Demi menyelamatkan hak waris adiknya dari keserakahan sang kakak tiri, seorang CEO wanita yang berhati dingin terpaksa terjebak dalam pernikahan kontrak. Ia harus bersanding dengan pengacara mendiang ayahnya—pria yang memandangnya dengan kebencian, namun memegang kunci kekuatan hukum yang ia butuhkan.
Tempaan hidup yang keras telah membentuknya menjadi sosok yang tegas dan tak kenal lelah. Di bawah atap yang sama, tak ada ruang bagi cinta, hanya ada dendam yang membara di hati sang suami. Demi ambisi masing-masing, keduanya terpaksa memerankan sandiwara rumah tangga yang sempurna di mata dunia.
Akankah benih cinta tumbuh di sela-sela permusuhan mereka, ataukah perpisahan pahit yang menjadi akhir dari kesepakatan ini?
Mau tahu kelanjutan ceritanya? Jangan lupa baca di sini, ya. 🤗
Jangan lupa, like dan komentarnya sebagai penyemangat Author. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ndo' Anha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. WATACI
Di dalam ruangan yang diselimuti aura ketegangan, Barra duduk bersandar. Jemarinya mengetuk-ngetuk meja kayu dengan irama yang mencerminkan kecemasan sekaligus rencana busuk.
"Apa berita itu benar? Adik tiriku kesayangan Wiguna itu akan menikah?" suara baritonnya terdengar serak dan mengintimidasi.
Anak buahnya mengangguk patuh. "Benar, Bos. Saya sudah menyelidiki semuanya. Pestanya akan diadakan besok. Semua persiapan pernikahan sudah rampung."
"Menarik. Wanita independen sepertinya tiba-tiba menikah. Ini pasti rencananya untuk mengamankan posisi di perusahaan. Tidak mungkin dia sudi menikah dengan lelaki yang sudah bertunangan jika bukan karena taktik bisnis." Barra bangkit, kedua tangannya mengepal kuat di atas meja.
"Bagaimanapun, pernikahan itu harus batal! Jangan sampai dia menginjakkan kaki di tempat pesta. Jika perlu, lenyapkan dia dari muka bumi ini, hahaha!" Barra tertawa puas, suara tawa yang memenuhi ruangan redup itu.
"Baik, Bos!" sahut anak buahnya sebelum bergegas keluar.
Kembali sendirian, sorot mata Barra berubah semakin tajam. Semua miliknya akan ia rebut kembali, meski harus mengorbankan banyak nyawa. Ia yang sedari kecil tumbuh dalam kemewahan takkan rela melepas segalanya, apalagi kepada orang yang sangat ia benci.
Nika telah selesai dirias. Ia mengenakan gaun pernikahan putih dengan model simpel namun elegan. Rambutnya yang biasa digerai sebahu, kini disanggul sederhana, menonjolkan leher jenjangnya. Gaun itu melekat sempurna, membungkus tubuhnya yang proporsional.
"Ayo kita berangkat, Bu. Para tamu pasti sudah menunggu di gedung," ujar Geby sembari mengulurkan tangan.
Nika meraih uluran tangan Geby dengan tenang, lalu melangkah menuju mobil yang sudah menunggu. Geby dengan sigap membantu Nika masuk dan duduk di sampingnya.
"Kamu yakin semua sudah siap?" tanya Nika, suaranya datar tanpa nada gugup sedikit pun.
Geby mengangguk mantap. "Iya, Bu. Bahkan Pak Adnan juga sudah berada di sana."
Nika menyandarkan tubuhnya, berusaha rileks saat mobil mulai melaju. Sepanjang perjalanan, ia hanya fokus pada layar iPad-nya, memeriksa laporan yang masuk ke surel. Baginya, pernikahan ini tak lebih dari sekadar transaksi bisnis.
Namun, ketenangan itu pecah seketika saat sopir mulai tampak panik. Pedal rem diinjak berkali-kali, namun tak ada reaksi. Di saat yang sama, sebuah truk tronton besar melaju kencang dari arah depan, seolah sengaja mengambil jalur mereka meski sopir sudah membunyikan klakson berkali-kali.
"Bu, bagaimana ini? Remnya blong!" pekik sang sopir panik.
Nika dan Geby saling pandang dengan mata membelalak. Truk di depan semakin dekat, dan ...
Cittt! Bruak!
Mobil berbelok tajam, menghantam pembatas jalan hingga terbalik. Tubuh Nika terguncang hebat sebelum akhirnya pandangannya gelap total.
Sementara itu, di dalam gedung pernikahan, kegelisahan mulai merayap di antara tamu undangan. Nika tak kunjung datang. Adnan berdiri di atas pelaminan dengan wajah masam, berkali-kali melirik jam tangannya dengan geram.
Bisik-bisik miring mulai terdengar di antara keluarga besar Admaja.
"Aku sebenarnya enggan datang. Dia kan anak tiri pelakor itu, berani-beraninya dia merasa berhak mewarisi harta Wiguna," cibir salah satu kerabat.
"Benar. Entah racun apa yang mereka berikan sampai Wiguna menelantarkan anak dan istri pertamanya," sahut yang lain tak kalah sinis.
Adnan mendengar semua itu dengan hati miris. Ia menyadari betapa banyaknya orang yang membenci Nika—bahkan tak ada satu pun anggota keluarga besar yang berpihak padanya. Karyawan dan kolega hanya bersikap manis di depan wanita itu karena jabatan. Kadang Adnan merasa kasihan, namun mengingat keangkuhan Nika, ia pun sering kali merasa benci.
"Sudah, bubar semua! Pernikahan ini tidak akan pernah terjadi!" seru Barra yang tiba-tiba muncul di pintu utama.
Sasmita segera menghampirinya. "Apa maksudmu, Barra? Kenapa kau bicara begitu?"
"Pikirkan saja sendiri. Ini sudah jam sebelas siang, tapi dia belum muncul. Dia pasti hanya membohongimu. Kenapa kau masih percaya pada wanita iblis itu?" Barra menyeringai puas.
"Jangan asal bicara kau, Barra!" bentak Elano.
Barra menoleh, menatap Elano remeh. "Wah, kau sudah berani membentakku sekarang? Sudah tidak takut lagi, ya?"
"Awas saja kau. Jika terjadi sesuatu pada kakakku, aku tidak akan memaafkanmu!" ancam Elano.
Barra tak gentar. Ia melangkah maju hingga Elano terdesak mundur. "Jangan sok berkuasa, anak kecil. Aku akan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku. Lebih baik kau diam dan jangan ikut campur urusan orang dewasa."
Karina segera menarik Elano menjauh, matanya berkaca-kaca membayangkan hal buruk menimpa putrinya.
"Sudah, semua bubar!" perintah Barra lagi dengan nada final.
Para tamu bersiap meninggalkan ruangan, begitu pun Adnan yang hendak turun dari pelaminan. Namun, langkah mereka terhenti saat pintu besar gedung didorong kuat dari luar.
Brak!
Seluruh ruangan mendadak senyap. Mata semua orang membelalak melihat siapa yang berdiri di ambang pintu. Itu Nika.