NovelToon NovelToon
Sangkar Merah

Sangkar Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:644
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Aletha merupahan remaja yang sangat senang akan dunia malam. Ia juga merupakan anak konglomerat yang terkenal di kota Metropolitan. Tapi kini dirinya harus di hadapkan dengan perjanjian kontrak dengan Danny yang sepertinya menguntungkan? atau malah merugikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Besok—26

Di bawah temaramnya lampu Presidential Suite lantai 42, keheningan malam kembali menyelimuti ruangan setelah kesepakatan rahasia itu tercapai. Aletha masih setia menyandarkan kepalanya di bantalan sofa dengan mata terpejam, menikmati detik-detik di mana bebannya terasa sedikit terangkat karena kehadiran pria di sebelahnya.

Danny menatap siluet wajah Aletha dari samping. Otaknya yang biasa dipenuhi oleh strategi korporasi kini sedang menyusun linimasa baru untuk perjalanannya. Sebuah notifikasi singkat masuk ke ponsel privatnya beberapa menit lalu—sebuah pesan terenkripsi dari kepala tim intelijen Dirgantara Group yang berbasis di London.

"Tha," panggil Danny, memecah kesunyian kamar.

Aletha membuka matanya perlahan, melirik Danny tanpa mengubah posisi santainya. "Kenapa lagi, Dan? Lo mau bahas pasal kontrak yang mana lagi tengah malam begini?"

"Mau ikut gue gak besok?" tanya Danny langsung, sepasang mata elangnya mengunci pandangan Aletha dengan serius.

Aletha menaikkan sebelah alisnya, sedikit menegakkan posisi duduknya di atas sofa. "Ke mana?"

"Eropa," jawab Danny pendek namun sarat akan kepastian. "Gue ada urusan bisnis sekalian mau langsung ngurusin soal penyelidikan nyokap lo. Orang-orang gue di sana baru aja ngabarin kalau mereka udah dapet info awal soal pergerakan mantan rekan bisnis bokap lo beberapa tahun terakhir."

Mendengar kata 'Eropa' dan 'info awal', binar mata maroon Aletha seketika menajam. Jiwa Ratu Kampusnya yang manipulatif dan cerdas langsung menangkap peluang besar ini. Dia tidak menyangka pergerakan tim Danny bisa secepat ini, hanya dalam hitungan hari setelah mereka sepakat bekerja sama.

"Gue mau-mau aja," sahut Aletha tanpa keraguan sedikit pun. Sebuah senyuman puas terukir di bibirnya. "Lagian, kuliah gue minggu ini lagi santai, dan gak ada alasan buat gue nolak jalan-jalan gratis ke Eropa bareng calon suami kaya, kan?"

Danny hanya mendengus geli mendengar jawaban khas Aletha yang selalu blak-blakan. Pria itu baru saja hendak bangkit dari sofa untuk membersihkan diri ke kamar mandi, namun gerakan tubuh tegapnya langsung terhenti ketika sepasang kaki jenjang Aletha dengan sengaja bergeser, menyentuh tepi paha celananya.

Aletha membalikkan tubuhnya, kini duduk menghadap Danny dengan melipat kedua kakinya di atas sofa. Rambut maroon-nya yang tergerai panjang menutupi sebagian punggungnya yang polos. Dengan wajah tanpa dosa, ia menatap Danny sembari meregangkan otot-lehernya yang terasa kaku.

"Tapi sebelum besok kita terbang... lo pijitin gue kek, Dan. Capek banget gue asli," keluh Aletha, suaranya sengaja dibuat bermanja-manja namun tetap terdengar seperti sebuah perintah mutlak yang tidak bisa dibantah. "Gara-gara acara tunangan megah lo itu, pundak sama punggung gue berasa mau patah menahan beban gaun ratusan juta."

Danny mematung di tempatnya duduk. Pandangannya perlahan turun, menatap penampilan Aletha yang saat ini masih sangat minim—hanya berbalut celana dalam hitam dan bra tempel silikon yang mengekspos lekuk tubuhnya secara ekstrem. Di bawah cahaya lampu kamar yang kuning temaram, pemandangan di depannya benar-benar menguji sisa-sisa pertahanan iman seorang pria dewasa.

"Aletha, lo sadar gak sih lo lagi pakai baju kayak gimana sekarang?" tanya Danny, suaranya mendadak berubah menjadi lebih rendah dan serak dari biasanya.

Aletha justru tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat meremehkan ketakutan Danny. "Kan gue udah bilang tadi, Dan... biasa aja kali. Kita udah tunangan, bentar lagi nikah, dan di atas kertas lo itu milik gue. Lagian lo tadi bilang gak kaget lagi, kok sekarang mendadak kaku lagi kayak kanebo kering?"

Danny menarik napas panjang, mencoba mengusir pikiran-pikiran liar yang mulai berputar di kepalanya. Seringai tipisnya yang menawan kembali muncul di wajah tegasnya. Pria itu akhirnya mengalah, menerima tantangan dari gadis nekat di depannya ini.

"Oke. Sini lo balik badan," perintah Danny, suaranya kembali terdengar dominan.

Aletha tersenyum menang. Ia segera membalikkan tubuhnya membelakangi Danny, duduk bersila dengan tegak sehingga punggung mulusnya yang putih bersih kini terpampang sepenuhnya di depan mata elang sang CEO.

Danny menggeser posisi duduknya menjadi lebih dekat, tepat di belakang punggung Aletha. Perlahan, kedua telapak tangan kekarnya yang hangat dan kapalan karena sering berlatih fisik mendarat di atas kedua pundak kecil Aletha.

"Akh..." Aletha mendesah pelan ketika merasakan cengkeraman pertama Danny di pundaknya. "Pelan-pelan, kocak sakit! Tangan lo gede banget kayak jangkar kapal."

"Gue baru nempel, Aletha. Belum gue teken," sahut Danny ketus, namun ia tetap menurunkan ritme tenaganya.

Ibu jari Danny mulai bergerak memijat otot-otot di pangkal leher Aletha yang terasa sangat tegang, lalu perlahan turun menyusuri tulang belikatnya. Sentuhan kulit ke kulit di antara mereka menciptakan sebuah sengatan listrik tak kasat mata yang membuat atmosfer kamar suite itu terasa semakin intim dan pekat. Danny fokus pada pekerjaannya, mencoba menahan diri agar tidak melewati batas, sementara Aletha perlahan mulai merilekskan tubuhnya, menikmati kehangatan yang menjalar dari telapak tangan Danny.

"Tapi jujur, Dan..." bisik Aletha di tengah sisa rasa kantuk dan kenyamanan pijatan Danny. "Makasih ya buat info soal itu. Gue gak tahu harus bilang apa kalau tim lo beneran bisa mengungkap semuanya."

Danny menghentikan gerakan tangannya sejenak di punggung Aletha. Ia menundukkan kepalanya sedikit, mendekatkan bibirnya ke dekat telinga Aletha hingga deru napas hangatnya terasa di kulit leher gadis itu.

"Gak perlu berterima kasih sebelum semuanya tuntas, Tha," balas Danny, suaranya terdengar sangat berat dan penuh proteksi. "Gue udah bilang, siapa pun yang bertanggung jawab atas air mata lo dua tahun lalu, mereka harus bayar harganya ke gue."

Aletha tertegun, desiran aneh di dadanya kembali bergemuruh hebat mendengar kalimat itu. Sandiwara kontrak ini pelan-pelan telah berubah menjadi sebuah ikatan nyata yang sangat kuat. Di balik jendela kamar lantai 42 yang menampilkan malam Jakarta, mereka berdua tahu bahwa perjalanan ke Eropa besok bukan lagi sekadar urusan pelarian, melainkan awal dari pemburuan yang sesungguhnya.

1
azrinasarah
LANJUTT PLUSSS😭😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!