Gadis piatu yang menanggung semua hutang ayahnya yang penjudi harus berjuang sendiri di ibukota. Rela hidup miskin di perantauan agar semua hutangnya segera lunas, hingga ia bertemu dengan pria yang menawarkan hidup berkecukupan.
Apakah Hana akan menerimanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menikmati waktu sendirian
Menit berganti jam, kakinya terasa pegal ketika menyadari dirinya terlalu lama di sana untuk bercerita tentang kehidupan yang dijalaninya selepas sang ibu pergi.
Matanya kembali basah, ia sangat merindukan ibunya. Hana menghapus sisa air mata di pipi lalu beranjak pergi dari pemakaman.
"Halo, Sa."
"Kau dimana? Ayo bertemu di bar Louis."
"Aku sedang pulang kampung, Sa."
"Sejak kapan?"
"Aku baru sampai tadi siang."
"Kenapa tidak mengajakku?"
"Untuk apa?"
"Aku ingin liburan denganmu, Na. Apalagi ke kampungmu."
"Lain kali saja. Toh, aku hanya dua hari di sini."
"Benarkah? Kutunggu kau kembali."
"Emm, aku kembali minggu depan."
"Apa? Kenapa?"
"Aku akan ke kota lain setelah dari sini."
"Kau ada pekerjaan?"
"Tidak, aku menghabiskan masa cutiku, Sa."
"I see. Have fun, Na. Hati-hati di sana."
"Aku akan telepon jika sudah kembali."
"Ok, take your time, Na."
Hana langsung memasukkan ponsel ke saku jaketnya setelah telepon terputus. Malam ini ia sedang berada di alun-alun yang dekat dengan hotel dia menginap.
Menikmati makan malam di pinggir jalan yang ramai dengan anak-anak muda seperti dirinya.
Hana sesekali tersenyum menyaksikan beberapa pengamen waria yang datang menghibur para pembeli.
Pukul 9 malam, ia memutuskan untuk kembali ke hotel, rasa lelah menyerang tubuhnya. Besok setelah makan siang ia akan meninggalkan kota ini menuju kota yang dingin.
Di kamar apartemen yang dingin, Luca tampak gelisah. Ia tak bisa tidur ketika Hana tak berada satu atap dengannya. Terlebih bayangan-bayangan Hana yang tanpa busana tempo hari seakan menghantuinya.
"Sial! Kenapa begitu sexy?" Luca meremas rambutnya kuat. Ia sedang menahan gairah di dalam tubuhnya.
Tubuh Hana yang semakin berisi membuat lekukan yang menonjol, Luca seringkali curi-curi pandang ketika dirinya sedang bersama.
Bohong, jika Luca tak terangsang saat memergoki Hana di kamar mandi. Dirinya berkali-kali mengalihkan kegiatan agar melupakan bayangan Hana.
"Sedang apa di sana?" Luca menatap foto Hana yang sedang duduk di sofa ruang kerjanya. Pria itu mengambil foto diam-diam beberapa waktu lalu.
Wajah datar yang sedang menatap pajangan di sisi ruangan, dengan seragam cleaning service yang melekat kebesaran di tubuh kecil Hana.
Luca menyukai Hana pada pandangan pertama. Dirinya juga bingung kenapa bisa jatuh hati pada perempuan kumal itu. Tak ada yang menarik, justru sangat jauh dari tipe idealnya.
Kedua mata hitam itu memandang tajam ke arah gedung-gedung yang ada di balik kaca jendela kamarnya.
"Halo, Na. Kau sudah berangkat?"
"Aku baru selesai mandi, mungkin satu jam lagi aku akan ke bandara."
"Okay, hati-hati di jalan. Kirimkan aku pesan jika kau masuk pesawat, aku akan menjemputmu."
"Baik."
Hana dan Yumna berencana menghabiskan masa cuti bersama di kota kelahiran Yumna.
Mereka akan menjelajah alam dan tempat-tempat wisata di sana.
Perempuan berambut panjang itu sudah rapi dengan riasan wajah yang minimalis. Ia bersyukur bekerja di apartemen membuatnya bisa menyisihkan uang untuk perawatan dirinya sendiri hingga terlihat segar seperti dulu.
Dirinya masih tak menyadari keberadaan dua orang mata-mata yang mengawasinya. Mereka lihai melakukan pekerjaan mereka hingga tak memicu kecurigaan Hana.
"Aku akan terbang."
Pesan teks yang Hana kirimkan kepada Yumna sebelum ia mengaktifkan mode airplane di ponselnya.
Tak membutuhkan waktu berjam-jam. Pesawat yang membawanya mendarat dengan selamat di bandara tujuan.
Ia segera berjalan menuju pintu keluar yang di sana Yumna sudah menantikan kedatangannya. Mereka berpelukan singkat lalu meninggalkan bandara menggunakan mobil keluarga Yumna.
"Kapan kau berhenti dengan kegiatan menjijikanmu itu, Nolan?"
Pria tua yang tak kehilangan kharismanya menatap tajam anak lelakinya yang kini berusia 36 tahun.
"Sejak kapan ayah peduli tentang hidupku?" Nolan tersenyum sinis menatap pria yang menjadi cinta pertama sang ibu.
"Kau pewaris perusahaan ayah, Nolan. Jika bukan kau, siapa lagi?"
"Anak gundikmu."
"Nolan! Jaga bicaramu, dia juga adikmu."
"Cih, tak sudi sedarah dengan anak dari pelacur!"
Tuan Elden hanya diam, Nolan sudah beberapa kali mengatakan kebenciannya pada adik yang terlahir dari rahim istri keduanya.
Anak lelaki yang ia besarkan dengan penuh perhatian menjadi pembangkang setelah ia melakukan pengkhianatan dengan mendiang istrinya, ibu dari Nolan.
"Papa, aku ingin dibacakan dongeng olehmu." Seorang gadis kecil berumur 6tahun masuk ke ruangannya dengan memeluk boneka beruang coklat.
"Zoe, mintalah pada Mama. Papa sedang bicara dengan kakakmu."
Mata biru milik gadis kecil itu menatap gemas pada Nolan yang membuang muka.
"Baiklah, Papa."
Zoe berlari kecil keluar dari ruangan lalu menutup pintu.
"Dia berharap kau menyapanya, Nolan."
"Dan aku tak berharap dia ada."
Nolan beranjak pergi dari ruangan, ia bertemu Zoe yang terlihat menunggunya di ruang tengah.
"Kakak! Apa kita bisa bermain?" Zoe tersenyum manis menatap Nolan yang enggan menatapnya.
"Urus dia dengan benar, Nanny! Jangan menggangguku." Perintah Nolan pada Nanny yang bersama dengan Zoe.
"Baik, tuan muda."
Nolan melangkah keluar menuju mobil sport yang terparkir, di depan ia bertemu dengan orang yang paling ia benci.
"Hai, Nolan. Kau datang?" Nancy menyapa dengan hangat, namun sapaannya tak disambut dengan baik oleh anak tirinya.
"Minggir kau sialan."
Nancy hanya menghela napas, ia bersabar selama ini dengan ketidaksukaan Nolan atas kehadirannya.
Ia sudah mengakui perbuatannya, namun pria itu masih tak memaafkan dirinya. Bagi Nolan, Nancy adalah penyebab kematian ibunya.
"Lisa, temui aku di bar xxx."
"Okay, Honey."
Nolan menambah kecepatan mobilnya usai memutuskan telepon. Ia segera menuju lokasi untuk melampiaskan rasa kesalnya.
Obat dari amarahnya hanyalah sex, dan Nolan hanya perlu menghubungi koleksinya untuk menemani atau menjadi samsak hidupnya di atas ranjang.
Dengan senang hati, para koleksinya melayaninya dengan service yang memuaskan.
Luca kembali ke mansionnya setelah kepergian Hana, di sana ia bertemu dengan Helen yang sudah menunggunya.
"Baby, katakan padaku di mana kau tinggal?"
"Mansion."
"Kau tahu maksudku, Baby."
Helen bergelayut manja pada Luca yang terlihat acuh padanya.
"Jika kau tahu, kau ingin mengatur segalanya seperti di mansion ini?" Tatapan Luca seperti ingin menguburnya hidup-hidup.
"Bukan begitu. Kau sangat sulit ku temui jika tak ada janji."
"Jadi, jangan melewati batas. Harusnya kau merasa cukup dengan mengacaukan mansionku."
"Aku tak mengacaukannya, aku hanya membuatnya terlihat seperti rumah."
"Kau terlalu ikut campur pada hidupku. Kita hanya menjalin bisnis bukan hati."
"Aku hanya tak ingin kau merasa sendiri."
"Lihatlah orang-orangku. Apa aku sendiri?"
"Baby, berhenti keras kepala."
"Berhenti seolah kau sangat tahu tentang diriku."
"Aku hanya membantumu."
"Margareth!"
"Ya, tuan?"
"Usir perempuan ini, dan jangan biarkan dia masuk lagi kemari."
"Baby! Hei lepas!"
Helen mencoba melepaskan diri dari kepala pelayan dan pengawal yang menyeretnya keluar.
"Baby! Aku seperti ini karena ingin membantumu! Aku mencintaimu!"
Helen menjerit meminta dilepaskan, ia mengamuk di depan pagar.
Luca memerintahkan pada semua orang yang berada di mansion untuk memblokir Helen mulai hari ini.
"Buatkan aku susu hangat."
Ucap Luca pada pelayan yang berdiri di sisinya.
"Baik, tuan." Luca melangkah menaiki tangga menuju ruang kerjanya, ia menyibukkan diri dengan bekerja seperti rutinitasnya.
Ia merindukan Hana yang sudah empat hari pergi berlibur.
Diketahuinya, Hana saat ini berada di sebuah pantai bersama rekan kerjanya.
Melalui foto yang dikirimkan oleh orang bayaran, Luca menatap dalam foto yang menampilkan Hana memakai gaun panjang berwarna biru tanpa lengan dengan topi lebar yang menutupinya dari terik matahari.
Rambut panjangnya yang tertiup angin membuatnya terlihat semakin cantik dengan tawa yang lepas.
"Kau begitu bahagia di luar sana." Gumam Luca sebelum menyimpan foto tersebut ke dalam laci.