NovelToon NovelToon
SETELAH AKU MATI DIMATA ANAKKU

SETELAH AKU MATI DIMATA ANAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

Aisha Prameswari adalah seorang ibu rumah tangga yang kehidupannya sempurna Dimata dunia.ia memiliki suami ideal Arka Dirgantara,seorang arsitek ternama dan seorang putra semata wayang,baskara,yang ia cintai lebih dari hidupnya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Pertarungan Terakhir di Rumah Tua

Aisha tidak sempat menutup pintu kamar Baskara. Tubuhnya terhempas ke samping ketika Mia mendorongnya dengan bahu. Linggis di tangan wanita itu berayun, menghantam gagang pintu kayu hingga retak.

“BASKARA! LARI!” teriak Aisha sekencang-kencangnya.

Di dalam kamar, terdengar suara Baskara terbangun. “Bu? Ada apa?”

“LARI KE BELAKANG, NAK! CEPAT!”

Mia membanting pintu hingga terbuka lebar. Baskara berdiri di tepi tempat tidur, mata terbelalak melihat bibinya yang tidak pernah ia kenal dengan linggis di tangan. Anak itu berteriak, lalu berlari ke arah jendela.

“Jangan lari, keponakanku!” teriak Mia, melangkah masuk.

Tapi sebelum Mia mencapai Baskara, Arka sudah menerjang dari belakang. Tubuhnya yang masih lemah karena gegar otak bertabrakan dengan tubuh Mia, membuat wanita itu terhuyung. Linggis di tangannya jatuh, berguling ke bawah tempat tidur.

“Arka, jangan!” teriak Aisha.

Tapi Arka sudah memeluk Mia dari belakang, mengunci kedua tangannya. “LARI, BASKARA! SEKARANG!”

Baskara membuka jendela dengan tangan kirinya yang sehat. Dengan susah payah, ia memanjat keluar, jatuh ke semak-semak di halaman belakang. Aisha mendengar tangis anak itu dari luar, tapi ia tidak bisa mengejar. Ia harus membantu Arka.

Mia mengamuk. Ia membantingkan kepala ke belakang, mengenai hidung Arka. Darah muncrat dari hidung pria itu, tapi ia tidak melepaskan cengkeramannya.

“LEPASKAN AKU, ARKA! ATAU AKU BUNUH KALIAN SEMUA!”

“Aku tidak akan lepaskan kau, Mia! Aku sudah terlalu lama melepaskan! Sekarang aku akan hadapi kau!”

Aisha berlari ke dapur, mengambil seutas tali rafia yang tergantung di dinding. Ia kembali ke ruang tamu, membantu Arka mengikat tangan Mia. Wanita itu memberontak, mencakar, menendang. Tapi Arka dan Aisha bekerja sama, akhirnya berhasil mengikat kedua tangan Mia ke tiang penyangga di tengah ruangan.

Mia terisak, bukan karena sakit, tapi karena amarah. “Kalian berdua... kalian berdua tidak akan pernah mengerti... apa yang aku alami...”

“Kami ingin mengerti, Mia,” kata Aisha, berlutut di hadapan wanita itu. “Tapi tidak dengan cara ini. Tidak dengan mengancam anak kecil.”

Mia menatap Aisha dengan mata berkaca-kaca. “Kau tidak tahu rasanya dirampas segalanya. Dijual, diperkosa, disiksa, dan kakak kandungmu sendiri membiarkannya terjadi.”

Arka menunduk. Wajahnya pucat, darah masih mengalir dari hidungnya. “Aku tahu aku salah, Mia. Aku tahu kata maaf tidak cukup. Tapi aku di sini sekarang. Aku tidak akan lari lagi. Aku akan memastikan kau mendapatkan keadilan.”

“Keadilan? Apa kau bisa mengembalikan masa kecilku? Apa kau bisa menghilangkan mimpi burukku setiap malam?”

Arka tidak bisa menjawab. Aisha meraih tangan Mia yang terikat, menatap matanya.

“Mia, aku juga pernah melakukan kesalahan besar. Aku berselingkuh dari suamiku. Aku menghancurkan kepercayaan anakku. Aku tahu rasanya menyesal setiap detik, setiap napas. Tapi menyesal saja tidak cukup. Kita harus berubah. Kita harus memperbaiki apa yang bisa diperbaiki.”

Mia menangis. Tangisnya pecah, keras, seperti tangisan yang tertahan selama bertahun-tahun. Aisha membiarkannya menangis. Arka juga.

Di luar, Baskara masih menangis di balik semak-semak. Aisha ingin keluar, menenangkan anaknya, tapi ia tidak bisa meninggalkan Mia.

“Baskara! Nak, Ibu di sini! Ibu baik-baik saja! Kamu diam di sana, jangan ke mana-mana!” teriak Aisha.

“Bu, aku takut!” balas Baskara dari luar.

“Tidak usah takut, Nak! Ibu sudah pegang orang jahatnya!”

---

Beberapa menit kemudian, sirene polisi terdengar dari kejauhan. Aisha menghela napas lega. Ia sudah menelepon polisi sebelum Mia masuk ke rumah. Petugas yang dulu menangani kasus Arka langsung merespons.

Dua mobil polisi berhenti di depan rumah. Empat petugas bersenjata keluar, memasuki rumah dengan hati-hati.

“Semuanya aman,” kata Aisha, tangannya masih memegang tali yang mengikat Mia. “Ini pelakunya. Mia—nama lengkapnya Mia Dirgantara. Dia yang membakar vila di Bali dan menyebabkan kecelakaan mobil.”

Polisi itu mengangguk, melepaskan ikatan Mia dan menggantinya dengan borgol. Mia tidak melawan. Matanya kosong, menatap lantai.

“Kakak,” bisik Mia ketika polisi membawanya keluar. “Aku tidak benci Baskara. Aku tidak pernah benci dia.”

Arka mengangguk, air matanya jatuh. “Aku tahu, Mia. Aku tahu.”

---

Setelah Mia dibawa ke mobil polisi, Aisha berlari ke halaman belakang. Baskara masih duduk di semak-semak, tubuhnya gemetar, wajahnya basah oleh air mata dan embun malam.

“Nak, Ibu di sini. Ibu di sini.” Aisha memeluk anaknya erat-erat. Baskara terisak di bahu ibunya, tangannya yang sehat memegangi baju Aisha seolah takut ibunya akan lenyap.

“Bu, aku takut banget. Waktu pintu kamar dibanting, aku kira aku mau mati.”

“Tidak, Nak. Ibu tidak akan biarkan siapa pun menyakitimu. Ibu janji.”

Arka keluar, berjalan tertatih mendekati mereka. Baskara melepaskan pelukan Aisha dan memeluk ayahnya.

“Ayah, ayah berdarah.”

“Tidak apa-apa, Nak. Ayah tidak sakit. Ayah senang kamu selamat.”

Mereka bertiga berpelukan di halaman rumah tua itu, di bawah sinar rembulan yang tersembunyi di balik awan. Rumah yang dulu menjadi saksi kebahagiaan mereka, kini menjadi saksi bagaimana mereka bertahan dari badai.

---

Polisi meminta mereka untuk memberikan keterangan di kantor polisi. Aisha, Arka, dan Baskara dibawa ke Polres Jakarta Selatan. Baskara diberikan selimut dan secangkir cokelat hangat oleh petugas wanita yang baik hati.

Aisha menceritakan semuanya—dari awal mula perselingkuhannya dengan Ren, hingga kejadian malam ini. Ia tidak menyembunyikan apa pun. Ia sudah lelah berbohong.

Arka juga menceritakan masa lalunya dengan Mia, tentang keluarga angkatnya yang kejam, tentang bagaimana ia membiarkan adiknya menderita selama bertahun-tahun.

Polisi mendengarkan dengan saksama. Mereka merekam semuanya sebagai bukti.

“Kami akan memproses kasus ini,” kata petugas senior. “Untuk Mia, dia akan menjalani pemeriksaan psikologis. Untuk keluarga angkat Bapak, kami akan panggil mereka untuk dimintai keterangan.”

Arka mengangguk. “Saya siap jadi saksi. Saya siap hadapi konsekuensinya.”

---

Pukul tiga pagi, mereka diizinkan pulang. Tapi tidak ke rumah lama di permata hijau—Aisha tidak tega membawa Baskara kembali ke tempat yang penuh teror. Mereka pergi ke apartemen Arka, tempat yang paling aman untuk sementara waktu.

Baskara sudah tertidur di kursi belakang. Aisha duduk di sampingnya, tangannya masih memegang tangan anak itu. Arka mengemudi, sesekali menatap mereka melalui spion tengah.

Di apartemen, Aisha membaringkan Baskara di kamar Arka. Anak itu terbangun sebentar, meraih tangan Aisha.

“Bu, jangan pergi.”

“Ibu tidak pergi, Nak. Ibu di sini.”

“Ibu tidur di sini, ya? Samping aku.”

Aisha menatap Arka yang berdiri di pintu. Arka mengangguk.

“Ibu tidur di sini, Nak. Sekarang tutup mata.”

Baskara tersenyum kecil, lalu memejamkan mata. Dalam beberapa menit, napasnya teratur. Ia tertidur.

Aisha duduk di tepi tempat tidur, masih memegang tangan Baskara. Arka masuk, duduk di kursi di samping lemari.

“Kau tidur saja, Aisha. Aku yang jaga.”

“Kau juga butuh istirahat. Kau masih sakit.”

“Aku tidak bisa tidur. Setiap kali pejamkan mata, aku lihat Mia. Wajahnya, tangisannya.”

Aisha menghela napas. “Kita sama.”

Mereka berdua terdiam, ditemani suara detak jam dinding dan napas Baskara yang teratur.

---

Pagi harinya, Aisha bangun dengan leher kaku. Ia tidak ingat kapan tertidur—mungkin saat fajar mulai menyingsing. Baskara masih tidur di sampingnya, tangannya masih menggenggam tangan Aisha.

Arka tidak ada di kamar. Aisha beranjak, berjalan ke ruang tamu. Arka berdiri di balkon, memegang secangkir kopi, menatap langit Jakarta yang kelabu.

“Kau tidak tidur sama sekali?” tanya Aisha.

“Aku tidak bisa. Aku menelepon Tono. Dia sudah sadar. Dia bilang Mia sempat mengancamnya di rumah sakit, tapi polisi cepat datang.”

“Syukurlah Tono baik-baik saja.”

Arka menoleh. Matanya merah, tapi tidak ada lagi kepanikan di sana. “Aisha, aku sudah bicara dengan pengacaraku. Aku akan menyerahkan diri hari ini.”

Aisha terkejut. “Menyerahkan diri? Untuk apa?”

“Untuk kasus Mia. Aku telah menyembunyikan keberadaan adikku selama bertahun-tahun. Aku telah membiarkannya menderita. Itu bisa dijerat dengan pasal tentang penghilangan orang atau kekerasan dalam rumah tangga.”

“Tapi kau bukan pelaku utama. Keluarga angkatmulah yang—”

“Tapi aku diam, Aisha. Diam adalah bentuk persetujuan. Aku tidak akan lari dari tanggung jawab lagi.”

Aisha berjalan mendekat. Ia meraih tangan Arka. “Aku akan mendukungmu. Apa pun yang terjadi, kita hadapi bersama.”

Arka menatapnya lama. “Kenapa kau masih ada di sini, Aisha? Setelah semua yang terjadi, setelah aku berbohong tentang Mia, setelah kau sendiri berselingkuh... kenapa kau tidak pergi?”

Aisha tersenyum pahit. “Karena aku sudah lelah lari. Aku sudah lelah menyalahkan orang lain. Aku sudah lelah menjadi korban dalam ceritaku sendiri. Aku di sini karena aku memilih untuk di sini. Bukan karena kau, bukan karena Baskara. Tapi karena aku.”

Arka mengangguk. “Aku juga memilih untuk berubah. Mungkin sudah terlambat untuk Mia, tapi tidak untuk Baskara. Aku ingin menjadi ayah yang pantas untuknya.”

Mereka berdiri di balkon, menatap langit yang mulai cerah. Badai mungkin belum sepenuhnya berlalu, tapi setidaknya ada sedikit cahaya di ujung jalan.

---

Pukul sepuluh pagi, Arka berpamitan pada Baskara. Anak itu menangis, memeluk ayahnya erat-erat meski lengannya masih digips.

“Ayah pergi ke mana? Ayah jangan tinggal aku lagi.”

“Ayah pergi ke kantor polisi, Nak. Ayah harus bicara dengan polisi tentang Bibi Mia. Ayah akan kembali. Ayah janji.”

“Kapan Ayah kembali?”

“Secepatnya. Ibu akan jaga kamu di sini. Kamu dengar kata Ibu, ya?”

Baskara mengangguk, matanya basah. Aisha memeluknya, menenangkannya dengan bisikan lembut.

Arka menatap Aisha sekali lagi. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, tapi semua terasa tidak cukup. Akhirnya ia hanya tersenyum, lalu berjalan keluar.

Aisha berdiri di balkon, melihat mobil Arka melaju perlahan meninggalkan apartemen. Ia tidak tahu kapan Arka akan kembali. Atau apakah ia akan kembali dalam keadaan yang sama.

Tapi ia percaya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia memilih untuk percaya.

---

Sore harinya, saat Aisha dan Baskara sedang makan siang di apartemen, ponsel Aisha berdering. Nomor tidak dikenal.

Ia mengangkat dengan hati-hati. “Halo?”

“Aisha, ini pengacara Arka. Bapak Arka sudah ditahan sementara waktu untuk proses penyelidikan. Tapi ada sesuatu yang harus Ibu ketahui.”

Jantung Aisha berdegup kencang. “Apa?”

“Mia sempat kabur dari tahanan polisi tadi pagi. Kami tidak tahu di mana dia sekarang. Polisi sedang mencari. Tolong jaga diri Ibu dan Baskara. Kami khawatir Mia akan kembali mencari kalian.”

Panggilan terputus. Aisha memegang ponselnya dengan tangan gemetar.

Baskara menatapnya dengan bingung. “Bu, ada apa?”

Aisha berusaha tersenyum, meski hatinya berteriak. “Tidak ada, Nak. Ibu hanya... Ibu hanya perlu ke kamar mandi sebentar.”

Ia berjalan ke kamar mandi, menutup pintu, lalu bersandar di wastafel. Air matanya jatuh tanpa suara.

Mia kabur. Mia akan kembali.

Dan Arka tidak ada di sini untuk melindungi mereka.

Aisha menatap pantulannya di cermin. Wajahnya pucat, matanya sembab, rambutnya kusut. Ia terlihat seperti orang yang kehabisan akal.

Tapi di matanya, ada api kecil yang menyala. Api yang tidak akan padam.

Ia akan melindungi Baskara. Dengan atau tanpa Arka. Dengan atau tanpa polisi.

Ia akan menjadi perisai bagi anaknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!