Ah, sialan!
Liga berusaha tetap terlihat biasa saja walau kenyataannya perasaannya sangat gugup sekarang. "Aku hanya mengunjunginya saja dan tidak melakukan apapun. Tapi di--"
"Mengunjungi?" Mafia menyela, menatap Liga cukup intens, membuat ucapan Liga terhenti dan berganti anggukan.
"Iya. Aku hanya ingin mengunjunginya saja. Tap--"
"Sejak kapan kamu suka mengujungi tahanan?" sela Mafia lagi yang tanpa diketahui berhasil membuat jantung Liga berdebar kencang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taurus girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Haru memanggil petugas medis untuk datang kerumah. Selama pemeriksaan pada wanita yang tadi Kasim temukan, semua orang tidak boleh ada yang masuk atau mengganggu. Setelah beberapa menit memeriksa pasiennya, dokter keluar dari kamar yang biasanya dipakai untuk tamu.
Semua orang mendekat melihat dokter sudah keluar, "Bagaimana keadaannya dok?" tanya bibik harap harap cemas. dia juga ingin tahu siapa wanita itu. apakah nona vair atau bukan.
"Pasien sudah sadar dan butuh istirahat yang penuh. Banyak benturan dikepala dan tubuhnya jadi ada beberapa bagian tulang yang harus disembuhkan. Namun untungnya bagian kepala tidak terjadi apa apa, hanya mengakibatkan pusing biasa. Nanti juga beransur ansur membaik. asal obat diminum rutin sampai habis,"
"Oh baik dok."
"Obat sudah saya taruh diatas nakas kamar ya, kalau begitu saya permisi."
"Silakan dok,"
Haru mengantar dokter sampai depan. Setelah dokter pergi Haru kembali masuk kedalam runah dan masuk kedalam kamar untuk melihat keadaan nona.
Disana sudah ada bibik dan Kasim. Mereka terlihat sedang memberi makan bubur sumsum dengan bibik yang menyuapinya. Kasim membantunya membuka obat yang siap diminum sehabis makan bubur itu.
Kasim melakukan itu karena ingin menebus rasa bersalahnya. Tapi sebentar, mereka semua belum bertanya siapa wanita itu, wajahnya beda. bukan seperti nona vair.
"Maaf nona. Saya tidak bermaksud lancang tapi saya ingin kepastian,"
Wanita itu menoleh. Menatap Kasim dengan tatapan lelah dan tak berdaya. Terlihat jika dia memang sedang tidak baik baik saja. "A-ad-dda ap-pa Kasim?"
Semua orang terkejut karena wanita itu mengenali Kasim. "Nona tahu nama saya?" menunjuk dada dengan telunjukanya kedua mata menatap nona itu dengan lekat.
Dia mengangguk. "Kita baru saja berpisah selama beberapa jam. Masa kamu sudah lupa padaku, aku Vair..."
"HAH...?! NONA VAIR...?!" Mereka semua terkejut, tercengang, bahkan tidak peraya sama sekali jika dia adalah nona Vair yang mereka semua cari.
"Kalau anda nona vair kenapa wajahnya berbeda? Kamu coba menipu kami?" ini Haru yang yang berbicara. bertanya karena memiliki filling tidak baik. Bagaimana bisa wajah seseorang bisa berubah secepat itu, bisa berubah hanya dalam hitungan jam.
Vair menghela, membuang napas lelah, kesal, dan sakit disekujur tubuhnya. "Kalau nggak percaya yasudah. Dimana Mafia? Kenapa dia nggak ada disini? Apa dia nggak peduli sama aku?"
Jahat sekali jika Mafia tidak melihatnya yang sakit seperti ini bahkan tulang tulang ada yang sampai sedikit tergeser karena benturan kasar dipohon dan bebatuan. Untungnya Vair masih bisa bertahan dan dia juga beruntung karena tersangkut dipohon besar yang entah apa namanya, Vair juga tidak tahu. Hanya saja wajahnya yang tergores benda benda tajam dia tidak bisa melindunginya. Rasanya sangat sakit sekarang.
Vair butuh seseorang untuk memeluknya. Tadi dia kira dia sudah akan mati karena jatuh dari ketinggian. Bahkan dia mengakui jika dia mencintai Mafia. Dia bersumpah akan menerima cinta yang Mafia katakan selama ini dan akan menikah dengan Mafia jika dia bisa kembali dengan selamat.
Tapi disaat dia sudah bersumpah, mulai membuka hatinya, kenapa Mafia tidak ada disampingnya? apa dia benar benar sudah tidak lagi cinta padanya? Sungguh, Vair benar benar ingin ketemu Mafia sekarang. Dia ingin segera menyatakan cintanya yang selama ini baru dia sadari jika telah jatuh cinta pada Mafia, sosok lelaki yang kejam tapi penuh cinta untuknya.
"Dia belum kembali mencari Anda Nona," bibik yang menjawab sambil mengusap bubur yang belepotan disudut bibir Vair.
"Cepat cari dia dan bilang kalo aku sudah kembali. Ada satu hal yang ingin aku katakan padanya," Vair menatap Haru dan Kasim bergantian.
Mereka berdua mengangguk. "Siap Nona kami akan mencari tuan Mafia dan mempertemukannya dengan Anda, permisi..."
Vair mengangguk. "Hati hati kalian berdua..."
Kasim dan Haru segera pergi dari rrumah dan mencari tuan Mafia kelokasi yang tadi. Mereka mencari jalan pintas yang bisa mereka lalui untuk menuju kedasar jurang, siapa tahu tuan mafia ada disana. Tapi kemungkinan besar memang disana. Kalau tidak disana dimana lagi tuan berada. tidak mungkin juga jika tuan mafia mencari di tempat lain yang tidak ada hubungannya dengan tempat ini. Mengingat tuan mafia begitu cerdas dan pintar.
"Tuaaaannnnn....!"
"Tuan dimanaaaa.....!"
"Tuan Mafiaaaa....!"
"Ayo kembaliiiii....! Nona Vair sudah ketemuuu....!"
Suara teriakan Kasim dan Haru terdengar bersahut sahutan. Suaranya yang keras sampai terdengar pada Mafia yang kini sudah menggigil diatas bebatuan. Hawa dingin yang semakin menusuk, lapar yang datang, dan pikiran yang penuh membuat kesehatannya menurun. Sepertinya demam sudah menyerang pria perkasa ini.
"Itu ada suara seseorang, siapa dia? apakah dia Vair?" suaranya sangat lirih karena kesadarannya mulai menipis. Kepalanya yangg pusing sangat mengganggunya.
"Tuaaaaannnnn....!"
"Tuan dimanaaaaa....!"
"Kembalilaaaaahhhh.... Nona sudah kembaliiii....."
Lagi lagi suara itu terdengar dan terasa semakin jelas ditelinga Mafia. Samar samar Mafia juga mengenali suara itu. Mafia mencoba berdiri dan ingin menemukan dimana suara itu. Tapi kakinya terlalu lemas dan tidak kuat untuk sekedar berdiri.
"Vaiiiiirrrrr.....aku disiniiii....!"
Mafia teriak dengan sangat kencang, sekuat tenaganya. Tapi, yang keluar hanya gumaman. Mafia menghela, dia pasrah, tubuhnya semakin tidak nyaman dan tidak bertenaga. Mafia mencoba lagi untuk berdiri, kai ini dia mencari tumpuan dan menemukan ranting kering untuk dia jadikan tongkat penyangga biar bisa jalan.
"Tuaaaaannnnn....!"
"Tuan dimanaaaa....ini aku Haruuu..."
"Tuaaaannnn,"
Haru dan Kasim bergantian memanggil sang tuan. Tapi mereka belum mendapat sahutan balasan apapun. Kemana tuan Mafia sekarang?"
"Sim, kita kearah sungai itu yuk, aku haus. Nggak ada salahnya minum seteguk saja," Haru merasa tenggorokannya kering dia tak tahan lagi jika menunggu sampai pulang kerumah.
"Yasudah, ayuk. Aku juga ingin minum," Kasim pun menuruti keinginan Haru. Namun sebelum sampai sungai dia menemukan sseseorang yang terjatuh ditanah.
Kasim menarik pakaian Haru. "Ru, itu ada orang,"
"Mana?"
"Itu..."
"Ayo kita kesana, siapa tahu dia tuan Mafia..."
Mafia yang tadi sudah senang karena mendapatkan tongkat untuk berjalan merasa putus asa. Tetap kakinya tidak bisa digerakan saking lemasnya. Alhasil dia terjatuh ketanah namun matamya menangkap orang yang dia kenal dari siluet tubuhnya.
"Haru Kasim...!" teriak tapi hanya gumaman kecil yang keluar. Tapi orang itu mendekat seolah mereka tadi dengar teriakannya. Mafia tersenyum.
"Tuan Mafia..."
"Akhirnya kita menemukan tuan Mafia." ucap Kasim pada Haru. Mereka berdua memapah Mafia untuk segera pergi dari sana.
"Tuan, nona Vair sudah kembali. Tuan harus segera menyatakan cinta dan menikah dengannya sebelum nona kembali ilang ilangan," seru Haru. Membuat mafia menoleh cepat.
"Tuan nggak perlu kaget begitu. Kami sudah tahu semuanya kalau nona dan tuan saling mencintai,"
Mafia tersenyum dan berjanji akan segera menikahi Vair.
.
.
.
.
.
.
.
END