Sinopsis:
Enam tahun lalu, Azzalia sengaja mendorong Danendra pergi karena merasa dirinya terlalu dingin untuk cinta setulus itu. Ia menghilang tanpa jejak, berharap luka laki-laki itu sembuh.
Namun di kota ini, semesta mempertemukan mereka kembali. Saat Azzalia masih membeku dalam rasa bersalah, Danendra justru masih berdiri di titik yang sama.
"Azzalia, kalau kamu sudah capek berkelana, tolong menoleh ke belakang. Aku masih di sini, menunggu kamu."
Masihkah ada ruang untuk cinta yang pernah dibuang, atau pertemuan ini hanya untuk membuka luka lama yang belum benar-benar kering?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Ruang Tanpa Celah
Perjalanan kali ini terasa jauh lebih melelahkan daripada saat aku berangkat ke Kota K kemarin. Mungkin karena beban emosional yang kupikul jauh lebih berat, atau mungkin karena aku terlalu sadar bahwa di belakangku, ada seseorang yang keras kepala menjaga setiap jengkal jalanku.
Aku terus memacu motor menembus sisa-sisa kemacetan sore hari di jalan lintas provinsi. Angin kencang menghantam tubuhku, namun aku tidak memedulikannya. Aku hanya ingin pulang. Pulang ke kamar kost yang sempit itu, tempat di mana aku tidak perlu menjadi asisten siapa-siapa, tempat di mana aku bisa menjadi Azzalia yang hancur tanpa ada mata yang mengawasi.
Sesuai janjinya tadi siang di depan keluarga besar, Danendra benar-benar hanya mengantarku sampai perbatasan Kota J. Begitu roda motorku melewati tugu selamat datang yang menandai pintu masuk kota, aku melirik kaca spion. Lampu mobil hitam itu melambat.
Danendra memberikan isyarat lampu jauh dua kali—sebuah tanda pamit yang sunyi namun terasa begitu nyata menghujam dadaku. Ia memutar kemudinya, berbelok di u-turn pertama untuk kembali ke jalur arah pusat kota atau kediamannya sendiri, sementara aku harus tetap lurus menuju area pinggiran tempat kostku berada.
Tiba-tiba, udara di sekitarku terasa lebih dingin saat sorot lampunya tak lagi menerangi jalanku dari belakang. Aku menarik napas panjang, mencoba fokus sepenuhnya pada aspal di depanku.
"Terima kasih sudah menjaga sampai sini, Nen," bisikku pelan di balik kaca helm, sebuah ucapan yang hanya berani kulontarkan saat dia tidak mungkin bisa mendengarnya.
Aku sampai di depan gerbang kost saat langit sudah berubah menjadi gelap sepenuhnya. Dengan sisa tenaga yang masih tersisa, aku memarkirkan motor dan melangkah menaiki tangga dengan kaki yang terasa kaku dan gemetar. Begitu masuk ke dalam kamar, aku langsung merebahkan tubuh di atas kasur tanpa sempat mengganti pakaian, membiarkan tas ranselku masih tersampir berat di pundak.
Di dalam tas yang masih menempel di punggungku itu, ponselku berada. Masih dalam keadaan mati total sejak Sabtu pagi, terhimpit di antara pakaian kotor dan tumpukan memoriku tentang Kota K yang baru saja kubawa pulang. Aku tahu ponsel itu harus segera dinyalakan untuk keperluan kantor besok pagi, tapi saat ini, berat tas itu terasa seperti berat dosaku selama enam tahun terakhir.
Aku memejamkan mata erat-erat, membiarkan keheningan kamar kost ini mendekapku. Besok adalah hari Senin, dan zirahku harus sudah terpasang rapi sebelum jam sembilan pagi. Aku tidak butuh pesan singkat, aku tidak butuh notifikasi, aku tidak butuh suara siapa pun. Aku hanya butuh tidur untuk sedikit melupakan bahwa hari ini, tembok yang kubangun telah runtuh berkali-kali di tangan laki-laki yang sama.
Senin pagi tiba lebih cepat dari yang kuharapkan. Cahaya fajar yang masih remang menyelinap di balik celah gorden, memaksaku untuk segera bangun. Meskipun sekujur tubuhku masih terasa nyeri dan pegal luar biasa akibat perjalanan kemarin, aku tidak membiarkan diriku terbuai oleh kasur lebih lama lagi. Aku harus bergerak cepat sebelum Kota J benar-benar terbangun, dan sebelum ada mobil hitam yang mungkin kembali muncul di depan gerbang.
Setelah mandi dengan air dingin yang cukup menyengat untuk memacu adrenalin, aku segera bersiap. Aku sengaja tidak menyalakan ponselku. Aku belum siap menghadapi kenyataan yang tertahan di sana.
Pukul enam pagi, aku melangkah keluar dari kamar kost. Suasana koridor masih sangat sunyi. Aku menuruni tangga dan berjalan menuju gerbang depan. Udara pagi terasa segar namun kering, menyapa wajahku dengan ketenangan yang singkat.
Aku berjalan menuju kedai bubur ayam langgananku yang berada tepat di seberang gang kost. Penjualnya, Pak Man, baru saja selesai menata meja-meja kayu kecilnya.
"Eh, Mbak Azzalia. Tumben pagi banget, Mbak?" sapa Pak Man ramah sambil menyiapkan mangkuk.
"Iya, Pak. Lagi pengin sarapan lebih awal," jawabku dengan senyum tipis yang kupaksakan. "Bubur dua ya, Pak. Yang satu dibungkus saja."
Aku duduk di pojok kedai, menyesap teh hangat sambil menatap jalanan yang mulai dilalui satu-dua kendaraan. Pikiranku melayang pada Danendra. Apakah dia sudah bangun? Apakah dia juga merasa lelah setelah perjalanan panjang kemarin? Aku segera menggelengkan kepala, mengusir bayangan itu sebelum pertahananku kembali melemah.
Ingat, Azzalia. Hari ini kamu asisten teknis, bukan gadis yang tidur di bawah penjagaan jaketnya.
Setelah menghabiskan porsiku, aku menerima bungkusan bubur untuk Nesha. Aku kembali ke kost dan berjalan menuju kamar sahabatku itu. Aku tahu dia pasti masih bergelung di balik selimut karena alarmnya biasanya baru berbunyi pukul tujuh.
Tok, tok, tok.
Aku mengetuk pintu kamarnya perlahan. "Nesh, gue taruh sarapan di depan pintu ya. Bubur Pak Man," seruku pelan agar tidak mengejutkannya.
Suara geraman halus terdengar dari dalam, disusul suara Nesha yang serak. "Zal? Lo udah bangun? Kok pagi amat..."
"Gue berangkat duluan ya, Nesh. Ada kerjaan yang mau gue cicil di kantor," jawabku berbohong, padahal alasan utamaku hanyalah ingin sampai di kantor sebelum jam kerja Danendra dimulai.
Aku meletakkan kantong plastik berisi bubur itu di atas kursi kecil di depan pintu kamarnya. Dengan langkah cepat, aku menuju parkiran motor. Aku ingin menjadi orang pertama yang masuk ke gedung kantor itu, membangun tembok profesionalitasku kembali sebelum "badai" bernama Danendra Aditama datang mengusik hariku.
Aku membeku, memaku pandangan pada layar komputer, namun telingaku menangkap suara langkah kaki yang sangat kukenali. Langkah kaki yang mantap, teratur, dan penuh percaya diri.
Langkah itu berhenti tepat di belakang kursiku.
"Terlalu pagi untuk memulai hari, atau kamu memang sengaja menghindariku, Azzalia?"
Suara bariton yang rendah itu memecah kesunyian kantorku, membuat zirah yang baru saja kucoba pakai kembali terasa retak seketika.
"Menghindar?" Aku memutar kursi kerjaku perlahan, mendongak untuk menatap matanya yang kini tampak jauh lebih tajam di bawah cahaya lampu kantor yang putih. "Kita bahkan satu kantor, Pak Danendra. Dan Anda juga menjadikan saya sebagai asisten teknis Anda selama dua minggu proyek ini berjalan. Rasanya tidak masuk akal jika saya mencoba menghindar dari orang yang memegang kendali atas jadwal saya."
Aku menarik napas panjang, mencoba mengusir sisa kekakuan akibat perjalanan kemarin. "Anda bahkan tidak memberi saya ruang untuk sendiri atau tenang di mana pun. Baik di kantor, di jalan, bahkan saat saya sedang mencoba pulang ke rumah keluarga saya sendiri."
Danendra tidak bergeming. Ia justru menarik kursi kosong dari kubikel sebelah dan duduk di depanku, membuat jarak di antara kami kembali menipis. Aroma parfumnya yang maskulin seketika mendominasi ruang sempit di antara meja kerja kami.
"Kalau begitu, kenapa datang sepagi ini?" tanyanya datar. "Jam kerja baru dimulai dua jam lagi. Jika bukan untuk menghindar agar tidak berpapasan denganku di lobi, apa alasan logisnya?"
"Saya hanya ingin menyelesaikan laporan lebih cepat agar tidak perlu ada 'revisi dadakan' yang memaksa saya pulang malam lagi," jawabku sedingin mungkin.
Danendra menyunggingkan senyum tipis, jenis senyum yang selalu berhasil membuatku merasa telanjang karena ia seolah bisa membaca setiap kebohonganku. "Laporan itu bisa menunggu, Zal. Tapi kesehatan kamu tidak."
Ia meletakkan sebuah kantong kertas kecil di atas mejaku. "Makan. Tadi aku lewat kedai Pak Man, dia bilang kamu baru saja dari sana dan hanya membungkus satu untuk Nesha. Jangan berpikir untuk bekerja dengan perut kosong, apalagi setelah perjalanan motor lima jam yang melelahkan itu."
Aku tertegun menatap kantong kertas itu. Jadi, dia juga sudah bangun sejak pagi buta? Atau jangan-jangan dia memang terus mengawasiku?
"Saya sudah sarapan di sana tadi, Pak," sahutku kaku.
"Pak Man bilang kamu cuma makan sedikit," potongnya cepat. "Sekarang saya bicara bukan sebagai atasan, tapi sebagai orang yang tahu persis seberapa keras kepala kamu kalau urusan mengabaikan diri sendiri. Makan, atau saya akan duduk di sini sampai kamu menghabiskannya dan memastikan satu baris pun laporan itu tidak akan kamu sentuh."
Zirahku kembali bergetar. Sifat pemaksanya yang satu ini benar-benar tidak bisa dilawan dengan logika kerja mana pun. Aku hanya bisa mengepalkan tangan di bawah meja, menyadari bahwa hari Senin yang tenang hanyalah angan-angan selama Danendra Aditama masih menjadi matahari yang terlalu terang bagi duniaku yang beku.