Di tengah gemerlap Jakarta yang kontras, Nara Indira (25) menjalani kehidupan ganda yang berbahaya. Di bawah cahaya aula megah, ia adalah penari tradisional yang agung, namun di kegelapan Club Black Rose, ia bertransformasi menjadi penari erotis demi membiayai pengobatan kanker darah ibunya. Nara adalah wanita yang dingin, efisien, dan sangat menjaga harga dirinya di tengah profesi yang dianggap nista oleh dunia.
Takdir mempertemukannya dengan Bagaskara, CEO muda dari Prawijaya Group yang baru saja melangsungkan pertunangan bisnis dengan Sinta Mahadewi. Pertemuan tak sengaja di klub malam memicu obsesi gelap dalam diri Bagaskara. Terpesona oleh misteri dan ketegasan Nara, Bagaskara menawarkan harta demi satu malam bersama, sebuah tawaran yang ditolak mentah-mentah oleh Nara meski ia sedang terhimpit kebutuhan medis yang mendesak.
Konflik memuncak saat rahasia Nara mulai terancam dan Sinta menyadari perhatian tunangannya terbagi. Di antara perbedaan status sosial yang jurang dan tekanan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lemari Kertas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Hidup dan Penghakiman
Sirine ambulans yang biasanya terdengar seperti ancaman, kini menjadi satu-satunya melodi harapan bagi Nara. Di dalam kabin taksi yang pengap oleh aroma obat-obatan dari tas Suster Rahmi, Nara terus mendekap tubuh ibunya yang kian mendingin. Ia tidak memedulikan baju elegannya yang kini bernoda keringat dan debu jalanan. Fokusnya hanya pada denyut nadi lemah di pergelangan tangan Bu Rahayu.
Begitu mobil berhenti di depan lobi IGD rumah sakit, Nara melompat keluar bahkan sebelum taksi berhenti sempurna.
"Tolong! Suster! Dokter! Ibu saya!" teriaknya histeris.
Petugas medis dengan sigap membawa brankar. Tubuh ringkih Bu Rahayu dipindahkan dengan cepat. Suara roda brankar yang beradu dengan lantai keramik rumah sakit menciptakan ritme yang memacu jantung Nara. Di sana, di antara hiruk-pukuk pasien kecelakaan dan tangisan keluarga lain, Nara melihat sosok yang sangat ia kenal.
"Dokter Ryan!" teriak Nara saat melihat dokter yang selama ini menangani ibunya sedang berjalan di koridor.
Dokter Ryan menoleh, wajahnya yang tenang seketika berubah tegang melihat kondisi Bu Rahayu.
"Nara? Apa yang terjadi? Kenapa kondisinya drop secepat ini?"
"Ibu... Ibu tadi jatuh, Dok. Dada-nya sakit, lalu pingsan," jawab Nara terbata-bata, air matanya tak kunjung berhenti.
"Bawa ke Ruang Resusitasi sekarang! Cek saturasi dan EKG!" perintah Dokter Ryan kepada tim perawat. Ia menatap Nara sejenak, menepuk bahunya pelan. "Nara, kamu tunggu di sini. Berdoa. Saya akan lakukan yang terbaik."
Pintu ruang tindakan tertutup rapat. Nara luruh ke lantai, bersandar pada dinding rumah sakit yang dingin. Ia merasa seperti atom yang pecah, tidak ada lagi bagian dari dirinya yang utuh.
Suster Rahmi menghampiri, memberikan sebotol air mineral yang gemetar saat diterima Nara. "Mbak Nara, sabar. Ibu itu kuat. Beliau sudah melewati banyak hal, kali ini pasti bisa juga."
Nara hanya menggeleng pelan. "Ini salahku, Suster Rahmi. Sinta datang, dia menyebarkan foto-foto itu di depan semua orang. Ibu melihatnya. Ibu melihat kekotoranku."
Suster Rahmi terdiam, ia tahu betapa hancurnya perasaan Nara. Ia merogoh saku, mengeluarkan ponselnya.
"Mbak, mungkin... mungkin pak Bagas harus tahu. Dia punya koneksi, dia bisa membantu mencari dokter ahli atau ..."
"Jangan!" Nara memotong dengan suara tajam namun parau. Ia menatap Rahmi dengan mata yang merah. "Jangan hubungi Bagas. Aku mohon. Untuk saat ini, aku tidak ingin mendengar namanya. Kehadirannya hanya akan mengingatkanku pada alasan kenapa Ibu terbaring di sana. Bagas adalah luka yang membuat Ibu berdarah, Suster. Dan aku juga pelengkap luka itu."
Suster Rahmi menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan.
"Baik, Mbak. Saya paham. Saya akan di sini menemani Mbak."
Sementara itu, di sebuah rumah mewah di kawasan elit, suasana tak kalah mencekam. Sinta duduk di sofa beludru dengan kaki bersilang, menyesap teh melati dengan gerakan yang anggun namun penuh racun.
Di hadapannya, Nyonya Prawijaya, ibu dari Bagas, duduk dengan wajah yang mulai memerah akibat amarah yang disulut.
"Tante harus lihat ini," Sinta meletakkan tablet di atas meja, menggeser foto-foto yang sama dengan yang ia sebarkan di gang sempit tadi.
"Nara itu bukan sekadar penari tradisional yang tampak polos. Dia itu 'bintang' di klub malam. Dia menjual dirinya, Tante. Dan yang paling menjijikkan, dia menggunakan uang Bagas untuk membiayai hidupnya yang kumuh."
Bu Prawijaya menatap foto-foto itu dengan rasa jijik yang amat sangat.
"Jadi, wanita ini yang selama ini membuat Bagas sering pulang larut malam? Wanita pemuas nafsu dari klub malam?"
"Bukan cuma itu, Tante," Sinta menambahkan, suaranya naik satu oktav agar terdengar lebih dramatis. "Dia sengaja menjebak Bagas. Dia tahu Bagas orang yang royal dan mudah iba. Dia menggunakan ibunya yang sakit sebagai senjata untuk menguras harta Bagas. Kalau Tante diam saja, nama besar keluarga Prawijaya akan hancur jika media tahu Bagas berselingkuh dengan pelacur kelas teri seperti dia!"
"Cukup, Sinta!" Bu Prawijaya menggebrak meja. "Aku tidak akan membiarkan benalu itu menghisap darah anakku lebih lama lagi. Beraninya dia masuk ke dalam kehidupan Bagas! Gadis jelata, murahan, tidak tahu diri!"
Sinta tersenyum puas.
"Betul, Tante. Dia harus disingkirkan. Bagas harus sadar bahwa pernikahannya denganku adalah satu-satunya jalan untuk menjaga martabat keluarga ini."
"AKU TIDAK AKAN PERNAH MENIKAHIMU, SINTA!"
Suara menggelegar itu datang dari arah pintu utama. Bagas berdiri di sana, rahangnya mengeras, matanya menyala penuh amarah yang siap meledak. Ia berjalan masuk dengan langkah lebar, membuat suasana ruang tamu yang dingin mendadak terasa panas.
"Bagas? Kamu sudah pulang?" Bu Prawijaya berdiri, mencoba menenangkan putranya.
"Lihat ini, Nak! Wanita yang kamu bela itu... dia membohongimu! Dia... "
"Aku sudah tahu semuanya!" potong Bagas. Ia menatap Sinta dengan tatapan yang bisa membunuh. "Aku tahu kamu pergi ke rumah Nara hari ini. Aku tahu kamu menyebarkan fitnah dan mempermalukannya di depan tetangganya. Aku tahu kamu yang menyebabkan ibu Nara kritis!"
Sinta berdiri, mencoba membela diri.
"Fitnah? Foto-foto itu nyata, Bagas! Dia menari telanjang! Dia merebutmu dariku! Dia adalah jalang yang ..."
"Dia menari untuk bertahan hidup karena sistem yang tidak adil!" Bagas mendekat, membuat Sinta mundur ketakutan. "Dia tidak pernah menjual dirinya padaku! Selama ini, aku yang mengejarnya, aku yang memaksanya menerima bantuanku. Dia jauh lebih terhormat daripada kamu yang menggunakan cara-cara kotor untuk mendapatkan pria yang jelas-jelas tidak mencintaimu!"
"Bagas! Jaga bicaramu!" teriak Bu Prawijaya. "Dia itu jalang! Kamu buta karena cinta murahan!"
Bagas berbalik menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca. "Kalau Mama menyebutnya jalang hanya karena dia miskin dan berusaha menyelamatkan ibunya, maka aku lebih hina karena aku mencintai 'jalang' itu dengan seluruh jiwaku! Dengarkan aku baik-baik, Mama dan kamu, Sinta."
Bagas menunjuk ke arah pintu. "Siapa pun, aku ulangi, SIAPA PUN yang berani mengusik Nara lagi, akan berurusan langsung denganku. Aku tidak peduli jika aku harus melepaskan nama Prawijaya. Aku tidak peduli jika aku harus keluar dari rumah ini dan tidak diakui! Ingat aku juga tidak pernah takut pada apapun! Aku menghormati papa dan Mama selama ini, menuruti pertunangan keparat yang tidak pernah aku kehendaki! Perusahaan keluarga ini tidak akan runtuh dan roboh hanya karena aku tidak menikahi dia!" tunjuk Bagas dengan segala amarahnya. "Drama kolot keluarga ini sudah benar-benar membuat aku muak! Nara adalah duniaku, dan jika kalian menghancurkan dunianya, aku akan menghancurkan segalanya termasuk siapapun yang berusaha menjatuhkannya!"
"Kamu mengancam Mama demi perempuan itu?" suara Bu Prawijaya bergetar karena syok.
"Ini bukan ancaman, ini janji," ucap Bagas dingin. Ia merogoh kunci mobilnya. "Jangan pernah coba-coba menyentuh Nara lagi. Dan Sinta, jangan pernah muncul di depanku kalau kamu masih sayang dengan nyawamu."
Bagas berbalik pergi, meninggalkan ibunya yang terduduk lemas dan Sinta yang gemetar karena rencana liciknya justru berbalik menjadi bumerang yang menghancurkan harapannya.
Kembali di rumah sakit, waktu seakan berhenti bagi Nara. Setiap detik terasa seperti jam yang menyiksa. Ia terus menggenggam harapan semu.
Tuhan, ambil saja nyawaku jika itu bisa menebus kesalahanku. Jangan Ibu. Ibu tidak salah apa-apa. Ibu hanya korban dari kebodohanku.
Tiba-tiba, pintu ruang resusitasi terbuka. Dokter Ryan keluar dengan wajah yang sangat lelah. Nara langsung berdiri, jantungnya seolah berhenti berdetak menunggu satu kalimat.
"Dokter... Ibu?"
Dokter Ryan melepas maskernya, ia menatap Nara dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kondisinya sangat kritis, Nara. Ada pecah pembuluh darah di jantung akibat tekanan emosional yang terlalu berat. Kami sudah melakukan tindakan darurat, tapi sekarang Ibu dalam keadaan koma."
Lutut Nara lemas. Suster Rahmi segera menahannya agar tidak jatuh.
"Koma?" bisik Nara. "Tapi Ibu akan bangun kan, Dok? Ibu pasti bangun..."
"Kita hanya bisa menunggu 24 jam ke depan. Ini masa kritisnya. Jika dia bisa melewati malam ini, ada harapan. Tapi Nara... kamu harus bersiap untuk kemungkinan terburuk," ucap Dokter Ryan jujur.
Nara tidak mendengar lagi kata-kata selanjutnya. Dunianya runtuh sepenuhnya. Ia melihat melalui kaca kecil di pintu, ibunya terbaring dengan berbagai selang menancap di tubuhnya. Mesin EKG berbunyi tit... tit... tit... yang monoton, pengingat bahwa hidup ibunya kini hanya bergantung pada kabel dan listrik.
"Ibu..." Nara menempelkan keningnya di kaca pintu. "Ibu jangan pergi. Nara janji akan jadi anak yang Ibu mau. Nara akan buang semuanya... Nara akan pergi jauh dari dunia ini, asal Ibu tetap di sini bersama Nara," ujar Nara berusaha tegar.
Di luar, hujan mulai turun membasahi Jakarta. Langit seolah ikut menangis menyaksikan seorang anak yang sedang menukarkan seluruh masa depannya demi satu napas lagi dari sang ibu. Nara berdiri di sana, sendirian dalam sunyi, menunggu keajaiban yang ia gantungkan di antara hidup dan mati.
Cerita nya gak terlalu ngawang, khas Dan gak mudah ditebak next chapter nya. meskipun genre sama tapi aku selalu menemukan yg berbeda Dan itu bikin aku selalu nunggu Update nya.
semangattt, aku selalu nunggu...
Jatuh hati sama Nara, stay strong and be yourself♥️😊