Warning ***+
~~~
Mayang Puspita Sari, seorang lulusan SMP dari kampung, pindah ke ibu kota dengan tujuan menyelamatkan adiknya yang sakit keras dan menopang ekonomi keluarga. Setelah berjuang mencari pekerjaan di kota yang keras, ia akhirnya mendapatkan kesempatan sebagai ibu pengganti - pekerjaan yang memberinya hidup berkecukupan dan biaya pengobatan yang cukup untuk adiknya.
Seiring waktu, Mayang malah merasa senang dengan pekerjaannya karena semua keinginannya tercapai dan bayarannya sangat besar, meskipun ia tidak menyadari bahwa pilihan ini akan membawa konsekuensi emosional dan moral yang tidak terduga nanti.
~~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 16
***
Malam di puncak menara Mega Kuningan terasa mencekam. Di dalam kamar utama yang luas, pengatur suhu ruangan telah dimatikan, membuat udara terasa pengap dan panas, namun Mayang Puspita Sari justru menggigil hebat. Ia tidak lagi berada di atas ranjang king size-nya. Tubuhnya yang bermandikan keringat dingin telah merosot ke lantai marmer yang keras, sebuah posisi naluriah untuk meredam gelombang rasa sakit yang kini menghantam rahimnya tanpa ampun.
Mayang sedang menjalani pertempuran hidup dan mati sendirian. Sejak kontraksi mulai datang secara intens, ia sengaja bungkam. Ia tidak ingin memanggil Baskara. Ia tidak ingin pria itu melihat kerentanannya. Namun, alam memiliki kehendaknya sendiri.
"Nghhh... HHHHNNNGGGHHH!" Mayang mengerang rendah, suaranya tertahan di balik gigi yang dikatupkan rapat.
Ia terduduk di bawah ranjang, menyandarkan punggungnya pada kerangka kayu jati yang kokoh. Kedua tangannya mencengkeram kain sprei yang menjuntai, menariknya hingga terdengar suara robekan. Rasa panas yang membakar menjalar di antara kedua kakinya, sebuah sensasi seolah tubuhnya sedang direnggangkan secara paksa hingga batas maksimal.
Dengan tangan gemetar, Mayang meraba ke bawah. Matanya melotot saat jemarinya menyentuh sesuatu yang keras dan berambut basah. Kepala anaknya. Bayi itu sudah memahkotai jalan lahirnya, mendesak keluar dengan kekuatan yang tak terbendung.
Tepat pada detik yang paling rapuh itu, pintu kamar terbuka dengan dentuman pelan.
Baskara melangkah masuk. Ia masih mengenakan kemeja yang lengannya digulung, memegang sebuah map dokumen yang baru saja ia selesaikan. Ia berniat memberikan instruksi untuk "ritual" persalinan di ruang bawah tanah besok pagi, namun langkahnya terhenti seketika.
Ia mematung di ambang pintu.
Pandangannya langsung jatuh pada sosok Mayang yang bersimbah peluh di bawah ranjang. Daster sutra putihnya sudah berantakan, memperlihatkan perjuangan fisik yang luar biasa murni.
"Mayang..." bisik Baskara, suaranya berat, penuh dengan keterkejutan yang berubah menjadi rasa takjub yang gila.
Ia berjalan mendekat, setiap langkah sepatunya di atas lantai marmer terdengar seperti lonceng kematian. Baskara berlutut di depan Mayang yang kini tengah terengah-engah, matanya memaku pada pusat perjuangan wanita itu. Ia melihat kepala bayi itu sedang merobek pertahanan Mayang, sebuah pemandangan yang selama ini hanya ia dengar dari cerita Aris dan Gunawan.
"Luar biasa," gumam Baskara. Ia tidak menunjukkan niat untuk menolong. Ia justru meletakkan mapnya di lantai dan menopang dagu, menatap dengan intensitas seorang penonton di barisan depan sebuah pertunjukan besar. "Kau melakukannya sendiri, dalam kesunyian? Tanpa berteriak?"
Mayang tidak merespon. Matanya yang sayu namun penuh amarah menatap kosong ke depan. Rasa sakit itu merenggut kemampuan bicaranya.
"Pantas saja Aris dan Gunawan sangat memujamu," lanjut Baskara, jemarinya perlahan menyentuh paha Mayang yang gemetar. "Kau memang mahakarya, Mayang. Kau bagaikan dewi kelahiran yang sedang turun ke bumi untuk memberikan kekuasaan padaku."
"Ahhh! Nghhh... HHHHHNNNGGGHHH!" Mayang kembali mengejan. Suaranya pecah, sebuah teriakan serak yang memenuhi ruangan. Area intinya terasa seperti disayat oleh ribuan sembilu saat kepala bayi itu mulai keluar lebih jauh.
Baskara benar-benar menikmati momen tersebut. Ia tidak hanya menonton; ia menikmati setiap rintihan kepedihan Mayang seolah itu adalah musik klasik yang paling indah.
"Dorong, Mayang! Dorong untuk suamimu!" seru Baskara dengan nada yang membakar semangat sekaligus merendahkan. "Biarkan rasa sakit itu menjadi bukti ketaatanmu. Aku ingin melihat bagaimana kau menyerahkan pewarisku ke dunia ini."
"Sakit... ahhh... Baskara... panggil... ahhh!" Mayang merintih parau, air matanya bercampur dengan peluh yang membanjiri wajahnya.
"Jangan minta dokter, Mayang. Jangan rusak momen murni ini," desis Baskara. Ia kini duduk tepat di depan jalan lahir Mayang, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari kepala bayi yang mulai terlihat sebagian. "Aku menyukai ini. Aku menyukai bagaimana tubuhmu berjuang di bawah kendaliku. Kau adalah budak paling cantik saat kau sedang menderita."
Mayang mencengkeram kaki ranjang dengan sisa kekuatannya. Pikirannya bergejolak antara rasa sakit yang tak tertahankan dan emosi yang meluap. Ia merasa dipermalukan di saat ia sedang memberikan nyawa. Namun, keserakahan Baskara justru memberikan dorongan adrenalin yang ia butuhkan.
"HHHNNNGGGHHH! AHHHHHH!"
Dengan satu dorongan dahsyat yang menguras seluruh tenaganya, Mayang merasakan sesuatu yang besar meluncur keluar. Rasa lega yang tiba-tiba datang setelah rasa perih yang memuncak membuat kepalanya terkulai lemas di atas kasur.
Napasnya terputus-putus, dunia di matanya tampak berputar.
Tangisan bayi memecah kesunyian kamar tersebut. Baskara dengan cekatan menangkap tubuh mungil yang masih berlumuran darah itu. Ia tertawa puas, sebuah tawa kemenangan yang menggema di seluruh lantai privat menara tersebut.
"Anakku! Pewaris kerajaanku!" seru Baskara.
Namun, saat ia membersihkan bayi itu dengan handuk sutra dan memeriksa jenis kelaminnya, tawanya mendadak terhenti.
Wajahnya berubah kaku. Matanya menyipit penuh kekecewaan.
"Perempuan?" gumam Baskara dengan nada dingin yang menusuk.
Mayang, yang masih terengah-engah dan bersimbah darah di bawah ranjang, perlahan membuka mata. Ia melihat bayinya di tangan Baskara. Sebuah rasa iba muncul di hati Mayang, namun ia terlalu lemas untuk bergerak.
Baskara menoleh pada Mayang, menatap istrinya yang hancur itu tanpa sedikit pun rasa kasih sayang. "Aku senang kau melahirkan dengan selamat, Mayang. Dan persalinanmu barusan adalah pemandangan paling menggairahkan yang pernah kulihat."
Ia mendekat, meletakkan bayi perempuan itu secara kasar di samping Mayang, lalu mencengkeram rahang Mayang agar wanita itu menatapnya.
"Tapi kau tahu aturannya," desis Baskara. "Aku tidak butuh seorang putri untuk memimpin singgasana yang kurebut dari Aris dan Gunawan. Aku butuh seorang putra."
Mayang memejamkan mata, air mata mengalir dari pelupuknya. "Aku... aku sudah memberikan segalanya, Baskara..."
"Belum cukup," potong Baskara dengan kejam. Ia berdiri, merapikan kemejanya yang sedikit terkena bercak darah, seolah persalinan istrinya hanyalah sebuah interaksi bisnis yang belum selesai. "Setelah kau pulih, kita akan melakukannya lagi. Kau harus melahirkan putra untukku. Sampai rahimmu memberikan apa yang kuminta, kau tidak akan pernah keluar dari kamar ini."
Mayang menatap bayi perempuannya yang menangis kecil. Di tengah rasa nyeri yang masih berdenyut di rahimnya, Mayang menyadari satu hal: kontraknya dengan monster ini belum berakhir. Ia telah terjebak dalam siklus "pencetakan pewaris" yang jauh lebih kejam dari apa yang pernah ia jalani sebelumnya.
"Tentu... asalkan kontraknya bertambah, Tuan..." bisik Mayang parau, suaranya terdengar seperti iblis yang mencoba tertawa di tengah penderitaan. "Setiap anak... ada harganya. Dan anak perempuan ini... dia akan menjadi harga pembukamu yang sangat mahal."
Baskara tersenyum sinis, lalu ia melangkah keluar kamar, memanggil para perawat yang sejak tadi menunggu di luar untuk membersihkan "karyanya". Mayang terkapar di lantai, memeluk bayinya yang tak diinginkan oleh ayahnya sendiri, menyadari bahwa di puncak menara ini, ia bukan lagi seorang ratu. Ia adalah dewi kelahiran yang dipenjara oleh ambisi pria yang dulu pernah dicintainya.
****
Bersambung .....