Setelah 8 tahun mendekam dalam penjara, selama
8 tahun juga tidak pernah ada yang datang menjenguknya. Arlan, pria penuh kuasa yang haus akan balas dendam, tiba-tiba datang menjemputnya.
Bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk menjadikan Adira tawanan dalam ikatan suci pernikahan.
Arlan bersumpah akan menghancurkan hidup Adira hingga ayahnya muncul untuk menyerahkan diri. Dalam istana kemegahan yang dingin, Adira menyadari bahwa "Mahar Kebebasan" yang diberikan Arlan hanyalah awal dari hukuman mati yang berjalan perlahan.
Apakah cinta bisa tumbuh di atas tanah yang disirami kebencian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAH dalam paksaan
SURAT PERJANJIAN PERNIKAHAN
"Maaf, apa-apaan ini? Apa maksudnya?" tanya Adira. Suaranya bergetar karena tak percaya dengan isi surat perjanjian pernikahan yang baru saja ia baca.
"Seperti yang Anda lihat dan baca, ini adalah surat perjanjian pernikahan antara Anda dan Tuan Arlan."
"Tidak!" Adira menolak tegas tanpa berpikir panjang. "Saya tidak bisa menikah dengannya!"
Wira menatap Adira dengan tatapan yang sulit diartikan. Pria itu kemudian berucap pelan, "Apa Anda tidak terpikir, mengapa Tuan menjemput Anda dari penjara?"
Adira terdiam sejenak, pikirannya berkecamuk. "Tuan Arlan bisa membunuh saya jika dia mau, tapi untuk menikah... saya tidak bisa." Wanita itu tetap menolak keras.
"Tujuan utama Tuan bukanlah pernikahan itu sendiri, melainkan Tuan ingin Anda melahirkan seorang anak untuknya."
Mata Adira membelalak; ia semakin terkejut mendengar pernyataan itu.
"Anda tahu pasti kondisi Tuan seperti apa. Beliau tidak sehat; dia cacat setelah mengalami insiden yang tidak disangka-sangka. Banyak orang yang takut padanya karena kekurangan itu. Tuan ingin memiliki keturunan," lanjut Wira.
"Tapi tidak dari saya!" sela Adira cepat. "Saya ini pembunuh adiknya! Mana mungkin saya memberinya keturunan? Ini sangat tidak masuk akal!" Gadis itu segera berdiri setelah mendengar penjelasan Wira, salah satu dari dua asisten kepercayaan Arlan.
"Silakan duduk dulu, Nona. Anda tidak bisa gegabah. Duduk dan tenangkanlah diri Anda sejenak," ujar Wira berusaha meredam suasana.
Adira menarik napas panjang, mencoba mengatur emosi sebelum kembali duduk dengan tegang.
"Anda tahu bahwa Anda telah merenggut nyawa satu-satunya nona muda dari keluarga Erlangga. Apakah Anda berpikir Tuan Arlan akan melepaskan Anda begitu saja?" Wira menatap Adira dengan pandangan tajam yang mengintimidasi.
Adira langsung menangkap maksud tersebut. "Anda mencoba mengancam saya? Anda pikir saya takut? Silakan saja jika Tuan Anda ingin membunuh saya, saya tidak takut. Tapi permintaannya untuk memiliki keturunan... itu sangat tidak masuk akal!"
Tap... tap... tap...
Tiba-tiba terdengar suara langkah sepatu yang beriringan dengan bunyi tongkat yang beradu dengan lantai. Adira membeku; suara itu sangat ia kenali. Itu adalah langkah kaki pria yang mencekiknya di kamar tadi pagi—langkah kaki yang sedikit menyeret dan berat.
Pria itu berdiri tegak di ambang pintu, masih dengan penampilan yang sama; topeng plastik menutupi wajahnya. Ia menggerakkan tangan perlahan, memberikan isyarat agar Wira menjauh.
Wira langsung paham. Ia melangkah mundur dan berdiri tegak di sudut ruangan tanpa berniat keluar. Sementara itu, Adira enggan mengangkat pandangan. Ia tetap menunduk dalam, tak ingin menoleh pada laki-laki yang ia tahu adalah kakak kandung almarhumah sahabat baiknya.
Arlan duduk tepat di hadapan Adira. Ia duduk dengan angkuh, menatap tajam ke arah Adira yang masih enggan menatapnya.
"Kau tidak ingin menikah denganku?" tanya Arlan dengan suara berat penuh ancaman.
Adira meremas kuat sofa yang didudukinya sebelum menjawab singkat, "Tidak." Pandangannya masih menunduk.
"Kenapa?"
"Aku ini pembunuh adik Anda. Apa Anda yakin ingin menikah dengan saya? Bayang-bayang kematian Anisa akan terus menghantui Anda setiap kali melihat saya."
"Justru itu yang aku inginkan," jawab Arlan cepat, membuat suasana semakin mencekam.
Jawaban itu sontak membuat Adira mengangkat pandangan. Di balik topeng yang hanya memperlihatkan sebagian garis bibir, Adira bisa melihat sepasang bola mata cokelat yang menatapnya tajam.
"Jika melihat saya saja sudah cukup mengingatkan Anda pada kesalahan masa lalu... sekarang Anda malah meminta hal yang tidak masuk akal; menyuruh saya melahirkan keturunan. Apa yang sebenarnya ada di pikiran Anda?" cecar Adira.
"Bukankah anak itu nantinya juga akan menjadi bayang-bayang dari saya? Biar bagaimanapun, anak itu adalah darah daging saya—wanita yang telah membunuh adik Anda. Apa Anda sanggup jika nantinya Anda merasa ingin membunuh anak Anda sendiri?" tanya Adira dengan kalimat menusuk.
Tiba-tiba tangan kokoh pria itu mengambil sebuah hiasan kaca yang terletak di atas meja. Pria itu mengangkat hiasan tersebut, dan hanya dalam satu gerakan cepat, Arlan melayangkan benda itu hingga menghantam bahu Adira.
Tak!
Gadis itu merasakan sakit luar biasa. Arlan benar-benar melemparnya dengan hiasan kaca itu hingga hancur berkeping-keping di lantai. Adira memegangi bahunya yang terasa sangat nyeri, seolah-olah tulangnya remuk. Namun, gadis itu tetap tidak meringis. Ia hanya diam dengan wajah datar menatap Arlan, seolah rasa sakit fisik tak lagi berarti baginya.
"Apa karena aku cacat, kau tidak mau menikah denganku?" tanya Arlan dengan nada sangat dingin, menusuk hingga ke tulang.
"Bukan karena itu," jawab Adira tegas, menatap lurus ke arah Arlan. "Tapi saya adalah kesalahan dari masa lalu, dan saya tidak mau jika nanti Anda melukai anak saya. Dosa saya adalah milik saya sendiri."
Adira menarik napas sejenak, suaranya bergetar namun tetap kuat. "Jangan memintaku melahirkan hanya agar nantinya anak itu Anda jadikan sasaran balas dendam. Aku tidak mau. Jika Anda ingin membunuhku, bunuh saja sekarang!"
Ia terdiam sejenak, matanya menatap Arlan tanpa rasa takut. "Aku sudah lama ingin mati. Tapi aku tidak ingin mengakhiri hidupku sendiri karena itu salah. Namun, jika Anda yang melakukannya, setidaknya aku mati bukan karena tanganku sendiri."
Arlan mencondongkan tubuhnya sedikit, lalu seulas senyum sinis terangkat di balik topengnya. "Kau tahu? Justru itu yang membuatku senang melihatmu. Kau ingin mati, tapi tetap dipaksa hidup? Itu adalah kebahagiaan bagiku saat mendengarnya langsung dari mulutmu sendiri."
Arlan menatap Adira dengan dingin. "Aku suka setiap kali melihat kesedihan di matamu. Penderitaanmu adalah kemenangan bagiku," lanjutnya dengan suara rendah yang menusuk.
Adira mencengkeram kuat sofa yang didudukinya, jari-jarinya memutih menahan amarah. Ia menatap Arlan dengan pandangan penuh kebencian. "Kalau memang saya yang menjadi sasaran dendam Anda, biarkan saya sendiri yang menderita! Anda tidak perlu memaksa saya melahirkan dan membuat anak itu ikut menderita nantinya!"
"Apa Anda masih manusia? Jika Anda memaksa saya mengandung, itu adalah anak Anda sendiri! Apa Anda masih waras?!" teriak Adira dengan berani. Rasa takut memang ada, tapi apa lagi yang harus ia takuti di dunia ini? Kehidupannya sendiri sudah jauh lebih mengerikan dari apa pun.
Melihat kemarahan yang menyala-nyala di mata Adira, Arlan kembali tersenyum di balik topengnya tanpa diketahui gadis itu. Pria itu kemudian berdiri, lalu melangkah keluar dari ruangan dengan tenang, meninggalkan Adira yang masih gemetar karena amarah yang menyala.
***
"Saya terima nikah dan kawinnya Adira Anasya binti Santoso dengan mas kawin seperangkat alat salat dibayar tunai."
"SAH!"
Ternyata sekeras apa pun Adira menolak, Arlan tetap memiliki seribu cara untuk memaksanya. Setelah tiga hari penuh drama dan paksaan, akhirnya Adira resmi menjadi istri sah Arlan Erlangga.
Adira yang berada di dalam kamar hanya terduduk diam, mendengar suara ijab kabul yang berkumandang dari ruang utama. Ia harus rela dinikahkan melalui wali hakim karena ayahnya sudah tiada.
Sebenarnya Adira masih memiliki kakak perempuan dan keluarga dari pihak ibunya, termasuk seorang paman. Namun, ia sudah lama sekali tidak melihat mereka; jauh sebelum dijebloskan ke penjara, hubungannya dengan sang paman memang tidak akrab.
Gadis itu tampak termenung; pikirannya melayang pada kejadian dua hari sebelum pernikahan. Ternyata, Arlan menggunakan keberadaan kakaknya sebagai ancaman, hingga akhirnya Adira tak punya pilihan lain selain menyetujui pernikahan paksa tersebut.
ahhh ga berani dia Cemen 🤣🤣
ko aku jadi negatif thinking sana ayah nya dira jangan" ayah lucknat dia" kalau pengorbanan mu Dira kalau ayahmu ayah' durhakim
i hope sih beda orang buka satu orang