NovelToon NovelToon
Pendekar Legenda Naga

Pendekar Legenda Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

“Ibu … apa Ibu akan kembali menjemputku?”

Itu adalah kata-kata terakhir Lu Ming sebelum ibunya pergi dan tak pernah kembali.

Ditinggalkan di kota asing, ia tumbuh dengan harapan yang tak pernah padam—menunggu seseorang yang mungkin tak akan pernah datang.

Saat ia berumur 10 tahun, ia berhenti menunggu dan memilih mencari. Perjalanan itu membawanya pada satu tujuan: menemukan ibunya.

Namun ketika akhirnya ia bertemu … bukan pelukan hangat yang ia dapatkan, melainkan kenyataan pahit yang menghancurkan segalanya.

Apakah kebenaran yang begitu kejam itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Pertemuan anak dan ibu

​Ibukota Kekaisaran, Kota Giok Surgawi, adalah puncak dari segala kemegahan yang pernah dibayangkan Lu Ming dalam mimpi-mimpinya yang paling liar.

Tembok-temboknya tidak dibangun dari batu kali biasa, melainkan dilapisi marmer putih yang memantulkan cahaya matahari dengan kemilau yang menyilaukan mata.

Di langit yang biru jernih, kereta-kereta kencana ditarik oleh binatang suci bersayap melintas di antara awan-awan tipis, meninggalkan jejak cahaya keemasan.

​Aroma dupa mahal yang menenangkan dan energi Qi yang begitu murni memenuhi setiap sudut udara, sebuah kontras yang kejam dengan bau amis darah dan debu jalanan yang selama dua puluh tahun ini melekat erat pada jubah Lu Ming.

​Selama beberapa pekan, Lu Ming bergerak seperti bayangan di balik kemegahan itu.

Ia menggunakan reputasinya sebagai Penyair Pengembara untuk menyusup ke dalam jamuan makan malam para bangsawan rendah.

Dengan tutur kata yang sopan dan rima puisi yang menyayat hati, ia mengumpulkan kepingan informasi demi informasi.

Hingga akhirnya, semua petunjuk itu mengerucut pada satu titik: Kediaman Agung Jenderal Perbatasan, klan terkuat kedua di Kekaisaran.

​Di sana, di dalam taman bunga lili yang luasnya melebihi seluruh Desa Bambu Hitam, Lu Ming berdiri tersembunyi di balik pilar batu besar. Jantungnya berdegup begitu kencang, menghantam rusuknya hingga telinganya berdenging hebat.

​Ia melihatnya.

​Seorang wanita anggun berpakaian sutra biru muda sedang duduk bersantai di sebuah paviliun giok.

Wajahnya masih secantik ingatannya, seolah waktu tidak berani menyentuh kulitnya yang halus, meski kini dihiasi perhiasan giok dan emas yang tak ternilai harganya.

Ia tertawa kecil, suara renyah yang dulu selalu menjadi pengantar tidur Lu Ming di gubuk tua mereka yang bocor.

​Di sekeliling wanita itu, dua anak laki-laki berusia sekitar delapan belas tahun, tujuh tahun lebih muda dari Lu Ming sedang berlatih pedang dengan penuh semangat. Pedang mereka terbuat dari perak murni, berkilau indah di bawah sinar matahari.

​"Ibu, lihat seranganku! Aku sudah menguasai teknik pemecah awan!" teriak salah satu pemuda itu, wajahnya berseri-seri penuh kebanggaan dan cinta.

​Wanita itu tersenyum dengan binar mata yang begitu hangat, senyum yang selama dua puluh tahun ini Lu Ming rindukan setengah mati.

Ia mengusap keringat di dahi putranya dengan sapu tangan sutra yang lembut. "Bagus, Nak. Ayahmu pasti akan sangat bangga melihat kemajuanmu hari ini."

​Lu Ming merasa dunianya runtuh seketika. Seluruh oksigen di paru-parunya seolah lenyap, digantikan oleh rasa sesak yang membakar. Dua puluh tahun.

​Dua puluh tahun ia menyimpan kepingan perunggu berkarat di dalam kantong kain kusamnya.

Dua puluh tahun ia tidur beralaskan batu yang dingin, menunggu di gerbang kota, mencari di tengah hutan buas, dan membunuh manusia demi bertahan hidup hanya untuk memegang satu janji: "Ibu pasti akan kembali menjemputmu."

​Ternyata, ibunya tidak pernah terjebak dalam penderitaan. Ibunya tidak pernah diculik atau hidup tersiksa sebagai budak.

Ibunya hanya... memulai hidup baru. Hidup yang lebih mewah, hidup yang lebih sempurna, tanpa beban seorang anak dari masa lalu yang miskin dan penuh noda.

​Lu Ming tidak bisa menahan getaran di tubuhnya lagi. Dengan langkah yang goyah, ia keluar dari balik bayang-bayang pilar.

Para penjaga berbaju zirah perak segera menghunuskan tombak ke arahnya, namun Lu Ming tidak peduli. Matanya hanya tertuju pada satu titik yang kini perlahan menoleh ke arahnya.

​"Ibu..." suaranya serak, pecah, nyaris tak terdengar di antara semilir angin taman.

​Wanita itu, An Rou, menoleh. Senyum hangat untuk putra-putranya membeku seketika.

Ia menatap pria dewasa di hadapannya, pria dengan jubah penuh tambalan, mata yang menyimpan seribu luka perang, dan wajah yang merupakan cerminan dari pria yang dulu pernah dicintainya di sebuah gubuk tua yang jauh.

​"Siapa kau? Berani sekali kau menyusup dan menyebut nama Ibunda Jenderal dengan tidak sopan!" teriak salah satu putra muda itu, menghunuskan pedang peraknya tepat ke arah leher Lu Ming.

1
Dhewa Iblis
Kereenn...
Beni: makasiihhh. lanjut teruuus
total 1 replies
Dhewa Iblis
Mantapp...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Mantap...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Mantap...
Dhewa Iblis
Lanjut...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Lanjut...
Dhewa Iblis
Next...
Dhewa Iblis
Semangaatt thorr...
Dhewa Iblis
😥😥😥
Dhewa Iblis
Laaannnjjjuuttt...
Dhewa Iblis
Laaannjuut..
Nanik S
Apakah Liu Shen dibawa kesekte Suci
Nanik S
Wajah yang lama dirindukan tapi akhirnya menjadi kebencian tiada batas
Beni: lebih memilih harta dan membuang masa lalu/Scowl/
total 1 replies
Nanik S
kenapa mereka tidak bekerja sama menghancurkan ke Kaisaran
Beni: perbedaan pendapat
total 1 replies
Nanik S
Ceritanya bagus Tir
Nanik S
Cerita yang sama sama membawa kekecewaan
Nanik S
Liu Ming benar benar kecewa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!