NovelToon NovelToon
KAF FA RO

KAF FA RO

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Kutukan / Balas Dendam
Popularitas:543
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Rafiq Al-Farizi adalah pria agamis yang kehilangan segalanya dalam waktu singkat. Ujian itu membuat imannya runtuh.

Ia bertemu dengan Mbah Jaya, seorang dukun yang menawarkan "keadilan" melalui ilmu hitam. Langkah demi langkah, hingga akhirnya Ia mengucapkan sumpah setia kepada makhluk gaib.

Sebagai tanda perjanjian, muncul tulisan KAF FA RO di jidatnya—stempel bahwa jiwanya telah menjadi milik kegelapan. Dengan kekuatan barunya, ia memburu balas dendam kepada semua yang menghancurkannya.

Namun semakin dalam ia melangkah, semakin ia sadar: bukan ia yang mengendalikan kegelapan, tapi kegelapan yang mengendalikannya. Dan harga dari perjanjian ini lebih mahal dari nyawanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penggelapan Dana

Fortuner melaju pelan memasuki jalanan kampung yang familiar. Rumahnya sudah terlihat di kejauhan. Tapi kali ini, bukan lampu teras yang menyambutnya.

Di depan rumahnya, puluhan orang berkumpul. Warga kampung yang mengenalnya sebagai ketua pengurus masjid. Orang-orang yang biasa ia pimpin shalat berjamaah. Orang-orang yang biasa ia ajak berdakwah.

Mereka berdiri di halaman rumahnya dengan wajah-wajah yang tidak ramah. Di tangan mereka ada spanduk yang baru saja dipasang di pagar rumahnya.

"TOLAK KORUPTOR UANG MASJID!"

"RAFIQ ALFARISI, KEMBALIKAN UANG JEMA'AH!"

Rafiq memarkir mobil di pinggir jalan. Ia turun dengan kemeja hitam yang masih basah, rambut kusut, wajah pucat. Matanya menatap spanduk itu, menatap orang-orang yang dulu tersenyum padanya setiap kali ia naik mimbar.

"Pak Rafiq!" seorang pria paruh baya keluar dari kerumunan. Pak RT, Bambang, pria tambun dengan kumis tebal dan kemeja batik lengan pendek. Di tangannya ada setumpuk kertas.

"Kami sudah menunggu Bapak sejak sore. Ada yang harus Bapak klarifikasi."

Rafiq tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sana, menatap Pak RT dengan mata yang tidak lagi memiliki kesabaran.

"Ini laporan keuangan masjid, Pak Rafiq," Pak RT membuka kertas-kertas itu.

"Ada ketidaksesuaian. Uang kas masjid yang seharusnya ada delapan puluh juta, di laporan hanya tercatat empat puluh juta. Sisanya... masuk ke rekening pribadi Bapak."

Kerumunan mulai bergemuruh. Suara-suara sumbang mulai terdengar.

"Kami percaya sama Bapak selama ini!"

"Bapak pegang amanah, kok malah korupsi!"

"Uang masjid itu uang jema'ah!"

Rafiq menatap Pak RT. Matanya menyipit. "Dari mana Bapak dapat laporan keuangan masjid?"

Pak RT tersenyum. Senyum yang tidak tulus. "Dari Bapak Tono, tentu. Beliau yang selama ini membantu pembukuan masjid. Beliau yang menemukan kejanggalan ini. Beliau yang melapor ke saya."

Tono.

Nama itu lagi.

Rafiq menatap kertas-kertas di tangan Pak RT. Ia tidak perlu melihat detailnya. Ia sudah tahu. Ini adalah bagian lain dari rencana yang sudah disusun sejak setahun lalu.

Bukan hanya istri dan perusahaan. Juga reputasinya. Juga kepercayaan masyarakat padanya. Tono ingin menghancurkannya habis-habisan. Ingin membuatnya tidak memiliki apa-apa lagi. Ingin membuatnya menjadi orang yang paling dibenci di kampungnya sendiri.

"Pak RT," suara Rafiq keluar pelan, tapi terdengar jelas di tengah kerumunan yang mulai gaduh.

"Bapak tahu tidak, anak saya baru saja dimakamkan hari ini?"

Pak RT terdiam sesaat. Ada sedikit keraguan

di matanya. Tapi itu hanya sesaat.

"Kami turut berduka, Pak Rafiq. Tapi ini urusan berbeda. Uang masjid adalah amanah—"

"Jawab pertanyaan saya," potong Rafiq dingin.

"Bapak tahu tidak, anak saya baru saja meninggal?"

"Iya, kami tahu, tapi—"

"Bapak tahu tidak, anak saya meninggal karena kecelakaan yang terjadi ketika beliau sedang demam tinggi dan diabaikan oleh ibunya yang sedang berselingkuh dengan sahabat saya?"

Kerumunan mulai hening. Beberapa orang menunduk, tidak berani menatap Rafiq.

"Bapak tahu tidak, sahabat saya itu juga mencuri perusahaan yang kami bangun bersama dari nol? Perusahaan yang membuat saya bisa menyumbang untuk masjid, untuk pembangunan jalan kampung ini, untuk beasiswa anak-anak di sini?"

Pak RT mulai gelisah. Tangannya yang memegang kertas gemetar.

"Dan sekarang," Rafiq melangkah maju satu langkah.

"Di hari yang sama ketika saya mengubur anak saya, Bapak datang ke rumah saya dengan spanduk yang menyebut saya koruptor. Dengan laporan keuangan yang diberikan oleh orang yang sama yang menghancurkan hidup saya."

Ia menatap satu per satu wajah warga yang berkumpul. Beberapa mulai terlihat tidak nyaman. Beberapa mulai berbisik-bisik.

"Bapak Tono memberi saya bukti yang kuat, Pak Rafiq," Pak RT berusaha mempertahankan posisinya. "Ada transfer ke rekening Bapak—"

"Itu transfer untuk operasional masjid yang saya pinjam sementara karena kas masjid habis untuk perbaikan atap," potong Rafiq.

"Semua sudah saya laporkan dalam rapat pengurus tiga bulan lalu. Ada notulennya. Ada tanda tangan semua pengurus. Tapi saya yakin Bapak Tono sudah menyembunyikan itu semua."

Ia menghela napas panjang. Dadanya terasa sesak. Tapi bukan karena sedih. Bukan karena marah. Karena ia sudah terlalu lelah untuk marah.

"Baiklah," katanya akhirnya. "Saya akan menjual rumah ini. Hasil penjualannya akan saya gunakan untuk menutup kekurangan yang dituduhkan kepada saya. Sisanya akan saya serahkan ke masjid. Apakah itu cukup untuk membersihkan nama saya?"

Kerumunan terdiam. Pak RT mengangguk ragu. "Itu... itu cukup, Pak Rafiq."

"Baik. Maka mulai besok, rumah ini bukan milik saya lagi. Dan saya tidak akan kembali ke kampung ini."

Ia berbalik, berjalan menuju Fortunernya tanpa menoleh. Tidak melihat ekspresi Pak RT yang campur aduk antara lega dan bersalah.

Tidak melihat wajah-wajah warga yang mulai dipenuhi penyesalan. Tidak melihat rumah yang ia bangun dengan cinta dan doa untuk terakhir kalinya.

Ia hanya duduk di kursi pengemudi, menyalakan mesin, dan melaju meninggalkan semuanya.

Malam itu, Rafiq menginap di sebuah penginapan kecil di pinggiran kota. Tidak ada banyak barang yang ia bawa. Hanya sebuah koper kecil berisi pakaian, Al-Qur'an yang selalu ia baca setiap malam, dan foto Fatih yang ia ambil dari kamar anaknya sebelum meninggalkan rumah untuk terakhir kalinya.

Hanya Fortuner hitam itu yang tersisa. Dan pakaian yang melekat di tubuhnya.

Ia duduk di tepi ranjang penginapan yang sempit, menatap foto Fatih di tangannya. Anak itu tersenyum lebar dengan dua lesung pipit di pipinya. Senyum yang akan selalu ia rindukan.

"Aku akan kembali, Fatih," bisiknya pelan.

"Tapi tidak sekarang. Abi harus pergi dulu. Abi harus menyelesaikan sesuatu."

Ia meletakkan foto itu di atas nakas, di samping Al-Qur'an yang sudah usang.

Dan ketika ia berbaring di ranjang yang dingin itu, matanya menatap langit-langit yang retak. Di telinganya, suara itu kembali terdengar.

"Anakmu bisa kau hidupkan kembali."

Kali ini, ia tidak mengabaikannya.

Kali ini, ia tidak menepisnya.

Kali ini, ia hanya diam. Mendengarkan. Membiarkan suara itu meresap ke dalam hatinya yang hancur.

Bagaimana caranya?

Ia tidak mengucapkan pertanyaan itu dengan suara. Tapi di dalam pikirannya, pertanyaan itu terucap dengan jelas.

Dan jawabannya datang. Bukan dengan suara. Tapi dengan perasaan. Perasaan bahwa ada sesuatu di luar sana. Sesuatu yang gelap. Sesuatu yang kuat. Sesuatu yang bisa memberinya apa yang ia inginkan.

Dengan imbalan apa?

Ia tidak perlu bertanya. Ia sudah tahu. Segala sesuatu pasti ada harganya. Dan harga yang akan diminta oleh sesuatu yang gelap pasti tidak murah.

Tapi saat ini, Rafiq tidak peduli.

Ia sudah kehilangan segalanya. Apa lagi yang bisa diambil darinya?

Istri? Sudah pergi. Perusahaan? Sudah dicuri. Rumah? Sudah dijual. Reputasi? Sudah dihancurkan. Anak? Sudah dikubur di tanah basah.

Tidak ada lagi yang bisa diambil. Tidak ada lagi yang bisa hilang.

Maka apa lagi yang perlu ditakutkan?

Rafiq menutup matanya. Di balik kelopak matanya, ia melihat bayangan hitam dengan dua mata merah menyala. Bayangan yang tadi malam ia lihat di balik pohon beringin.

Bayangan yang mungkin selama ini selalu ada, menunggu, mengamati, menunggu saat yang tepat.

Di luar jendela, angin malam bertiup kencang, menerbangkan daun-daun kering yang bergoyang di kehampaan. Langit malam tanpa bintang, tanpa bulan, seolah-olah seluruh alam semesta sedang bersiap menyaksikan kejatuhan seorang pria yang dulu agamis, yang dulu mencintai ketenangan, yang dulu menghindari keramaian.

Tapi pria itu sudah mati.

Yang tersisa hanyalah Rafiq Al Farisi yang baru. Rafiq Al Farisi yang haus akan balas dendam. Rafiq Al Farisi yang siap menjual jiwanya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.

Dan di kejauhan, di balik jendela kamar penginapan yang sempit itu, bayangan hitam bertanduk itu masih berdiri disana.

1
La Rue
Sensasi horornya benar² terasa. Tapi aku suka,karena gaya penulisan yang khas dari Sang Penulis. Semoga banyak yang mampir karena ceritanya bagus dan jarang typo 👍
La Rue: sama-sama
total 2 replies
La Rue
Waduh makin seram tapi semakin penasaran 😱🤭
La Rue
seram tapi penasaran 😱🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!