yang menempel pada benda tua itu, Langit pun menyerahkannya..
Gadis duduk di tepi kasur sempit itu, lalu dengan penuh rasa ingin tahu dan hati-hati ia membuka resleting tas tersebut. Ia ingin memastikan bahwa semua isinya masih utuh dan tidak ada yang hilang atau dicuri selama ia pergi.
Matanya menelusuri isi di dalamnya.
Ya! Semuanya masih ada!
Segepok uang, dua surat penting dari mendiang ibu Sila dan surat dari ibu kandungnya.
Namun, yang paling menarik perhatian dan menjadi alasan utama ia mengambil tas ini adalah sebuah kalung.
Di liontin kalung itu terukir jelas nama WIGUNA.
Itu adalah bukti identitas, jejak dari mana ia berasal, dan kenangan berharga dari ibunya yang sudah tiada.
Hati Gadis berdebar kencang, ia takut Langit melihat dan bertanya-tanya. Segera setelah memastikan semuanya aman, tangan mungil itu langsung menutup resleting tas itu dengan cepat dan menguncinya rapat-rapat seolah menyembunyikan rahasia besar di dalamnya.
"Ayo Sayang... kita sudah selesai," ajak Gadis berdiri cepat, wajahnya berusaha terlihat tenang meski jantungnya berdegup kencang.
Langit mengangguk singkat, lalu tanpa membuang waktu ia langsung menggandeng tangan mungil Gadis erat-erat. Ia ingin segera membawa wanita itu keluar dari tempat yang sempit, kumuh, dan menurutnya sangat tidak layak untuk ditinggali itu.
Langkah mereka cepat berjalan melewati lorong sempit menuju jalan utama.
Sesampainya di luar, keduanya langsung masuk ke dalam mobil hitam yang dingin dan mewah itu, seolah kembali ke dunia mereka yang nyaman dan aman.
Pintu mobil ditutup rapat, memisahkan mereka seketika dari bau apek dan debu di luar.
Tanpa menunggu lama, ia pun langsung menyalakan mesin dan menginjak gas, membawa mereka menjauh dari kawasan itu secepat kilat, meninggalkan kenangan pahit dan jejak masa lalu Gadis jauh di belakang mereka.
Di seberang jalan, tersembunyi di balik kaca film gelap, sebuah mobil mewah berhenti diam.
Di dalamnya, mata Bella tak lepas memandang mobil hitam yang baru saja melaju pergi meninggalkan kawasan kumuh itu. Wajahnya masam penuh rasa tidak suka dan cemburu yang membara.
"Jadi kamu dan Langit masih baik-baik saja... masih mesra-mesra saja?" gumamnya pelan dengan nada penuh kebencian.
Tangannya mencengkeram setir mobil hingga buku-buku jarinya memutih.
"Oke... kamu tunggu saja. Pembalasanku akan segera datang, Gadis!" bisiknya penuh ancaman.
Sebenarnya Bella awalnya hanya kebetulan berada di daerah itu saat ingin pergi berbelanja. Tapi matanya begitu tajam dan sangat mengenali mobil kesayangan Langit yang jarang digunakan itu.
Tanpa pikir panjang, ia pun memutuskan untuk mengikuti jejak mereka. Ia ingin tahu kemana Langit pergi sendirian tanpa pengawal.
Namun, ia sama sekali tidak menyangka bahwa di dalam mobil itu, Langit bersama Gadis.
Apa yang akan dilakukan oleh Bella?