sequel: terpaksa menikah adik tiri × bayi rahasia idola kampus
Axelle Aididev Atharic adalah definisi masalah berjalan di SMA Galaksi. Nakal, keras kepala, dan anti diatur. Hidupnya yang bebas mendadak jungkir balik saat sebuah kecelakaan konyol memaksanya terjebak dalam nikah kilat dengan Rea Zelene Xavandra, cewek paling ambisius dan kaku di sekolah.
Dua kutub utara dan selatan harus tinggal di bawah satu atap yang sama. Bagi Axelle Aididev Atharic, ini adalah penjara. Tapi bagi sang istri, Rea Zelene Xavandra, Axelle adalah rahasia terbesar yang harus ia sembunyikan rapat-rapat demi reputasinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
..
..
setiba nya di apartemen Rea langsung menuju dapur untuk mengambil air minum, sementara Axelle melemparkan tasnya ke sofa dan menyalakan televisi besar di ruang tengah.
Rea keluar dari dapur, berdiri di ambang pintu menuju ruang tengah. "Axelle, kita harus bicara."
Axelle menoleh malas. "Bicara apa lagi? lo laper, pesen aja makanan sana."
"Bukan soal makanan! Soal aturan di sini," Rea mendekat, wajahnya serius khas Ketua OSIS. "Pertama, jangan pernah ngelakuin hal konyol kayak tadi di sekolah lagi. Gue nggak mau orang-orang curiga karena tingkah aneh lo. Kedua, jangan pernah masuk ke kamar gue tanpa izin. Dan ketiga..."
Rea ragu sejenak, melihat Axelle yang kini menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Apa yang ketiga?" tantang Axelle.
"Berhenti bersikap seolah-olah lo... cemburu," ucap Rea pelan.
Axelle tertawa pendek, tawa yang terdengar mengejek. Dia berdiri dari sofa, berjalan mendekati Rea yang otomatis mundur satu langkah. "Gue? Cemburu sama si wakil ketos itu? Mimpi lo ketinggian, Xavandra."
Axelle melewati Rea begitu saja menuju kamarnya (yang sekarang jadi kamar Rea).
"Gue mau mandi. Beresin barang-barang lo yang berantakan di meja belajar gue. Gue nggak suka meja gue penuh sama kertas olimpiade nggak berguna itu."
Rea menghentakkan kakinya kesal. "Itu berguna buat masa depan gue, Axelle!"
"Masa depan lo sekarang ada di sini, bareng gue. Biasain diri lo," sahut Axelle dari dalam kamar sebelum menutup pintu dengan suara blam yang cukup keras.
Perut Rea berbunyi nyaring, mengalahkan suara rintik hujan yang kembali membasahi kaca apartemen. Sejak sore tadi dia mogok makan karena kesal pada Axelle, dan sekarang lambungnya berdemo hebat. Dengan langkah berjinjit agar tidak membangunkan Axelle yang (seharusnya) tidur di sofa, Rea menyelinap ke dapur.
"Sial, cuma ada mie instan cup," gumam Rea kecewa saat membuka lemari kabinet.
Rea mulai merebus air. Namun, saat dia berbalik untuk mengambil garpu, dia hampir saja berteriak kalau sebuah tangan besar tidak membekap mulutnya dengan cepat.
"Berisik, Xavandra. Mau bangunin tetangga?" bisik suara serak khas orang bangun tidur.
Axelle berdiri di sana, rambutnya acak-acakannya berantakan, hanya mengenakan kaos dalam putih yang memperlihatkan lekuk otot lengannya. Dia melepaskan bekapannya, membuat Rea terengah-engah.
"Lo ngapain sih? Kayak hantu tahu nggak!" omel Rea pelan.
Axelle mengabaikan omelan itu dan melirik panci air yang mulai mendidih. "Laper juga kan lo? Sok-sokan diet tadi sore. Bikin dua, gue juga laper."
"Bikin sendiri! Gue bukan pelayan lo," tolak Rea ketus.
Axelle menyeringai, dia mendekat hingga Rea terdesak ke pinggiran meja dapur. "Inget kata nyokap lo? 'Layanilah suami dengan baik'. Mau gue laporin kalau lo istri durhaka?"
Rea mendengus kasar, tapi tetap mengambil satu cup mie lagi. Mereka akhirnya duduk bersisian di kursi bar dapur, menunggu mie matang dengan aroma gurih yang mulai memenuhi ruangan. Suasana yang biasanya penuh urat syaraf, mendadak jadi agak... tenang.
"Kenapa lo ambisius banget sih, Re? Hidup lo kayaknya isinya cuma angka, piala, sama aturan," tanya Axelle tiba-tiba sambil mengaduk mienya.
Rea terdiam sebentar, menatap uap panas yang mengepul. "Karena bagi Papa, nilai sembilan itu kegagalan. Gue nggak punya pilihan selain jadi yang pertama kalau nggak mau denger ceramah soal 'martabat keluarga' sepanjang hari."
Rea melirik Axelle. "Kalau lo? Kenapa hobi banget cari masalah? denger denger Daddy lo itu legenda di kampusnya dulu, Mommy lo juga pinter. Kenapa lo nggak ikutin jejak mereka?"
Axelle tertawa hambar, matanya menatap kosong ke arah jendela. "Gue benci dibanding-bandingin. Dari kecil, orang selalu liat gue sebagai 'Anak Elgard Atharic'. Mereka berekspektasi gue jadi versi sempurna dari bokap gue." tapi axelle tidak akan tau sebadung apa elgard waktu muda, sebadung badung nya axelle masih ada di atas nya El, nakal nya berkelas mainnya di tempat laknat, bedanya el tau aturan dan yang paling penting el anak yang penurut.
"Ternyata hidup kita sama-sama menyedihkan ya, Xel," gumam Rea tanpa sadar.
Axelle menoleh, menatap Rea dengan intens. "Nggak juga. Seenggaknya sekarang gue punya temen senasib di rumah ini."
Tiba-tiba... PET!
Lampu apartemen mati total. Gelap gulita menyelimuti seluruh ruangan. Rea yang memang punya trauma kecil terhadap gelap refleks menjerit pelan dan memeluk lengan Axelle yang berada di sampingnya.
"Axelle! Mati lampu!" pekik Rea panik, wajahnya tenggelam di bahu Axelle.
Axelle membeku. Dia bisa merasakan detak jantung Rea yang cepat dan wangi rambut Rea yang menenangkan. Bukannya melepaskan, Axelle malah melingkarkan tangannya di bahu Rea, menarik cewek itu lebih dekat ke dadanya.
"Tenang, Xavandra.ini Cuma pemadaman. Gue di sini," bisik Axelle lembut. Suaranya nggak lagi menjengkelkan, tapi terdengar sangat melindungi.
Di kegelapan itu, Rea merasa aman. Untuk sejenak, dia lupa kalau cowok yang sedang dia peluk erat ini adalah musuh bebuyutannya di sekolah. Dia hanya merasakan kehangatan yang perlahan mulai mencairkan dinding es di antara mereka.
Sinar matahari pagi Bandung menembus kaca balkon, menyinari dua remaja yang terbangun dengan posisi canggung. Rea mengerjap, baru sadar kalau kepalanya masih bersandar di bahu Axelle di atas sofa ruang tengah.
"Sudah puas peluk-peluknya, Ketos?" suara berat Axelle langsung bikin Rea loncat berdiri.
"Gue... gue cuma takut gelap! Jangan geer!" Rea buru-buru merapikan rambutnya yang berantakan, wajahnya merah padam sampai ke telinga.
Axelle cuma menyeringai, dia bangkit dan meregangkan tubuhnya yang tinggi. "Mandi sana. Bau mie instan lo nempel di kaos gue."
Rea mendengus, tapi langkahnya terhenti saat melihat setumpuk kertas soal Fisika Olimpiade miliknya di atas meja bar. Ada coretan pulpen hitam yang sangat rapi di sana. "ini lo yang ngerjain? " tanya rea gak percaya, dia aja sampe pusing ngerjain tugas itu semalam
Axelle yang lagi minum air mineral cuma melirik sekilas. "Cuma logika dasar, Xavandra. Lo kelamaan mikir rumus, makanya otaknya konslet."
"Tapi... nilai rapor lo selalu merah, Axelle! Lo bahkan hampir nggak naik kelas!" Rea menatap Axelle seolah cowok itu alien.
"Gue males, nilai itu gak penting bagi gue?" Axelle meletakkan botolnya dengan bunyi duk. "Gue pinter karena gen, bukan karena pengen dapet pujian Papa. Paham?" ucap axelle dengan sindiran yang meremehkan rea
Rea tertegun. Jadi selama ini, troublemaker nomor satu SMA Galaksi ini sebenernya adalah jenius yang menyamar jadi sampah sekolah?
wah udah kayak dracin, CEO yang menyamar jadi rakyat jelata dong. Rea menatap axelle dengan pandangan yang sulit diartikan
valery di lawan singa betina nya xander lo 🤣🤣🤣🤣
gemes jadi nya🤣🤣🤣🤣
rea keceplosan 🤣🤣🤣
semngat thor
tapi aku suka terimakasih kk author 😘😘
ceritanya hampir mirim kyk kisah hidup ku , axelle adalah aku si manusia kesepian yang terabaykan😭😭😭😭
jd curhat kan aku , btw makasih kk author 😘😘😘
kasian bgt my bad boy
cepet sadar ready
cepet bucin
cepet ada junior kalian
wkwkwkwkww
biar author pusing🥳🥳
tapi percaya sih , semua di bawah kendali kk author, ya ikuti alur nya aja , walau baca nya sambil nangis😭😭
rea pinter ngeles nye yeee🤣🤣
kak up 2 dong kepo sama yg ini😁😁😁