NovelToon NovelToon
LENTERA ARWAH DI LEMBAH SUNYI

LENTERA ARWAH DI LEMBAH SUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Romansa Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

No plagiat 🚫

" Di bawah naungan gerbang kuno Lembah Sunyi, He Xueyi berdiri tegak. Jemarinya yang dingin mencengkeram gagang lentera emas yang berpijar redup.
Angin malam menerpa jubah merahnya, namun ia tak bergeming. Baginya, raungan arwah penuh dendam di depannya hanyalah musik pengantar tidur.

Dengan tatapan setajam sembilu, ia bergumam pelan, 'Dendammu adalah bebanku. Masuklah ke dalam lentera, atau hancur menjadi debu tanpa jejak.'"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sisa Abu di Balkon Senyap

Sisa-sisa jeritan dari ruang bawah tanah keempat masih seolah terngiang di sela-sela pilar kayu Paviliun Lentera Abadi, meskipun secara fisik sunyi telah kembali berkuasa. He Xueyi berdiri di balkon lantai tertinggi, tempat di mana pandangannya bisa menyapu seluruh Lembah Sunyi yang kini tertutup kabut ungu pekat—hasil dari sisa energi Yin yang dilepaskan Bian Zhi tadi malam untuk menyapu bersih sisa-sisa energi Yang dari Sekte Awan Putih.

Di tangannya, Lentera Abadi itu masih menyala, namun apinya tidak lagi ungu kehitaman yang ganas. Warnanya kembali menjadi putih pucat yang tenang, seolah-olah ia baru saja kenyang memakan emosi negatif dari para kultivator sombong itu.

Langkah kaki yang ringan dan teratur terdengar di belakangnya. Tanpa menoleh pun, He Xueyi tahu itu adalah Bian Zhi. Asisten setianya itu selalu berjalan dengan kesunyian seorang pembunuh bayangan, namun kehadirannya selalu membawa hawa dingin yang familiar bagi He Xueyi.

"Tuan, para murid muda itu sudah dikirim ke perbatasan Kota Wu. Ingatan mereka tentang teknik sekte telah dihapus dengan Mantra Penghapus Jejak, yang tersisa hanyalah trauma mendalam terhadap cahaya emas," lapor Bian Zhi datar. Ia berdiri dua tindak di belakang He Xueyi, tangan kanannya masih memegang hulu pedang hitamnya yang kini sudah bersih dari darah.

He Xueyi tidak menjawab. Matanya tertuju pada pohon tua yang meranggas di kejauhan, tempat di mana tubuh Gao Shuren kini tergantung, perlahan-lahan menyatu dengan batang pohon yang haus akan esensi kehidupan.

"Bian Zhi," panggil He Xueyi pelan. Suaranya terbawa angin malam yang kering. "Sudah berapa ratus tahun kau mengikutiku di tempat terkutuk ini?"

Bian Zhi terdiam sejenak, matanya yang tajam sedikit melembut—sebuah ekspresi yang hanya ia tunjukkan saat mereka sedang berdua di kesunyian balkon. "Tiga ratus empat puluh dua tahun, tujuh bulan, dan dua belas hari, Tuan."

"Waktu yang sangat lama bagi seorang pendekar berbakat sepertimu untuk terjebak menjaga lentera tua dan arwah-arwah yang membusuk," He Xueyi berbalik, jubah sutranya yang disulam benang perak berkilat di bawah cahaya bulan. "Logikanya, dengan kemampuan pedangmu, kau bisa saja menjadi ketua sekte besar di dunia atas, bukannya menjadi pelayan dari seorang wanita yang bahkan tidak memiliki detak jantung."

Bian Zhi sedikit menundukkan kepalanya, suaranya tetap teguh seperti batu karang. "Hamba tidak tertarik pada takhta yang dibangun di atas kebohongan seperti yang dilakukan Awan Putih. Bagi hamba, menjaga paviliun ini adalah satu-satunya tujuan yang masuk akal. Lagipula... dunia luar terlalu bising dengan kemunafikan."

He Xueyi tersenyum tipis—sebuah senyum yang sangat indah namun terasa hampa. Ia teringat masa lalunya sebelum ia "terikat" pada paviliun ini. Masa di mana ia masih seorang gadis bangsawan yang dikhianati oleh kekasihnya sendiri demi sebuah kitab pusaka. Dendam itulah yang membuatnya menjadi penjaga Lentera Abadi, menghakimi jiwa-jiwa yang kotor agar ia bisa menebus dosanya sendiri.

Xiao Bo, arwah kecil yang biasanya paling takut dengan suasana serius, tiba-tiba muncul dari balik pot bunga giok besar. Ia membawa nampan kecil berisi teh bunga persik yang masih mengepulkan uap. "Tuan Besar, ini tehnya... biar hatinya tidak terlalu 'pahit' seperti kata Bian Zhi tadi."

He Xueyi mengambil cangkir porselen itu, menyesapnya perlahan. "Xiao Bo, kau tahu kenapa aku membiarkan murid-murid itu hidup?"

Xiao Bo menggeleng cepat, matanya yang bulat menatap penuh rasa ingin tahu.

"Karena di dalam logika keadilanku," He Xueyi meletakkan cangkir itu kembali, "kematian adalah pelarian yang terlalu mudah. Membiarkan mereka hidup dengan rasa haus akan kebenaran yang sudah musnah adalah hukuman yang lebih nyata. Mereka akan menghabiskan sisa hidup mereka mencari tahu siapa yang menghancurkan sekte mereka, tanpa pernah sadar bahwa yang menghancurkannya adalah dosa guru mereka sendiri."

Tiba-tiba, udara di sekitar paviliun bergetar hebat. Sebuah suara lonceng tembaga yang sangat berat terdengar dari gerbang depan lembah. Gema lonceng itu bukan berasal dari dunia manusia; getarannya mampu membelah kabut hitam dan membuat roh-roh di sekitar paviliun menjerit kesakitan.

"Tamu lagi?" Alis Bian Zhi bertaut tajam.

"Bukan tamu biasa," He Xueyi menyipitkan matanya. "Itu Lonceng Pemanggil Jiwa dari Istana Sembilan Kegelapan. Sepertinya kabar tentang kematian Penatua Agung Awan Putih sudah sampai ke telinga Raja Roh."

Dari balik kabut yang terbelah, muncul seorang utusan berjubah hitam tanpa wajah yang melayang di atas tanah. Ia membawa gulungan perkamen berwarna merah darah yang disegel dengan batu giok hitam. Utusan itu berlutut di bawah balkon, suaranya terdengar seperti bisikan ribuan arwah.

"Penjaga Lentera... Raja Roh mengundang Anda untuk mengadili satu jiwa yang sangat spesial. Jiwa seorang mantan Kaisar yang menolak masuk ke gerbang reinkarnasi karena merasa masih memiliki urusan yang belum selesai di dunia fana."

He Xueyi menatap gulungan itu dengan minat yang baru. Seorang Kaisar yang keras kepala? Ini adalah tantangan logika yang menarik. "Katakan pada tuanmu, aku akan mempertimbangkannya. Tapi dia harus tahu... di paviliun ini, tidak ada takhta bagi seorang Kaisar. Hanya ada kursi pesakitan bagi mereka yang berdosa."

Malam itu, petualangan He Xueyi memasuki babak baru. Bukan lagi soal sekte kecil, tapi soal politik dunia bawah yang melibatkan para penguasa besar.

1
☕︎⃝❥Mengare (Comeback)
Wah, sudah disuguhi pemandangan kayak gini awal-awal 😭
Diah nation: eh itu baru awalan lho tapi nanti pas tengah tengah bab bakal ada kejutan 😂😂baca aja dulu seru kok hehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!