Mapanji Wijaya seorang pangeran muda dari Istana Wuwatan terkenal dengan sifatnya yang manja, pengecut, suka foya-foya dan gemar berbuat seenaknya. Sebagai putra raja yang seharusnya memiliki sifat mengayomi dan melindungi masyarakat Kerajaan Medang, Mapanji malah menampilkan sifat yang sebaliknya.
Bahkan sampai Nararya Candrawulan, perempuan yang dijodohkan dengan nya, memohon agar perjodohan dengan Mapanji Wijaya dibatalkan saking bejatnya sang pangeran.
Tetapi di balik semua itu, ada sebuah rahasia besar yang ia simpan rapat-rapat hingga tak seorangpun yang tahu. Apakah itu? Temukan jawabannya dalam kisah Rahasia Pangeran Pecundang, hanya di Noveltoon kesayangan kita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak Jadah 2
Whhuuuuuggggg...
BLLAAAAAAAARRRRRRRRRR!!!
Lima orang pengikut Raden Layang terpental dan langsung muntah darah begitu dua serangan Ratri dan Nararya Candrawulan menghantam tubuh mereka. Tetapi dua diantaranya, yang berbadan gempal dan bertubuh kekar, segera bangkit. Kedua nya langsung mencabut keris di pinggang mereka dan kembali bergerak maju.
Shhrreeeeetttt shhrreeeeetttt..!
Nararya Candrawulan dan Ratri kompak mundur menghindari sabetan keris anak buah Raden Layang. Namun di kejap waktu berikutnya, mereka balik menyerang dan pertarungan satu lawan satu pun segera terjadi.
Kelincahan Nararya Candrawulan dalam memainkan ilmu bela diri membuat Pangeran Mapanji Wijaya kagum. Gerakan nya luwes tetapi juga cepat dan mematikan. Dalam 5 jurus saja, ia sudah membuat lawannya keteteran.
"Perempuan ini hebat juga. Dia mampu bertahan dan menyerang meskipun hanya dengan tangan kosong menghadapi lawan yang bersenjata. Tenaga dalam nya juga sudah melebihi tingkat 6. Sungguh utusan yang tidak bisa diremehkan", gumam Pangeran Mapanji Wijaya yang melihat pertarungan di tengah-tengah bangunan rumah hiburan Nyai Kantil bersama Warak dan Tunjung Biru.
Pengunjung lainnya juga menonton pertarungan itu dari pinggiran bangunan. Perkelahian disini wajar terjadi dan yang ini benar-benar menarik untuk disaksikan.
Dhhaaaaaaasssss dhhaaaaaaasssss...
Bhhaaaaagggg!!
Ooooouuuugggghhh....!!!
Tubuh lawan Nararya Candrawulan terpental dan jatuh menghujam salah satu tiang bangunan. Dia muntah darah sebelum jatuh pingsan. Lawan yang di hadapi Ratri pun bernasib sama. Ini membuat Raden Layang bergerak perlahan, bermaksud untuk kabur.
"Mau kemana kau, anak jadah?! ", suara Pangeran Mapanji Wijaya ini ibarat suara malaikat maut di telinga Raden Layang. Dia berbalik badan dan melihat Pangeran Mapanji Wijaya berjalan mendekati nya.
" M-mau apa kau hah?!
A-aku ini anak Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana. Kalau berani memukul ku, ayah ku pasti akan meminta keadilan pada Gusti Ratu Sri Isyana Tunggawijaya", ucap Raden Layang dengan terbata-bata.
"Mengancam ku dengan pakai nama ibu ku?!
Kau ini guoblok atau memang benar-benar tolol hah. Sekalipun ayah mu menangis darah di depan Ibu ku, apa kau pikir ibu ku akan menghukum ku begitu saja? Warak, hajar dia..!! "
Tanpa di perintah dua kali, Warak langsung mencengkram pakaian Raden Layang dan segera menghujani nya dengan pukulan dan tendangan. Bogem mentah Warak sebesar buah kelapa gading berulang kali menghajar putra Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana itu.
Bhhaaaaagggg bhhuuuuuuggg..
Bhhaaaaagggg bhhuuuuuuggg!!
"Ampuni aku! Jangan pukul wajah ku! Ampun tolong ampuni aku, Pangeran! Ampun...!! "
Saat Warak menghajar Raden Layang inilah, tiba-tiba sekelompok orang masuk ke dalam rumah hiburan Nyai Kantil. Salah seorang dari mereka yang tak lain adalah Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana segera berteriak lantang.
"Hentikan! Jangan diteruskan lagi... "
Rupa-rupanya ada yang melaporkan peristiwa ini pada Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana yang membuat salah satu punggawa istana Medang ini bergegas mendatangi tempat itu.
Suara keras Mpu Kertawahana membuat Warak menghentikan aksinya, begitu juga dengan Pangeran Mapanji Wijaya, Ratri dan Nararya Candrawulan. Bahkan semua pengunjung rumah hiburan Nyai Kantil bersama para penghibur yang menonton hal ini langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Pangeran Mapanji Wijaya!
Berani-beraninya kau menyiksa anak ku hah?! Apa kau pikir semua orang ini hanya mainan mu saja?! Apa sudah tidak ada hukum di negeri ini??", teriak Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana penuh murka.
Warak segera melepaskan cengkraman nya pada Raden Layang yang membuat pemuda bangsawan ini segera berlari ke samping ayahnya, mencari perlindungan.
" Hei Rakryan Kanuruhan...
Sebelum kau bicara tentang hukum, lebih baik kau tanyakan pada putra jadah mu itu kenapa aku sampai memukuli nya?", ujar Pangeran Mapanji Wijaya dengan tenang.
"Bocah tengik!!
Cepat katakan sejujurnya, apa yang sudah kau lakukan?! Katakan saja semuanya, aku pasti akan membela mu.. ", Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana menatap ke arah Raden Layang di sebelahnya.
" Aku ah a-aku... ", Raden Layang gelagapan menjawab pertanyaan ayahnya.
" Tidak berani jujur?!
Baiklah, biar aku beritahu kau Rakryan Kanuruhan. Putra mu mengatakan aku bosan hidup? Itu artinya sama dengan mengancam keselamatan pangeran Istana Watugaluh dan itu bisa dicap sebagai pemberontak. Dan kau sendiri tahu bukan apa hukuman nya mengancam keselamatan pangeran dan di cap sebagai pemberontak Rakryan Kanuruhan?! Hukuman mati!", tegas Pangeran Mapanji Wijaya yang membuat Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana langsung berkeringat dingin.
'Sejak kapan brengsek ini jadi pintar berbicara? Sial, apa yang harus ku lakukan sekarang? ', batin Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana.
" Eh putra hamba tidak bermaksud demikian, Gusti Pangeran. Ini semua hanya salah paham. Eh iya salah paham... ", nada suara Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana terdengar rendah.
"Huhhh, salah paham??
Lihat orang orang ini..!! Mereka semua ingin membunuh ku. Kalau saja tidak ada dua pendekar hebat ini, mungkin sekarang aku pasti sudah mati. Salah paham katamu? Omong kosong..!! ", Pangeran Mapanji Wijaya melebarkan tangannya.
Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana menatap lima orang pengikut Raden Layang yang terkapar tak berdaya. Dia tahu bahwa orang-orang ini adalah pengikut setia anaknya yang selama ini dia tugaskan menjaga keselamatan Raden Layang.
Dia yang pintar membaca situasi, langsung menempeleng Raden Layang dengan keras.
Pllaaaaakkkk..!!
Aaaauuuuuuuggggghhhhh...!!
"Romo, kenapa kau memukul ku? ", hiba Raden Layang memelas.
" Anak durhaka!! Kau sudah membuat kesalahan besar masih juga tidak sadar?
Cepat berlutut! Minta ampun pada Gusti Pangeran Mapanji Wijaya.. ", perintah Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana.
Tak ingin ayahnya semakin marah, Raden Layang segera berlutut di depan Pangeran Mapanji Wijaya sembari menyembah.
" Ampuni hamba, Gusti Pangeran. Hamba salah, mohon ampun. Gusti Pangeran Mapanji Wijaya orang besar, pasti tidak akan menganggap kesalahan orang kecil seperti hamba.. ", ucap Raden Layang penuh penyesalan.
" Gusti Pangeran, anak hamba sudah menyadari kesalahannya. Mohon Gusti Pangeran berbesar hati mengampuninya.. ", sambung Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana dengan nada rendah.
Hemmmmm...
" Aku ini bukan orang picik yang sempit hati. Bisa saja memaafkan seseorang.. "
Wajah Raden Layang dan Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana berseri mendengar apa yang dikatakan oleh Pangeran Mapanji Wijaya.
"Tapi... "
Raut muka anak bapak itu langsung berubah drastis mendengar kata sang pangeran selanjutnya.
"Semua itu harus dengan ketulusan yang tinggi... "
Pangeran Mapanji Wijaya menggosokkan jempol tangan dan telunjuknya di depan Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana. Tahulah sekarang Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana apa yang harus ia lakukan. Dia segera merogoh balik bajunya dan mengeluarkan sekantong kepeng emas. Isinya tak kurang dari 100 kepeng emas.
Segera ia menghaturkan nya ke Pangeran Mapanji Wijaya. Sang pangeran segera melirik ke arah Warak yang langsung paham dengan isyarat majikannya. Warak pun langsung mengambil kantong kepeng emas ini dan menyimpan nya.
"Bagus bagus...
Aku hargai ketulusan mu, Rakryan Kanuruhan. Lain kali didik putra mu dengan baik, jangan asal bertindak agar tidak terjadi masalah seperti ini.
Warak! Nisanak berdua..!! Ayo kita pergi... ", ujar Pangeran Mapanji Wijaya sembari berbalik badan dan melemparkan sekantong kecil kepeng perak pada Nyai Kantil.
Warak, Ratri dan Nararya Candrawulan pun bergegas mengikuti langkah sang pangeran meninggalkan tempat ini.
Rakryan Kanuruhan Mpu Kertawahana menggeretukkan gigi nya sambil menatap langkah Pangeran Mapanji Wijaya dan para pengikutnya yang semakin menjauh dari tempat hiburan ini. Dengan penuh murka ia membatin,
'Pangeran Mapanji Wijaya, masalah ini belum selesai... '